Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak mau Cerai
"Nona, maaf sekali lagi, anda benar-benar tidak diperkenankan memasuki ruangan tuan Sean." Ucap Roy dengan sikap sopan namun tegas, tangannya secara tidak sengaja menghalangi jalan wanita berpenampilan modis yang langkahnya penuh keyakinan menuju pintu kamar utama majikannya. Gaun mini berwarna merah anggur yang dikenakannya menonjolkan bentuk tubuhnya yang tetap ideal, sementara rambut coklat kemilau yang diikat rapi hanya menambah kesan elegan yang dia usung.
Namun keanggunan itu langsung sirna saat wajahnya memerah karena kemarahan. "NONA?! sejak kapan kau tidak memanggil ku Nyonya lagi?!" Seru Silvi dengan volume suara yang cukup keras, membuat beberapa karyawan yang lewat berhenti sejenak sebelum segera melesat pergi takut terlibat. Matanya yang biasanya lembut kini menyala seperti bara api, menatap Roy dengan pandangan yang mampu membuat siapapun merinding.
Roy hanya mengangkat bahu dengan gaya yang terkesan acuh tak acuh. "Sejak Tuan Sean mengirim surat gugatan cerai itu, maaf, Nona Silvi. Surat putusan awal telah keluar, jadi sudah seharusnya saya menggunakan gelar yang tepat." Jawabnya dengan nada yang santai bahkan sedikit meremehkan Silvi, seolah menyampaikan berita sepele seperti cuaca hari ini.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Silvi. Tangannya yang menggenggam map kulit hitam bergoyang sedikit, kemudian dengan gerakan yang kasar dia melemparkannya ke arah Roy. Map itu menyambar bahu pria itu sebelum jatuh tergeletak di lantai marmer yang kilap. "APAPUN ITU! Aku tidak akan pernah menyetujui surat gugatan itu! Sean tidak mungkin melakukan hal ini padaku! Sampai akhir hayat pun aku akan bertahan dan tidak akan mengizinkan pernikahan kita berakhir!" Serunya semakin keras, air mata sudah mulai menggelembung di sudut matanya namun dia bersikeras untuk tidak menangis.
Roy hanya menghela nafas perlahan, kemudian menoleh ke arah pintu ruangan Sean sambil mengusap bahunya yang terkena benturan map. "Dih nangis, Nona yang selingkuh kok nona yang nangis?" cibir Roy sebelum melangkah dengan langkah santai yang membuat Silvi semakin marah.
"ROY!" Pekik Silvi sambil segera membungkuk mengambil map yang tadi dia lemparkan. Tanpa berpikir dua kali, dia mengikuti langkah Roy dengan kaki yang cepat, seolah tak ingin kehilangan kesempatan untuk membela diri.
Namun Roy berhenti dan menoleh dengan wajah yang kini penuh dengan rasa sombong. "Nona, saya menyarankan anda segera pulang dan mempersiapkan diri untuk sidang pengadilan yang akan berlangsung tiga hari lagi. Karena tuan Sean telah menyatakan dengan tegas bahwa dia tidak ingin melihat wajah anda sebelum proses hukum selesai." Ucapnya dengan gaya yang sangat tengil, membuat darah Silvi mendidih.
"HEY! kau berani kurang ajar padaku! Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik! Kau tidak punya bukti apapun untuk mengatakan bahwa aku selingkuh!" Seru Silvi dengan wajah yang kemerahan karena emosi, namun Roy hanya menatapnya dengan pandangan sinis yang menusuk hati.
"Security! Segera bawa nona ini keluar dari sini dengan sopan namun tegas!" Seru Roy dengan tangan yang mengangkat tinggi, membuat dua orang pria bertubuh besar yang berjaga di koridor segera berlari dengan gesit menuju arah mereka.
"JANGAN DEKATI AKU! AKU BISA BERJALAN SENDIRI!" Teriak Silvi dengan mengangkat tangan untuk menghalangi mereka, kemudian dengan langkah yang goyah, dia berbalik dan keluar dari gedung itu sambil menangis tersedu-sedu
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Aku ingin bertanya secara jelas tentang kehamilan Nayra." Ucap Alam dengan nada yang tegas, matanya menatap bergantian antara Nayra yang duduk dengan posisi sedikit menyusut di sofa, dan Nagara yang tampak sebagai orang yang paling mengetahui detail keseluruhan peristiwa. Di sisi lain sofa, Nayla, Nick, dan Nathan hanya terdiam dengan wajah yang penuh kekhawatiran, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Udara di ruang tamu yang luas dan mewah terasa sangat tegang, hanya terdengar deru nafas mereka yang terdengar tidak terlalu keras.
"Lalu dimana mas Awan? mas bilang mas akan datang bersama mas Awan?" Tanya Nayra dengan suara yang lembut, pasalnya sebelum datang Alam memang mengirim pesan ke Nayra bahwa dirinya akan datang bersama sang kakak. matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan seolah mencari sosok kakak laki-lakinya yang selalu menjadi sandaran dirinya. Tangannya secara tidak sadar mulai mengelus perutnya yang baru saja mulai terasa sedikit membuncit, meskipun belum terlalu jelas terlihat.
"Mas Awan sedang dalam perjalanan bersama Mbak Aneth. Ada beberapa hal yang perlu mereka urus di jalan, jadi mungkin akan datang sedikit terlambat. Tapi mereka pasti akan datang." Jawab Alam dengan sedikit tersenyum, berusaha untuk menenangkan Nayra yang tampak khawatir.
"Tenang saja, mas Alam. Kita sudah melakukan semua yang bisa kita lakukan." Ucap Nagara dengan nada yang bijaksana, menjelma sebagai sosok pemimpin yang mampu mengendalikan situasi. "Benar bahwa Nayra hamil karena kesalahan fatal dari pihak rumah sakit. Tapi mas tidak perlu khawatir, pemilik sampel sperma yang menyebabkan kehamilan ini telah memberikan janji bahwa dia akan bertanggung jawab sepenuhnya, termasuk dengan cara menikahi Nayra."
Kata-kata itu membuat alis Alam terangkat ke atas dan wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya. Namun sebelum dia bisa mengeluarkan suara, sebuah suara lembut menyapa mereka dari arah pintu.
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam!" Jawab mereka semua secara bersamaan, tubuh mereka secara refleks berbalik ke arah sumber suara.
Di ambang pintu berdiri seorang pria tampan dengan jas muda yang rapi, dan di sisinya adalah wanita cantik dengan perut yang sudah cukup buncit menunjukkan usia kehamilannya yang tidak sedikit.
"MBAK ANETH!" Pekik Nayra dengan mata yang tiba-tiba bersinar cerah. Tanpa berpikir panjang, dia berdiri dan berlari cepat ke arah wanita itu, membuat pria yang menyertainya langsung mengerutkan kening karena khawatir.
"Nay, hati-hati dong! Ibu bilang kamu sedang dalam kondisi khusus, tidak boleh berlari-lari begini!" Ucap pria itu dengan nada khawatir yang jelas terlihat, tangannya hampir terangkat seolah ingin menangkap Nayra jika dia jatuh. Dia adalah Awan, kakak angkat laki-laki Nayra yang selalu menjaganya seperti seorang ayah.
"Pelan-pelan dek, jangan tergesa-gesa." Timpal Aneth dengan senyum hangat, membuka pelukannya untuk menyambut Nayra yang langsung merapat ke dadanya. Tangan wanita itu dengan lembut mengelus punggung Nayra, memberikan rasa aman yang sangat dibutuhkan oleh gadis muda itu.
"Duduklah mas Awan, mbak Aneth. Kami sudah menyediakan tempat duduk dan minuman untuk kalian." Ucap Nick dengan sopan, berdiri untuk membantu menarik kursi agar lebih mudah dijangkau.
"Kamu baik-baik saja kan dek? Tidak ada keluhan atau rasa tidak nyaman kan?" Tanya Aneth dengan penuh perhatian, matanya memperhatikan setiap gerakan Nayra yang kini masih berada di pelukannya. Wajahnya menunjukkan rasa cinta dan kekhawatiran yang tulus sebagai kakak perempuan.
"Aku baik-baik saja kok mbak, tidak ada masalah sama sekali." Jawab Nayra dengan senyum lembut, kemudian melepaskan pelukan dan membantu Aneth untuk berjalan menuju sofa. Sementara itu, Awan sudah duduk di kursi yang disediakan, namun matanya tetap terpaku pada Nayra dengan perhatian penuh.
"Duduklah mas dan mbak, biarkan aku menjelaskan secara rinci tentang keadaan Nayra. Bagaimanapun juga, kalian adalah kakak-kakaknya yang paling dekat dengannya, jadi kalian berhak mengetahui semua detail yang sebenarnya terjadi." Ucap Nagara dengan sikap yang sangat bijaksana dan penuh tanggung jawab. Mendengar kata-katanya, Aneth dan Awan saling menatap dengan wajah yang penuh kebingungan, mereka sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan berita mengejutkan seperti ini.
"Ya udah, kita duduk aja dulu ya. Jangan sampai bingung terus begitu." Pujuk Nayra dengan wajah yang ceria, seolah mencoba menyembunyikan rasa cemas yang ada di dalam hatinya. Tangannya kembali menyentuh perutnya dengan lembut, sebagai bentuk penghiburan bagi dirinya sendiri.
"Ba...baiklah." Jawab Awan dengan sedikit terengah-engah karena kebingungan, kemudian dia menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Aneth dan Nayra. Sementara itu, Nayra dengan manja bergelayut di lengan Aneth, mencari rasa aman yang hanya bisa dia dapatkan dari wanita itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi mas Naga? Kenapa Nayra harus menghadapi hal seperti ini?" Tanya Awan dengan nada yang menunjukkan bahwa dia sudah tidak sabar untuk mengetahui kebenaran, matanya yang biasanya lembut kini tampak sangat serius.
"Seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, Nayra memang sedang mengandung." Ucap Nagara dengan nada yang jelas dan tegas, memulai penjelasannya. "Namun perlu saya tekankan bahwa kehamilan ini bukanlah hasil dari pergaulan bebas atau kesalahan Nayra pribadi. Ini adalah musibah Yang benar-benar tidak diinginkan." Dia kemudian mulai menjelaskan secara detail bagaimana Nayra pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi mengenai masalah menstruasi yang tidak teratur, namun karena kesalahan dokter yang salah mengenali identitas pasien, sampel sperma yang seharusnya diberikan kepada pasien lain bernama Nayra juga, istri dari seorang pria bernama Sean, justru salah diberikan dan masuk ke dalam rahim Nayra.
"Lalu apakah pria bernama Sean itu sudah mengetahui tentang hal ini? Dan apa tanggapan dia terhadap kehamilan Nayra?" Tanya Awan dengan tatapan yang penuh kekhawatiran, dan Nagara hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
"Mas Naga bilang bahwa Sean akan bertanggung jawab. Apakah itu berarti Nayra akan dijadikan istri kedua? Karena jika itu yang terjadi, aku tidak akan pernah menyetujuinya!" Tanya Alam dengan suara yang meningkat tajam, matanya menatap Nagara dengan pandangan yang tajam dan penuh kemarahan.
Namun Nayra segera menyela pembicaraan itu dengan suara yang lembut namun tegas. "Mas, aku tidak masalah kok dengan apapun keputusannya. Yang paling penting bagi aku adalah anak ku nantinya lahir dengan status yang jelas, dia tidak boleh menjadi anak di luar nikah. Itu saja yang aku inginkan." Ucapnya dengan wajah yang penuh ketulusan, membuat semua orang di ruangan itu terdiam sejenak.
"TIDAK BISA DEMIKIAN NAY! Ini sangat tidak adil bagimu! Kau adalah korban dalam seluruh peristiwa ini, jadi kau berhak mendapatkan hak yang terbaik, termasuk menjadi istri satu-satunya jika memang harus menikah dengan pria itu!" Seru Aneth dengan suara yang penuh kemarahan dan rasa tidak adil, tangannya yang berada di perutnya sedikit menggigil karena emosi.
"Sayang, tenang dulu ya. Jangan sampai emosi membuat badanmu tidak nyaman." Ucap Awan dengan lembut, mengelus lengannya perlahan untuk menenangkannya. Dia sendiri juga merasa tidak setuju dengan situasi ini, namun dia tahu bahwa dia harus tetap tenang untuk bisa berpikir jernih.
"Semuanya akan baik-baik saja. Insyaallah, Nayra akan menjadi istri satu-satunya di hidup Saya."
Suara baru yang datang dari arah pintu membuat semua orang di ruangan itu terkejut dan segera menoleh. Di sana berdiri seorang pria tampan dengan jas hitam yang sangat rapi, wajahnya tampak serius namun juga penuh dengan keyakinan. Matanya yang dalam langsung tertuju pada Nayra dengan pandangan yang penuh perhatian.
"Tuan Sean?! Apa maksud dengan kata-kata tuan tadi?" Tanya Nagara dengan suara yang penuh keterkejutan, tubuhnya secara refleks berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya menunjukkan ekspresi campuran antara kejutan dan rasa ingin tahu yang mendalam.