NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8 resep kehancuran dan perjamuan sutra berdarah

Langit malam menyelimuti Lembah Gagak Hitam bagai kain kafan raksasa. Hawa belerang yang mencekik tenggorokan terasa semakin pekat, berbaur dengan uap beracun dari parit-parit yang mendidih di sekitar kediaman Gu Lie.

Di dalam bangunan perunggu raksasa berbentuk tungku tersebut, udara memancarkan panas yang sanggup melelehkan besi biasa. Di tengah ruangan, sebuah kuali alkimia berkaki tiga setinggi dua meter bergemuruh pelan. Api spiritual berwarna hijau lumut menjilat-jilat dasar kuali, dikendalikan oleh sepasang tangan kurus kering milik sang Alkemis Sinting.

Cang Qixuan berdiri beberapa langkah dari kuali itu. Jubah sutra merahnya yang mewah tampak sangat kontras dengan dinding batu berlumut dan rak-rak berisi organ monster yang diawetkan. Mo Chen berjaga di luar pintu perunggu, memastikan tidak ada satupun kultivator liar yang berani mendekati area tersebut.

"Buka ruang penyimpananmu, Gu Lie," suara Qixuan memecah konsentrasi sang alkemis.

Pemuda bertopeng perunggu itu mengayunkan tangan kanannya dengan santai. Sebuah pusaran spasial kecil terbuka dari cincin penyimpanannya. Tiba-tiba, seratus kuntum Bunga Jiwa Hitam berjatuhan ke atas meja batu giok di samping kuali. Aroma kematian yang sangat dingin dan purba seketika menyapu hawa panas ruangan, membuat api hijau di bawah tungku menyusut ketakutan.

Mata Gu Lie yang setengah hancur membelalak lebar hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Ia merangkak mendekati meja batu, jemarinya yang gemetar menyentuh kelopak hitam pekat tersebut dengan penuh pemujaan.

"Bunga Jiwa Hitam... Seratus kuntum sempurna!" napas Gu Lie tersengal, tawanya meledak melengking menyerupai ringkikan kuda gila. "Kualitas dari Makam Leluhur Sembilan Naga! Energi Yin di dalamnya begitu padat hingga bisa membekukan jiwa seorang kultivator Pembentukan Fondasi hanya dengan menghirup serbuk sarinya! Tuan Muda Bayangan, kau benar-benar perwujudan dewa iblis! Bagaimana kau bisa mencuri benda ini langsung dari bawah hidung Kaisar Yan?!"

Qixuan menyentil debu imajiner dari lengan bajunya, sikapnya arogan tanpa cela. "Membeli jalan masuk dengan tiga juta tael emas, lalu memetiknya sambil menunggu orang tua itu selesai membaca doa. Sangat sederhana. Kaisar Yan terlalu sibuk meminta umur panjang pada leluhurnya hingga lupa menjaga rumput di halamannya sendiri."

Gu Lie menelan ludah. Tiga juta tael emas hanya untuk membuka jalan pencurian? Tingkat pemborosan ini sudah melampaui nalar manusia. Sang alkemis tidak bertanya lebih lanjut. Ia tahu, berurusan dengan pemuda di depannya berarti menyerahkan sisa akal sehatnya.

"Sempurna!" Gu Lie memutar tubuhnya kembali ke arah kuali. "Dengan jumlah sebanyak ini, aku tidak hanya bisa membuat *Embun Pemutus Dao*, aku bahkan bisa meningkatkan potensinya. Racun ini tidak akan terdeteksi sama sekali. Saat mereka meminum air atau menyantap makanan yang telah ditetesi embun ini, meridian mereka akan mulai menyusut bagai daun kering. Dalam tiga puluh hari, kekuatan seorang Komandan Bumi akan merosot menjadi manusia fana yang lemah!"

"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menyelesaikan proses penyulingannya?" tanya Qixuan, melipat kedua lengannya di dada.

"Tujuh hari tujuh malam tanpa henti," jawab Gu Lie mantap, sudah mulai melemparkan beberapa Bunga Jiwa Hitam ke dalam kuali hijau tersebut. "Proses pemurnian Energi Yin purba membutuhkan penekanan ekstrem."

Qixuan memperhatikan aliran energi di dalam kuali. Berada begitu dekat dengan sumber Energi Yin memicu reaksi instingtif dari dalam Dantiannya. Seni Pernapasan Menelan Langit menderu liar. Tiga pusaran energi di dadanya, perut atas, dan perut bawah berputar sinkron, seakan meraung kelaparan mencium hidangan lezat.

Kultivasi Qixuan saat ini telah mencapai tahap awal Pembentukan Fondasi, didominasi oleh elemen tanah yang kasar berkat Akar Nadi Naga. Ia membutuhkan elemen penyeimbang untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Yin murni dari Bunga Jiwa Hitam adalah kandidat yang sangat menggoda.

Tanpa peringatan, Qixuan melangkah maju, meletakkan telapak tangan kirinya tepat di atas dinding kuali perunggu yang membara.

"Tuan Muda! Apa yang kau lakukan?!" jerit Gu Lie panik. "Itu racun pemakan jiwa! Menyentuhnya saat proses penyulingan akan membakar meridianmu!"

Alih-alih menarik tangannya, Qixuan memejamkan mata. Seringai tipis terbentuk di bibirnya.

"Menelan Langit, Pusaran Keempat... Embrio Air Kegelapan," gumam Qixuan sangat pelan.

Daya isap yang mengerikan meledak dari telapak tangannya. Asap hitam pekat yang mengandung sisa racun Yin purba dari dalam kuali tidak menguar ke udara, melainkan tersedot masuk langsung ke dalam pori-pori kulit Qixuan. Suara mendesis terdengar jelas saat racun mematikan itu berbenturan dengan energi perlindungannya.

Rasa sakitnya luar biasa. Aliran es yang membekukan bercampur dengan jutaan jarum tajam merobek jaringan otot lengan kirinya. Urat-urat nadi Qixuan menonjol berubah warna menjadi ungu kehitaman. Seluruh tubuhnya sedikit bergetar, tulang-tulangnya berderak seolah ditarik oleh dua gajah dari arah berlawanan.

Seni kultivasi ini memang dirancang untuk menyiksa penggunanya demi kekuatan absolut. Alih-alih menolak racun tersebut, Qixuan memaksa energi Yin buas itu turun melewati saluran utamanya yang hancur, menjejalkannya ke titik kosong di sebelah kiri dadanya, tepat di atas jantung.

Di dalam Dantian buatan tersebut, benih pusaran keempat mulai terbentuk dengan kasar, berputar dengan elemen es dan air beracun. Aura Qixuan meroket tajam sesaat, tekanan udaranya membuat lutut Gu Lie goyah dan terpaksa berlutut di lantai batu.

"M-monster..." bisik sang alkemis dengan sisa kewarasannya. Meminum racun untuk meningkatkan kultivasi? Bahkan sekte iblis paling gila sekalipun tidak akan berani menyerap Yin purba secara mentah seperti ini!

Tiga menit berlalu bagai satu abad. Qixuan akhirnya menarik tangannya. Asap ungu di lengannya memudar, warna kulitnya kembali memucat seperti pualam aristokrat. Ia membuang napas panjang; napas itu berubah menjadi kabut es yang membekukan lantai di dekat kakinya.

Fondasi kultivasinya kini semakin padat, bergerak perlahan menuju tahap menengah Pembentukan Fondasi. Elemen Yin yang baru saja ia curi menjadi penyeimbang sempurna bagi elemen tanah miliknya, membuat qi di dalam tubuhnya mengalir jauh lebih tenang walau menyimpan daya ledak yang lebih mematikan.

"Cukup menyegarkan," Qixuan mengibaskan tangannya, mengambil saputangan sutra berhias sulaman emas dari sakunya untuk menyeka keringat di pelipisnya, lalu membuang saputangan mahal itu begitu saja ke lantai.

Ia menatap Gu Lie yang masih gemetar di lantai. "Fokuslah pada pekerjaanmu, Gu Lie. Setelah tujuh hari, Penatua Tong dari Jaring Bayangan akan mengirimkan kurir untuk menjemput racun itu. Ingat, satu tetes saja bocor sebelum tiba di perbatasan utara, aku akan menjadikan tengkorakmu sebagai hiasan baru di ruang kerjaku."

Tanpa menunggu jawaban, Qixuan berbalik dan melangkah keluar dari laboratorium neraka tersebut, kembali ke bawah perlindungan malam Lembah Gagak Hitam.

Jauh di Perbatasan Utara, badai salju menderu memeluk kamp militer Pasukan Naga Hitam. Jarak pandang tidak lebih dari sepuluh langkah. Suhu turun hingga mencapai titik di mana air kencing prajurit membeku sebelum menyentuh tanah.

Di dalam tenda komando yang megah, kehangatan terasa kontras berkat belasan tungku arang spiritual berkualitas tinggi. Tenda ini bukan milik Wakil Jenderal Mu Chenghai, melainkan milik seorang tamu.

Seorang pria gemuk berpakaian sutra tebal bermotif koin emas duduk santai di atas kursi berlapis bulu harimau salju. Jari-jarinya dihiasi cincin batu permata yang menyilaukan. Namanya Jin Bozong, kepala pedagang dari Konsorsium Katak Emas. Di balik senyum ramahnya yang menjijikkan, ia adalah salah satu operator terbaik Nyonya Su Liyin yang diutus untuk mengeksekusi misi pencekikan finansial.

Di hadapannya, Mu Chenghai berdiri dengan wajah merah padam, didampingi dua perwira kepercayaannya yang menggenggam gagang pedang dengan erat.

"Tuan Jin," Mu Chenghai menahan suaranya agar tidak menggelegar terlalu keras. "Konsorsiummu adalah satu-satunya yang masih memiliki pasokan gandum ratusan ribu ton di wilayah utara ini. Harga yang kau tetapkan lima kali lipat lebih tinggi dari harga normal. Kekaisaran sedang kekurangan dana, dan pasukan kami hampir kehabisan jatah makanan. Jika kau menjualnya dengan harga dua kali lipat, aku berjanji atas nama Klan Mu, kelak saat aku kembali ke ibukota, aku akan memberimu monopoli perdagangan teh dan garam di sepuluh provinsi."

Jin Bozong terkekeh, lemak di lehernya ikut bergetar. Ia mengangkat cawan teh panasnya, menghirup aromanya dengan sangat pelan, seakan sengaja mengulur waktu untuk menyiksa mental sang jenderal.

"Jenderal Mu yang terhormat," ucap Jin Bozong dengan nada berlagak sedih. "Janji politik adalah koin palsu di dunia perdagangan. Hari ini Anda menjanjikan monopoli, besok Anda bisa saja digeser oleh jenderal lain. Terlebih lagi... kabar tentang putra Anda, Tuan Muda Mu Yan, yang mengalami kelumpuhan total di ibukota telah sampai ke telinga kami."

Wajah Mu Chenghai seketika menegang. Urat menonjol di pelipisnya.

"Konsorsium kami sangat berduka atas musibah tersebut," lanjut Jin Bozong, senyumnya sama sekali tidak mencerminkan kedukaan. "Mengingat pewaris utama Anda telah lumpuh, banyak investor meragukan masa depan Klan Mu. Meminjamkan gandum berdasarkan janji Anda saat ini adalah investasi bodong yang sangat berisiko."

"Beraninya kau menghina Jenderal kami, Babi Gemuk?!" salah satu perwira mencabut pedangnya setengah inci, matanya berkilat penuh ancaman.

Jin Bozong tidak berkedip sedikit pun. Di belakangnya, dua pria kurus berpakaian kelabu melangkah maju dari balik bayangan. Keduanya memancarkan aura Pembentukan Fondasi tahap puncak. Niat membunuh mereka seketika mengunci sang perwira hingga napasnya tertahan.

"Jangan gunakan kekerasan di meja perundingan, Jenderal," Jin Bozong meletakkan cawannya. "Kami adalah pedagang sah. Jika Anda membunuh kami, seratus ribu ton gandum yang tersimpan di lumbung rahasia kami akan langsung dibakar oleh anak buahku detik itu juga. Pasukan Anda akan mati kelaparan minggu depan, Suku Barbar akan menerobos perbatasan, dan Kaisar Yan akan memenggal seluruh sisa anggota klan Anda."

Mu Chenghai menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Kata-kata pedagang gemuk itu adalah realitas mutlak. Ia terjepit dalam situasi tanpa jalan keluar.

"Apa yang kau inginkan?" desis Mu Chenghai putus asa, suaranya melemah. Ia telah kalah.

Jin Bozong tersenyum puas, mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang telah disiapkan sebelumnya. "Kami tahu perbendaharaan militer sedang kosong. Konsorsium Katak Emas bersedia menukar seratus ribu ton gandum, ditambah sepuluh ribu tong arak spiritual penghangat tubuh dan seribu balok garam berkualitas untuk merayakan musim dingin."

Mata Mu Chenghai sedikit berbinar mendengar tawaran tambahan arak dan garam. Di musim dingin, arak spiritual adalah penjaga moral terbaik bagi prajurit. "Lalu harganya?"

"Kami tidak menginginkan uang koin," Jin Bozong mendorong perkamen itu melintasi meja. "Kami menginginkan sertifikat kepemilikan mutlak atas tiga Tambang Besi Spiritual milik Klan Mu yang berada di pinggiran Jinling, serta penyerahan lima ribu set *Zirah Pelopor Naga Hitam* dari gudang penyimpanan lapis kedua militer."

"Kau gila?!" raung Mu Chenghai, tidak mampu menahan diri lagi. "Tiga Tambang Besi Spiritual itu adalah pondasi kekayaan klanku selama ratusan tahun! Dan Zirah Pelopor adalah aset pertahanan militer tingkat tinggi! Menjual aset militer kepada pedagang sipil adalah pengkhianatan!"

"Mengorbankan seratus ribu nyawa prajurit karena kelaparan juga merupakan pengkhianatan, Jenderal," balas Jin Bozong telak, suaranya kini dingin tanpa senyum. "Tambang-tambang itu saat ini tidak menghasilkan uang karena tidak ada tenaga kerja. Zirah Pelopor lapis kedua hanya menumpuk karat di gudang. Pilihannya sederhana: Pertahankan harga diri dan lihat pasukan Anda menjadi kanibal, atau serahkan dokumen itu dan selamatkan karir militer Anda malam ini."

Keheningan yang mencekik menguasai tenda tersebut. Di luar, suara rintihan prajurit yang kedinginan terdengar samar terbawa angin, menghantui hati nurani Mu Chenghai yang tersisa. Sang Jenderal mengepalkan tinjunya hingga darah menetes dari sela jarinya. Ia memejamkan mata, memikirkan wajah kaisar yang kejam dan putranya yang lumpuh. Jika ia kehilangan pasukannya, klannya akan hancur malam ini juga.

Dengan tangan gemetar yang kehilangan seluruh wibawa militernya, Mu Chenghai mengambil kuas, mencelupkannya ke dalam tinta merah, dan membubuhkan tanda tangan serta segel darahnya di atas perkamen tersebut.

"Kirimkan gandumnya besok pagi," bisik Mu Chenghai serak, seolah jiwanya baru saja dicabut.

"Keputusan yang brilian, Jenderal Mu," Jin Bozong menggulung perkamen itu dengan gembira, menyimpannya di balik jubah gemuknya. "Besok pagi sebelum fajar, lumbung gandum Anda akan penuh. Begitu juga dengan arak spiritual dan garam."

Pedagang itu membungkuk sopan lalu berbalik pergi, dikawal oleh dua pembunuh bayangannya. Di balik punggung Mu Chenghai, Jin Bozong tersenyum penuh kemenangan.

Tiga tambang besi spiritual raksasa kini berpindah tangan ke Jaring Bayangan, memperkuat dominasi moneter Tuan Muda Cang. Ribuan set zirah militer akan segera dipindahkan ke markas rahasia mereka untuk mempersenjatai pasukan bayangan yang sedang dibangun di luar kota.

Hal paling mematikan dari transaksi ini sama sekali tidak disadari oleh Mu Chenghai. Sepuluh ribu tong arak spiritual dan garam yang menjadi "bonus" kemurahan hati pedagang tersebut adalah wadah yang telah disiapkan untuk menampung *Embun Pemutus Dao* racikan Gu Lie. Mu Chenghai sendiri yang baru saja menandatangani surat pengiriman racun massal untuk membunuh sisa-sisa kekuatan pasukannya.

Bidak catur emas telah menjepit sang raja dari utara.

Tiga hari setelah Upacara Penghormatan Musim Gugur di Gunung Sembilan Naga, suasana Istana Kekaisaran terasa seperti di ambang letusan gunung berapi.

Di dalam Ruang Belajar Kekaisaran yang beraroma dupa cendana menenangkan, ketegangan justru merobek udara. Kaisar Yan Wudi terbatuk parah, darah segar menodai saputangan sutranya. Wajahnya yang keriput memucat, matanya memancarkan amarah yang sangat mematikan.

Berdiri di hadapannya adalah Putri Yan Ling, wajahnya sedingin es batu, tangannya terkepal erat di sisi gaun biru pucatnya. Di belakang sang putri, berlutut Menteri Ritual Zhao He yang seluruh tubuhnya gemetar seakan sedang disambar petir berulang kali.

"Hilang?" Kaisar mengucapkan satu kata itu dengan suara yang nyaris berbisik, auranya menekan ruangan hingga retakan halus muncul di lantai marmer. "Kau bilang padaku... sepertiga dari Bunga Jiwa Hitam di Kolam Leluhur hilang dicabut?!"

"A-Ampun, Yang Mulia!" ratap Zhao He, air matanya membanjiri lantai. "B-Biro Penjaga Makam baru menyadarinya saat melakukan pembersihan rutin pagi ini! S-Seratus kuntum tercabut hingga ke akarnya tanpa memicu formasi pertahanan sedikit pun! Jejak yang tertinggal hanyalah manipulasi qi tingkat tinggi yang sangat rapi."

"Siapa yang bisa menyusup ke dalam Makam Leluhur saat formasi aktif?!" bentak Kaisar, membanting botol obat giok di atas mejanya hingga hancur berkeping-keping. "Hanya orang-orang yang hadir di dalam Altar Suci tiga hari lalu yang memiliki kesempatan tersebut! Han Mian? Klan Pei? Atau..."

Tatapan kaisar langsung tertuju pada putranya. Yan Ling melangkah maju.

"Ayahanda," suara Yan Ling jernih namun mengandung racun kebencian yang mendalam. "Han Mian dan para pejabat tidak memiliki kemampuan spasial sejauh itu tanpa ketahuan. Satu-satunya anomali di dalam altar hari itu adalah Utusan Kehormatan Kuil. Cang Qixuan."

"Si Tuan Muda Sampah itu?" Kaisar menyipitkan matanya. "Dia hanyalah pemuda tanpa meridian yang menghamburkan uang leluhurnya. Aku sendiri memeriksa tubuhnya hari itu, dia sama sekali tidak memancarkan qi sedikit pun. Bagaimana mungkin orang fana melewati pengawasan kita semua?"

Yan Ling menggigit bibir bawahnya. Kejadian di jembatan beberapa minggu lalu berkelebat di benaknya. Cang Qixuan telah memaksanya menukar setengah Akar Nadi Naga dengan Kompas Bintang.

"Ayahanda, Cang Qixuan memiliki Kompas Bintang milikku. Benda itu bisa memanipulasi celah formasi. Meskipun meridiannya hancur, bukan tidak mungkin dia menyewa seorang guru array gaib untuk mengendalikan artefak itu dari jarak jauh, atau menggunakan relik kuno lain milik Jenderal Besar Baotian," analisis Yan Ling, menolak mempercayai bahwa Qixuan sendiri yang memiliki kekuatan. Membayangkan pemuda hidung belang itu adalah jenius kultivasi tersembunyi terlalu tidak masuk akal baginya.

"Keluarga Cang... mereka semakin berani bermain api," desis Kaisar. Tangannya mencengkeram sandaran kursi naga. "Jika memang mereka yang mencurinya, ini berarti Baotian sedang merencanakan sesuatu yang besar. Bunga Jiwa Hitam adalah bahan racun ekstrem, sekaligus bahan pemulihan organ Yin. Mereka mungkin mencoba menyembuhkan Jenderal Tua itu secara total."

"Kita tidak bisa menyerbu kediaman mereka tanpa bukti otentik, Ayahanda. Rakyat masih memandang Klan Cang sebagai pahlawan militer, menuduh mereka mencuri pusaka leluhur tanpa mayat pelakunya akan memicu kemarahan faksi militer independen." Yan Ling menatap ayahnya dengan sorot mata setajam pedang. "Biarkan aku yang mengurus pemuda itu. Aku akan memaksanya membuka topengnya."

Kaisar terdiam sejenak, batuknya sedikit mereda. "Apa rencanamu, Ling'er?"

"Lusa, Sekte Pedang Awan Putih akan mengadakan 'Perjamuan Bunga Persik Musim Gugur' di Paviliun Bintang Jatuh. Ini adalah pertemuan netral bagi para jenius muda ibukota dan bangsawan," Yan Ling menjelaskan, senyum dingin tersungging di bibirnya. "Aku akan mengirimkan Undangan Sutra Emas kepadanya secara pribadi. Memaksanya hadir ke acara para kultivator muda. Di sana, aku akan mengatur beberapa orang untuk memprovokasinya hingga batas maksimal. Jika dia menyimpan kekuatan atau menyembunyikan artefak, dia pasti akan bereaksi. Jika dia terbukti mencuri bunga itu... aku sendiri yang akan memotong kedua tangannya."

Kaisar mengangguk pelan. "Lakukan dengan rapi. Jangan biarkan Klan Cang mendeteksi niat kita. Dan Zhao He..."

Menteri yang malang itu mendongak dengan wajah penuh air mata.

"Gelar jamuan palsu atau apapun itu, kau tetap gagal menjaga makam leluhurku," Kaisar melambaikan tangannya dengan kejam. "Bawa dia ke alun-alun. Eksekusi pemenggalan siang ini juga."

Jeritan Zhao He diseret keluar oleh pengawal menggema di lorong istana, menjadi simfoni pembuka bagi perjamuan berdarah yang akan segera digelar.

Sore harinya, di dalam halaman santai Kediaman Cang.

Qixuan berbaring di atas kursi goyang yang terbuat dari bambu giok hijau, menikmati pijatan di bahunya sambil memejamkan mata. Burung beo di sudut halaman terus memaki-maki para menteri menggunakan kosakata baru yang diajarkan pelayan.

Mo Chen melangkah masuk melalui gerbang bulan, memegang sebuah gulungan undangan berwarna merah muda yang dihiasi sulaman benang emas asli dan wangi kelopak bunga persik.

"Tuan Muda," Mo Chen menunduk, menyerahkan undangan tersebut. "Dari Istana. Utusan pribadi Putri Yan Ling baru saja mengantarkannya. Undangan VIP untuk menghadiri Perjamuan Bunga Persik Musim Gugur."

Qixuan tidak membuka matanya. Ia hanya menggerakkan jarinya, dan undangan itu melayang pelan, tertahan di udara menggunakan aliran qi halus, lalu terbuka dengan sendirinya di depan wajahnya.

Ia membaca deretan huruf kaligrafi yang anggun namun menyiratkan niat membunuh yang pekat. Perjamuan itu dikhususkan bagi para jenius bela diri, putra-putra menteri, dan murid sekte terkemuka. Mengundang seorang tuan muda yang terkenal tidak bisa bela diri dan hanya bisa menghamburkan uang adalah sebuah anomali. Ini bukan undangan pesta, ini adalah surat tantangan untuk dieksekusi di depan publik.

Seringai miring yang khas muncul di wajah Qixuan. Ia membuka matanya yang berwarna amber-emas, memancarkan kecerdasan licik yang siap memangsa korbannya.

"Sang putri kecil tampaknya sudah menyadari hilangnya bunga kesayangan ayahnya," Qixuan terkekeh pelan, meraih undangan itu lalu menjadikannya kipas sementara. "Dia ingin melempar anjing-anjing muda akademi untuk menggigitku, berharap aku akan panik dan menunjukkan kartu trufku."

"Apakah kita harus menolak undangan ini dengan alasan Tuan Muda sedang sakit?" saran Mo Chen, tidak ingin majikannya terjebak dalam perangkap terbuka yang dikelilingi oleh puluhan kultivator muda berpotensi.

"Menolak? Mengapa harus menolak?" Qixuan tertawa terbahak-bahak, bangkit dari kursi goyangnya. Ia merentangkan tangannya, membiarkan jubah sutranya berkibar tertiup angin musim gugur. "Mo Chen, sebuah perjamuan tidak akan lengkap tanpa kehadiran Dewa Kekayaan. Mereka ingin mempermalukanku di depan para jenius? Sangat bagus. Kebetulan sekali, aku sedang bosan menghancurkan pejabat tua berwajah keriput. Sesekali menginjak wajah para pemuda sombong dari akademi pedang sepertinya sangat menyenangkan."

Qixuan menatap Mo Chen dengan mata yang menyipit. "Siapkan pakaian terbaikku. Pakaian yang harganya setara dengan tiga tahun pajak satu kota kecil. Aku ingin saat aku melangkah masuk ke dalam paviliun itu lusa, mata mereka buta karena silau melihat betapa jauhnya perbedaan kasta antara sekumpulan jenius miskin dengan Tuan Muda Cang Qixuan."

Permainan baru telah disajikan di atas piring emas. Putri Yan Ling telah melemparkan umpan, tanpa menyadari bahwa ikan yang ia pancing bukanlah ikan koi hias, melainkan naga laut yang siap menelan seluruh perjamuannya hidup-hidup. Babak ketiga pertempuran di ibukota Jinling akan diselesaikan di bawah guyuran kelopak bunga persik, dan Qixuan berniat melukis bunga-bunga itu menjadi merah pekat dengan darah para penantangnya.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!