Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Sesampainya di tempat tujuan, Tama langsung turun dari mobil kemudian masuk ke lobi kantor tempat Liz bekerja.
"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu Pak ?" tanya resepsionis pada Tama dengan ramah. Sikap ramah dan sopan yang mencerminkan profesionalisme perusahaan.
"Saya ingin bertemu dengan Nona Elizabeth," Jawab Tama tanpa basa basi.
"Maaf sebelumnya, tapi baru saja Mbak Liz pergi meeting keluar dengan Pak Revan, CEO di perusahaan kami."
Tama terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan, "Baiklah. Terimakasih." Tama meninggalkan kantor Liz dengan ekspresi tak terbaca.
Sementara itu Liz sedang berada di cafe 'Avenue Coffee Signature' untuk meeting bersama dengan klien membahas sebuah proyek baru.
Disana Liz tidak hanya datang bersama Revan, namun Sandy, sang sekretaris baru pun ikut bersama mereka.
Dalam pertemuan itu banyak sekali yang di bahas, Liz mencatat setiap point penting secara detail membuat Revan yang duduk di sampingnya merasa sesak ketika teringat ini adalah hari terakhir kebersamaannya bersama sang sekretaris terkompetennya itu.
Hampir tiga jam meeting itu berlangsung dan baru berakhir ketika masuk jam makan siang.
"Liz, kamu mau makan disini atau kita cari restoran lain ?" tanya Revan sambil memperbaiki posisi duduknya.
Liz tersenyum, "Maaf, sepertinya bapak lupa, saya hari ini masuk setengah hari. Jadi ini sudah waktunya saya pulang." Liz merapikan dokumen yang berserakan diatas meja. Ruangan private ini tidak terlalu ramai lagi karena klien sudah lebih dulu berpamitan. Diruangan hanya sisa bertiga, Liz, Revan dan Sandy.
Sebetulnya hari terakhir Liz bekerja itu kemarin, namun Revan memohon agar Liz tetap datang hari ini untuk menemaninya meeting dengan klien penting sekalian mengajarkan Sandy bagaimana harus bersikap didepan klien. Liz tidak keberatan, namun Liz mengajukan syarat, dia akan datang bekerja seperti biasa namun hanya setengah hari. Dan sepertinya Revan melupakan syarat penting itu.
"Sandy, ini catatan hasil meeting kita hari ini. Detailnya sudah saya tandai, kamu tinggal rangkum point pentingnya dan laporkan pada Pak Revan dalam dua hari. Jika ada yang tidak kamu mengerti kamu boleh menghubungi saya kapan saja." Liz memberikan dokumen yang tadi dia rapikan kehadapan Sandy.
"Terimakasih, Mbak Liz." Ucap Sandy
Revan menatap Liz dengan pandangan yang sendu. Berat baginya melepas Liz, bukan hanya sebagai sekretaris saja, tapi sebagai seseorang yang sangat spesial dihatinya.
"Liz, malam ini bisa kita bertemu ? Ada yang mau saya bicarakan,"
"Mohon maaf, Pak. Malam ini tidak bisa." Liz beranjak dari duduknya, membungkuk hormat pada Revan lalu pamit.
"Saya permisi ya, Pak. Terimakasih. Sandy, saya duluan, ya."
Liz meninggalkan ruangan VIP itu dengan tergesa-gesa. Bukan karena menghindari Revan, tapi dia sudah terlambat untuk menjemput Ibunya yang sedang menjalani kemoterapi lanjutan dirumah sakit swasta yang sama dimana Ibunya menjalani operasi beberapa minggu lalu.
Liz membuka ponselnya untuk memesan ojek online, namun saat melihat layar ponsel, Liz kaget ada banyak sekali notifikasi masuk dijendela notifikasinya.
15 panggilan tak terjawab
21 pesan belum terbaca
Sejak semalam Liz memang mengatur mode silent di ponselnya. Itu mengapa Liz sama sekali tidak tahu kalau ada yang menghubunginya sebanyak itu. Tetapi Liz mengabaikan notifikasi tersebut sejenak karena dia memang sedang terburu-buru.
Setelah kendaraan yang dipesan lewat aplikasi tiba, Liz langsung naik dan meminta driver untuk segera jalan.
Untung saja Liz tidak memesan taksi online sebab jalanan siang itu lumayan padat, mungkin karena bertepatan dengan jam makan siang.
Sampai dirumah sakit, Liz langsung menuju ke Poli Kemoterapi yang diberi nama 'Ruang Dahlia'. Ketika melewati koridor, Liz berpapasan dengan dokter yang menangani sang Ibu.
"Mbak Liz, bisa kita bicara." ucap pria berjas putih dengan raut wajah serius.
Liz mengangguk, "Bisa, dok."
"Bicara diruangan saya saja. Sebelah sini, Mbak." Dokter berjalan didepan, Liz mengekor dengan perasaan yang tidak menentu.
"Begini, Mbak. Sepertinya Ibu Nira harus menjalani perawatan kembali,"
Liz mengerutkan alisnya, "Maksud dokter ?"
"Pasien harus menjalani rawat inap kembali karena membutuhkan pemantauan yang lebih intensif," Dokter menjeda kalimatnya, membiarkan Liz mencerna informasi itu sebelum kemudian melanjutkan kembali, "Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, operasi yang dijalani pasien hanya pemasangan akses Vena yang bertujuan untuk memudahkan kemoterapi. Namun pada tipe kanker darah Ibu Nira ini ternyata telah menyebabkan Limpa pasien membesar dan mengganggu fungsi tubuh."
Kedua tangan Liz saling menggenggam kuat dibawah meja. Wajahnya berubah tegang dengan tubuh yang gemetar karena takut, takut sesuatu yang buruk akan terjadi pasa sang Ibu.
Liz keluar dari ruangan dokter dengan kedua lutut yang lemas. Dia sampai harus berpegangan pada dinding untuk mencapai kursi tunggu di koridor itu.
"Ibu, Liz mohon, bertahan ya bu.. Liz nggak punya siapa-siapa selain Ibu." Liz menunduk, membiarkan rambutnya menutupi wajah. Saking sesak dadanya Liz sampai meneteskan air mata. Dia menangis, menangis tanpa suara.
Liz menghapus jejak air matanya sebelum masuk ke ruangan dimana Ibunya berada.
"Ibu," Panggil Liz dengan suara ceria. Seperti biasa, Liz tidak pernah menunjukkan kesedihannya dihadapan siapapun, termasuk Ibunya sendiri.
Ibu tersenyum, "Kamu sudah pulang, Nak ? Ini masih jam satu loh,"
"Iya, bu. Hari ini Liz izin setengah hari, mau nemenin Ibu."
Liz tidak memberitahu Ibunya kalau dia sudah resign dari perusahaan Revan.
"Liz, tadi dokter bilang katanya Ibu harus dirawat lagi. Tolong bilang sama dokter, Ibu dirawat jalan aja. Ibu nggak mau tubuh Ibu ditusuk-tusuk jarum terus. Sangat menyakitkan,"
Senyum dibibir Liz memudar, berganti dengan raut wajahnya yang menegang.
"Bu, dokter tau yang terbaik untuk kesehatan Ibu." Liz mencoba menjelaskan pelan-pelan. "Ibu harus sembuh ya, Bu. Sedikit lagi aja Bu, kita berjuang bareng-bareng ya, Bu." Liz menggenggam tangan Ibu,
"Nggak, Liz. Ibu mohon, Ibu nggak mau. Biarin Ibu istirahat dirumah. Lagi pula biaya nya pasti akan semakin membebankan kamu, nak. Kalau umur Ibu udah nggak lama lagi, Ibu sudah ikhlas. Keinginan terakhir Ibu juga sudah terwujud, melihatmu menikah dengan lelaki pilihan kamu sendiri."