Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu dan Undangan
Bumi yang kini dikuasai oleh hukum rimba para Hunter, intrik berdarah, Guild, Asosiasi, Negara, dan keputusasaan umat manusia, tengah menahan napas.
Di utara ibu kota—Beijing, menjulang sebuah benteng megah yang terbuat dari baja putih dan kaca anti-radiasi. Ini adalah markas besar dari Guild Naga Beijing, sebuah faksi raksasa yang didirikan oleh salah satu dari sedikit Hunter Tingkat Country Tier dengan bakat Kelas S yang menjadi penyeimbang kekuatan Wu Jiang di daratan Tiongkok.
Di salah satu ruangan pelatihan khusus tingkat tinggi yang berada di sayap barat gedung, suhu udara melampaui seratus derajat Celcius. Dinding-dindingnya yang terbuat dari tungsten murni memancarkan warna kemerahan akibat panas ekstrem.
Di tengah ruangan itu, berdiri seorang wanita cantik dengan proporsi tubuh matang bak super model dunia.
Namanya Li Hua. Usianya tiga puluh tiga tahun, namun berkat evolusi genetik dari kebangkitannya sebagai hunter, struktur selnya tertahan dengan sempurna, membuatnya terlihat persis seperti gadis berusia pertengahan dua puluhan. Kulitnya seputih porselen, kontras dengan rambut hitamnya yang diikat tinggi.
Ia adalah seorang Hunter bertipe Mage dengan bakat Kelas A. Levelnya 29, hanya selangkah lagi untuk menembus Town Tier. Saat ini, ia adalah ancaman tingkat Distrik Tier yang mampu membumihanguskan beberapa blok kota hanya dengan satu ayunan tangannya.
Peluh membasahi leher dan pakaian tempur ketatnya. Kedua tangannya diselimuti oleh pusaran api biru yang mengaum liar, membakar target-target titanium di depannya menjadi lelehan logam.
"Fokus yang bagus, Hua. Tapi sepertinya apimu sedikit goyah hari ini," sebuah suara wanita yang renyah menyela dari arah pilar observasi.
Seorang teman sesama hunter berdiri menyandarkan bahunya di pilar logam, melipat tangan di depan dada sambil tersenyum penuh arti. "Apa kau sudah melihat berita utama hari ini? Berita tentang pewaris Wu Imperial Guild. Sang pangeran yang hilang lima belas tahun lalu... mantan kekasihmu yang malang itu, dia ditemukan."
Mendengar kalimat itu, pusaran api biru di tangan Li Hua mendadak bergetar tidak stabil.
Blar!
Api itu meledak sebelum waktunya, menghanguskan lantai di depannya. Li Hua menurunkan tangannya perlahan, napasnya memburu. Wajah cantiknya tidak menunjukkan ekspresi sedih, tidak pula gembira. Yang ada hanyalah sebuah lapisan ketegangan yang sangat dingin.
Li Hua tidak mengatakan apa pun. Ia memutar tubuhnya, berjalan menuju rak senjata, dan menenggak sebotol air mineral dingin. Ia mencoba memfokuskan kembali pikirannya pada latihan skill apinya, namun sebuah hantu dari masa lalu mencengkeram tenggorokannya dengan kuat.
Sang teman wanita itu tersenyum tipis, sebuah sindiran halus. Semua elit di lingkaran atas tahu tentang skandal masa lalu Li Hua, meskipun tidak ada yang berani membicarakannya secara terbuka karena takut pada bayang-bayang keluarga Wu.
Lima belas tahun yang lalu, sebelum era Tower menghancurkan segalanya, Li Hua adalah primadona elit. Ia menjalin hubungan dengan Wu Xuan, sang pewaris tunggal keluarga konglomerat nomor satu. Pada saat itu, Li Hua yang ambisius dan penuh perhitungan salah menilai lawannya. Ia mengira Wu Xuan hanyalah seorang mahasiswa jenius pada umumnya—seorang pangeran kaya raya yang bisa diperdaya, dibutakan, dan dikendalikan dengan kecantikan serta pesona fisiknya.
Keangkuhan masa mudanya membuat Li Hua berselingkuh dan menjalin hubungan rahasia dengan seorang konglomerat pemilik industri hiburan raksasa, mengira ia bisa menggunakan pria itu sebagai cadangan karirnya ke dunia artis sambil tetap memegang Wu Xuan.
Ia merasa sangat pintar. Ia merasa telah menaklukkan segalanya.
Namun, hukuman yang datang padanya bukanlah amarah, bukan tangisan, dan bukan pula makian dari seorang kekasih yang patah hati.
Hanya dalam waktu kurang dari tujuh puluh dua jam sejak pengkhianatannya terjadi, dunia Li Hua runtuh. Wu Xuan tidak pernah membuang energinya untuk berdebat soal emosi picisan. Melalui perusahaan cangkang dan pergerakan di balik layar yang sangat mematikan, pemuda jenius itu meruntuhkan fondasi industri hiburan milik kekasih gelap Li Hua, lalu mengakuisisi seluruh asetnya secara brutal.
Dalam satu malam, kontrak eksklusif Li Hua dihancurkan. Namanya di-blacklist secara total dari seluruh saluran media, film, dan agensi di seluruh Tiongkok. Ia dihapus dari eksistensi publik.
Li Hua masih mengingat malam itu dengan sangat jelas—malam di mana ia berlutut di tengah guyuran hujan lebat di depan gerbang kediaman utama keluarga Wu, menangis, meminta maaf, dan memohon ampun.
Wu Xuan keluar dengan payung hitam, mengenakan setelan jas yang rapi. Pria yang itu menatapnya dari atas. Senyum di wajah Wu Xuan saat itu begitu tenang, begitu elegan... namun murni tanpa belas kasihan. Tidak ada kemarahan di matanya.
Wu Xuan menatapnya bukan sebagai manusia yang mengkhianatinya, melainkan seperti menatap seekor serangga kotor yang menjijikkan karena tak sengaja mengotori sepatunya.
"Setiap pilihan memiliki harganya, Li Hua," suara tenang dan dingin Wu Xuan dari masa lalu kembali terngiang di kepala sang penyihir api itu. "Dan kau baru saja menjelaskan padaku jika dirimu tak memiliki nilai sama sekali."
Setelah mengucapkan kalimat itu, pemuda tersebut berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Li Hua hancur dalam hujan.
Itulah sebabnya, saat bencana Tower turun dan pesan global menggema, Li Hua rela mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi hunter. Ia terus naik dari satu tingkat ke tingkat berikutnya karena ia tahu satu hal: di dunia ini, jika ia tidak cukup kuat, rasa hina dan takut yang ditinggalkan oleh sosok seperti Wu Xuan akan terus menghantuinya setiap malam.
"Dia ditemukan dalam keadaan koma beku," ucap teman wanitanya lagi, mengabaikan kebisuan Li Hua. "Seluruh daratan Tiongkok mendoakannya. Mereka bilang dia akan bangun sebagai Dewa Kelas SS. Kau tidak ingin pergi ke Shanghai untuk menjenguk masa lalumu?"
Li Hua meletakkan botol minumnya dengan kasar hingga meja logam penyangganya penyok.
"Tutup mulutmu," desis Li Hua, matanya memancarkan hawa panas yang membakar udara. "Pria itu... dia bukan manusia... Jika dia benar-benar bangun... aku ragu dia akan menyelamatkan dunia ini, mungkin saja dia akan menjualnya."
Sementara itu, di sebuah distrik lain di ibu kota, di dalam fasilitas pengamanan tingkat tinggi Asosiasi Peneliti Hunter Beijing.
Di sebuah ruang tunggu observasi yang sangat tertutup, ketegangan terasa begitu pekat hingga bisa dipotong dengan pisau.
Butong dan anggota guild kecilnya duduk berdesakan di sofa kulit. Suhu ruangan itu normal, namun keringat sebesar biji jagung terus mengalir di dahi mereka. Zirah tempur mereka terasa seperti peti mati yang mengunci tubuh mereka.
Mereka sudah melihat berita yang mengguncang dunia itu di layar ponsel mereka beberapa jam yang lalu. Begitu mereka menyadari bahwa tubuh pemuda koma di dalam es yang mereka jual seharga tiga juta yuan itu adalah putra tunggal dari Wu Jiang, kepanikan melanda mereka.
"Ketua..." bisik wanita pemegang tongkat sihir di tim Butong, suaranya bergetar hebat. Ia meremas ujung jubahnya. "Mereka memanggil kita kemari. Mereka pasti akan membungkam kita. Prof. Zhu Liang pasti tidak ingin dunia tahu bahwa kitalah yang menemukan pemuda itu. Mereka akan menutupi jejak ini dengan darah kita!"
Beberapa anggota lain mulai menahan ketakutan. Mereka telah bertahan hidup dari cakar monster, hanya untuk mati dieksekusi oleh tangan manusia. Konspirasi elit adalah hal yang sangat biasa di era ini, dan nyawa sekelompok Awakening buatan tidak ada harganya sama sekali.
Butong menutup matanya kuat-kuat. Ia teringat pada putrinya yang kini bisa bernapas lega di rumah sakit elit.
Jika aku mati hari ini, setidaknya gadis kecilku punya cukup uang untuk bertahan hidup, batin Butong, mencoba mencari kedamaian di tengah teror yang menyelimuti pikirannya. Ia siap mengorbankan nyawanya, asal timnya dibiarkan pergi.
Cklek.
Pintu baja ruangan itu terbuka. Semua anggota tim melonjak berdiri, mencengkeram senjata mereka secara refleks.
Prof. Zhu Liang melangkah masuk. Jas putihnya terlihat lebih rapi dari biasanya. Wajah ilmuwan yang arogan itu tampak sangat tenang, bahkan memancarkan aura yang jauh lebih besar dari sebelumnya, karena kini ia merasa berada di bawah perlindungan salah satu guild terkuat di dunia.
Butong menelan ludah. "Profesor... tolong, kami tidak akan bicara sepatah kata pun pada siapa pun! Anda bisa mengambil kembali uang tiga juta itu, tapi biarkan—"
Zhu Liang mengangkat tangannya dengan elegan, menghentikan kepanikan Butong. Sebuah senyum tipis, nyaris seperti ejekan, menghiasi bibirnya.
"Tenanglah," ucap Zhu Liang dengan nada santai. "Tidak ada yang akan membunuh kalian."
Prof. Zhu Liang melangkah ke samping, memberi jalan. "Kalian tidak dipanggil kemari untuk dibungkam. Kalian dipanggil karena seseorang ingin mendengar cerita kalian. Secara langsung."
Jantung Butong terasa anjlok ke dasar perutnya. "Seseorang...?"
"Tuan Wu Jiang ingin bertemu dengan kalian."
Kalimat itu jatuh seperti bom nuklir di tengah ruangan.
Tuan Wu Jiang. Guild Master Wu Imperial Guild. Salah satu pilar umat manusia. Hunter Country Tier.
Ingin bertemu dengan guild rendahan seperti mereka?
Sebelum Butong sempat memproses ketakutannya, tiga sosok melangkah masuk dari lorong di belakang Prof. Zhu Liang.
Udara di dalam ruangan seketika menjadi sangat berat, seolah gravitasi telah dilipatgandakan. Tiga pria berpakaian tempur hitam legam dengan lambang naga laut berdiri dengan postur militer yang sempurna.
Mata Butong yang memiliki insting bertahan hidup terasah, langsung bisa membaca tingkat kekuatan mereka.
Tiga Hunter Kelas A. Semuanya berada di Level 37. Town Tier.
Masing-masing dari ketiga pria ini memiliki kekuatan untuk meratakan sebuah kota kecil hingga menjadi abu. Dan mereka hanyalah prajurit utusan. Elite penjaga dari Wu Imperial Guild.
Pemimpin dari ketiga pengawal itu, seorang pria dengan bekas vertikal di mata kirinya, menatap Butong dengan pandangan sedingin mata pisau.
"Kalian adalah kelompok yang menarik Tuan Muda dari dunia es," ucap pemimpin pengawal itu, suaranya berat dan menggetarkan dinding ruangan. Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan fakta.
Ia tidak repot-repot menunggu jawaban Butong. Pria itu menunjuk ke arah pintu keluar.
"Ikut kami. Helikopter sudah menunggu."
"T-Tunggu," salah satu anggota Butong bersuara, lututnya gemetar hebat. "K-Kenapa Guild Master Wu ingin bertemu dengan kami? Bukankah kami sudah menyerahkan tubuh Tuan Muda? Kami tidak menyembunyikan apa pun!"
Pengawal itu menghentikan langkahnya, menatap anggota yang ketakutan itu dari sudut matanya.
"Bagi Guild Master kami, kebenaran bukanlah sekadar garis besar," jawab pengawal itu dingin. "Beliau adalah pria yang harus memegang setiap benang informasi di tangannya. Beliau ingin tahu kedalaman kawah es itu. Beliau ingin tahu suhu angin yang membekukan anaknya. Beliau ingin tahu rincian setiap detik dari saat kalian menemukan es itu hingga kalian menjualnya."
Sang pengawal kembali melangkah maju.
"Guild Master kami tidak pernah puas hanya dengan laporan di atas kertas. Beliau lebih suka menginterogasi langsung."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada dingin.
"Kalian tidak perlu takut… selama berkata jujur. Namun jika kalian berbohong, atau ternyata kalian yang selama ini menyelundupkan tubuhnya, maka aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian."
Kalimat itu terdengar seperti ancaman mengerikan yang menggantung di udara membuat Butong dan seluruh timnya merasa seperti leher mereka dililit oleh tali algojo.
Dengan langkah kaki yang terasa seberat timah, Butong memimpin tim kecilnya berjalan keluar dari ruangan itu. Mereka digiring menuju atap fasilitas, di mana sebuah helikopter tempur hitam pekat berlambang naga laut telah menunggu untuk menerbangkan mereka menuju Shanghai.
Bersambung...