NovelToon NovelToon
Lara Di Tapal Batas

Lara Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:36.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.

Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.

》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?

》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18.

...~•Happy Reading•~...

Laras tidak bisa menghindar terlalu lama, karena Rafael sedang menunggu jawaban. Nada suara Rafael bertanya membuat Laras berani membuka mata. Dia menyadari sedang di rumah sakit.

"Mama di mana?" Laras menghindari tatapan Rafael dengan mencari Mamanya.

"Mereka kelelahan, jadi pulang sebentar." Rafael mengerti, Laras sedang mengalihkan. "Kau belum jawab, apa yang sakit." Rafael kembali bertanya untuk membuka komunikasi dan mengajak bicara Laras selagi tidak bersama keluarganya.

"Kalau aku bilang hatiku sakit, kau mau obati?"

"Jangan mulai. Kau lagi di rumah sakit. Saya bisa panggil dokter untuk periksa hatimu." Rafael tersenyum dalam hati bisa membalas Laras.

"Huuuu..." Laras melengos dan membalikan badan membelakangi Rafael.

"Ini sikap yang baik seorang pemimpin team di kantor?"

"Tidak ada urusannya." Laras kembali melihat Rafael. "Sikapku, karnamu." Ucap Laras lalu kembali membelakangi Rafael.

"Lihat saya." Rafael menarik bahu Laras untuk melihat dia. "Tenangkan pikiran, supaya lekas pulih." Ucap Rafael tenang, lalu menyingkirkan rambut Laras yang menutupi dahinya.

Sontak Laras memegang tangannya. "Kau tidak akan pergi dari rumah?" Laras bertanya sebab melihat Rafael tidak marah padanya.

"Pikiran apa itu? Saya baru kerja di sini, mau ke mana lagi?" Rafael tidak meneruskan alasan dia tetap tinggal di rumah orang tua Laras.

"Benar?" Laras bertanya sambil menatap dengan mata berkaca. Rafael mengangguk dan meyakinkan dengan gerakan wajahnya.

"Coba menunduk." Laras mengerakan tangan meminta Rafael menunduk.

Rafael menunduk mendekatkan wajahnya, karena mengira Laras mau mengatakan sesuatu. Sebab mereka sedang berada di UGD. Tiba-tiba Laras memeluk lehernya. "Janji, tidak akan pergi?" Bisik Laras di leher Rafael.

"Laras, jangan meminta sesuatu yang tidak bisa kita pastikan, bisa ditepati atau tidak. Yang pasti, saat ini tempat tinggal saya hanya di rumah orang tuamu." Rafael coba jelaskan untuk menenangkan hati, Laras.

"Mari jalani sekarang dengan hati tenang dan senang. Supaya bisa nikmati setiap fase dalam hidup, terutama urusan hati." Rafael mengusap punggung Laras yang kepalanya masih bersandar di bahunya.

"Lihat yang terjadi denganmu. Akhirnya tidur di rumah sakit. Senang?" Laras mengangguk, kuat.

Sontak Rafael memegang bahu Laras, lalu mendorong, agar bisa melihat wajahnya. "Kau senang sakit?"

"Tidak. Tapi senang sama ini." Laras kembali memeluk leher Rafael. Suasana hatinya berubah seketika. Rafael hampir tertawa merasakan sikap Laras yang sudah tidak seperti sebelumnya.

"Ini'lah yang saya bilang, hati perlu waktu jeda untuk istirahat. Supaya bisa merenung dan menikmati hidup. Karna setiap fase memiliki nilai dan warna yang berbeda. Entah itu baik atau buruk." Ucap Rafael lagi, merespon sikap Laras.

Laras makin mendekatkan pipinya ke leher Rafael. Hmmmm.... 'Hanya usia yang dewasa dan punya jabatan bagus di kantor. Kalau ingin disayang, kelakuannya masih kanak-kanak, ngalahin Juan.' Rafael membatin dan menepuk punggungnya.

"Ayo, berbaring. Lihat infus di tanganmu mulai berdarah." Rafael menarik lengan Laras yang masih mau memeluk. Dia membaringkan Laras dan membetulkan letak bantal.

"Aku mau pulang." Ucap Laras tiba-tiba membuat Rafael menarik tangannya.

"Minta sesuatu, pakai ini." Rafael mengetuk pinggiran kepala Laras. "Bikin kaget saja. Apa tidak lihat saya mau betulin infus?"

"Rafa, aku serius mau pulang. Aku sudah sembuh." Ucap Laras serius. Wajahnya sudah berubah berwana pink.

"Kau pingin dimarahi orang tuamu? Biarkan istirahat di sini sampai besok." Rafael berkata tegas

"Aku gak suka bau rumah sakit. Aku pingin tidur di kamarku." Pinta Laras lagi dengan wajah memohon.

Rafael melihat Laras dengan berbagai pertimbangan. "Gak usah khawatir Papa. Mereka tahu aku gak suka bau di rumah sakit." Laras meneruskan.

"Kalau begitu, tunggu saya bicara dengan Pak Yafeth dan dokter."

"Eh, jangan bicara dengan Papa sekarang. Nanti gak dibolehkan. Di rumah baru aku ngomong. Lihat ini." Laras bangun duduk di atas tempat tidur untuk menunjukan dia sudah pulih.

"Kau bisa membuat ini jadi sulit..." Rafael tidak meneruskan yang dia pikirkan tentang penerimaan Pak Yafeth dan Bu Ester padanya.

"Kalau begitu, saya bicara dengan perawat atau dokter." Rafael mengalah. Dia yakin, Laras akan pulang ke rumah, tidak tergantung dia setuju atau tidak.

"Thanks." Ucap Laras sambil tersenyum senang. Rafael hanya bisa menggeleng lihat tingkahnya yang tetap duduk.

"Rafa, HP ku dibawa gak?" Tanya Laras sebelum Rafael menjauh.

"Tidak tahu. Mungkin ada dalam tas yang ditinggal Ibu." Rafael mengambil tas yang dia letakan dekat kaki ranjang lalu berikan kepada Laras.

Kemudian dia berjalan cepat ke tempat perawat untuk memberitahukan permintaan Laras. Dia berharap para petugas medis atau dokter tidak mengizinkan.

Ketika kembali, dia terkejut melihat Laras sedang serius mengotak-atik ponsel sehingga tidak menyadari kehadirannya dengan dokter jaga.

"Tolong letakan ponselnya, ya. Saya mau periksa kondisinya."

"Maaf, dokter." Laras meletakan ponsel lalu berbaring.

"Benar sudah merasa enak dan mau pulang?"

"Iya, dokter. Saya tidak tahan cium bau rumah sakit." Laras bicara dengan suara biasa untuk menunjukan dia sudah pulih.

"Baik." Dokter langsung memeriksa dada dan perut Laras. Sejenak dokter terdiam melihat wajah Laras. 'Apa yang terjadi dengannya? Mengapa dia cepat pulih?' Dokter membatin.

"Tunggu infus habis, baru pulang. Lain kali, makan yang teratur dan tepat waktu. Hindari pikiran yang berlebihan..." Dokter memberikan nasehat setelah memeriksa kondisi Laras.

"Iya, dokter. Terima kasih." Ucap Laras dengan hati makin senang.

Setelah dokter berlalu, Laras kembali mengambil ponsel yang dia letakan di atas kasur. "Laras, letakan ponselmu." Ucap Rafael serius.

"Sebentar, Rafa. Tanggung. Tadi lagi kirim pesan ke teman kantor." Laras menjelaskan sambil terus mengetik. Rafael hanya bisa geleng kepala melihat Laras sudah dalam mode seperti sediakala, sedang bekerja.

~••

Beberapa waktu kemudian Rafael dan Laras sudah dalam taksi untuk pulang ke rumah. "Ingat, kau yang jelaskan pada Papa dan Mamamu. Mengapa minta pulang dan mengapa saya tidak kasih tahu mereka." Rafael mengingatkan.

"Iya. Tenang saja. Papa tidak akan marah." Laras memberikan tanda OK dengan jarinya. "Apa lagi tadi Papa angkat aku keluar kamar." Laras jadi pikirkan suasana hati Papanya saat mengeluarkan dia dari kamar.

"Bukan Papamu yang angkat, tapi saya yang angkut di punggung seperti sekarung beras."

"Benarkah? Akhirnya." Ucap Laras singkat lalu memeluk perut Rafael di sampingnya, riang.

'Jadi dia marah saat sarapan, karna aku menggendong Juan di punggung?' Rafael berkata dalam hati ingat kejadian Laras marah saat sarapan.

"Jaga sikapmu di rumah, kalau tidak ingin saya diusir keluar." Rafael serius mengingatkan. Dia tidak mau orang tua Laras marah melihat Laras tiba-tiba memeluk dia seperti yang sedang dilakukan. Laras mengangguk, makin senang.

Ketika tiba di rumah, Pak Yafeth dan Bu Ester tercengang mendengar penjelasan Laras. "Ma, aku mau mandi air angat. Sudah gak tahan bau rumah sakit." Ucap Laras manja.

Bu Ester mengikuti permintaannya tanpa komentar. Tapi Pak Yafeth menyimpan dalam hati sikap Laras yang berbeda kepada Rafael.

...~•••~...

...~•○♡○•~...

1
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚*3G ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎
Laras kau harus tetap waspada jangan langsung percaya apa yang dikatakan oleh Hendi untuk jaga jaga saja sambil lihat besok di kantor situasinya bagaimana
Dew666
🪭🪭🪭🪭
❥␠⃝ ͭ🍁ALE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
nah iya jgn mudah percaya dlu sm Hendi Ras benar apa kata suamimu,,
❥␠⃝ ͭ🍁ALE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
buset ga tau gmn asalnya ngpa jd pd jambak"an ajasih bs kn g asal nuduh yg engga engga 🙄
❥␠⃝ ͭ🍁ALE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
maklum lah y Laras dr kecil hidup serba berkecukupan ,jd nyalain kompor aja tidak bs 🤣🤣maklumim aja lah
❥␠⃝ ͭ🍁TIE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
iya Laras jangan mudah percaya dulu sama apa yang dibicarakan Hendi harus waspada awal ketemu juga dia udah bohong ngaku2 jadi kepala cabang takutnya nanti kerjaanmu yang kena masalah
❥␠⃝ ͭ🍁HER💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
nah dengar tuuh nasehat babang rafa. sudah tahu sendiri hotlif gadungan itu. kalau laras mau dihasut hendi, biarkan saja babang rafa. biar tahu rasa. 🙊🙈
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Laras, dengerrr, itu Nasehat Suami
❥␠⃝ ͭ🍁TIE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Lahh ibu bisa kan dibicarakan dulu jangan maen jambak aja kalo jadi Laras aku jambak balik dahh kesel banget dituduh menggoda suami orang ditempat umum cuma perkara senyum doank, mending klo suaminya cakep ternyata zonkk jauh kemana mana gantengan Rafa hehee 🤭🤣
❥␠⃝ ͭ🍁TIE💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Hadeuhh Laras sok2an pintar dan bisa segalanya ternyata nyalain kompor aja gak bisa wkwkkk babang Rafa semoga sabarmu gak ada habisnya ngadepin istrimu yang keras kepala
❥␠⃝ ͭ🍁RAI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
wah parah ini ibu ibu main jambak aja.. suami situ yang genit malah nyangkain laras.. jaman sekarang liay dulu bu.. jangan main jambak aja kali. ❣️
Rahmawati
main jambak aja itu orang, walaupun aku sebel sama laras tp kasian jg kl dituduh gk jelas gitu😡
❥␠⃝ ͭ🍁Uma💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Rupanya atasan Laras belum pernah ketemu dengan nya ya, mana istri nya cemburuan lagi main labrak saja itu orang, bagaimana nanti kalau pas ketemu di kantor, itu yg di kawatir kan Rafael calon bos nya itu mau bertemu dirumah tidak boleh rupanya sudah punya insting tidak baik untuk istrinya
❥␠⃝ ͭ🍁HER💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
laras ini seperti anak jaman sekarang yang gak tahu apa itu centong. yang dia tahu cuma belajar makan tidur pegang buku ke sekolah pulang makan, tidur. 🙊🙈🙈
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚*3G ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎
wahhhh ini ibu ibu sembarangan aja padahal yang ngajak komunikasi Laras suaminya dan Laras tidak ngapain2 kalo benar itu pak Hotlif benar2 ini akan ada sesuatu yang menarik nih🤔🤭
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Sperti kata Ortu, dari kecil, Lara udh 'dmanja' org tua ny 🤦🤦🤦
Dew666
💜💜💜💜
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚*3G ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎
ya ampun Laras tidak bisa nyalain kompor sendiri apakah dari kecil tidak diajarkan 🤭 🤔 bukan mau menyalahkan mamahnya ini 🤣🤣hanya jangan sampai kita punya anak lalu memanjakan mereka secara berlebihan berakibat si anak tak bisa mandiri maaf komen gak nyambung 🤭🤣🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
❥␠⃝ ͭ🍁FAI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Benar banget apa yang dikatakan Rafa, klo memang laras minta di lepaskan, dia harus segera berdiri, ❣️
❥␠⃝ ͭ🍁FAI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Kehadiran Rafa di keluarga ini membawa dampak positif, contohnya Juano cara salimnya meniru Rafa❣️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!