NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16 Ibuku Tidak Punya Teman Sepertimu!

"Lihat ini! Lihat betapa menjijikkannya suamiku berselingkuh dengan monster bertopeng itu!"

Bianca membanting ponselnya ke atas meja, membuat kedua orang tuanya yang sedang menikmati teh pagi tersentak.

Layar ponsel itu menampilkan foto buram namun jelas, Dante sedang mengusap sudut bibir Detektif Ve dengan tatapan yang begitu memuja semalam.

Tatapan yang tidak pernah Bianca dapatkan selama tujuh tahun pernikahan mereka.

"Tenanglah, Bianca. Kau bisa menghancurkan kesehatanmu sendiri jika terus begini," ucap ibunya lembut, mencoba meraih tangan putrinya yang gemetar karena amarah.

"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang, Ma?!" teriak Bianca dengan mata melotot tajam. "Dante meminta cerai karena wanita cacat itu! Aku sudah menduganya, detektif gadungan itu pasti menggunakan cara kotor untuk menggoda Dante. Dia sangat mencurigakan!"

Ayah Bianca menghela napas berat, meletakkan surat kabar yang sedari tadi ia baca.

"Bianca, dengarkan Papa. Obsesimu pada Dante sudah keterlaluan. Kau sudah menghabiskan tujuh tahun mencoba memenangkan hati pria yang jelas-jelas tidak menginginkanmu. Mungkin... mungkin ini saatnya kau melepaskannya."

"Melepaskannya?" Bianca tertawa hambar. "Setelah apa yang keluarga kita lakukan? Papa lupa? Kita sudah melangkah terlalu jauh. Jika aku melepaskan Dante, maka semua pengorbanan kita, termasuk... insiden tujuh tahun lalu itu, akan sia-sia!"

"Justru karena itu, Sayang. Dante mulai menggali kembali masa lalu. Jika kau terus menekannya, dia akan menemukan kebenaran yang akan menghancurkan kita semua. Berhenti sekarang sebelum terlambat," ucap ibunya cemas.

"Tidak akan! Aku tidak akan berhenti sampai wanita itu lenyap dari muka bumi ini," desis Bianca. Ia kemudian menyeringai saat sebuah pesan baru masuk ke ponselnya dari orang suruhannya.

"Lihat ini... informasi baru yang sangat menarik. Ternyata si buruk rupa itu punya seorang anak laki-laki."

Ayahnya mengernyitkan kening. "Anak? Apa hubungannya dengan kita?"

"Entahlah, Pa." Bianca berdiri, mengambil tas mahalnya dengan gerakan anggun. "Detektif itu menyembunyikan seorang putra? Aku harus melihat sendiri seperti apa rupa anak dari monster itu."

"Bianca, jangan lakukan hal bodoh! Jangan libatkan anak kecil!" peringat ayahnya dengan suara tegas.

Bianca hanya menoleh sedikit di ambang pintu, matanya berkilat licik.

"Jangan khawatir, Papa. Aku hanya ingin berkunjung. Aku ingin melihat apakah anak itu memiliki cacat yang sama dengan ibunya atau tidak."

Beberapa jam kemudian, Bianca sudah berada di dalam mobilnya, memantau sebuah sekolah dasar dari kejauhan.

Berdasarkan laporan mata-matanya, anak Detektif Ve akan keluar sebentar lagi.

"Siapa nama anak itu?" tanya Bianca pada asistennya yang duduk di kursi kemudi.

"Sean, Nyonya. Sean Kingsley em maksud saya, Sean saja. Di dokumen sekolah hanya tertulis Sean," jawab si asisten gugup.

Bianca menyipitkan mata saat bel sekolah berbunyi. Kerumunan anak-anak mulai keluar, namun matanya langsung tertuju pada seorang bocah laki-laki yang berjalan sendirian dengan tas ransel biru.

Bocah itu memiliki langkah kaki yang tegak dan aura yang sangat berbeda dari anak-anak seusianya.

"Itu dia," bisik Bianca.

Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar, menghalangi jalan bocah itu tepat di trotoar yang sepi.

Sean berhenti, mendongak menatap wanita cantik dengan pakaian sangat mewah di depannya. Tidak ada rasa takut di mata Sean, hanya ada tatapan dingin yang menyelidik.

"Halo, Sayang. Kau Sean, kan?" sapa Bianca tersenyum manis.

Sean tidak menjawab. Ia hanya menatap Bianca dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Siapa kau? Aku tidak bicara dengan orang asing," ucap bocah itu.

Jantung Bianca seolah berhenti

berdetak saat ia melihat wajah Sean dengan jelas dari jarak dekat. Mata itu, bentuk rahang itu dan cara bocah itu menatapnya dengan penuh penghinaan. Semuanya begitu familiar.

"Aku teman baik ibumu," dusta Bianca.

Sean menyipitkan mata. "Ibuku tidak punya teman sepertimu. Kau terlihat seperti orang yang sedang tersesat atau sedang mencari masalah."

Bianca tersentak. Ketajaman bicara bocah ini benar-benar tidak wajar.

"Kau anak yang sangat berani, Sean. Kau sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal. Siapa ayahmu?"

"Ayahku sudah meninggal," jawab Sean datar dan tanpa keraguan sedikit pun. "Jika kau mencari ibuku, sebaiknya kau buat janji di kantornya. Jangan menghadang anak kecil di jalanan, itu sangat tidak berkelas."

Sean melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Bianca yang mematung di pinggir jalan.

Seluruh tubuh Bianca panas dingin. Ia tidak butuh tes DNA untuk mengetahui siapa ayah dari anak itu.

"Kenapa anak itu sedikit mirip dengan Dante?" gumamnya.

Kebencian yang tadinya hanya berupa api kecil kini meledak menjadi kebakaran hebat di dalam dada Bianca. Jika anak itu adalah anak Dante, maka detektif Ve bukan sekadar selingkuhan.

Dia adalah ancaman nyata bagi posisinya sebagai Nyonya Carson.

"Argh!" Bianca terlonjak kaget saat sebuah SUV hitam hampir saja menyapu tubuhnya.

Keseimbangannya hilang, dan tepat saat ia akan jatuh terjungkal ke aspal, sebuah lengan kokoh menyambar pinggangnya, menariknya dengan kuat.

Bianca terengah, jantungnya berdegup kencang. Ia mendapati dirinya berada dalam dekapan pria itu, posisi mereka begitu dekat hingga napas mereka saling bersinggungan, persis seperti sepasang kekasih yang sedang berdansa di bawah lampu jalan.

Bianca menelan ludah, namun sedetik kemudian matanya membelalak jijik saat mengenali pria di balik topeng kulit yang sangat ia benci.

"Kau! Lepaskan tangan kotor mu dariku, bajingan!"

Leo melepaskan pegangannya dengan kasar hingga Bianca hampir terjatuh lagi. "Tidakkah kau punya mata? Berdiri di pinggir jalan seperti orang gila sambil menatap anak kecil, apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?"

"Kau yang tidak punya mata! Kau hampir membunuhku!" teriak Bianca murka sembari mengibaskan gaun mahalnya seolah-olah baru saja terkena kuman mematikan.

"Membunuhmu? Harusnya kau berterima kasih karena aku masih mau menolong mu," sahut Leo dengan nada meremehkan. "Wanita gila sepertimu memang lebih cocok di rumah sakit jiwa daripada berkeliaran di dekat sekolah dasar. Apa yang kau lakukan pada Sean?"

"Bukan urusanmu! Katakan pada majikanmu yang buruk rupa itu, aku tidak akan tinggal diam. Dan kau, jangan berani-berani muncul lagi di depanku karena wajahmu sama menjijikkan dengan detektif itu!" Bianca menunjuk wajah Leo dengan telunjuknya.

Leo tertawa sinis, melangkah mendekat hingga Bianca mundur teratur.

"Kau terus mengumpat soal wajah. Tapi di mataku, wajah monster jauh lebih cantik daripada hati ular sepertimu. Sekarang pergi, sebelum aku benar-benar kehilangan niat baikku," bisik Leo.

Bianca meneguk kasar ludahnya. Kenapa tatapan pria ini lagi-lagi mengingatkannya pada Dante?

1
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Senja: kyak Teletubbies😆
total 3 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
D
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
D
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
D
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
D
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
D
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
D
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
D
Sayangnya suami mamamu itu adalah papamu Sean 👀👀
gimana donk??
D
Tapi elooo juga punya istri baru dante,
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!