Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba akur
Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Tamu-tamu undangan yang hanya beberapa gelintir orang itu sudah pulang ke rumah masing-masing. Bapak dan ibunya Agam pun memilih untuk pulang setelah memastikan besan barunya diantarkan pulang dengan menggunakan jasa travel.
Sita telah kembali ke kamarnya, begitupun Maira. Ia bahkan sejak tadi enggan sekali keluar kamar, entah kenapa hatinya terasa rapuh setelah mendengar dan menyaksikan ijab qabul kedua yang diucapkan oleh suaminya.
Ternyata ikhlas itu memang susah, begitulah yang sejak tadi dirasakan oleh Maira. Berkali-kali ia membasuh muka hingga berwudhu, sholat lalu membaca ayat-ayat suci Al-Quran karena berharap hatinya lebih bisa tenang, namun ternyata justru air matanya yang lagi-lagi tumpah.
Tiba-tiba terlintas bayangan kotor di kepalanya. Hatinya terasa ngilu kala membayangkan jika suatu saat ia mendapati Agam keluar dari kamar Sita dengan wajah berseri layaknya pengantin baru. Menyaksikan mereka sama-sama tersipu malu setelah melalui penyatuan di atas peraduan. Ah ... kenapa jadi begini?
"Sayang!" panggil Agam dari luar kamar.
Maira buru-buru menyeka sisa air mata yang masih basah di pipinya dan bergegas membuka pintu.
"Mas, ada apa?" tanyanya tanpa melihat mata Agam.
"Boleh Mas masuk?"
Maira mengangguk dan membuka pintunya lebih lebar agar Agam bisa masuk ke kamar mereka. Kamar yang akhir-akhir ini hanya di ditiduri oleh Maira seorang.
Setelah Agam duduk di atas ranjang, Maira pun menyusul dan ikut duduk disampingnya.
"Sayang, Mas boleh tidur disini, ya, malam ini?" tanya Agam. Tangannya meraih tangan Maira dan mengusapnya dengan lembut.
Lelaki yang masih memakai pakaian pengantin lengkap itu berusaha menatap istri yang dirindukannya, yang akhir-akhir ini hampir tak bisa ia gapai.
"Bukankah ini adalah malam pengantin mu dengan Sita, Mas?"
"Jangan ingatkan aku tentang itu, Maira. Bagiku hanya kau istriku satu-satunya."
Maira menunduk, sekali berkedip tumpah sudah air mata yang sempat mengering sebentar tadi.
"Maira bingung, Mas. Aku nggak tahu harus bagaimana? Maira sebenarnya nggak sanggup kalau harus punya madu, tapi-" ucapan Maira terhenti. Setelahnya hanya isakan yang semakin lama semakin terdengar jelas dan menggema di seisi ruang kamar berukuran 4x4 meter itu.
Bahunya terguncang semakin keras. Haruskah ia menyesali keputusannya? Ah ... hatinya yang tidak tegaan dan selalu mengutamakan orang lain itu selalu saja membuatnya tidak berdaya.
"Lalu sekarang apa mau mu, Maira?" Agam meraih tubuh istrinya dan mendekapnya. Dikecupnya kepala Maira yang masih terbungkus mukena yang tadi ia gunakan untuk sholat.
Maira menggeleng. Ia terlalu lemah walau hanya untuk mengungkapkan perasaannya sendiri.
"Maira nggak tahu, Mas."
"Maafkan kesalahan yang tidak sengaja Mas lakukan ini, ya. Mas janji akan berusaha menjadi lebih baik lagi untuk kamu."
"Janji?" tanya Maira dengan tatapan sendu.
"Kamu tenang saja, ya! Sekalipun ada ikatan pernikahan lain diantara pernikahan kita, tapi Mas janji sama kamu bahwa kamulah yang Mas cintai. Bagi Mas, Sita tetaplah orang asing meski statusnya adalah istri Mas. Mas hanya cinta sama kamu, Maira. Sejak dulu sampai sekarang nggak pernah berubah, apalagi berkurang."
Mendengar hal itu hati Maira yang sejak tadi terasa sesak pun berangsur membaik.
Ampuni aku, Ya Allah ... karena telah egois dalam hal ini. Hamba baru sadar ternyata hati hamba terlalu rapuh untuk benar-benar menjalani hidup dengan hadirnya seorang madu dalam pernikahan ini.
Maira seperti menumpahkan segala perasaannya. Ia balas memeluk erat suaminya. Entah cinta atau entah perasaan apa yang masih tinggal dihatinya hingga membuatnya takut untuk kehilangan Agam. Sosok yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun lamanya.
Malam itu untuk pertama kalinya setelah beberapa lama, Maira kembali melayani suaminya.
Meski dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, namun penyatuan antara dirinya dan Agam akhirnya terjadi juga.
"Terimakasih, Sayang. Aku sangat-sangat merindukanmu, Maira," ujar Agam setelah menuntaskan hasratnya. Dikecupnya kening Maira dengan lembut dan penuh kasih.
Sementara Maira makin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher suaminya. Membiarkan suaminya membelai rambutnya dan mendengarkan setiap janji manis yang terucap dari bibir Agam hingga ia tak sadar dan berpindah ke alam mimpi.
*
*
"Huek ... huek ...."
Suara itu terdengar nyaring ditelinga Maira dan Agam saat mereka menuruni tangga. Pagi ini mereka berniat berangkat kerja bersama setelah semalam menghabiskan waktu bersama dengan banyak ngobrol sebelum tertidur.
Maira telah memutuskan untuk memberikan kesempatan bagi Agam untuk menjadi suami yang lebih baik dan tak mengingkari janjinya.
Sedikit egois memang, karena ingin mempertahankan Agam hanya untuk dirinya sendiri. Ya, berbagi status mungkin bisa, tapi untuk berbagi suami rasanya sangat sulit.
Agam dan Maira sepakat jika status Sita hanyalah sebatas status. Setelah anak itu lahir, maka pernikahan mereka akan kembali utuh.
"Huek ...." Lagi-lagi masih terdengar jelas.
"Mas, itu kayaknya suara Sita," ujar Maira. Keningnya berkerut menatap suaminya.
"Lalu?"
"Aku lihat dulu, ya. Mas tunggu aja di ruang tamu, atau panasin aja dulu mobilnya."
Agam mengangguk menanggapinya, "Jangan lama-lama, ya!" pesannya, ia lalu bergegas turun dan berjalan cepat ke arah depan.
Sementara Maira tengah berada di depan kamar Sita. Ia mengetuk pintunya dengan sedikit kencang sambil menyerukan nama adik madunya.
"Sita! Tolong buka pintunya!"
"Masuk aja, Mbak!"
Mendengar suara Sita yang begitu lirih membuat Maira segera memutar handle pintu dan mendorongnya.
"Astaghfirullah, kamu kenapa duduk di lantai?" Maira buru-buru menghampiri Sita yang duduk lemas dilantai depan kamar mandi. Wajahnya pucat, ia juga masih memakai pakaian pengantin yang semalam dipakai untuk ijab qabul.
"Nggak apa, Mbak. Sita hanya pusing dan mual aja."
"Ini kamu belum ganti pakaian sejak semalam?"
Sita menggeleng lemas, ia menatap sayu pada Maira. "Maafin Sita ya, Mbak! Sita nggak bermaksud merebut pak Agam," lirihnya.
"Udah, nggak usah banyak pikiran dulu, ya! Mbak bikinin teh anget dulu buat kamu sebentar. Hari ini Mbak dan mas Agam harus berangkat lebih awal, jadi nanti kalau kamu mau makan minta tolong pak Kasim aja buat beli makanan."
Maira lalu meninggalkan Sita setelah membantunya berdiri dan merebahkannya di atas ranjang.
Hanya beberapa menit, ia sudah kembali lagi dan membawa teh hangat serta kue sisa acara semalam untuk Sita.
"Kamu minum dulu, setelah itu makan kuenya, ya! Mbak nggak bisa nemenin kamu, buru-buru soalnya."
"Sayang, sudah siap?" Agam yang tadinya ada di depan pun kini menyusul Maira karena ia merasa istrinya lama sekali.
"Udah kok, Mas. Ya udah yuk kita berangkat."
"Kami berangkat dulu ya, Sita," pamit Maira.
Sita hanya membalasnya dengan senyum tipis. Tubuhnya terlihat lemah sekali. Sementara Agam hanya meliriknya sekilas dengan ekspresi datar.
gw intip koq gk ad🙃