Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARSITEKTUR SEBUAH KEPERCAYAAN
Jakarta di malam hari setelah peluncuran buku itu menghadirkan atmosfer yang berbeda bagi Alana, seolah ada lapisan baru yang menutupi hiruk pikuk kota. Udara malam yang lembut menyapu dirinya dan seperti membawa percikan emosi yang sulit ia abaikan. Sentuhan Raka di balkon tadi sejeda genggaman tangan yang singkat namun intens masih meninggalkan jejak hangat, menjalari kulitnya dan merambat hingga ke relung hatinya. Ada sesuatu di sana, mungkin nostalgia, mungkin harapan, atau sekadar kesadaran bahwa momen ini lebih berarti dari sekadar kebetulan semata.
Saat keduanya melangkah bersama meninggalkan keramaian dan menuju area parkir mobil, kaki mereka bergerak dalam irama yang selaras, namun pikiran Alana mulai melayang. Satu kenyataan muncul dalam benaknya, seperti kilatan lampu jalan yang kembali menyadarkan diri: dia dan Raka tidak lagi berada dalam fase kehidupan yang sederhana. Bukan lagi dua mahasiswa muda dengan bekal mimpi dan tugas kampus yang mendominasi pikiran. Bukan pula sepasang hati polos yang hanya perlu memusingkan nilai IPK, jadwal kuliah, atau program KKN. Kini, mereka adalah orang dewasa dua individu yang berjalan di jalan hidup masing-masing, membawa beban masa lalu yang sering kali lebih berat daripada tampaknya.
Dalam keheningan kecil yang terasa menenangkan sekaligus penuh ketegangan, suara bariton Raka memecah suasana saat mereka sampai di sisi mobil. Dengan lembut, ia membuka pintu untuk Alana, sebuah gerakan sopan yang memperlihatkan sisi dirinya yang masih konsisten dengan caranya memperlakukan orang lain dengan perhatian mendalam. Tapi kali ini berbeda; tindakan sederhana itu memiliki cara unik untuk mengguncang kenangan lama.
"Kamu mau makan malam dulu? Atau kita langsung pulang?" tanyanya dengan nada tenang namun penuh arti, jemarinya menopang pintu, menunggu jawaban. Sekilas, Alana tertegun. Kata-kata itu meluncur ringan dari mulut Raka, namun terasa seperti sebuah undangan untuk masuk ke dimensi lain—dimensi masa lalu, ketika ia hanya bisa bermimpi tentang perhatian semacam itu. Dulu, di balik meja nomor 15 di sudut kafe kampus, Raka adalah pusat duniannya, meski pria itu tak pernah menyadari. Kini, mimpi itu berdiri nyata di depannya, tapi entah mengapa antara harapan dan kenyataan tak jarang terasa begitu jauh berjauhan.
"Makan malam terdengar bagus. Aku belum sempat makan sejak tadi sore karena gugup," jawab Alana jujur.
Mereka berhenti di sebuah kedai ramen kecil yang sepi di sudut Jakarta Selatan. Tempat itu jauh dari kesan mewah seperti hotel tempat pertunangan Raka dulu. Di sini, hanya ada suara uap air mendidih dan aroma gurih kaldu.
"Raka," panggil Alana setelah pesanan mereka datang. "Soal Maudy... apakah benar-benar sudah selesai? Aku tidak ingin membangun sesuatu di atas puing-puing yang masih membara."
Raka meletakkan sumpitnya, menatap Alana dengan kesungguhan yang dalam. "Enam bulan yang lalu, kami menandatangani kesepakatan pembatalan di depan kedua orang tua kami. Ayahku sudah jauh lebih sehat, dan perusahaan sudah bisa berdiri sendiri tanpa suntikan dana dari keluarga Maudy. Aku membayar setiap sen hutang budi itu dengan kerja kerasku selama tiga tahun ini, Lan. Aku tidak berhutang apa-apa lagi pada mereka. Kecuali permintaan maaf kepada diriku sendiri... dan kepadamu."
Meskipun penjelasan Raka terdengar logis, Alana merasakan ada duri kecil yang tertinggal. Luka di Bab 6 saat Maudy tiba-tiba muncul di posko KKN masih meninggalkan bekas luka yang sensitif.
"Aku takut, Raka," bisik Alana. "Dulu aku sangat yakin padamu di gubuk itu, dan dunia runtuh hanya dalam satu malam. Bagaimana kalau ini hanya pengulangan?"
Raka meraih tangan Alana di atas meja kayu. "Dulu aku adalah pengecut yang bersembunyi di balik tanggung jawab keluarga. Sekarang, aku adalah arsitek yang memegang kendali atas rancanganku sendiri. Beri aku waktu untuk membuktikannya padamu, Alana. Bukan dengan puisi atau maket, tapi dengan kehadiran."
Pertemuan malam itu berakhir dengan janji untuk memulai segalanya dengan pelan. Namun, saat Alana sampai di apartemennya, sebuah notifikasi di ponselnya membuat jantungnya mencelos.
Sebuah permintaan pertemanan di media sosial dari akun yang sudah sangat ia kenal: Maudy_.
Pesan dari Masa Lalu
Alana ragu untuk menerimanya, namun rasa penasarannya lebih besar. Setelah menekan tombol accept, sebuah pesan langsung masuk.
> "Selamat atas peluncuran bukunya, Alana. Cerita yang bagus. Tapi ingat, apa yang tertulis di kertas seringkali lebih indah daripada kenyataan. Raka mungkin bilang dia bebas, tapi ada hal-hal yang tidak akan pernah bisa dia ceritakan padamu. Hati-hati, jangan sampai meja nomor 15 hancur untuk kedua kalinya."
> Tangan Alana gemetar. Kalimat Maudy terasa seperti racun yang disuntikkan perlahan. Apa maksudnya? Apa yang masih disembunyikan Raka?
Keesokan harinya, Alana mencoba bersikap biasa saja. Ia sedang berada di sebuah kafe untuk menulis draf bab baru ketika Raka menelpon, mengajaknya melihat "Rumah" yang pernah ia ceritakan.
Rumah di Balik Kabut
Raka menjemputnya dan mereka berkendara selama satu jam ke arah pinggiran kota yang masih hijau. Di sana, di sebuah kompleks kecil yang tenang, berdirilah sebuah rumah dengan gaya modern tropis. Garis-garisnya tegas, namun terasa hangat dengan sentuhan kayu jati di fasadnya.
"Ini dia," ucap Raka dengan nada bangga yang tertahan.
Mereka masuk ke dalam. Ruangannya lapang, dengan sirkulasi udara yang sangat baik. Dan benar saja, di sudut jendela yang menghadap ke arah taman kecil, terdapat sebuah ruang baca dengan rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit.
"Ini tempatmu, Lan. Jika kamu mau," bisik Raka dari belakang.
Alana menyentuh rak kayu yang halus itu. Namun, matanya tertuju pada sebuah laci di meja kerja Raka yang sedikit terbuka. Di dalamnya, terlihat sebuah amplop cokelat besar dengan stempel firma hukum keluarga Maudy.
Hati Alana kembali bergejolak. Pesan Maudy semalam berputar-putar di kepalanya. Apakah Raka benar-benar sudah lepas, ataukah ada "perjanjian rahasia" yang membuatnya tetap terikat?
Aksara yang Tersendat
Alana tidak menanyakan soal amplop itu. Ia memilih untuk menyimpan kecurigaannya, sebuah kebiasaan lama dari masa "mengagumi dalam diam". Namun, keheningan kali ini terasa lebih berat. Ia menyadari bahwa membangun kembali kepercayaan jauh lebih sulit daripada membangun sebuah rumah dari nol.
Malam itu, Alana membuka buku catatannya. Ia tidak menulis tentang kebahagiaan memiliki rumah baru. Ia menulis tentang ketakutan.
> "Building a home is easy for an architect. But building trust is a work of a lifetime. Raka, you offered me a room full of books, but why do I still feel like I'm reading a story with missing pages?"
> Bab 13 ditutup dengan Alana yang berdiri di jendela apartemennya, menatap lampu kota, sementara di meja kerjanya, ponselnya kembali menyala. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk:
> "Datanglah ke kantor Raka besok jam 10 pagi. Lihat sendiri apa yang sedang dia 'bangun' di sana."
> Perjalanan mereka memang masih sangat panjang, dan badai yang sesungguhnya mungkin baru saja akan dimulai.
jadi nostalgia😍
cerita yang bagus