Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Malam semakin larut, suasana di dalam rumah sudah hening. Hanya terdengar suara jangkrik di luar dan suara napas teratur dari kedua orang yang sedang tertidur pulas.
Genesis berbaring miring, wajahnya tampak tenang namun di balik kelopak matanya yang terpejam, ia sedang terjebak dalam sebuah mimpi yang sangat nyata dan indah.
.
.
Dalam mimpinya...
Suasana terasa hangat, disinari cahaya matahari sore yang keemasan. Genesis melihat dirinya sendiri yang masih kecil, sedang duduk di teras rumah sambil memakan kue nastar buatan ibunya.
Di hadapannya, duduk seorang wanita dengan wajah teduh, senyumnya lembut, dan tatapannya penuh kasih sayang tak terbatas. Itu adalah Ibu. Naura.
"Kenapa makan pelan-pelan sekali, Nak? Kamu lapar kan?" tanya wanita itu dengan suara yang sangat lembut, sangat familiar.
"Soalnya enak, Bu. Enak banget," jawab Genesis kecil sambil tersenyum lebar.
Wanita itu tertawa, lalu tangannya yang hangat terulur menyeka remah kue di sudut bibir Genesis kecil.
"Kamu ini ya... kalau makan tuh yang rapi. Nanti kalau Ibu nggak ada, siapa yang ngelapin bibir kamu yang kotor ini?"
Genesis kecil langsung memeluk pinggang ibunya erat-erat. "Ibu nggak boleh pergi! Ibu harus sama Genesis terus! Selamanya!"
Wanita itu mengusap kepala anaknya, matanya berkaca-kaca. "Ibu janji, Nak. Ibu nggak akan pernah pergi. Walaupun nanti bentuknya berubah, walaupun nanti wajahnya beda... Ibu akan selalu cari cara buat balik ke sisi kamu. Ibu akan selalu ada buat jaga kamu."
"Maksud Ibu gimana?"
"Nanti kamu bakal ngerti sendiri kok. Nanti kalau kamu ketemu seseorang yang bikin kamu merasa pulang, yang bikin kamu merasa aman, yang masaknya persis kayak Ibu... itu Ibu, Nak. Itu Ibu yang dikirim Tuhan buat kamu lagi."
Wajah wanita itu perlahan mulai memudar, berubah menjadi cahaya terang. Namun suara itu terus bergema.
"Jaga dia ya... Jaga Ibu baik-baik. Karena dia sekarang juga kamu..."
"BUUU!!"
Genesis terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Jantungnya berdegup kencang bukan main. Mimpi itu terasa begitu nyata. Terasa begitu hidup.
Ia menoleh ke samping, dan di sana, di bawah cahaya remang lampu tidur, ia melihat sosok Alexa yang sedang duduk di lantai sambil mengawasinya tidur atau mungkin gadis itu juga baru saja tertidur bersandar di dinding.
Wajah Alexa dalam tidurnya terlihat begitu damai. Sangat mirip. Sangat mirip dengan wajah ibunya dalam mimpi tadi.
"Lex..." panggil Genesis parau.
Alexa tersentak bangun, matanya berkedip-kedip mencoba menyesuaikan cahaya. "Eh? Gen? Kamu bangun? Kenapa? Mimpi buruk ya?"
Ia langsung bergerak mendekat, tangannya refleks memegang dahi Genesis untuk memeriksa suhu. "Dingin banget keringatnya. Kamu takut apa?"
Genesis tidak menjawab. Ia justru menatap wajah Alexa lekat-lekatkan, bergantian menatap mata kanan dan kiri gadis itu, seolah sedang mencari jawaban di dalam sana.
"Gue baru aja mimpi..." bisik Genesis pelan, suaranya terdengar bergetar. "Gue mimpi ketemu Ibu gue."
Alexa membeku. Tangannya yang sedang memegang bahu Genesis menjadi kaku. Jantungnya ikut berdegup kencang. "T-terus? Ibu kamu... ngomong apa di mimpi?"
Genesis menarik napas panjang, lalu menceritakan semua detail mimpinya dengan perlahan. Ia menceritakan tentang kue nastar, tentang suara itu, tentang sentuhan tangan yang hangat, dan tentang kalimat terakhir yang paling membuatnya syok.
"...Ibu bilang, kalau gue ketemu seseorang yang bikin gue ngerasa pulang, yang bikin gue ngerasa aman, dan yang masaknya persis kayak dia... itu sebenernya dia yang balik lagi ke gue," cerita Genesis, matanya tak lepas dari wajah Alexa.
Ia menggenggam kedua tangan Alexa, mengerat.
"Lex... itu kamu. Itu semua kamu."
"Gen, itu cuma mimpi kok. Kamu terlalu kangen sama Ibu kamu jadi otak kamu berimajinasi gitu," jawab Alexa cepat, berusaha menenangkan meski dalam hati ia menjerit bahagia sekaligus takut. "Itu cuma kebetulan."
"Bukan kebetulan!" Genesis memotong tegas. Ia menggeleng kuat-kuat. "Gue ngerasanya beda. Ada sesuatu yang nyambung tiba-tiba di kepala gue."
Ia menunjuk dada Alexa.
"Lo inget nggak waktu gue bilang lo ngomongnya kayak orang tua? Waktu lo masak persis banget? Waktu lo ngerti perasaan gue tanpa gue bilang? Itu semua bukan karena lo pinter, atau lo baik. Itu karena... itu karena lo emang tau. Lo emang hafal."
Genesis semakin mendekatkan wajahnya.
"Di mimpi itu, Ibu bilang 'Walaupun bentuknya berubah, walaupun wajahnya beda'. Lo tau nggak sih Lex... pas gue bangun dan liat muka lo, gue ngerasa... gue ngerasa Ibu gue ada di dalem situ. Gue ngerasa jiwa Ibu gue pindah ke tubuh lo."
"Gen, jangan gitu deh... ngomongnya serem," Alexa mencoba tertawa kecil tapi suaranya pecah. Air mata sudah menetes lagi. "Aku kan aku. Aku Alexa."
"Terus kenapa lo nangis lagi?" Genesis mengusap air mata itu dengan jempolnya, tatapannya lembut tapi penuh tuntutan.
"Kenapa setiap gue bahas soal ini, lo selalu nangis? Kalau lo beneran orang lain, lo bakal ketawa dan bilang gue gila kan? Tapi lo nangis. Lo sedih. Lo kayak... nahan sesuatu yang berat banget."
Genesis menunduk, menempelkan keningnya ke dada Alexa, tepat di atas jantung gadis itu.
"Gue nggak peduli lo siapa. Gue nggak peduli lo itu manusia, hantu, atau reinkarnasi," bisiknya lirih. "Gue cuma tau satu hal. Gue sayang sama lo. Gue butuh lo. Dan kalau bener apa yang dibilang Ibu di mimpi gue... kalau bener lo itu utusan dia, atau bahkan dia sendiri..."
"Berarti Tuhan baik banget sama gue. Berarti gue orang paling beruntung di dunia karena bisa ketemu sama lo lagi."
Alexa tidak sanggup lagi menahan emosinya. Ia memeluk kepala Genesis erat-erat, membenamkan wajahnya di rambut hitam anaknya.
"Ya ampun, Genesis... kamu bikin hati aku hancur dengernya," isaknya pelan. "Kamu terlalu baik. Kamu terlalu pengertian."
"Aku cuma mau kamu tau... apapun yang terjadi, aku sayang kamu. Sangat sayang. Lebih dari yang bisa aku omongin," lanjut Alexa dengan suara bergetar hebat, kali ini ia membiarkan semua perasaan itu keluar.
"Mimpi kamu itu bener, Gen. Itu bener. Kita terhubung. Kita terikat. Dan ikatan itu nggak akan pernah putus selamanya."
Genesis tersenyum di dalam pelukan itu. Ia merasa damai. Ia merasa jawabannya sudah ada di depan mata, meski belum terucap kata 'Ibu'.
"Makasih udah balik lagi..." gumamnya pelan, seolah berbicara pada dua orang sekaligus. "Makasih udah mau jadi rumah buat gue."
Malam itu, mereka kembali tidur dalam pelukan yang jauh lebih erat. Genesis merasa ia telah menemukan jawaban besar lewat mimpinya. Dan Naura sadar, anaknya sudah sangat dekat dengan kebenaran.
Mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Itu adalah petunjuk. Itu adalah sinyal bahwa bibit cinta di hati Genesis sudah mulai tumbuh subur, bercampur menjadi satu antara rasa sayang pada kekasih dan rindu pada ibu.