Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
.
Mobil mewah yang dikendarai oleh asisten Kevin memasuki halaman luas rumah mewah milik Dirga Wijaya dan berhenti tepat di depan teras ketika hari telah sore dan langit menunjukkan warna jingga keemasan.
Kevin mematikan mesin mobil dan segera turun lebih dulu lalu berjalan memutar untuk membuka pintu belakang dengan penuh hormat.
“Kita sudah sampai, Tuan,” ucap Kevin sedikit menunduk.
Dirga keluar dengan langkah tenang. Wajahnya tetap dingin seperti biasa, seolah semua yang terjadi sepanjang hari tidak pernah menyentuhnya sama sekali.
“Selamat sore, Tuan.” Bu Rani datang mendekat dan menundukkan kepala. Tangannya terulur untuk menerima tas kerja dari tangan Dirga.
Dirga hanya mengangguk tanpa menjawab. Tapi sedetik kemudian bertanya, “Putri sudah pulang?”
“Putri sudah berada di rumah sejak satu jam yang lalu, mungkin ketiduran di kamar.”
Hanya Bu Rani satu-satunya pelayan rumah itu yang memanggil putri tanpa sebutan ‘Nona’. Karena dia adalah ibu kedua bagi Putri. Yang merawat Putri sejak ibu kandung Putri meninggal.
Dirga kembali mengangguk. Dia hanya merasa aneh karena biasanya Putri selalu berlari menyambut jika dia pulang. Pria paruh baya itu kemudian menoleh ke arah Kevin. “Pulang dan istirahatlah!” ucapnya.
“Terima kasih, Tuan.” Kevin membungkukkan sedikit badannya dan kembali berdiri tegak. Namun, ia tak langsung berbalik dan pergi. Asisten berwajah datar itu baru akan pergi dari rumah tuannya setelah memastikan tuannya masuk ke dalam rumah dengan selamat. Seperti itu lah Kevin.
Dirga baru akan masuk ke dalam rumah setelah menyuruh kevin pulang. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika tatapannya tanpa sengaja melintas pada satu titik.
Di salah satu sisi halaman, sebuah taman kecil yang tertata rapi, terlihat dua orang sedang membungkuk merawat tanaman.
Pak Hendra, dan seorang tukang kebun. Keningnya berkerut melihat ayah Amanda berada di sana.
Pria paruh baya itu pun irung masuk ke dalam rumah dan malah membelokkan langkahnya menuju taman tersebut.
Pak Hendra yang sedang membantu memunguti daun kering yang jatuh di bawah tanaman hias, tidak menyadari kehadiran Dirga. Namun tukang kebun yang berada di sebelahnya yang melihat kedatangan Dirga langsung menegang.
Matanya terbelalak. Tubuhnya yang semula membungkuk refleks berdiri tegak, lalu menundukkan kepala dalam-dalam.
“T-Tuan…” ucapnya dengan suara bergetar. Tidak biasanya Tuan Dirga menghampiri pelayan yang bekerja. Apakah dia telah melakukan kesalahan?
Pak Hendra yang mendengar temannya menyebut kata ‘Tuan’ pun menoleh.
Pria tua itu sedikit terkejut melihat Dirga sudah berdiri tidak jauh dari mereka.
“Eh… Tuan Dirga…” ucapnya, lalu buru-buru ikut berdiri seraya mengusap-usap kan tangannya yang kotor pada bagian belakang celananya.
Dirga menatap keduanya., namun fokusnya jelas pada Pak Hendra.
“Apa yang Bapak lakukan di sini?” tanyanya halus.
Pertanyaan itu membuat tukang kebun di samping Pak Hendra sedikit mengernyit. Suara Tuan Dirga biasanya tidak seramah itu.
Pak Hendra tersenyum canggung.
“Itu, Tuan. Saya cuma bantu-bantu saja,” jawabnya jujur.
Dirga menghela nafas pelan.
Matanya mengarah pada tangan Pak Hendra yang kotor oleh tanah.
“Bapak tinggal di sini bukan untuk menjadi pekerja,” ucapnya sopan. “Lebih baik Bapak istirahat saja. Tidak perlu ikut bekerja. Semua sudah ada yang mengurus.”
Tukang kebun yang masih berdiri dengan dua tangan terpaut di depan perut mengerutkan kening. Matanya yang tertunduk melirik ke arah pak Hendra.
“Kenapa Tuan Dirga bicara seperti itu dengan Pak Hendra? Siapa sebenarnya orang ini?” tanyanya dalam hati.
Pak Hendra mengangguk lalu menatap wajah Dirga. “Tuan… saya sudah sangat berterima kasih karena Anda bersedia menerima saya, Amanda, dan anak-anak lainnya tinggal di sini,” ucapnya tulus. “Tapi tolong, jangan buat saya jadi orang yang tidak tahu diri.”
Mata Dirga menyipit mendengar kata-kata pak Hendra.
“Biarkan saya melakukan apa yang saya bisa,” lanjut Pak Hendra. “Setidaknya, saya merasa berguna.”
Sejenak suasana menjadi hening. Angin sore berhembus pelan, menggerakkan daun-daun di sekitar mereka.
Dirga menatap pria tua di depannya itu seolah menilai. Wajah pria tua itu yang teduh, matanya yang mohon, dan ia bisa melihat rasa tak enak hati di raut keriput nya. Tubuhnya sudah ringkih, tapi tak ingin menjadi parasit.
Dirga menghela napas. “Baiklah,” ucapnya kemudian. “Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Jangan melakukan pekerjaan yang berat.”
Pak Hendra mengangkat wajahnya sambil tersenyum lebar. Nada suara Dirga memang dingin, tapi pria tua itu bisa melihat kebaikan hati. “Terima kasih, Tuan.”
Dirga mengangguk. Wajahnya terlihat lebih lunak. “Bagaimana dengan Dinda? Sudah pulang dari rumah sakit?”
“Iya, Tuan.” wajah Pak hendra semakin cerah ketika ditanya tentang anak gadis satunya lagi. “Dia bilang dokter akan menjadwalkan terapi rutin.”
“Semoga putrimu bisa berjalan normal,” ucap Dirga lalu menatap ke arah tukang kebun saat mendengar ucapan terima kasih sekali lagi dari Pak Hendra.
“Istirahatlah, sudah sore!” ucapnya singkat lalu berbalik, kembali melangkah menuju rumah.
“Baik, Tuan.” Tukang kebun mengangguk patuh. Menyadari ia harus membawa pak Hendra untuk ke paviliun. Tatapannya mengikuti langkah Dirga yang menjauh lalu melirik ke arah Pak Hendra dan mulai berpikir, bahwa pria sederhana di sampingnya itu bukan orang biasa. Setidaknya di mata Tuan Dirga.
*
Sementara itu, tak jauh dari taman, tepat di depan gerbang masuk. Amanda yang baru saja pulang dari memberikan les pada anak didiknya menghentikan langkahnya.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat saat Dirga berhadapan dengan ayahnya. Tidak berniat menguping, tetapi jarak yang tidak terlalu jauh membuat beberapa potongan percakapan mereka terdengar samar oleh telinganya.
Wanita itu merasa hatinya berdegup aneh.
Saat melihat bagaimana ayahnya tersenyum, saat melihat Dirga tetap berdiri dengan sikap tegapnya yang khas. Entah kenapa kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Cara bicara pria itu tetap datar, wajahnya tetap kaku. Tapi perhatian itu nyata. Tiba-tiba dalam benaknya, satu penilaian baru muncul. Dirga tidak seburuk yang selama ini ia pikirkan.
Amanda jadi berpikir, mungkin tak masalah dia menjalani pernikahan kontrak dengan Dirga. Mengingat Dirga yang sejak awal selalu bersikap baik pada ayahnya, menerima anak-anak asuhnya tinggal di rumahnya, bahkan membiayai pengobatan Adinda. Semua itu sudah lebih dari cukup bagi Amanda.
“Biar saja dia bersikap padaku, yang penting dia bersikap baik pada Ayah, Adik, dan anak-anak,” gumamnya. “Lagipula, pernikahan ini demi Putri. Kalau Putri bahagia dengan Tuan Muda Ega, akun juga akan ikut bahagia.”
“Oke, Pak Duda… Mulai sekarang, meskipun kamu bersikap judes, meskipun mulutmu seperti seblak level seratus, aku akan tetap bersikap baik padamu,” janjinya dalam hati. “Kalau nggak lupa ya, tapi,” lanjutnya tergelak.
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.