"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buronan "Gagah" Dan Skenario Gila
Setelah pelarian dari gudang, mereka bertiga bersembunyi di markas rahasia Rendy—sebuah kontrakan sempit di gang sempit yang penuh dengan kabel menjuntai dan tumpukan barang elektronik.
"Rey, liat berita!" seru Rendy sambil menunjuk layar TV kecil yang gambarnya bersemut.
Wajah Reyhan muncul di berita utama dengan tulisan merah besar: "DETEKTIF REYHAN DIDUGA BERKHIANAT DAN MEMBANTU PELARIAN TERSANGKA KRIMINAL."
"Arthur... dia beneran main bersih," bisik Reyhan. Wajahnya yang tadi pucat sekarang merah padam karena amarah yang tertahan. "Dia fitnah gue supaya gue nggak punya tempat lagi buat sembunyi. Dia mau gue mati kutu."
Kiara menatap televisi dengan pandangan kosong. "Dan sekarang, kita semua jadi buronan. Detektif kita ini sudah kehilangan segalanya dalam semalam."
Rendy mencoba mencairkan suasana meski hatinya getir. "Tenang, Ra. Dia memang nggak punya jabatan lagi, tapi dia punya kita. Dan yang paling penting... dia punya gue yang siap kasih napas buatan kalau tiba-tiba dia pingsan liat surat penangkapan."
Reyhan menutup mukanya dengan bantal, mendesis pelan. "Ren, sekali lagi lo bahas napas buatan, gue beneran resign jadi manusia."
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar pelan. Tok... tok... tok...
Bukan ketukan manusia. Suaranya datar dan berirama aneh. Kiara langsung berdiri, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu yang sudah rapuh itu.
"Dia datang lagi," bisik Kiara. "Arwah buruh pabrik 2011 itu... dia bilang Arthur nggak cuma nutup kasus dia, tapi Arthur yang mematikan mesinnya malam itu. Dia sengaja membunuhnya."
Reyhan langsung berdiri tegak. Meskipun kakinya masih sedikit lemas, aura kepolisiannya kembali muncul. "Berarti Arthur adalah pelaku utamanya. Dia bukan cuma manipulatif, dia pembunuh berdarah dingin."
Rencana Nekat
"Kalau Arthur main legal, kita main gelap," perintah Reyhan, suaranya mendadak berat dan tegas. "Rendy, pakai semua akun lo buat bikin isu 'Polisi Misterius yang Difitnah'. Kita pecah opini publik. Kita buat orang ragu dengan berita itu."
Rendy mengangguk mantap. "Siap! Gue bakal bikin konten yang bikin netizen mikir dua kali."
"Dan aku," Kiara menyela dengan tatapan dingin, "aku bakal masuk ke mimpi Arthur malam ini. Aku mau bikin dia merasakan gimana rasanya terjepit di dalam mesin pabrik itu."
Namun, suasana hening itu tak bertahan lama. Rendy tiba-tiba membeku menatap layar laptopnya.
"Rey," panggil Rendy pelan. "Gue baru dapet info. Arthur nggak cuma fitnah lo. Dia sudah mengirim tim 'pembersih' untuk mencari kita ke sini."
Kiara berdiri di dekat jendela yang tertutup gorden kumal. Wajahnya pucat pasi. "Mereka sudah di depan. Aura mereka... jahat banget. Bukan cuma manusia, mereka membawa 'sesuatu' yang ditaruh di dalam mobil mereka."
Reyhan mendongak. Rasa takut sempat melintas, tapi melihat Rendy dan Kiara yang masih berdiri di sampingnya, ia memaksakan diri untuk tetap tegak.
"Kita nggak bisa lewat pintu depan," perintah Reyhan. "Rendy, bawa semua hardisk lo. Kiara, pegang tangan gue!"
Tepat saat mereka hendak lari ke pintu belakang, pintu depan JEGERRRR! dihancurkan paksa.
Bukan anak buah Arthur yang masuk, melainkan sebuah tabung gas air mata yang langsung meledak, memenuhi ruangan sempit itu dengan asap putih yang menyengat paru-paru.
"UHUK! UHUK! Rendy! Kiara!" Reyhan berteriak di tengah kepulan asap yang memerihkan mata.
Dalam pandangannya yang mulai kabur, Reyhan melihat sesosok pria tinggi berdiri di ambang pintu yang hancur. Pria itu memakai masker hitam, tapi tatapannya yang dingin sangat ia kenali. Itu adalah asisten kepercayaan Arthur.
"Detektif Reyhan," suara pria itu menggema dingin di tengah suara batuk mereka. "Tuan Arthur bilang, kalau kamu tidak bisa diajak kerja sama di kantor, mungkin kamu lebih suka bicara di bawah tanah."
Reyhan mencoba meraih pistolnya, tapi kepalanya mulai berputar hebat. Asap itu... bukan cuma gas air mata biasa. Ada campuran obat bius dosis tinggi di dalamnya.
"Sial... kali ini... gue beneran..." bisik Reyhan sebelum tubuhnya ambruk menghantam lantai.
Layar menjadi hitam.