Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Hening malam di lantai teratas gedung itu seolah menelan seluruh kebisingan Los Angeles. Di dalam kamar yang hanya diterangi rembulan yang mengintip dari celah tirai, Nyx masih terjebak dalam pusaran pikirannya sendiri. Kata-kata Knox tentang Christian Morrigan berdengung seperti lebah yang tak mau pergi.
"Siapa sebenarnya Christian Morrigan itu, Knox?" tanya Nyx, suaranya nyaris berbisik, seolah takut nama itu akan memanggil iblis dari kegelapan.
Knox, yang masih memeluknya dari belakang, menghela napas berat. "Dia pria yang hidup di dua dunia, Nyx. Bisnisnya legal di permukaan—properti, perhotelan, logistik—tapi akarnya tertanam jauh di dunia ilegal. Daddy pernah bilang kalau musuhnya ada di setiap sudut kota. Itulah alasan dia menyembunyikan keluarganya. Pertama, untuk melindungi mereka dari peluru musuh. Kedua... rumornya, istrinya tidak pernah disetujui oleh klan besar Morrigan. Dia memilih menyembunyikan keberadaan istri dan anaknya daripada membiarkan mereka dihancurkan oleh keluarganya sendiri."
Nyx terdiam. Ia tidak ingin berekspektasi tinggi. Selama sembilan belas tahun, identitasnya adalah beban. Ia adalah anak David Beckham yang tidak diinginkan, anak dari wanita yang menyiksanya sejak kecil, memaksanya menyembunyikan identitas kewanitaannya hanya untuk menyenangkan hati pria yang tak pernah menganggapnya ada. Dunianya sudah hancur berkeping-keping jauh sebelum ia menginjakkan kaki di Amerika.
Namun sekarang, di sini, ia merasa utuh. Berada di sekitar Knox—si pria teknik yang mesum, berisik, namun memiliki hati yang tulus—adalah kebebasan yang paling nyata. Meski mereka tidak memiliki status yang jelas, Nyx tahu Knox menyayanginya dengan cara yang tidak pernah dilakukan orang lain. Bahkan berita ibunya di pusat rehabilitasi justru terasa seperti pelepasan belenggu bagi Nyx.
Nyx tersadar dari lamunannya saat merasakan sentuhan lembut di tengkuknya. Knox mencium kulitnya perlahan, berkali-kali, hingga akhirnya Nyx mendengar dengkuran halus yang sangat tipis. Knox sudah terlelap, kelelahan setelah hari yang panjang antara kampus, keluarga, dan markas.
Nyx berbalik pelan dalam pelukan itu. Ia menatap wajah Knox yang tertidur. Mata yang biasanya berkilat nakal itu kini terpejam tenang. Bulu matanya yang lentik, alisnya yang tegas, hidung bangir, hingga bibir yang selalu melontarkan godaan mesum itu.
Seketika, jiwa egois Nyx memuncak. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa akan kehilangan. Ia tidak ingin kehilangan orang sesempurna Knox. Ia menginginkan keluarga yang hangat seperti yang ia lihat di mansion Riccardo. Jika ia bersama Knox, ia yakin mimpinya tentang keluarga yang nyata bisa terwujud.
Malam itu, di bawah lindungan kegelapan, Nyx mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya—bukan karena pengaruh obat, bukan karena paksaan, tapi karena keinginan hatinya sendiri.
Dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak mengejutkan Knox, Nyx melepaskan pakaiannya satu per satu di balik selimut. Hingga akhirnya, ia benar-benar polos, hanya terbalut kain sutra selimut yang tipis.
Nyx mendekatkan wajahnya, memberikan ciuman-ciuman tipis di rahang Knox, lalu berpindah ke pipi dan sudut bibirnya.
Knox bergerak gelisah, tidurnya terusik oleh sentuhan lembut yang terasa begitu nyata. Perlahan, mata biru itu terbuka. Knox mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Saat melihat wajah Nyx begitu dekat, sebuah senyuman tulus terukir di bibirnya yang masih berbau kantuk.
"Kenapa, Sayang? Tidak bisa tidur?" gumam Knox serak.
Namun, saat tangan Knox yang berada di pinggang Nyx bergerak secara naluriah, ia tersentak. Tidak ada kain yang menghalangi. Tangannya langsung bersentuhan dengan kulit Nyx yang halus, panas, dan kenyal.
Knox menegang seketika. Matanya membelalak, kesadarannya pulih seratus persen. Ia memperhatikan bagaimana Nyx menarik selimut hingga ke batas lehernya, menatapnya dengan pandangan yang dalam dan penuh kepasrahan.
"Nyx...???" suara Knox bergetar, seolah tidak percaya dengan apa yang ia rasakan.
Nyx tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan. Tangannya di balik selimut meraih tangan Knox, menuntunnya perlahan ke atas hingga telapak tangan pria itu mendarat tepat di atas dua gundukan miliknya yang kenyal dan hangat.
Knox menatap mata Nyx, napasnya mulai memburu. Ada peperangan hebat di dalam kepalanya antara gairah yang meledak dan rasa hormat yang ia miliki untuk gadis ini.
"Ini salah, Sayang..." bisik Knox, suaranya tertahan di tenggorokan. "Kau sedang emosional. Kau akan menyesal besok pagi. Aku tidak ingin mengambil keuntungan darimu saat kau merasa rapuh."
Nyx menggelengkan kepala dengan tegas. Air mata kecil menggenang di sudut matanya, bukan karena sedih, tapi karena rasa cinta yang meluap.
"Aku tidak akan menyesal, Knox," bisik Nyx, suaranya bergetar namun penuh keyakinan. "Aku menginginkanmu... Kumohon. Jadikan aku milikmu sepenuhnya, agar aku tahu ke mana aku harus pulang."
Melihat kerentanan dan ketulusan di mata Nyx, pertahanan Knox runtuh seketika. Ia menarik napas panjang, lalu menyibakkan selimut itu perlahan, memperlihatkan keindahan Nyx yang selama ini tersembunyi.
"Jika ini maumu, Nyx Morrigan," bisik Knox, suaranya berubah menjadi sangat dalam dan penuh otoritas. "Maka setelah malam ini, tidak akan ada jalan kembali. Kau milikku. Selamanya."
Nyx hanya membalasnya dengan tarikan lembut di leher Knox, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang tidak lagi berisi godaan, melainkan sebuah janji penyerahan jiwa dan raga yang abadi.
Di kamar itu, di antara bayang-bayang masa lalu yang kelam, sebuah kehidupan baru mulai berdenyut di bawah sentuhan tangan Knox yang kini tak lagi ragu untuk menjelajahi setiap jengkal milik gadisnya.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂