Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Di Bawah Atap Hajah Fatimah
Aku berdiri di depan cermin besar apartemenku, menatap sosok yang terasa asing. Tidak ada blazer terstruktur dengan bantalan bahu yang tegas. Tidak ada rok pensil yang membalut pinggangku dengan ketat. Sore ini, atas instruksi pria yang bahkan belum genap dua puluh empat jam kukenal secara pribadi, aku mengenakan gamis berwarna dusty rose yang longgar dan pasmina sutra dengan warna senada yang tersampir canggung di bahuku.
Tanganku gemetar saat mencoba merapikan kain di kepalaku. Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku mengenakan ini? Sejak pemakaman Adrian?
Aku menghapus riasan mata smokey yang biasanya menjadi senjata andalanku di ruang rapat, menyisakan sapuan tipis cushion dan lipstik berwarna nude. Wajah di cermin itu tampak lebih muda, lebih rapuh, dan entah kenapa... lebih jujur. Dan kejujuran adalah hal terakhir yang ingin kutunjukkan pada dunia saat ini.
"Kau terlihat seperti orang lain, Aruna," bisikku pada pantulan itu. Suaraku terdengar hampa, memantul di dinding marmer kamar mandi yang dingin.
Aku meraih tas tangan kecil, memastikan tidak ada logo desainer yang terlalu mencolok. Bumi benar; jika aku ingin memenangkan hati ibunya, aku tidak boleh datang sebagai wanita yang bisa membeli seisi lingkungan rumahnya. Aku harus datang sebagai wanita yang layak dijaga oleh putranya.
Turun ke lobi, aku melihat mobil SUV hitamku sudah menunggu. Namun, alih-alih supir pribadiku yang membukakan pintu, Bumi sudah berdiri di sana. Dia mengenakan kemeja batik lengan panjang bermotif sederhana dan celana kain hitam yang rapi. Rambutnya yang biasanya sedikit berantakan kini tersisir klimis, menyisakan aroma minyak rambut herbal yang samar.
Dia terpaku saat melihatku keluar dari lift. Matanya menyapu penampilanku dari atas ke bawah, cukup lama hingga membuat pipiku terasa panas—sensasi yang belum pernah kurasakan sejak bertahun-tahun lalu.
"Bagaimana? Apakah ini cukup 'tulus' untuk ibumu?" tanyaku, mencoba mengembalikan nada sinisku untuk menutupi rasa canggung.
Bumi mengerjapkan mata, lalu berdeham sambil membuang muka. "Jauh lebih baik. Setidaknya Ibu tidak akan mengira saya sedang membawa klien asuransi ke rumah."
Dia membukakan pintu untukku. Sepanjang perjalanan menuju daerah pinggiran Jakarta Timur, keheningan di dalam mobil terasa begitu padat hingga rasanya oksigen di antara kami menjadi tipis. Aku terus menatap keluar jendela, melihat pemandangan berubah dari gedung-gedung pencakar langit yang angkuh menjadi deretan ruko kusam dan gang-gang sempit yang dipenuhi anak-anak bermain bola plastik.
Apa yang sedang kulakukan? Pertanyaan itu terus berulang di kepalaku seperti kaset rusak. Aku, Aruna Wiratmadja, sedang menuju sebuah rumah kecil di gang sempit untuk meminta restu menikahi seorang junior programmer demi sebuah kursi kekuasaan. Ini gila. Ini adalah naskah drama paling buruk yang pernah kutulis dalam hidupku. Tapi saat teringat wajah Lukman yang penuh kemenangan, aku mengeraskan hati. Aku lebih baik terjun ke dalam ketidakpastian bersama Bumi daripada menyerah pada serigala itu.
"Ibu saya tidak tahu soal kontrak itu," Bumi memecah keheningan saat mobil kami mulai memasuki jalanan yang lebih sempit. "Dia hanya tahu saya menemukan calon istri yang baik di kantor. Tolong, Aruna... jika Anda punya sedikit rasa kemanusiaan, jangan biarkan dia tahu bahwa pernikahan ini memiliki harga."
Aku menoleh, menatap profil samping wajahnya. Rahangnya mengeras. "Kau pikir aku sejahat itu? Aku tahu cara menjaga rahasia, Bumi. Bisnisku dibangun di atas kerahasiaan."
"Ini bukan bisnis," potongnya tajam, kali ini dia menatapku langsung. Matanya yang gelap memancarkan luka yang dalam. "Ini adalah hati ibu saya. Dia sudah kehilangan ayah saya dua tahun lalu. Satu-satunya hal yang membuatnya tetap tegak adalah melihat saya dan Sifa hidup dengan benar. Jika dia tahu saya menjual akad saya... dia tidak akan pernah memaafkan saya."
Aku terdiam. Ada denyut rasa bersalah yang menusuk di dadaku. Selama ini, aku hanya melihat Bumi sebagai pion. Aku lupa bahwa pion pun memiliki akar, memiliki cinta yang melindunginya.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar hijau yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Halamannya kecil, namun dipenuhi pot-pot tanaman hias yang terawat rapi—aglonema, lidah mertua, dan melati yang harumnya langsung menyerbu indra penciumanku saat aku turun dari mobil.
Seorang wanita paruh baya dengan mukena putih baru saja melangkah keluar dari pintu depan. Wajahnya dihiasi kerutan yang bijak, dan matanya... oh, matanya persis seperti mata Bumi. Teduh, namun mampu menembus hingga ke dasar jiwa.
"Assalamualaikum, Bu," Bumi melangkah maju, meraih tangan ibunya dan menciumnya dengan takzim.
"Waalaikumussalam, Le. Sudah sampai?" Hajah Fatimah beralih menatapku.
Jantungku berpacu lebih kencang daripada saat aku menghadapi audit pajak tahunan. Aku melangkah ragu, lalu mengikuti apa yang dilakukan Bumi—meraih tangan lembut yang berbau bawang dan sabun cuci itu, lalu menciumnya.
"Aruna, Bu," suaraku sedikit bergetar.
"Masya Allah... cantiknya," Hajah Fatimah tersenyum, sebuah senyuman yang begitu tulus hingga membuatku ingin menangis saat itu juga. "Ayo masuk, Nak Aruna. Maaf rumahnya sempit, tidak seperti kantor kalian."
Rumah itu hanya seluas ruang tamu apartemenku, tapi rasanya begitu... penuh. Ada foto-foto Bumi saat wisuda, foto keluarga kecil mereka di depan masjid, dan kaligrafi kayu yang tergantung di dinding. Semuanya tertata dengan cinta.
Kami duduk di sofa kain yang sudah agak kempes. Di atas meja, sudah tersedia teh hangat dan piring berisi pisang goreng yang masih mengepul.
"Bumi bercerita banyak soal Nak Aruna," Hajah Fatimah memulai percakapan setelah kami menyesap teh. "Katanya, Nak Aruna ini atasannya yang sangat baik. Tapi Ibu sempat kaget, kenapa tiba-tiba sekali ingin menikah?"
Aku melirik Bumi. Dia tampak tegang, jemarinya meremas lututnya sendiri.
"Ibu," aku berdeham, mencoba mencari suara terbaikku. "Mungkin ini terdengar terburu-buru. Tapi setelah kepergian suami saya dua tahun lalu, saya merasa hidup saya hanya berputar di meja kerja. Saat saya bertemu Bumi... ada sesuatu yang berbeda. Dia jujur, dia berprinsip. Saya merasa dia adalah pria yang bisa membimbing saya kembali ke jalan yang benar."
Kalimat terakhir itu keluar begitu saja. Sebagian dariku tahu itu adalah bagian dari sandiwara, tapi sebagian kecil hatiku yang lain merasa itu adalah pengakuan jujur yang sudah lama kupendam. Jujur Aku memang tersesat di tengah kekayaanku sendiri.
Hajah Fatimah menatapku dalam, seolah sedang membaca setiap inci ekspresi wajahku. "Menikahi seorang janda bagi Bumi bukan masalah, Nak. Rasulullah pun menikahi Ibunda Khadijah. Tapi, apakah Nak Aruna yakin? Bumi ini hanya orang biasa. Dia tidak punya harta, dia hanya punya tanggung jawab besar pada Ibu dan Sifa."
"Harta saya sudah cukup, Bu," kataku pelan, meraih tangan Hajah Fatimah. "Saya tidak mencari harta pada Bumi. Saya mencari sesuatu yang tidak bisa saya beli dengan uang... ketenangan."
Ruangan itu mendadak hening. Bumi menoleh ke arahku, matanya membelalak kaget. Dia tidak menyangka aku akan bicara sejauh itu.
Tiba-tiba, Hajah Fatimah menghela napas panjang. "Bumi, ambilkan kerupuk di dapur, Le. Ibu lupa menyajikannya."
Setelah Bumi beranjak, Hajah Fatimah menggenggam tanganku lebih erat. Tatapannya berubah menjadi lebih serius, lebih tajam.
"Nak Aruna," bisiknya. "Ibu mungkin sudah tua, tapi Ibu tahu mata orang yang sedang ketakutan. Kamu datang ke sini bukan hanya mencari jodoh, kan? Ada beban besar yang sedang kamu panggul sendirian."
Duniaku seolah berhenti berputar. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah riasanku kurang tebal untuk menutupi ketakutanku?
"Ibu..."
"Ibu tidak akan bertanya apa masalahnya," potongnya lembut. "Tapi Ibu minta satu hal. Jika kamu benar-benar akan menikahi putraku, tolong jangan hancurkan dia. Bumi itu terlihat kuat di luar, tapi hatinya sangat lembut. Dia rela melakukan apa pun demi orang yang dia sayangi—termasuk mengorbankan dirinya sendiri. Ibu hanya ingin kamu tahu, pernikahan yang diawali dengan niat yang tidak lurus, biasanya akan menemui kerikil yang tajam."
Aku terpaku. Tenggorokanku terasa tersumbat sembilu dan mataku terasa terkena hawa irisan bawang. Aku ingin berteriak dan mengatakan bahwa ini semua memang sandiwara, bahwa aku sedang memanipulasi putranya. Tapi di saat yang sama, aku merasakan kehangatan dari tangan Hajah Fatimah yang membuatku merasa... diinginkan. Bukan sebagai CEO, tapi sebagai seorang manusia.
Bumi kembali dari dapur, matanya bergantian menatap kami dengan waspada. "Ada apa, Bu?"
Hajah Fatimah tersenyum kembali, melepaskan tanganku. "Tidak ada apa-apa. Ibu hanya bilang pada Aruna, kalau dia harus sabar menghadapi kamu yang kaku seperti robot kalau sedang kerja."
Tawa kecil pecah, meredakan ketegangan yang sempat memuncak. Namun bagiku, tawa itu terasa seperti duri.
Setelah percakapan panjang dan jamuan makan malam sederhana yang terasa lebih nikmat daripada hidangan hotel bintang lima, kami berpamitan. Hajah Fatimah memberikan restunya, meski dengan catatan bahwa Bumi harus tetap menjadi imam yang baik.
Saat kami berjalan menuju mobil di bawah temaram lampu gang, Bumi menghentikan langkahku. Dia menarik lenganku perlahan, memaksaku berbalik menghadapnya di balik bayangan pohon mangga yang rindang.
"Apa yang Ibu bicarakan tadi saat saya di dapur?" tanyanya, suaranya bisikan tajam.
"Hanya soal kebiasaanmu," jawabku berbohong, membuang muka.
Bumi mendekat, satu langkah lagi dan dadanya hampir bersentuhan dengan bahuku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya. "Aruna, jangan bohong. Aku melihat matamu saat keluar tadi. Kamu... habis menangis?"
Aku tertawa hambar, mencoba membuang sesak di dada. "Menangis? CEO Wiratmadja Tech tidak menangis karena pisang goreng, Bumi."
"Tapi seorang wanita bisa menangis karena merasa bersalah," balasnya telak.
Aku terdiam. Kami berdiri dalam keheningan yang menyesakkan di tengah gang sempit itu. Suara jangkrik dan sayup-sayup suara pengajian dari masjid jauh menjadi latar belakang yang menyakitkan.
Tiba-tiba, ponsel Bumi bergetar. Dia melihat layarnya, dan wajahnya seketika berubah pucat pasi.
"Ada apa?" tanyaku panik.
"Sifa," bisiknya. "Kondisinya drop lagi. Dokter bilang dia harus segera dibawa ke ruang operasi darurat malam ini juga."
Panik menyambar kami berdua. Tanpa pikir panjang, aku menarik tangan Bumi menuju mobil. "Cepat masuk! Kita ke rumah sakit sekarang!"
Saat aku menyalakan mesin, sebuah mobil hitam legam berhenti tepat di belakang mobilku, menghalangi jalan keluar dari gang sempit itu. Lampu jauhnya menyilaukan mata, menyambar kaca spionku.
Pintunya terbuka, dan sosok tinggi dengan jas rapi melangkah keluar. Lukman Wiratmadja.
Dia berjalan mendekat dengan seringai kemenangan di wajahnya, mengetuk kaca jendela mobilku dengan perlahan, seolah sedang memainkan simfoni kematian.
Aku menurunkan kaca jendela sedikit. "Mau apa kau, Lukman?"
"Hanya ingin menyapa keponakan iparku," suaranya serak dan penuh intrik. Dia melirik Bumi yang duduk di sampingku dengan tatapan meremehkan. "Jadi, ini dia 'pahlawan' itu? Seorang anak gang yang baunya seperti minyak telon? Aruna, kau benar-benar sedang menggali kuburanmu sendiri. Oh, omong-omong... aku baru saja membeli rumah sakit tempat adik tunanganmu dirawat. Jika kau ingin operasi itu berjalan lancar, kurasa kita perlu bicara soal pembatalan pernikahan konyol ini."
Duniaku runtuh sekali lagi. Lukman tidak hanya mengejar kursiku; dia mulai mengincar nyawa orang-orang di sekitarku.
Aku menoleh ke arah Bumi. Dia mencengkeram dasbor mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat dengan kemarahan yang luar biasa, namun dia tidak bergerak. Dia terjepit di antara harga dirinya, cintanya pada adiknya, dan kontrak gila yang kubuat.
____________________________________________
Aku melihat Aruna di sampingku. Dia gemetar—sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Wanita yang biasanya memerintah dengan satu jentikan jari ini sekarang tampak kecil dan rapuh di hadapan paman suaminya sendiri.
Dan bajingan bernama Lukman itu... dia baru saja mengancam nyawa Sifa.
Tanganku meraba buku doa kecil di kantong celanaku. Aku teringat pesan Ibu tadi di dalam: "Jadilah imam yang menjaga, Le. Bukan imam yang merusak."
Aku tahu apa yang harus kulakukan. Jika dunia ini penuh dengan serigala seperti Lukman, maka aku harus menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar programmer yang taat. Aku harus menjadi pelindung bagi wanita yang—meski dengan cara yang salah—telah memberiku harapan untuk kesembuhan Sifa.
Aku membuka pintu mobil, melangkah keluar menghadapi Lukman. Aku tidak punya senjata, aku tidak punya kekuasaan. Tapi aku punya sesuatu yang tidak dimiliki pria tua ini.
Aku berjalan hingga hanya berjarak beberapa senti dari Lukman. Aku lebih tinggi darinya, dan aku memastikan dia merasakan tekanan itu.
"Pak Lukman," suaraku tenang, sedingin es yang membeku di puncak gunung. "Anda mungkin bisa membeli rumah sakit itu, tapi Anda tidak bisa membeli maut. Jika terjadi sesuatu pada adik saya karena ulah Anda... saya tidak akan menuntut Anda di pengadilan dunia yang bisa Anda suap. Saya akan pastikan hidup Anda menjadi neraka sebelum Anda benar-benar sampai di sana."
Lukman tertawa, tapi tawanya terdengar sumbang. "Berani sekali kau, bocah."
"Saya tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan selain nyawa saya sendiri," balasku sambil menatapnya tajam tanpa berkedip—sebuah teknik pesantren yang dulu kupelajari untuk mengusir rasa takut. "Sekarang, geser mobil Anda, atau saya akan memastikan rekaman ancaman Anda barusan tersebar ke seluruh investor Wiratmadja Tech melalui sistem yang baru saja saya 'perbaiki' tadi sore."
Aku menunjukkan ponselku yang sedang dalam mode perekaman aktif. Lukman terdiam, wajahnya merah padam.
Aku kembali masuk ke mobil, menutup pintu dengan dentum keras. "Jalan, Aruna. Abaikan dia."
Aruna menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ada kekaguman, ada rasa takut, dan ada... binar sesuatu yang lain.
Kami melesat meninggalkan gang itu, meninggalkan Lukman yang masih terpaku. Di dalam mobil yang melaju kencang, Aruna meraih tanganku yang masih gemetar karena amarah. Dia menggenggamnya erat, dan untuk pertama kalinya, aku tidak menarik tanganku kembali.
"Terima kasih, Bumi," bisiknya lirih.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap jalanan di depan dengan satu tekad: Pernikahan ini mungkin berawal dari kebohongan, tapi aku akan memastikan bahwa perlindungan yang kuberikan padanya adalah hal paling nyata yang pernah dia rasakan.
____________________________________________
Sesampainya di rumah sakit, Sifa sudah berada di ruang operasi. Namun, saat Bumi sedang menunggu di depan ruang bedah, seorang perawat memberikan sebuah surat yang tertinggal di bantal Sifa. Isinya adalah tulisan tangan Sifa yang bergetar: "Mas Bumi, maafkan Sifa. Sifa dengar semuanya saat Mas bicara dengan Kak Aruna di koridor kemarin. Sifa tidak mau Mas menikah karena terpaksa. Biarkan Sifa pergi saja..."
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘