NovelToon NovelToon
Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
​Namun, setiap baja memiliki titik retak.
​Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lemari di Balik Pintu Rahasia

​Uap panas masih mengepul dari kamar mandi saat Nora melangkah keluar. Rambutnya yang basah terbungkus handuk putih tebal, dan wajahnya tampak lebih segar meskipun bekas luka itu masih samar terlihat. Ia membuka tas jinjingnya—satu-satunya benda yang benar-benar miliknya—dan mengeluarkan pakaian yang ia bawa dari rumah ayahnya sebelum kekacauan ini memuncak.

​Nora memilih mengenakan kaus katun berwarna putih polos yang sudah agak pudar dan celana bahan berwarna hitam yang nyaman. Tidak ada renda, tidak ada sutra Italia, dan tidak ada berlian yang menggantung di telinganya. Ia melepas semua sisa-sisa "Nora sang tameng Adrian" dan kembali menjadi Nora yang paling dasar. Satu-satunya benda logam yang melingkar di tubuhnya hanyalah cincin emas putih pemberian Lydia yang baru saja ia pasangkan di jari manisnya.

​Ketika ia turun ke ruang makan, Lydia Sullivan sudah menunggu di kepala meja panjang yang terbuat dari kayu jati berukir. Lydia mendongak, dan untuk beberapa detik, wanita agung itu terpaku. Matanya menyisir penampilan menantunya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

​Lydia hampir tidak percaya bahwa wanita di depannya adalah putri dari keluarga Leone yang tersohor, atau wanita yang selama lima tahun menjadi pendamping penguasa California. Nora tampak begitu... bersahaja. Tanpa perhiasan yang berkilau, tanpa riasan tebal, dan dengan pakaian yang mungkin akan dibuang oleh Stella ke tempat sampah. Namun, justru dalam kesederhanaan itu, Lydia melihat sebuah martabat yang tidak bisa dibeli dengan uang.

​"Duduklah, Nora," ujar Lydia, suaranya mengandung nada kekaguman yang tersembunyi. "Kau tampak... berbeda dari foto-foto yang dikirimkan ayahmu."

​Nora tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa lebih tulus. "Ini adalah saya yang sebenarnya, Nyonya. Tanpa embel-embel perhiasan orang lain."

​Lydia mengangguk paham. "Makanlah. Kau pasti lapar."

​Nora tidak berpura-pura anggun dengan memotong makanan menjadi bagian-bagian kecil yang tidak mengenyangkan. Ia makan dengan lahap. Rasa lapar yang ia abaikan selama pelariannya kini menuntut balasan. Sup krim jamur yang hangat dan daging panggang dengan bumbu rempah New York itu terasa seperti kemewahan yang nyata di lidahnya. Lydia memperhatikan dengan binar senang di matanya. Ia menyukai kejujuran Nora; wanita ini tidak mencoba mengesankannya dengan etiket yang kaku, ia hanya menjadi manusia yang sedang butuh energi.

​"Aku senang melihatmu makan seperti itu," komentar Lydia setelah Nora meletakkan sendoknya. "Rumah ini sudah terlalu lama diisi oleh orang-orang yang hanya berpura-pura kenyang."

​Nora menyeka mulutnya dengan serbet. "Terima kasih, makanannya sangat luar biasa."

​Lydia berdiri, raut wajahnya berubah menjadi lebih bersemangat. "Sekarang, karena perutmu sudah penuh, ikutlah denganku. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."

​Lydia membawa Nora kembali ke lantai atas, menuju kamar Declan. Namun, kali ini mereka tidak berhenti di sisi tempat tidur. Lydia melangkah menuju sebuah pintu panel kayu yang menyatu dengan dinding di sisi kiri ruangan, sebuah area yang sebelumnya luput dari perhatian Nora.

​Begitu pintu itu terbuka dan lampu otomatis menyala, Nora terkesiap.

​Jika walk-in closet milik Declan berisi ketegasan setelan jas pria, maka ruangan ini adalah surga bagi kelembutan wanita. Ruangan itu hampir seluas apartemen kelas menengah. Deretan lemari kaca menampilkan ratusan gaun malam dari desainer ternama seperti Chanel, Dior, hingga Alexander McQueen. Di sudut lain, terdapat koleksi tas tangan yang sangat lengkap, mulai dari seri terbatas hingga klasik.

​"Aku menyiapkan ini semua dalam waktu singkat setelah kesepakatan pernikahan itu tercapai," Lydia menjelaskan sembari menyentuh salah satu gaun sutra berwarna emerald. "Aku hanya mengira-ngira ukuran tubuhmu dari foto-foto yang dikirim Antonio. Sepertinya dugaanku tepat, kau memiliki tubuh yang proporsional."

​Nora berjalan perlahan menyusuri lorong pakaian itu. Jarinya menyentuh kain-kain lembut yang terasa dingin di kulit. Ada dress rumahan yang tampak sangat nyaman, baju santai berbahan kasmir untuk musim dingin New York, hingga baju tidur berbahan sutra tipis yang sangat cantik.

​Lydia berdehem kecil, wajahnya menunjukkan sedikit rona canggung saat mereka sampai di bagian paling ujung lemari. Di sana, tergantung beberapa set pakaian dalam yang sangat provokatif—gaun malam tipis, lace lingerie, dan apa yang sering disebut orang sebagai 'baju dinas malam'.

​"Aku... yah, aku tahu Declan masih koma," Lydia mengalihkan pandangannya ke arah rak tas, suaranya sedikit gugup. "Tapi secara teknis kau adalah istrinya. Aku ingin kau merasa sebagai seorang istri yang seutuhnya di kamar ini. Namun, melihat pakaian yang kau kenakan sekarang, sepertinya seleraku dan seleramu mungkin agak berbeda."

​Lydia segera berbalik, mencoba menutupi kecanggungannya dengan topik lain. "Besok, aku akan mengajakmu keluar. Kita akan berbelanja pakaian dalam yang sesuai dengan keinginanmu, perhiasan yang kau sukai, dan sepatu yang benar-benar pas di kakimu. Kau butuh sesuatu yang lebih... dirimu sendiri."

​Nora terpaku. Ia menatap punggung Lydia. Selama lima tahun di bawah atap Adrian, semua yang ia pakai adalah pilihan Adrian. Adrian yang membelikan perhiasannya, Adrian yang menentukan warna gaunnya, dan Adrian yang menuntutnya tampil sempurna sebagai pendampingnya.

​Namun di sini, Lydia—seorang wanita yang baru mengenalnya beberapa jam—ingin ia memiliki pilihannya sendiri. Lydia tidak mencoba membentuk Nora menjadi bonekanya; ia ingin memberikan Nora alat untuk menjadi dirinya sendiri.

​"Nyonya... Ibu," panggil Nora pelan.

​Lydia berbalik.

​"Terima kasih," ujar Nora dengan tulus. Matanya sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih untuk semua ini. Bukan hanya untuk pakaiannya, tapi karena... Ibu mengizinkan saya menjadi diri saya sendiri."

​Lydia mendekati Nora dan menggenggam tangannya. "Nora, kau adalah bagian dari keluarga Sullivan sekarang. Kami tidak hanya membeli pengantin untuk Declan; kami menyambut seorang putri. Aku tahu kau telah melewati banyak hal menyakitkan di California. Anggaplah rumah ini, lemari ini, dan semua perhatian ini sebagai cara kami memberitahumu bahwa kau aman di sini."

​Nora merasakan kehangatan yang tulus mengalir dari tangan Lydia. Selama ini, ia selalu menganggap "keluarga" adalah tempat di mana orang saling memanfaatkan, seperti Antonio dan Stella. Namun Lydia menunjukkan sesuatu yang berbeda—sebuah kasih sayang yang tidak menuntut balasan segera, sebuah perlindungan yang tulus bagi jiwa yang lelah.

​"Sekarang, pilihlah baju tidur yang paling nyaman. Beristirahatlah di samping Declan," Lydia menepuk bahu Nora sebelum berpamitan. "Besok akan menjadi hari yang panjang untuk kita berdua."

​Setelah Lydia keluar, Nora berdiri sendirian di tengah kemewahan itu. Ia tidak lagi merasa terintimidasi. Ia mengambil sebuah baju tidur berbahan sutra berwarna biru pucat yang sederhana, lalu kembali ke sisi tempat tidur Declan.

​Ia menatap pria yang masih memejamkan mata itu. "Sepertinya ibumu adalah malaikat, Declan," bisik Nora sembari meletakkan tangannya di atas tangan Declan yang kini telah mengenakan cincin. "Jika kau bangun nanti, kuharap kau memiliki hati yang sama dengannya."

​Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nora tidur dengan perasaan aman yang nyata. New York memang dingin di luar, tapi di dalam mansion Sullivan, Nora baru saja menemukan kehangatan yang akan memberinya kekuatan untuk menghadapi badai apa pun yang mungkin dikirimkan Adrian Thorne dari seberang benua.

1
Arieee
tetep goblok di Adrian 🤣
Arieee
wow👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!