NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32 Lagi-lagi Dibela Suami

Santaka melangkah cepat menuju kamarnya. “Sayang, kenapa?” Ia langsung mendekati istrinya yang duduk di pinggir ranjang dengan wajah kalut.

“Tadi kamu telpon, katanya abis makan malem kita mau disidang Gus Yasa. Kenapa?” Santaka duduk di samping sang istri. Ia elus lengan istrinya.

“Ada yang ngehubungin Mas, selain aku?” Nandini menatap suaminya, merasa bersalah.

“Gus Yasa. Dia chat. Nyuruh pulangnya jangan malem-malem. Tapi dia ndak bilang ada apa. Memang kenapa, Sayang?” Santaka menarik Nandini untuk duduk menyamping di pangkuannya. Sang istri yang sedang mode tegang, menurut saja.

“Ayo cerita, jadi kita bisa hadepin sama-sama nanti malem.” Santaka mengelus punggung istrinya.

“Mas, maafin aku. Padahal kamu udah sering muji aku, bilang aku sabar. Aku tau itu motivasi Mas supaya aku ndak gampang emosi, ndak impulsif. Ternyata aku gagal, Mas. Aku masih saja emosian.”

Nandini tertunduk. Elusan di punggung masih Santaka berikan. “Ssstt... memang gimana kronologisnya?”

Nandini akhirnya menceritakan kejadian di meja kasir. “Menurut aku itu fatal, Mas. Bukannya itu melanggar syariat ya?

Mungkin karena aku udah sempet emosi sama Ning Sarah, jadinya pas ngomong sama mbak kasirnya, aku ngegas banget. Dan itu narik perhatian orang banget. Ning Sarah keberatan.”

Santaka mengembuskan napas. “Memangnya kenapa, sempet emosi sama Ning Sarah? Biasanya bisa sabar.”

“Dia... nyebelin dari sebelum berangkat belanja. Parahnya, dia jelekin Mas. Dia bilang Mas ndak ngambil tanggung jawab sepenuhnya di Al Fatih. Aku bisa agak cuek kalau yang disenggol diri aku. Tapi kalau Mas, aku ndak terima. Enak aja, suami aku yang genit dijelekin!”

Santaka tertawa kecil mendengar cerita istrinya. Merasa tersanjung, Nandini berlaku sepertinya. Pasang badan demi pasangan.

“Terima kasih udah bela aku. Keren banget sih.” Santaka mengelus pipi Nandini. “Ada lagi yang mau diceritain?”

Nandini menggeleng. Santaka berdeham. “Sekarang giliran aku ya. Kamu bener banget, apa yang sudah dilakuin grosiran tadi memang melanggar syariat agama. Apa yang istriku nilai itu memang benar sekali. Mereka perlu diingatkan kalau mereka salah.”

Santaka mencubit kecil hidung Nandini. Hidung bangir favoritnya. Membuat istrinya itu tersipu.

“Menurut kamu, ada cara lain selain ditegur di kasir seperti yang udah kamu lakuin sebelumnya?” Inilah cara Santaka mendidik Nandini. Bertanya secara reflektif. Berkaca pada jawaban Nandini sendiri.

Santaka tahu istrinya tipe defensif. Semakin ditekan dengan jawaban yang lain dengan pemikirannya, ia akan semakin melawan.

Nandini menggeleng. “Yakin sayang? Kira-kira kalau kamu yang ada di posisi kasir itu, maunya dikasih tau gimana?” Santaka kembali mengelus punggung istrinya.

“Ya, itu kan bukan salah aku. Aku cuma jalanin perintah atasan.” Nandini merengut.

“Nah, artinya apa? Ada cara yang lebih tepat kan untuk ngasih tau kesalahan grosiran itu. Apa?” Santaka menatap lembut istrinya.

“Ngomongnya sama atasannya.” Nandini menipiskan bibirnya.

“Betul sekali, sayang. Buat pelajaran ke depannya saja ya.” Santaka membelai rambut sang istri. Nandini mengangguk.

“Terus nanti malem gimana? Aku pasti dirujak sama Gus Yasa sama Ning Sarah.” Nandini menggembungkan pipinya.

“Ada aku, sayang. Kita hadapin sama-sama. Jangan takut ya.” Santaka tersenyum dan kembali mencubit hidung istrinya itu.

Nandini memeluk Santaka. Ia merasa bersyukur dinikahkan paksa dengan sang gus. Lelaki yang begitu teduh, penyabar dan selalu pasang badan untuknya.

Santaka memeluk Nandini lebih erat. Tantangannya kini bukan lagi perasaan Nandini, tetapi kesanggupan dirinya dan Nandini menghadapi tekanan hidup di Ndalem.

*

*

Santaka menggengam erat tangan Nandini. Keduanya berjalan menuju ruang dalam. Kepala Nandini menunduk. 

“Assalammu’alaikum,” Santaka menyapa seluruh personil keluarga Mansur yang sudah lengkap berkumpul. Mereka menjawab serempak. “Wa’alaikumsalam.”

Nandini menghela napas. Lagi-lagi ruang dalam menjadi ruang pengadilan bagi dirinya. Terakhir masalah Ahsan, Abyasa ada di posisi netral. Kini kakak Santaka itu kembali menjadi jaksa, seperti saat Nandini dipaksa menikah dengan Santaka.

Abyasa sangat argumentatif dan sulit dibantah. Semoga sekarang Nandini dan sang suami mampu menghadapi sang komandan polisi Ndalem.

“Ini kenapa Gus Yasa, ngumpulin kita semua di sini?” Narendra menatap kakaknya.

Abyasa menatap tajam Santaka kemudian memandang ke arah Mansur. “Yasa mengundang Abi, Umi serta semuanya karena ada hal yang penting harus diketahui.

Jadi tadi pagi istri Yasa dan Mbak Dini belanja bulanan. Ning Sarah cerita kalau Mbak Dini sudah mempermalukan nama Al Fatih.”

Abyasa menceritakan kronologis versi Sarah. Tak ada yang berbeda dengan versi Nandini. Memang begitu adanya yang terjadi.

“Bayangkan Abi, Umi, hanya karna tiga puluh ribu, nama baik Al Fatih dipertaruhkan. Keluarga kita akan dipandang tak bijak. Beraninya memarahi wong cilik, mbak kasir, karena kesalahan yang bukan kesalahannya.

Itu kan kebijakan manajemen. Lagipula hal itu sudah biasa. Harga di kasir berbeda dengan di etalase. Kenapa harus dibesar-besarkan? 

Membuat kita seperti orang su’ul adab, buruk adabnya. Apa pantas itu disematkan pada kita, yang dianggap sebagai guru dalam masyarakat?"

Mansur mengelus janggutnya. Lastri menatap Nandini prihatin, sementara Sarah menatap sinis. Danendra menggaruk alisnya. Husna melipat bibir.

Nandini mengeratkan genggamannya dengan Santaka. Sang suami melakukan hal serupa. Ibu jarinya membelai halus punggung tangan Nandini.

“Gus Taka, didik istri sampeyan! Sudah dirangkul masuk menjadi keluarga Al Fatih malah tidak bisa menempatkan diri!”

“Gus Yasa!” tegur Mansur. Abyasa membuang muka. Kecewa sang ayah malah menegurnya. Padahal yang ia katakan adalah hal yang benar.

Santaka mengatur napasnya agar tak memburu. Rahangnya mengetat. Bagi Santaka, Abyasa benar-benar keterlaluan! Kakaknya itu yang memaksa Nandini dan dirinya menikah, namun kata-kata sang kakak tadi seakan-akan Ndalem terpaksa menerima istrinya. Di mana logikanya?

“Mbak Dini, coba cerita kenapa berbuat demikian?” Mansur mengembuskan napas.

Nandini menelan ludah. “Abi... Umi... Dini mohon maaf atas kegaduhan yang Dini buat. Nama baik Al Fatih jadi jelek karna kesalahan Dini. 

Dini sudah menyadari kesalahan yang Dini lakukan karena kurangnya ilmu yang Dini punya. Memang ndak patut menegur seseorang di muka umum seperti itu.

Gus Yasa, nyuwun pangapunten, suami Dini, Gus Taka, sudah berusaha didik Dini sejak awal nikah. Ini bukan salah beliau. Ini murni salah Dini, yang belum mampu nyerap ilmu dari suami.” 

Santaka menatap bangga sang istri yang sedang menunduk. Ia kembali mengelus-elus punggung tangan Nandini dengan ibu jarinya. Bentuk mereka saling menguatkan.

“Apa diperkenankan, kalau Dini menjelaskan alasan perilaku Dini tadi pagi?” Nandini mengangkat wajahnya, memandang takzim pada Mansur. Sang kyai mengangguk.

“Dini hilang kendali karna merasa apa yang dilakukan grosiran itu, dalam hal ini si mbak kasir, itu kebohongan, dosa.

Bukannya kalau kita diam saja ketika ada yang melakukan dosa, kita akan bertanggung jawab karna sudah apatis? Bukannya prinsip agama kita amar ma’ruf nahi mungkar? Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

Santaka tersenyum puas atas jawaban istrinya. Ia menatap Abyasa yang rahangnya mengetat mendengar ucapan Nandini. Ia merasa semakin puas.

Sarah menggoyangkan rahangnya. Ia memalingkan wajahnya. Danendra dan Husna tersenyum. Lastri memandang kagum sang menantu.

“Alasan kedua itu Dini memikirkan siapa yang jadi korban dosa grosiran itu. Buat kita tiga puluh ribu ndak seberapa, tapi ada yang merasa berat dengan jumlah itu. Dini berusaha berempati, seperti didikan Gus Taka, Abi, Umi, dan semua Gus dan Ning.

Demikian Abi, Umi, yang bisa Dini sampaikan.” Nandini menatap Mansur dan Lastri bergantian. Santaka membelai kepala sang istri. Senyum lebar tercetak di wajahnya.  

Mansur tersenyum. “Permohonan maaf Mbak Dini, kami terima. Apa yang menjadi alasan atau niat Mbak Dini, sangat baik. Maasya Allah.

Pertahankan niat itu. Tinggal perbaiki caranya. Kebaikan itu dilihat dari nilai kebaikannya itu sendiri dan cara penyampaiannya. Keduanya harus sejalan.”

Semua tersenyum lega. Kecuali pasangan anak tertua. Wajah keduanya keruh. Tak terima semudah itu Nandini dimaafkan.

Husna menggigit bibir. Ia dilema ingin ikut bersuara namun sungkan. Tapi jika ia diam saja, hatinya tak akan tenang.

“Abi, nyuwun pangapunten, urun buka suara. Setau Husna... sebenarnya menurut aturan pemerintah, kalau ada perbedaan antara harga di etalase sama di kasir, harga yang diambil itu harga terendah. 

Jadi memang itu hak pembeli yang dilindungi hukum. Husna juga suka nanya sama kasir kalau harganya beda, dan Husna jelasin soal aturannya. Mereka akhirnya kasih sesuai aturan.”

Abyasa mendengus. Sarah terkesiap mendengar Husna ikut berbicara. Mengapa jadi terkesan ikut menjatuhkannya? Mentang-mentang sekarang akrab dengan Nandini. Bahaya sekali pengaruh istri Santaka itu.

“Tapi kan kalau kayak gitu, yang nombok kasirnya. Kasian,” cetus Sarah.

“Iya Ning, makanya aturan ini perlu disebarin jadi masyarakat tau dan bisa jadi gerakan sosial untuk hentiin kecurangan para pemilik semacam grosiran itu.

Dengan Mbak Dini protes, akan ada yang ngikut untuk ndak diem saja. Para pemilik bisnis itu makin menjadi karna kita, diam saja. Nanti pas kajian bisa kita jelasin insiden tadi pagi, kenapa. Dan yang benar itu seperti apa.” Husna menganggukkan kepala.

Suasana kembali hening. Santaka menarik napas panjang dan berdeham.

“Nyuwun pangapunten, izin menambahkan sebagai suami Mbak Dini, Abi, Umi. Tanpa mengesampingkan pertumbuhan karakter istri Taka yang luar biasa di waktu dua bulan ini, mohon diingat istri Taka ini adalah awam.

Dia bukan santri apalagi Ning, yang sedari kecil paham mendalam tentang agama. Mbak Dini hanya paham kulitnya saja. 

Walaupun mungkin membuat kegaduhan di grosiran, tapi Taka yakin jika dilempar ke publik maka publik akan mendukung Mbak Dini. Alasannya sama seperti yang sudah dijelaskan oleh Ning Husna. Mereka akan setuju sama niat Mbak Dini.

Jadi jangan sedikit-sedikit menilai istri Taka membuat nama Al Fatih jelek. Belum tentu.

Kesalahan Mbak Dini adalah menegur di depan umum, mempermalukan seseorang. Lalu apa bedanya dengan yang sudah dilakukan oleh Gus Yasa dan Ning Sarah pada istri Taka?

Sekarang, apa perlu Gus Nendra, Ning Husna, tau soal kesalahan Mbak Dini? Gus Yasa dan Ning Sarah juga mempermalukan istri Taka di depan orang.

Kenapa tidak diselesaikan di level Ning Sarah? Tegur baik-baik istri Taka yang memang masih perlu banyak belajar ini. Kalau Gus Yasa bilang istri Taka membesar-besarkan masalah, lalu Ning Sarah apa?”

Mansur mengangguk. “Di tengah kita sekarang ada yang perlu dirangkul. Abi harap ini jadi pembelajaran ke depan. Jangan sampai karena kita mengajar Mbak Dini terlalu keras, dia menolak istiqomah—konsisten. Itu zolim juga.”

Santaka mengembuskan napas lega. Ayahnya memang sosok bijaksana. Walaupun tak sepenuhnya menerima pilihan hidup Santaka, Mansur bisa berpikir objektif terhadap permasalahan di Ndalem. Tak seperti kakak tertuanya.

Abyasa mengepalkan tangannya. Ia tak terima Santaka yang biasanya manut atau melawan seadanya kini berubah menjadi singa pelindung bagi istrinya. Adiknya benar-benar berubah setelah menikah.

Nandini menatap Santaka. Sekali lagi ia bersyukur dinikahkan paksa dengan sang suami. Di mana lagi ia akan menemukan lelaki dengan paket selengkap ini? 

Lembut, selalu mengusahakan kenyamanan bagi Nandini. Melindunginya dari siapa pun, bahkan dari keluarga kandung sang suami sendiri. Menjaga dirinya, istri terpaksa sang gus.

Sepertinya Nandini sudah bukan lagi di tahap nyaman saja dengan sang suami. Ia telah jatuh cinta pada Santaka. Gus Rotinya, yang sempat ia sepelekan.

1
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
Nanik Arifin
baby blues ini Ning Rini. harusnya Gus Agam berperan agar baby blues g berlanjut, kasihan bayinya
Inna Kurnia: betul bgt Kak Nanik, ning rini depresi abis lahiran ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
kasian sih Rini 🙄🙄 trnyata Agam gamon dan menghanyutkan bahtera rumah tangganya sendiri. menyebalkan
Aisyah Virendra: 😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!