Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Althan bertemu Mikaila
Benar-benar percuma. Mau berapa kalipun Vivi memohon pada Althan, pria itu tidak akan pernah melepaskannya. Althan sudah punya tujuan yang jelas, yaitu membalas dendam. Vivi sendiri juga mewajarkan hal itu. Tapi, bagaimana dia bisa terus menerus menyembunyikan keberadaan Mikaila tanpa ketahuan Althan?
"Aku akan mengantarkan kamu pulang,"
"Hah? Apa? Nggak, nggak usah," Vivi langsung menggeleng cepat.
Kening Althan berkerut. Tangannya mengepal. Segitu nggak sukanya kah kamu aku antar pulang? Apa kamu takut ketahuan oleh pacarmu itu?
"Aku tidak menawarkan, tapi memberi tau," Althan tetap bersikeras.
"Jangan, tidak usah," Vivi juga tetap gigih dengan pilihannya. "Saya bisa pulang sendiri Pak,"
"Kenapa?" Mata Althan menusuk tajam menatap Vivi. "Apa yang ada kamu sembunyikan di rumahmu?"
Vivi terkesiap. Bagaimana Althan bisa tau? Apa jangan jangan dia sudah mencari tau? Apa dia sudah tau tentang Mikaila? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku kabur lagi?
Berbagai pikiran menghantui kepala Vivi. Napasnya tersengal, dan keringat mulai mengalir dari pelipisnya.
Tidak, semua ini tidak boleh terbongkar. Aku tidak bisa membuat karirnya terancam.
"Silahkan keluar,"
Di waktu yang tepat, kedatangan petugas kereta gantung menyelamatkan Vivi. Tanpa berkata apapun, Vivi langsung melangkah keluar dari kereta gantung itu. Lalu tanpa menunggu Althan, ia pun segera pergi menjauh.
Althan menatap kepergian Vivi dengan curiga.
"Kenapa dia jadi panik begitu? Apa benar dia menyembunyikan sesuatu? Atau..." tangan Althan terkepal saat ia memikirkan kemungkinan selanjutnya. "Dia tidak mau aku bertemu dengan pacar barunya? Huh, coba kulihat, seperti apa rupa pacar barunya itu, sampai dia tega meninggalkan aku,"
"Althan!" Roni berlari menghampiri Althan dengan napas terengah-engah. Ia juga baru turun dari kereta gantung yang ada di belakang Althan. "Kok aku ditinggal, sih? Terus, Mbak Vivi kemana?"
"Dia sudah jalan duluan, sini kunci mobilnya," Althan menengadahkan tangannya.
"Kunci mobil? buat apa?" Meskipun sambil bertanya-tanya, Roni tetap memberikan kunci mobil kepada Althan.
"Aku jalan duluan, kamu naik taksi aja ya bang," ucap Althan kemudian sambil berjalan mendahului Roni.
"Loh, kok aku ditinggal? Kamu mau kemana, Than?!"
Percuma saja teriakan Roni, Althan tidak peduli.
...----------------...
Turun dari gocar, Vivi melangkahkan kakinya menuju Farida Salon. Sebelumnya dia mau menjemput Mikaila di rumah Rika seperti biasa, tapi ternyata Rika dan orangtua nya hendak pergi ke suatu tempat, jadilah Mikaila dititipkan di sana. Untungnya, Orang-orang yang bekerja di Farida Salon sudah mengenal Mikaila dan Mikaila juga sudah beberapa kali diajak Vivi ke sana. Jadi sejauh ini sepertinya akan baik baik saja. Yang ia tidak tau, sebenarnya saat ini ada seseorang yang sedang diam diam Membuntuti nya.
"Mama!"
Seperti biasa, saat melihat kedatangan Vivi, Mikaila langsung berlari sambil merentangkan tangan menyambut mamanya. Dan Vivi pun segera memeluk Mikaila dengan hangat.
"Wah, akhirnya Mama kamu sudah pulang ya, Mikaila?" timpal Maya dari dalam Salon.
Pemandangan itu tentunya tak luput dari perhatian Althan. Wajah pria itu tampak kaget saat melihat ada seorang anak yang memeluk Vivi sambil memanggilnya Mama.
"Bagaimana mungkin? Apa Vivi sudah menikah? Tapi.. aku tidak pernah melihat dia memakai cincin. Tunggu, apa jangan jangan anak itu..."
Rahang Althan seketika mengeras, saat ia teringat dengan satu fakta, bahwa Vivi sempat bilang dia hamil sebelum perpisahan mereka.
"Tapi, Vivi bilang dia sudah menggugurkan kandungannya.. Jadi, anak siapa itu?"
Tangan Althan terkepal. Ingin rasanya ia segera pergi ke sana menemui mereka. Bertanya dengan sejelas jelasnya tentang siapa anak itu, siapa ayahnya. Tapi saat melihat ke sekeliling, Althan sadar ada beberapa orang yang mencuri pandang ke arahnya. Sepertinya keberadaannya akan segera diketahui orang orang. Dia tak mau membuat kehebohan. Pada akhirnya, ia pun kembali masuk ke dalam mobil masih dalam keadaan shock.
Begitu sampai di apartemen, Althan langsung disambut dengan omelan Roni. Pria itu tentunya tidak Terima Althan meninggalkannya begitu saja saat di bukit tadi.
"Kamu tau nggak sih, Than? Hapeku mati, jadi aku nggak bisa pesan taksi online! Terus di sana itu nggak ada taksi yang lewat sama sekali! Jadi aku harus jalan dulu ke jalan besar yang jaraknya berkilo kilo meter! Capek kakiku, Thannnn!"
Althan hanya mendengarkan saja tanpa memperhatikan. Seolah celotehan Roni adalah suara angin yang masuk ke kuping kiri lalu keluar ke kuping kanan, tidak ada yang masuk ke dalam otak.
Sekarang, pikiran Althan sepenuhnya teralihkan dengan adegan saat Vivi memeluk anak perempuan yang memanggilnya Mama.
Siapa anak itu sebenarnya? Berapa umurnya? Apa Vivi sudah menikah? Lantas siapa ayahnya?
Althan benar-benar dibuat penasaran.
"Than, Kamu dengerin aku nggak sih?!"
Althan tersadar dari lamunan dan menatap Roni yang sedang kesal. Buru buru ia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
"Abang pegang aja credit card aku. Silahkan kalau mau belanja sepuasnya. Oh ya, kayanya aku dengar action figure one piece yang terbaru sudah rilis. Kalau abang mau, beli aja," ujarnya kemudian.
Roni buru buru mengambil kartu berwarna hitam itu dari tangan Althan. "Beneran ya, Than? Kamu nggak bohong kan? Kamu nggak bakal ngomelin aku kalau belanja action figure lagi, kan?"
"Nggak, udah, belanja sana," Althan melambaikan tangannya, membuat raut wajah kesal Roni tadi langsung sirna seketika, berubah menjadi tawa gembira. Manajernya itu pun segera keluar dari apartemen untuk memenuhi rak koleksi action figure nya.
Sepeninggal Roni, barulah Althan merasa damai. Karena kepalanya terasa penuh, pria itu pun pergi ke kamar mandi untuk berendam sejenak. Itu adalah salah satu metode yang psikiater nya sarankan jika Althan sedang stres. Dan karena kesibukannya, akhir akhir ini Althan jarang melakukannya.
Tapi, meskipun sudah berendam di air hangat yang penuh dengan aroma mawar, pikiran Althan masih tetap tertuju pada anak kecil itu.
"Kalau dikira kira, usianya mungkin sekitar lima tahun. Lima tahun yang lalu, aku berpisah dengan Vivi. Tapi, Vivi bilang dia sudah menggugurkan kandungannya waktu itu. Apa jangan jangan dia berbohong?"
Althan meraih gelas wine yang ada di meja dekat bathtub, lalu menyesapnya perlahan.
"Aku benar-benar harus tau kebenarannya. Jangan sampai aku dibuat mati penasaran," tekadnya kemudian.
...----------------...
Keesokan harinya, seperti biasa sebelum berangkat kerja Vivi mengantarkan Mikaila ke TK. Hari ini ia ada janji dengan Roni Untuk membuat wardrobe plan Althan selama satu bulan ke depan. Katanya, Althan tidak akan ikut karena sedang ada kesibukan lain. Tentu saja, hal itu membuat Vivi senang. Ia jadi tidak perlu terintimidasi oleh tatapan atau kata kata tajam dari pria itu.
Tapi, siapa yang bisa menyangka, jika kesibukan yang dikatakan Althan itu adalah menguntit Vivi dan putrinya ke sekolah. Bahkan saat Vivi sudah pergi pun, Althan masih berada di sana dan menatap dari kejauhan.
"Vivi mengantarkan anaknya sendirian, dimana suaminya? Apa suaminya meninggalkannya?"
Althan bertekad untuk mengetahui jawabannya hari ini. Dia tidak akan pergi sampai dia benar-benar mendapatkannya.
Maka, ketika jam istirahat tiba, Althan melihat putrinya Vivi itu sedang makan bekal sendirian di kursi taman, jadi ia pun berjalan mendekatinya.
"Hai," sapa Althan dengan jantung berdebar kencang. Entahlah, dia sendiri pun bingung. Kenapa dia harus nervous di depan seorang anak kecil?
"Boleh Om duduk di sini?"
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara