NovelToon NovelToon
Frosen King OF Calestial

Frosen King OF Calestial

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Raja Ilusi

Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27:Naga Gelap Dan Pertahanan Yang Diuji

Setelah mengalahkan Morgana dan keluar dari Hutan Bayangan yang menakutkan itu, Kaelen dan Lira melanjutkan perjalanan mereka menuju benteng Malakar. Mereka tahu bahwa bahaya belum berakhir. Mereka tahu bahwa Malakar pasti sudah menyiapkan jebakan-jebakan lain yang lebih sulit dan lebih berbahaya untuk menghalangi jalan mereka. Tapi mereka tidak takut. Mereka merasa semakin kuat dan semakin siap untuk menghadapi apa pun yang terjadi.

Perjalanan mereka berlanjut melewati berbagai macam tempat yang indah dan juga menakutkan. Mereka berjalan melewati padang rumput yang luas dan hijau, melewati danau-danau yang tenang dan indah, melewati gunung-gunung yang tinggi dan terjal, dan melewati hutan-hutan yang rindang dan lebat. Setiap hari, mereka berjalan dengan tekad yang kuat, selalu berusaha untuk maju lebih dekat ke tujuan mereka.

Dan seperti yang mereka duga, tidak lama setelah mereka meninggalkan Hutan Bayangan, mereka menemui jebakan kedua mereka.

Jebakan itu terjadi saat mereka sedang berjalan melewati sebuah pegunungan yang tinggi dan terjal yang dikenal sebagai Pegunungan Api. Pegunungan itu dikenal sebagai tempat yang sangat berbahaya karena di sana terdapat banyak sekali gunung berapi yang aktif yang sering meletus, menyemburkan lava panas dan abu vulkanik ke mana-mana. Udara di sekitar pegunungan itu terasa sangat panas dan kering, dan tanah di sana berwarna hitam dan merah karena lava yang telah membeku.

Saat Kaelen dan Lira sedang berjalan melewati sebuah jalan sempit yang terletak di sisi sebuah gunung yang tinggi dan terjal, tiba-tiba, mereka mendengar suara auman yang sangat keras dan mengerikan yang datang dari langit di atas mereka.

Mereka segera mengangkat kepala mereka, dan mereka melihat sebuah sosok yang sangat besar dan menakutkan yang sedang terbang di langit di atas mereka. Sosok itu adalah seekor naga yang sangat besar dan berotot, dengan kulit yang berwarna hitam pekat dan bersisik tebal yang berkilauan dengan cahaya yang sangat gelap. Matanya bersinar dengan cahaya merah yang sangat terang dan menakutkan, dan di punggungnya, terdapat sayap-sayap yang sangat besar dan lebar yang bergerak dengan kekuatan yang besar, menciptakan angin kencang yang membuat debu dan batu-batu kecil beterbangan ke mana-mana. Di ekornya, terdapat duri-duri yang tajam dan beracun yang berkilauan dengan cahaya ungu.

Itu adalah Ignar, Naga Gelap—salah satu makhluk paling kuat dan paling ganas yang pernah ada di dunia ini, dan juga merupakan salah satu bawahan Malakar yang paling dipercaya. Konon, Ignar telah melayani Malakar selama ratusan tahun, dan dia telah menghancurkan banyak kota dan desa serta membunuh ribuan orang atas perintah Malakar. Dia dikenal karena kekuatannya yang luar biasa, kulitnya yang sangat keras dan sulit ditembus, dan napas apinya yang sangat panas dan mematikan yang bisa membakar apa pun yang ada di hadapannya menjadi abu dalam sekejap mata.

Ignar menatap Kaelen dan Lira dengan mata yang penuh dengan kebencian dan keinginan untuk membunuh. "Hahaha! Jadi, kalian adalah dua manusia kecil yang berani datang ke wilayahku dan berani mencoba melawan Tuanku Malakar?" teriak Ignar, suaranya terdengar seperti guntur yang menggelegar di telinga Kaelen dan Lira. "Kalian benar-benar bodoh. Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berurusan. Aku adalah Ignar, Naga Gelap yang paling kuat di dunia ini. Dan siapa pun yang berani melawan Tuanku Malakar akan menjadi makanan bagiku. Kalian akan mati di sini, dan tubuh kalian akan menjadi abu yang tersebar di pegunungan ini."

Kaelen dan Lira segera mengeluarkan pedang es mereka, siap untuk bertarung. Meskipun mereka merasa takut melihat ukuran dan kekuatan Ignar yang sangat besar dan menakutkan, mereka tidak membiarkan rasa takut itu menguasai mereka. Mereka ingat apa yang diajarkan oleh Eldric kepada mereka. Mereka ingat bahwa mereka memiliki kekuatan yang besar, mereka memiliki keberanian, dan mereka memiliki satu sama lain. Dan mereka tahu bahwa mereka harus melawan dan mengalahkan Ignar jika mereka ingin melanjutkan perjalanan mereka menuju benteng Malakar.

"Kami tidak takut padamu, Ignar!" teriak Kaelen, suaranya tegas dan penuh dengan keyakinan. "Kami datang untuk mengakhiri kejahatan Malakar, dan kami tidak akan membiarkanmu atau siapa pun menghalangi jalan kami. Kami akan mengalahkanmu, dan kami akan terus maju!"

Ignar tertawa dengan suara yang keras dan mengerikan. "Mengalahkan saya? Kalian? Dua manusia kecil yang lemah? Itu adalah lelucon yang paling lucu yang pernah saya dengar. Kalian bahkan tidak bisa menahan satu serangan pun dari saya. Lihatlah!"

Tanpa peringatan apa pun, Ignar membuka mulutnya yang lebar dan mengerikan, dan sebuah napas api yang sangat besar dan sangat panas terlempar ke arah Kaelen dan Lira. Api itu berwarna merah menyala dan ungu, dan suhunya begitu tinggi sehingga udara di sekitarnya terasa mendidih.

"Cepat, Lira! Perisai!" teriak Kaelen.

Kaelen dan Lira segera menciptakan perisai gabungan mereka—perisai yang merupakan gabungan dari kekuatan es Kaelen dan kekuatan cahaya emas Lira. Perisai itu berwarna biru bercampur emas, dan itu bersinar dengan cahaya yang sangat terang dan kuat.

Namun, kekuatan napas api Ignar itu begitu besar dan begitu panas sehingga perisai mereka segera mulai meleleh dan retak. Kaelen dan Lira terdorong ke belakang, dan mereka merasa sangat panas dan sangat sakit. Mereka hampir tidak bisa menahan serangan itu.

"Kuatkan dirimu, Lira! Jangan biarkan perisai itu hancur!" teriak Kaelen, mengerahkan semua kekuatannya untuk menahan perisai itu.

Lira mengangguk dengan susah payah, dan dia juga mengerahkan semua kekuatannya. "Saya... saya mencoba, Yang Mulia! Tapi dia sangat kuat!"

Akhirnya, setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, napas api itu berhenti. Kaelen dan Lira jatuh ke tanah dengan napas yang terengah-engah dan tubuh yang terasa sakit dan terbakar. Perisai mereka hancur, dan mereka merasa sangat lelah.

"Lihatlah," kata Ignar dengan sinis. "Itu hanya sedikit dari kekuatanku. Kalian bahkan tidak bisa menahan satu serangan pun dari saya. Bagaimana kalian berharap bisa mengalahkan saya dan Tuanku Malakar? Kalian tidak memiliki kesempatan sedikit pun."

Ignar pun terbang turun ke arah mereka, siap untuk memberikan serangan terakhir kepada mereka. Dia mengangkat cakarnya yang besar dan tajam, siap untuk mencabik-cabik tubuh Kaelen dan Lira.

Tapi Kaelen dan Lira tidak mau menyerah. Mereka bangkit berdiri dengan susah payah, dan mereka bersiap untuk bertarung lagi. Mereka tahu bahwa ini adalah pertarungan hidup dan mati, dan mereka harus melakukan apa saja untuk menang.

"Mari kita serang dia bersama-sama, Lira," bisik Kaelen. "Kita harus mencari kelemahannya. Kita harus menyerang dia dengan cara yang paling efektif."

Lira mengangguk dengan tegas. "Baiklah, Yang Mulia. Saya siap."

Mereka pun melompat ke arah Ignar, mengayunkan pedang es mereka dengan sekuat tenaga. Ignar menangkis serangan mereka dengan mudah menggunakan sayapnya yang besar dan kuat, mendorong Kaelen dan Lira kembali ke tanah.

Pertarungan pun dimulai. Dan ini adalah pertarungan yang sangat sulit dan sangat menantang. Ignar sangat kuat, sangat cepat, dan sangat ganas. Dia menyerang mereka dengan cakarnya yang tajam, dengan ekornya yang beracun, dan dengan napas apinya yang dahsyat. Kaelen dan Lira hanya bisa bertahan dan berusaha menghindari serangan-serangan Ignar sambil mencari kesempatan untuk menyerang balik.

Kaelen mencoba untuk membekukan tubuh Ignar dengan kekuatan esnya. Tapi kulit Ignar begitu keras dan begitu panas sehingga es itu segera meleleh dan hancur bahkan sebelum sempat menutupi tubuhnya sepenuhnya.

Lira mencoba untuk menyerang Ignar dengan kekuatan cahaya emasnya. Tapi setiap kali dia melemparkan bola cahaya emas ke arah Ignar, Ignar dengan mudah menghindarinya atau menangkisnya menggunakan sayapnya yang besar.

"Sialan!" geram Kaelen, merasa frustrasi. "Bagaimana cara kita mengalahkan dia? Dia terlalu kuat, dan kulitnya terlalu keras."

Lira berpikir keras sambil menghindari serangan ekor Ignar. "Tuan Eldric pernah mengatakan kepada kita bahwa setiap makhluk pasti memiliki kelemahan. Kita harus mencari tahu apa kelemahan Ignar. Pikirkanlah, Yang Mulia. Apa yang mungkin menjadi kelemahan seekor naga gelap yang memiliki kulit yang sangat keras dan kekuatan api?"

Kaelen berpikir keras sambil terus bertarung. Dan kemudian, dia teringat sesuatu. Dia teringat bahwa naga-naga, meskipun mereka sangat kuat dan memiliki kulit yang sangat keras, biasanya memiliki titik lemah di bagian bawah perut mereka, di mana kulitnya lebih tipis dan lebih lemah daripada bagian tubuh lainnya. Dan dia juga teringat bahwa Ignar adalah seekor naga gelap yang menggunakan kekuatan api. Dan api, meskipun sangat kuat, bisa dipadamkan atau dilemahkan oleh air atau es yang sangat dingin dan sangat kuat dalam jumlah yang besar.

"Lira! Aku tahu apa yang harus kita lakukan!" teriak Kaelen. "Bagian bawah perutnya adalah titik lemahnya! Kulitnya di sana lebih tipis daripada di bagian tubuh lainnya. Dan kita harus menggunakan kekuatan es kita dalam jumlah yang sangat besar dan sangat dingin untuk melawan kekuatan apinya. Kita harus menggabungkan kekuatan kita dan menyerang bagian bawah perutnya!"

Lira mengangguk setuju. "Baiklah, Yang Mulia! Saya mengerti! Tapi bagaimana cara kita bisa menyerang bagian bawah perutnya? Dia selalu terbang di atas kita atau menghadap kita, jadi kita tidak bisa mencapai bagian bawah perutnya."

"Kita harus membuat dia terbalik atau membuat dia jatuh ke tanah sehingga bagian bawah perutnya terbuka untuk kita," jawab Kaelen. "Dan untuk melakukan itu, kita harus membuat dia kehilangan keseimbangan. Mari kita coba untuk menarik perhatiannya dan membuat dia fokus pada satu arah, dan kemudian salah satu dari kita akan menyerang dia dari arah yang tidak terduga untuk membuat dia kehilangan keseimbangan."

"Baiklah, Yang Mulia!" jawab Lira. "Saya akan mengalihkan perhatiannya. Anda bersiaplah untuk menyerang dia dari belakang saat dia tidak melihat."

Lira pun mulai menyerang Ignar dengan lebih agresif, melemparkan bola-bola cahaya emas yang cepat dan tepat ke arah wajah dan mata Ignar. Ignar menjadi marah, dan dia mulai fokus sepenuhnya pada Lira, mencoba untuk menangkap dan membunuh Lira. Dia tidak menyadari bahwa Kaelen sedang bersiap untuk menyerang dia dari belakang.

Saat Ignar sedang sibuk mengejar Lira dan mencoba untuk menyerang dia, Kaelen melihat kesempatan itu. Dia mengerahkan semua kekuatan esnya, dan dia juga memanggil kekuatan dari alam sekitarnya—uap air di udara dan molekul-molekul air yang ada di tanah dan di bebatuan di sekitarnya. Dia menciptakan sebuah tombak es yang sangat besar dan sangat panjang, yang berwarna biru pekat dan bersinar dengan cahaya yang sangat dingin dan kuat.

"SEKARANG!" teriak Kaelen.

Dengan sekuat tenaga, dia melompat ke arah Ignar dan menusukkan tombak es itu ke bagian bawah perut Ignar dengan sekuat tenaga.

Ignar menjerit kesakitan yang sangat keras dan mengerikan. Tombak es itu berhasil menembus kulitnya yang tipis di bagian bawah perutnya, dan kekuatan dingin yang sangat besar dari tombak es itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Tubuh Ignar mulai membeku dari dalam, dan dia kehilangan keseimbangannya. Dia jatuh ke tanah dengan suara yang sangat keras dan dahsyat, membuat tanah di sekitarnya bergetar dan debu beterbangan ke mana-mana.

Kaelen dan Lira segera berlari ke arah Ignar yang sedang terbaring di tanah dengan kesakitan. Mereka melihat bahwa tombak es itu masih tertancap di perutnya, dan tubuhnya mulai membeku semakin banyak.

"Kamu... kalian berdua..." bisik Ignar dengan suara yang lemah dan menyakitkan, matanya yang bersinar merah mulai meredup. "Kalian benar-benar... lebih kuat daripada yang saya kira... Tapi Tuanku Malakar... dia akan membalaskan dendamku... Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan dia..."

Setelah mengatakan itu, tubuh Ignar sepenuhnya membeku menjadi sebuah patung es yang besar dan mengerikan. Dan kemudian, patung es itu pecah menjadi ribuan potongan kecil yang kemudian hancur menjadi debu yang menghilang di udara. Ignar sudah mati.

Kaelen dan Lira berdiri di sana, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka lelah dan penuh dengan luka-luka. Tapi mereka tersenyum bahagia dan lega. Mereka berhasil. Mereka berhasil mengalahkan Ignar, Naga Gelap yang sangat kuat dan berbahaya itu.

"Kamu hebat, Kaelen," kata Lira, berjalan ke arah Kaelen dan memeluknya dengan erat. "Kamu benar-benar hebat. Jika bukan karena kamu yang menemukan kelemahannya dan menyerang dia dengan tepat, kita tidak akan bisa mengalahkan dia."

1
Ridwani
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!