NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Rumah mulai sepi menjelang sore. Tamu-tamu berpamitan satu per satu. Pintu depan tertutup untuk terakhir kalinya. Yang tersisa hanya keluarga dan udara yang terasa lebih berat dari tadi pagi.

Carisa duduk di teras belakang. Sendiri. Udara Bandung dingin dan berbau tanah basah. Cangkir tehnya sudah lama tidak hangat. Ia memegang saj, sesuatu untuk dipegang, sesuatu yang memberinya alasan untuk tidak melakukan apa-apa selain duduk di sini.

Langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh. Ayahnya duduk di kursi sebelahnya. Tidak langsung bicara. Hanya menatap taman kecil di depan, dengan tangan di lutut.

"Kamu baik-baik saja?" ayahnya bertanya akhirnya.

"Baik, Yah."

Ayahnya mengangguk. Tangannya memainkan ujung bajunya pelan, gerakan kecil yang Carisa ingat sejak kecil. Selalu muncul ketika ada sesuatu yang berat yang ingin dikatakan.

"Della itu teman kuliahmu?"

"Bukan teman. Hanya Kenalan."

Hening lagi.

"Carisa."

Carisa meletakkan cangkirnya.

"Pasti berat buatmu." Suaranya rendah. Datar. Seperti seseorang yang membuka sesuatu yang sudah lama ditutup dengan sangat hati-hati. "Masa lalumu itu akan terus menjadi bayang-bayang buatmu."

Carisa diam tidak bergerak.

"Ibumu minta ayah diam." Ia melanjutkan. "Katanya kamu butuh waktu. Katanya nanti juga akan cerita sendiri." Tangannya berhenti memainkan ujung bajunya. "Tapi bertahun-tahun berlalu, Risa. Dan kamu tidak pernah cerita."

"Yah..." suara Carisa lemah.

"Ayah tidak minta kamu cerita semuanya." Ia memotong pelan. "Ayah hanya perlu tahu satu hal. Satu hal yang membuat ayah tidak bisa hidup tenang selama ini karenanya."

Carisa menunggu.

"Siapa sebenarnya ayahnya?"

Angin bergerak di antara mereka. Daun-daun di ujung taman bergeser.

"Anak itu berhak tahu siapa ayahnya." Suara ayahnya lebih berat sekarang.

Tepat saat itu, Reynanda berdiri di ambang pintu wajahnya tidak sempat menyesuaikan diri. Dari caranya berdiri, beku dengan tangan di samping tubuhnya jelas ia mendengar percakapan mereka. Lebih dari cukup.

Ia melangkah mendekat ke arah mereka.

"Maaf." Suaranya rendah. Matanya pada Carisa. "Anak itu masih hidup?"

Carisa tidak menjawab.

"Carisa." Suara Reynanda mendesak. "Jawab aku. Anak kita masih hidup?"

Ayah Carisa berdiri, melangkah langsung ke depan Reynanda. Lelaki tua itu menatap Reynanda dari atas ke bawah, dengan sorot yang mengukur dan menyimpan sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak menemukan tempat untuk keluar.

"Jadi kamu." Suaranya keluar rendah. "Kamu yang menghamili anakku lalu pergi meninggalkannya."

Reynanda tidak menjawab. Tapi wajahnya menjawab pertanyaan itu.

"Kamu membuat anak ku menderita." Suara lelaki itu mulai bergetar bukan karena lemah, tapi karena sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.

"Om, saya tidak tahu..."

"Tidak tahu." Ayahnya mengulang dua kata itu. Dengan nada yang lebih berbahaya dari teriakan. "Kamu tidak tahu karena kamu pergi. Kamu laki-laki tidak bertanggung jawab."

"Om, izinkan saya..."

Tamparan itu datang sebelum kalimat selesai. Keras. Tepat. Dengan seluruh berat tangan seorang ayah yang sudah bertahun-tahun menyimpan sesuatu yang tidak punya tempat untuk dikeluarkan.

Reynanda tidak menghindar. Kepalanya berpaling ke sisi karena kekuatan itu, lalu perlahan kembali ke depan.

Carisa berusaha menenangkan ayahnya, memegangi tangan nya.

"Ayah, sudahlah!" kata Carisa

Tapi ayahnya tidak mendengar, dia belum puas sebelum mengeluarkan amarahnya yang selama ini ia pendam.

"Kamu tahu berapa lama anakku tidak bisa tidur?" Suara ayah Carisa pecah di ujung. "Berapa lama dia berjalan seperti bayangan di dalam rumahnya sendiri? Berapa lama dia menanggung semua itu tanpa ada satu orang pun yang boleh ia ceritakan?" Tangannya yang baru menampar gemetar pelan. Matanya merah di tepinya. "Dan sekarang kamu datang dan tanya di mana anakmu?"

Reynanda menunduk.

"Yah." Carisa kembali berusaha. "Yah, cukup..."

"Kamu tidak berhak atas jawaban itu." Ayahnya tidak menoleh ke Carisa. Matanya masih pada Reynanda. "Kamu melepaskan hak itu waktu kamu pergi."

"Maafkan saya, Om." Suara Reynanda rendah. "Saya benar-benar menyesali semua yang sudah terjadi."

Ayah Carisa tidak menjawab. Matanya masih mengunci Reynanda dengan sorot yang belum selesai.

"Tapi..." Reynanda melanjutkan, suaranya lebih pelan, "saya perlu tahu. Anak itu. Di mana dia sekarang?"

"Berani kamu."

"Om." Reynanda tidak mundur. "Saya tidak meminta hak apapun. Saya hanya ingin tahu bahwa dia baik-baik saja."

"Kamu tidak berhak tahu apapun tentang anak itu!"

"Ayah!" Carisa memegang lengan ayahnya.

"Lepaskan." Ayahnya menepis pelan tapi tegas. Matanya tidak berpindah dari Reynanda. "Kamu pikir dengan minta maaf semuanya selesai? Kamu pikir kata maaf bisa mengembalikan tahun-tahun yang sudah anakku lewati sendirian?"

"Tidak." Reynanda menjawab datar. "Tidak ada yang bisa mengembalikan itu. Saya tahu."

"Tapi kamu tetap berdiri di sini dan tanya tentang anak itu."

"Karena dia darah saya juga, Om."

Tamparan kedua datang lebih keras dari yang pertama.

Reynanda terhuyung satu langkah. Tangannya menahan diri di sandaran kursi, menstabilkan tubuh, menahan apapun yang ingin ia balas.

"Darah kamu?" Suara ayah Carisa gemetar. "Kamu baru ingat itu sekarang? Setelah bertahun-tahun?"

"Yah, sudah!" Carisa mencoba lagi, tangannya memegang lengan ayahnya lebih erat kali ini.

"Risa, minggir! laki-laki bejat seperti dia harus di kasih pelajaran."

"Tidak, Ayah." Suaranya keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. "Kendalikan dirimu, Yah."

Tiga orang muncul dari pintu teras hampir bersamaan.

Ibu Carisa yang pertama, wajahnya pucat begitu melihat kondisi suaminya, langsung berjalan cepat ke arah mereka. Di belakangnya, ibu Yuda muncul dengan dahi yang berkerut. Dan di paling belakang, Humaira berhenti tepat di ambang pintu, matanya menyapu seluruh teras dalam satu detik.

Suami Humaira. Berdiri dengan pipi yang merah. Di depan ayah Carisa yang tangannya masih gemetar. Itu langsung menimbulkan tanda tanya besar.

"Ada apa ini?" Ibu Carisa langsung memegang lengan suaminya. "Mas, ada apa?"

Ayah Carisa tidak menjawab. Matanya masih pada Reynanda.

"Reynanda." Suara ibu Yuda keluar dan terkejut, tapi terkendali. "Kamu tidak apa-apa?"

Reynanda tidak menjawab. Pandangannya pada Carisa. Hanya Carisa.

"Toolong jelaskan." Suara ibu Yuda lebih tegas sekarang, memandang bergantian pada semua yang ada di teras. "Ada apa sebenarnya?"

Tidak ada yang menjawab. Hening itu justru yang paling keras.

Humaira masih berdiri di ambang pintu. Matanya bergerak dari Reynanda ke Carisa, dari Carisa ke ayah Carisa, dari ayah Carisa kembali ke suaminya.

"Mas, Rey." Suaranya pelan. Sangat pelan. "Apa yang terjadi?"

Reynanda akhirnya menoleh ke istrinya. Dan tatapan itu, tatapan yang tidak tahu harus menjawab apa.

Langkah kaki terdengar lagi dari dalam rumah.

Yuda muncul di pintu, berhenti begitu melihat semua orang berkumpul di teras. Matanya menyapu ruangan dengan cepat. Ayah mertuanya yang gemetar. Reynanda dengan pipi merah. Ibunya yang kebingungan. Humaira yang berdiri kaku. Dan Carisa yang berdiri di tengah semua itu seperti seseorang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak bisa lagi ia simpan sendirian.

"Ada apa?" suaranya rendah.

Tidak ada yang menjawab.

Yuda melangkah mendekat ke arah Carisa dan berdiri di sampingnya Carisa. Matanya berputar sekali lagi pada semua wajah yang ada di sana.

Lalu berhenti pada ayah mertuanya.

"Ayah mertua," Suaranya hati-hati. "Ada apa?"

Ayah Carisa menatap menantunya lama, dengan sorot yang menyimpan sesuatu yang Yuda belum sepenuhnya mengerti. Lalu matanya bergerak ke Reynanda.

"Tanyakan saja pada dia." Suaranya serak. "Tanya suami sepupumu itu."

Semua kepala menoleh ke Reynanda.

Reynanda berdiri di tempat yang sama. Pipinya masih merah. Tangannya di sisi tubuh. Dan di matanya ada sesuatu yang tidak bisa lagi disembunyikan di depan semua orang yang sekarang berdiri di teras ini, keluarga yang tidak ia pilih untuk menjadi saksi, tapi takdir membawa mereka semua ke sini, di sore yang dingin dan berbau tanah basah ini, di bawah langit Bandung yang mulai gelap.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!