Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampus dan koridor kekuasaan
Lobi universitas swasta ternama itu mendadak ramai saat sebuah SUV mewah berhenti di depan gedung Fakultas Ekonomi. Violet turun dengan gaya tengilnya, mengenakan jeans ketat dan crop top yang dibalut kemeja oversized. Di belakangnya, Evara, Avyana, dan Lavanya menyusul dengan gaya masing-masing.
"Duh, balik ke kampus rasanya kayak balik ke zaman purba ya? Padahal tiap hari aku udah biasa ngurusin kontrak miliaran di kantor Tuan Bos," keluh Violet sambil memutar-mutar kunci lokernya.
"Sama, Vi. Biasanya aku ngadepin Kak Danan yang kaku kayak robot, sekarang harus ngadepin dosen statistik yang lebih ngebosenin daripada kalkulator," timpal Evara.
Meskipun mereka kembali menjadi mahasiswa, status mereka bukan lagi mahasiswa biasa. Kecerdasan dan pengalaman lapangan yang mereka dapatkan di Bayu Group membuat mereka jauh melampaui teman sebayanya.
Si Jenius di Balik Layar Kelas
Di tengah mata kuliah Manajemen Strategis, Violet justru sibuk dengan laptopnya. Ia tidak mencatat materi dosen, melainkan sedang membedah laporan keuangan anak perusahaan Arden yang dikirim lewat pesan rahasia.
"Violet, bisa jelaskan teori Porter’s Five Forces yang saya jelaskan tadi?" tanya sang dosen, mencoba mengetes Violet yang tampak tidak memperhatikan.
Violet mendongak, tersenyum tipis. Dengan santai, ia menjelaskan teori itu bukan dari buku teks, melainkan menggunakan contoh kasus nyata sabotase Arjuna pada proyek Bali. "Jadi, ancaman pemain baru itu nyata, Pak. Tapi kalau kita punya 'hambatan masuk' berupa dokumen sejarah yang kuat, pemain itu cuma jadi kecoa yang gampang diinjak."
Satu kelas terdiam. Sang dosen hanya bisa melongo, sementara Violet kembali asyik mengetik pesan untuk Arden: 'Tuan Bos, barusan aku bikin dosen aku kelihatan bego. Hadiah buat aku nanti malam, aku mau Tuan pakai baju yang aku beliin kemarin ya, yang kancingnya gampang dibuka itu...'
Evara dan Danantya: Gangguan Akademik
Di Fakultas Ilmu Komunikasi, Evara sedang berada di perpustakaan bersama Danantya yang sengaja datang menjemput lebih awal. Danantya duduk di depan Evara dengan laptop kerjanya, berusaha tetap profesional di lingkungan kampus yang penuh anak muda.
"Kak Danan, lihat deh. Temen sekelasku tadi ada yang minta nomor WA aku. Katanya dia mau ngajak belajar bareng," goda Evara sambil menyodorkan ponselnya ke depan wajah Danantya.
Danantya tidak menoleh, tapi jemarinya yang mengetik di keyboard mendadak berhenti. "Katakan padanya, kamu sudah punya 'jadwal belajar' privat seumur hidup."
"Uh, cemburu ya?" Evara mendekat, kakinya di bawah meja mulai menyentuh kaki Danantya dengan berani. "Kak, kalau kita 'belajar' di mobil sekarang, kira-kira Kakak kuat berapa bab ya? Aku lagi pengen banget... dipuji karena nilai aku bagus."
Danantya hampir tersedak. Ia menatap Evara dengan tatapan tajam yang tertahan. "Evara Swastamita, ini tempat umum. Jangan sampai aku menyeretmu ke parkiran sekarang juga."
Lavanya dan Julian: Riset di Perpustakaan Pusat
Sementara itu, Lavanya menghabiskan waktu di perpustakaan pusat bersama Julian Vance. Julian sering datang ke kampus dengan alasan membantu Lavanya mencari referensi untuk tugas akhirnya, padahal ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan gadis "purnama" itu.
Berbeda dengan Violet dan Evara yang agresif, Lavanya membantu Julian menerjemahkan naskah-naskah kuno Indonesia untuk keperluan pengadilan.
"Kamu sangat luar biasa, Lavanya. Kecerdasanmu ini... sangat seksi," bisik Julian sambil membetulkan letak kacamata Lavanya.
Lavanya tersenyum lembut. "Aku hanya suka sejarah, Julian. Dan aku suka caramu menatapku seolah aku adalah penemuan arkeologi paling berharga."
Avyana dan Kenzo: Analisis Struktur di Kantin
Avyana dan Kenzo lebih memilih duduk di kantin teknik. Avyana menunjukkan tugas desain studionya pada Kenzo.
"Kak Kenzo, lihat struktur ini. Aku pakai konsep yang Kakak ajarin di kantor kemarin," ucap Avyana.
Kenzo memperhatikan dengan saksama. "Bagus. Kamu menggabungkan estetika modern dengan ketahanan gempa yang lebih baik dari standar kampus ini. Kamu sudah siap jadi kepala divisi desain saya suatu saat nanti, Avyana."
Avyana menatap Kenzo, tatapannya yang teduh membuat Kenzo terpaku. "Aku nggak mau cuma jadi kepala divisi, Kak. Aku mau jadi satu-satunya orang yang mengisi rumah yang Kakak bangun."
Kenzo berdehem, hatinya bergetar. "Fokus kuliahmu dulu, Gadis Kecil. Setelah wisuda, saya sendiri yang akan merancang pernikahan kita."
Perlawanan Tersembunyi
Meski mereka terlihat menikmati kehidupan kampus, keempat gadis ini tetap menjadi "intelejen" bagi Arden dan Danantya. Lewat jaringan pertemanan di kampus, Violet berhasil menemukan informasi bahwa adik Arjuna ternyata berkuliah di tempat yang sama dan sering mengadakan pertemuan rahasia dengan orang-orang asing di kantin belakang.
Violet segera mengirim pesan suara ke grup: "Cegils, kita punya target baru. Adik Arjuna ada di sini. Saatnya kita pakai taktik 'Mahasiswi Polos tapi Mematikan'. Vanya, kamu bagian pengawas. Avyana, kamu cari celah. Evara, kamu bikin rusuh buat pengalihan. Aku... aku yang akan bikin dia bicara."
Arjuna mungkin mengira dengan kembalinya mereka ke kampus, Arden kehilangan separuh kekuatannya. Padahal, ia justru telah membiarkan empat "mata-mata" tercerdas masuk ke wilayah yang tidak terawasi.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...