Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Jebakan di Tengah Kemacetan
.. Hari ini Jakarta terasa lebih gerah dari biasanya. Aspal jalanan seolah mengeluarkan uap panas yang bikin kepala pening. Aku sedang menyetir mobil Clarissa menuju sebuah pertemuan penting di daerah Sudirman. Clarissa di belakang tampak sibuk dengan laptopnya, wajahnya serius menatap grafik saham yang naik turun seperti detak jantungku kalau lagi didekati dia.
.. "Genta, setelah ini kita mampir sebentar ke apotek ya. Saya butuh vitamin, sepertinya saya kurang fit hari ini," ucap Clarissa tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Aku hanya mengangguk patuh. "Siap, Mbak Bos. Apotek terdekat ada di depan itu, biar saya turun sebentar, Mbak Bos tunggu di mobil saja ya."
.. Begitu sampai di depan apotek, aku memarkir mobil di pinggir jalan yang agak ramai. Aku turun dengan cepat, tidak menyadari kalau ada sebuah mobil box hitam yang sudah membuntuti kami sejak dari kantor. Di dalam apotek, antreannya ternyata lumayan panjang. Perasaanku mendadak tidak enak, dadaku terasa sesak seperti ada firasat buruk yang menghampiri.
.. Benar saja, saat aku sedang membayar di kasir, aku mendengar suara decitan ban mobil yang sangat keras dari arah luar. CIIIIIIIT! Jantungku serasa mau copot. Aku langsung berlari keluar tanpa mempedulikan kembalian uangku. Di sana, aku melihat mobil Clarissa sudah dikepung oleh empat orang pria berpakaian serba hitam dan memakai penutup wajah.
.. "Mbak Bos!" teriakku sekuat tenaga. Aku melihat Clarissa ditarik paksa keluar dari mobil dan diseret masuk ke dalam mobil box hitam tadi. Dia mencoba melawan, tapi tenaganya tentu tidak sebanding dengan para penculik profesional itu. Dalam hitungan detik, mobil box itu melesat membelah kemacetan Jakarta.
.. Aku tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Mobil Clarissa kuncinya masih menggantung, aku langsung masuk dan tancap gas mengejar mereka. "Sialan! Berani-beraninya mereka menyentuh Clarissa di depanku! Siapapun kalian, kalian sudah membangunkan singa Sidoarjo yang sedang lapar!" maki daku sambil memutar setir dengan kasar.
.. Terjadilah aksi kejar-kejaran di tengah padatnya arus lalu lintas. Aku menggunakan keahlianku menyetir di jalanan sempit untuk menyalip kendaraan lain. Mobil box itu mencoba masuk ke gang-gang kecil di daerah pemukiman padat. Mereka pikir mereka bisa hilang begitu saja? Mereka salah besar, aku sudah terbiasa main petak umpet dengan Satpol PP di pasar, ini mah cuma level pemanasan.
.. Akhirnya, mobil box itu terjebak di jalan buntu yang buntu total karena ada perbaikan jalan. Empat orang tadi keluar dengan senjata tajam di tangan mereka. Mereka menurunkan Clarissa yang mulutnya sudah ditutup lakban. Clarissa menatapku dengan mata yang penuh ketakutan dan air mata. Melihat itu, darahku rasanya mendidih sampai ke ubun-ubun.
.. "Lepaskan dia sekarang juga, atau saya pastikan kalian semua pulang tanpa membawa gigi satu pun!" ancamku sambil keluar dari mobil dengan langkah mantap. Aku tidak lagi bercanda, wajah "sengklek"-ku sudah hilang, digantikan dengan raut wajah pembunuh yang dingin.
.. "Jangan sombong, Bodyguard! Kamu cuma sendirian, kami berempat!" salah satu dari mereka maju menyerang dengan pisau lipat. Aku menghindar dengan gerakan yang sangat tipis, lalu dengan satu pukulan telak di ulu hati, pria itu langsung tumbang dan muntah-muntah di aspal.
.. Tiga orang sisanya maju bersamaan. Aku menyambar sebatang kayu balok sisa perbaikan jalan di dekatku. Aku menyerang dengan membabi buta tapi tetap terarah. Satu orang kena hantam di kaki, satu lagi kena telak di bahu sampai senjatanya terlepas. Orang terakhir mencoba lari, tapi aku melempar kayu itu tepat mengenai punggungnya sampai dia tersungkur mencium tanah.
.. Aku segera berlari ke arah Clarissa, melepas lakban di mulutnya dan membuka ikatan tangannya. Clarissa langsung memelukku dengan sangat erat, dia menangis tersedu-sedu di pundakku. "Genta... aku takut... aku pikir aku nggak akan ketemu kamu lagi..." bisiknya di sela tangisnya.
.. Aku mengelus rambutnya perlahan, mencoba menenangkannya. "Sudah, Mbak Bos. Saya di sini. Nggak akan ada yang bisa menyakiti Mbak Bos selama saya masih ada." Tak lama kemudian, polisi datang yang ternyata sudah dihubungi oleh sistem keamanan mobil Clarissa yang otomatis melapor saat terjadi benturan. Ternyata, dalang di balik semua ini benar-benar Adrian. Dia tertangkap tidak jauh dari lokasi saat sedang menunggu laporan penculikan itu.
.. Malam itu, saat perjalanan pulang, Clarissa tidak mau lepas dari genggaman tanganku. Dia duduk di kursi depan bersamaku, kepalanya bersandar di bahuku. "Genta... mulai sekarang, jangan pernah tinggalkan saya sendirian lagi ya. Berapapun gajinya, saya akan bayar, asal kamu tetap di samping saya." Aku hanya tersenyum tipis. Ternyata, di balik ketegangan ini, hubungan kami justru semakin kuat. Jakarta memang keras, tapi cinta bisa tumbuh di tempat yang paling tidak terduga sekalipun.
.. Suasana di dalam mobil masih terasa sangat tegang meski penculik-penculik itu sudah diringkus polisi. Clarissa masih menggenggam tanganku dengan sangat erat, seolah-olah jika dia melepasnya sedikit saja, aku akan hilang ditelan gelapnya malam Jakarta. Aku bisa merasakan jemarinya yang halus sedikit bergetar, sisa dari trauma yang baru saja dialaminya.
.. "Mbak Bos, tenang saja. Semua sudah beres. Mas Adrian juga sudah dibawa ke kantor polisi. Dia tidak akan bisa menyentuh Mbak Bos lagi untuk waktu yang sangat lama," ucapku sambil tetap fokus menatap jalanan yang mulai sepi. Aku mencoba memberikan rasa aman lewat nada suaraku yang kubuat setenang mungkin.
.. Clarissa menoleh ke arahku, matanya yang sembab karena menangis tadi menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. "Genta... kenapa kamu berani sekali? Tadi mereka bawa senjata, kamu sendirian. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, saya harus bagaimana?" tanyanya dengan suara serak.
.. Aku tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Waduh, Mbak Bos. Di Sidoarjo, saya itu sudah terbiasa menghadapi tantangan yang lebih berat. Menghadapi empat orang tadi itu ibaratnya cuma kayak lagi lari pagi. Lagipula, saya kan sudah janji sama Mama Mbak Bos, saya bakal jagain Mbak Bos sampai titik darah penghabisan."
.. "Tapi tetap saja... nyawa kamu itu jauh lebih berharga daripada semua aset perusahaan saya, Genta," bisik Clarissa pelan. Dia menyandarkan kepalanya di pundakku, membuat aroma parfum mahalnya kembali tercium, memberikan ketenangan tersendiri di tengah kekacauan malam ini.
.. Malam itu, sesampainya di rumah, Clarissa tidak membiarkanku langsung kembali ke paviliun. Dia memintaku menemaninya di ruang tamu sampai dia benar-benar merasa tenang. Kami duduk berdua dalam diam, hanya ditemani suara detak jam dinding yang seolah merayakan kemenangan kami atas rencana busuk Adrian.
.. Aku menyadari satu hal, tugas sebagai bodyguard ternyata bukan cuma soal otot dan keberanian. Tapi soal memberikan rasa aman bagi seseorang yang selama ini harus selalu tampil kuat di depan dunia. Di balik kemewahan dan kekuasaannya, Clarissa hanyalah wanita yang butuh dilindungi. Dan aku, Genta Arjuna, sangat bangga bisa menjadi orang itu.