Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.
Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.
Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.
"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersinar di tengah keramaian
Alih-alih mundur atau menangis di kamar, Adel justru membalas semua caci maki itu dengan prestasi. Ia sadar, berdebat dengan orang yang hatinya tertutup hanya akan membuang waktu. Cara terbaik membalas kebencian adalah dengan menjadi lebih sukses dan lebih berguna bagi banyak orang.
Adel mulai aktif di berbagai kegiatan kampus. Ia bergabung dengan organisasi kemahasiswaan, ikut lomba debat, dan menjadi sukarelawan dalam kegiatan sosial.
Kepintarannya, cara bicaranya yang santun namun tegas, serta kemampuannya memimpin membuatnya cepat disukai oleh dosen dan juga teman-teman dari angkatan lain.
Suatu hari, Dosen mata kuliah Manajemen Strategi memberikan tugas kelompok besar yang nilainya sangat menentukan.
"Anak-anak, tugas ini berat. Saya ingin kalian membuat proposal bisnis nyata dan presentasinya harus sempurna. Kelompok bebas, tapi saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik," kata Pak Dosen.
Saat dosen keluar, suasana kelas langsung riuh. Semua orang sibuk mencari teman satu kelompok yang dianggap pintar atau "mahal" biar aman.
Saskia dan gengnya langsung berkumpul, tertawa dan merasa percaya diri.
"Tenang aja, kita pasti juara. Gue kan anak pejabat, koneksi gue luas. Paling juga kita bayar orang buat bikin, tinggal presentasi doang," bisik Saskia sombong.
Mereka menatap Adel yang duduk sendirian dengan senyum mengejek.
"Kasihan tuh si Desa, siapa yang mau satu kelompok sama dia? Paling bikin nilai turun," cerca Rara.
Namun, belum sempat mereka melanjutkan ejekan, beberapa teman kelas lain justru berjalan mendekati meja Adel.
"Del, gabung sama kita yuk! Kita butuh orang yang pinter ngatur data kayak lo!"
"Iya Del, ayok gabung! Kita yakin bisa bikin project keren bareng lo!"
Wajah Saskia dan teman-temannya langsung berubah masam. Mereka tertegun melihat Adel justru banyak yang cari, sementara mereka yang sombong justru mulai dijauhi karena sifatnya yang menyebalkan.
Adel tersenyum ramah. "Boleh banget! Yuk kita kerjasama!"
Presentasi yang Memukau
Hari presentasi tiba. Kelompok Saskia tampil pertama. Presentasi mereka terlihat mewah, slide-nya berwarna-warni, tapi isinya kurang mendalam dan banyak menyalin dari internet.
Saat ditanya pertanyaan kritis oleh dosen, mereka diam dan saling tunjuk.
"Kurang maksimal. Nilai C," kata Pak Dosen datar. Wajah Saskia memerah malu.
Giliran kelompok Adel tampil.
Adel naik ke depan dengan tenang. Ia tidak pakai baju mahal, tidak pakai aksesoris berlebihan, tapi auranya berbeda. Ia menjelaskan materi dengan bahasa yang mengalir, data yang akurat, dan jawaban yang sangat cerdas.
Seluruh kelas hening menyimak. Bahkan Saskia dan gengnya pun terpaksa mengakui bahwa Adel memang sangat pintar.
"Wow... luar biasa, Adel. Ide bisnisnya sangat inovatif, realistis, dan perhitungannya sangat matang. Ini contoh tugas terbaik yang pernah saya terima tahun ini. Nilai A untuk kelompok kalian!" puji Pak Dosen antusias.
Tepuk tangan menggema.
Saat Adel turun dari panggung, banyak teman yang menyapa dan memuji.
"Keren banget lo Del!"
"Gila, pinter banget sih!"
Adel melewati meja Saskia. Wanita itu menunduk, wajahnya cemburu tapi tak bisa berkata apa-apa.
Gagal menjatuhkan lewat akademik, Saskia dan gengnya mencari cara lain. Mereka mulai menyebarkan isu-isu jahat di media sosial grup angkatan.
[Grup Chat WhatsApp]
Saskia: Eh tau gak sih? Si Adel itu sebenarnya licik lho. Dia manis di depan, tapi di belakang suka ngomongin orang.
Rara: Iya bener! Dia itu pinter cari muka sama dosen biar disayang. Dasar penjilat!
Dito: Hahaha, makanya jangan percaya sama orang miskin. Otak licik semua.
Berita itu sampai ke telinga Adel. Teman-temannya marah dan menyarankan Adel untuk membalas atau melapor.
Tapi Adel hanya tersenyum tipis.
"Gak usah diladenin, guys. Biarin aja. Kalau kita balas, sama aja kita kotorin tangan kita. Yang penting kita tahu siapa diri kita, dan Tuhan juga tahu."
Alih-alih marah, Adel justru melakukan hal tak terduga. Suatu hari saat istirahat, melihat Saskia dan teman-temannya kesulitan memahami materi yang akan diuji besok, Adel mendekati mereka.
Mereka kaget dan siap-siap mencaci, tapi Adel malah menyodorkan catatan lengkapnya.
"Ini catatan materinya Kak. Aku rangkum biar gampang dimengerti. Tadi aku dengar kalian bingung, nih ambil aja. Siap-siap ujian besok ya," kata Adel lembut tanpa rasa dendam.
Saskia ternganga. Tangannya ragu mengambil kertas itu. Wajahnya merah padam karena malu. Selama ini ia jahat, tapi Adel malah baik hati.
"Lo... lo ngapain baik sama gue? Lo gak benci sama gue?" tanya Saskia terbata-bata.
Adel tersenyum tulus. "Kita kan teman satu angkatan. Tujuannya sama, biar lulus dan sukses. Kenapa harus musuhan terus? Anggap aja ini silaturahmi."
Adel pun pergi meninggalkan mereka yang terdiam membatu. Hati Saskia dan teman-temannya mulai terguncang. Mereka sadar, betapa kecil dan rendahnya mental mereka dibandingkan Adel yang setinggi langit.
Meski di kampus perlahan mulai dihormati, di rumah masalah belum selesai.
Malamnya, saat Adel sedang belajar, Om Darmo dan Tante Sari datang lagi dengan wajah garang. Mereka sudah mendengar kalau Adel makin disayang dosen dan makin "hebat".
"HEH DEL! SOK SUKSES SEKARANG YA?!" teriak Om Darmo dari pintu. "DENGAR YA! BESOK ANAK GUE NIKAH, LO HARUS NYUMBANG 5 JUTA! ITU KEWAJIBAN LO SEBAGAI KELUARGA!"
"Om... Adel masih kuliah. Darimana Adel dapat uang sebesar itu? Adel juga butuh bayar kosan..." jawab Adel lelah.
"ALASAN MULU! LO ITU PELIT! DASAR ANAK DURHAKA! BAIKNYA CUMAN DEPAN ORANG DOANG! ASLINYA JAHAT!" teriak Tante Sari.
Belum selesai, dari luar terdengar suara Bu Ratna dan tetangga lain.
"WOY SI ADEL! JANGAN SOK JADI ORANG PINTER! MUKA ITU MUKA PEMBAWA SIAL! NANTI REZEKI SUAMIKU SERET KARENA LO!"
"PANTESAN ANAK GUE GAK LULUS-LULUS, GARA-GARA ADA LO YANG DURHAKA DI LINGKUNGAN INI! PERGI KALIAN!!"
Mereka berteriak sepuasnya, melempar kata-kata kotor, fitnah, dan ancaman.
Ibu Adel sampai batuk-batuk karena syok dan sedih.
Adel memeluk Ibunya, menutup telinga ibunya agar tidak mendengar kata-kata jahat itu. Air mata Adel jatuh, tapi matanya penuh api kemarahan yang dingin.
"Sudah Bu... Jangan dengar mereka. Mereka gila karena iri. Biarkan mereka membabi buta."
"Mereka bisa maki aku apa saja, mereka bisa tuntut apa saja. Tapi mereka tidak akan pernah bisa mengambil masa depanku. Aku janji Bu, aku akan cepat kerja, cepat sukses, dan aku akan bawa Ibu keluar dari sini. Keluar dari lingkungan neraka ini."
"Mereka pikir mereka menang dengan menghinaku? Salah besar. Justru mereka yang mempercepat langkahku untuk bangkit dan meninggalkan mereka jauh di bawah."
Adel tahu, perjuangan ini masih panjang. Masih ada orang-orang jahat di sekitarnya. Tapi ia tidak takut lagi. Ia adalah singa yang sedang tidur, dan saat ia bangkit nanti, seluruh dunia akan gemetar melihatnya.