Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
...~•Happy Reading•~...
Laras tidak bisa menghindar terlalu lama, karena Rafael sedang menunggu jawaban. Nada suara Rafael bertanya membuat Laras berani membuka mata. Dia menyadari sedang di rumah sakit.
"Mama di mana?" Laras menghindari tatapan Rafael dengan mencari Mamanya.
"Mereka kelelahan, jadi pulang sebentar." Rafael mengerti, Laras sedang mengalihkan. "Kau belum jawab, apa yang sakit." Rafael kembali bertanya untuk membuka komunikasi dan mengajak bicara Laras selagi tidak bersama keluarganya.
"Kalau aku bilang hatiku sakit, kau mau obati?"
"Jangan mulai. Kau lagi di rumah sakit. Saya bisa panggil dokter untuk periksa hatimu." Rafael tersenyum dalam hati bisa membalas Laras.
"Huuuu..." Laras melengos dan membalikan badan membelakangi Rafael.
"Ini sikap yang baik seorang pemimpin team di kantor?"
"Tidak ada urusannya." Laras kembali melihat Rafael. "Sikapku, karnamu." Ucap Laras lalu kembali membelakangi Rafael.
"Lihat saya." Rafael menarik bahu Laras untuk melihat dia. "Tenangkan pikiran, supaya lekas pulih." Ucap Rafael tenang, lalu menyingkirkan rambut Laras yang menutupi dahinya.
Sontak Laras memegang tangannya. "Kau tidak akan pergi dari rumah?" Laras bertanya sebab melihat Rafael tidak marah padanya.
"Pikiran apa itu? Saya baru kerja di sini, mau ke mana lagi?" Rafael tidak meneruskan alasan dia tetap tinggal di rumah orang tua Laras.
"Benar?" Laras bertanya sambil menatap dengan mata berkaca. Rafael mengangguk dan meyakinkan dengan gerakan wajahnya.
"Coba menunduk." Laras mengerakan tangan meminta Rafael menunduk.
Rafael menunduk mendekatkan wajahnya, karena mengira Laras mau mengatakan sesuatu. Sebab mereka sedang berada di UGD. Tiba-tiba Laras memeluk lehernya. "Janji, tidak akan pergi?" Bisik Laras di leher Rafael.
"Laras, jangan meminta sesuatu yang tidak bisa kita pastikan, bisa ditepati atau tidak. Yang pasti, saat ini tempat tinggal saya hanya di rumah orang tuamu." Rafael coba jelaskan untuk menenangkan hati, Laras.
"Mari jalani sekarang dengan hati tenang dan senang. Supaya bisa nikmati setiap fase dalam hidup, terutama urusan hati." Rafael mengusap punggung Laras yang kepalanya masih bersandar di bahunya.
"Lihat yang terjadi denganmu. Akhirnya tidur di rumah sakit. Senang?" Laras mengangguk, kuat.
Sontak Rafael memegang bahu Laras, lalu mendorong, agar bisa melihat wajahnya. "Kau senang sakit?"
"Tidak. Tapi senang sama ini." Laras kembali memeluk leher Rafael. Suasana hatinya berubah seketika. Rafael hampir tertawa merasakan sikap Laras yang sudah tidak seperti sebelumnya.
"Ini'lah yang saya bilang, hati perlu waktu jeda untuk istirahat. Supaya bisa merenung dan menikmati hidup. Karna setiap fase memiliki nilai dan warna yang berbeda. Entah itu baik atau buruk." Ucap Rafael lagi, merespon sikap Laras.
Laras makin mendekatkan pipinya ke leher Rafael. Hmmmm.... 'Hanya usia yang dewasa dan punya jabatan bagus di kantor. Kalau ingin disayang, kelakuannya masih kanak-kanak, ngalahin Juan.' Rafael membatin dan menepuk punggungnya.
"Ayo, berbaring. Lihat infus di tanganmu mulai berdarah." Rafael menarik lengan Laras yang masih mau memeluk. Dia membaringkan Laras dan membetulkan letak bantal.
"Aku mau pulang." Ucap Laras tiba-tiba membuat Rafael menarik tangannya.
"Minta sesuatu, pakai ini." Rafael mengetuk pinggiran kepala Laras. "Bikin kaget saja. Apa tidak lihat saya mau betulin infus?"
"Rafa, aku serius mau pulang. Aku sudah sembuh." Ucap Laras serius. Wajahnya sudah berubah berwana pink.
"Kau pingin dimarahi orang tuamu? Biarkan istirahat di sini sampai besok." Rafael berkata tegas
"Aku gak suka bau rumah sakit. Aku pingin tidur di kamarku." Pinta Laras lagi dengan wajah memohon.
Rafael melihat Laras dengan berbagai pertimbangan. "Gak usah khawatir Papa. Mereka tahu aku gak suka bau di rumah sakit." Laras meneruskan.
"Kalau begitu, tunggu saya bicara dengan Pak Yafeth dan dokter."
"Eh, jangan bicara dengan Papa sekarang. Nanti gak dibolehkan. Di rumah baru aku ngomong. Lihat ini." Laras bangun duduk di atas tempat tidur untuk menunjukan dia sudah pulih.
"Kau bisa membuat ini jadi sulit..." Rafael tidak meneruskan yang dia pikirkan tentang penerimaan Pak Yafeth dan Bu Ester padanya.
"Kalau begitu, saya bicara dengan perawat atau dokter." Rafael mengalah. Dia yakin, Laras akan pulang ke rumah, tidak tergantung dia setuju atau tidak.
"Thanks." Ucap Laras sambil tersenyum senang. Rafael hanya bisa menggeleng lihat tingkahnya yang tetap duduk.
"Rafa, HP ku dibawa gak?" Tanya Laras sebelum Rafael menjauh.
"Tidak tahu. Mungkin ada dalam tas yang ditinggal Ibu." Rafael mengambil tas yang dia letakan dekat kaki ranjang lalu berikan kepada Laras.
Kemudian dia berjalan cepat ke tempat perawat untuk memberitahukan permintaan Laras. Dia berharap para petugas medis atau dokter tidak mengizinkan.
Ketika kembali, dia terkejut melihat Laras sedang serius mengotak-atik ponsel sehingga tidak menyadari kehadirannya dengan dokter jaga.
"Tolong letakan ponselnya, ya. Saya mau periksa kondisinya."
"Maaf, dokter." Laras meletakan ponsel lalu berbaring.
"Benar sudah merasa enak dan mau pulang?"
"Iya, dokter. Saya tidak tahan cium bau rumah sakit." Laras bicara dengan suara biasa untuk menunjukan dia sudah pulih.
"Baik." Dokter langsung memeriksa dada dan perut Laras. Sejenak dokter terdiam melihat wajah Laras. 'Apa yang terjadi dengannya? Mengapa dia cepat pulih?' Dokter membatin.
"Tunggu infus habis, baru pulang. Lain kali, makan yang teratur dan tepat waktu. Hindari pikiran yang berlebihan..." Dokter memberikan nasehat setelah memeriksa kondisi Laras.
"Iya, dokter. Terima kasih." Ucap Laras dengan hati makin senang.
Setelah dokter berlalu, Laras kembali mengambil ponsel yang dia letakan di atas kasur. "Laras, letakan ponselmu." Ucap Rafael serius.
"Sebentar, Rafa. Tanggung. Tadi lagi kirim pesan ke teman kantor." Laras menjelaskan sambil terus mengetik. Rafael hanya bisa geleng kepala melihat Laras sudah dalam mode seperti sediakala, sedang bekerja.
~••
Beberapa waktu kemudian Rafael dan Laras sudah dalam taksi untuk pulang ke rumah. "Ingat, kau yang jelaskan pada Papa dan Mamamu. Mengapa minta pulang dan mengapa saya tidak kasih tahu mereka." Rafael mengingatkan.
"Iya. Tenang saja. Papa tidak akan marah." Laras memberikan tanda OK dengan jarinya. "Apa lagi tadi Papa angkat aku keluar kamar." Laras jadi pikirkan suasana hati Papanya saat mengeluarkan dia dari kamar.
"Bukan Papamu yang angkat, tapi saya yang angkut di punggung seperti sekarung beras."
"Benarkah? Akhirnya." Ucap Laras singkat lalu memeluk perut Rafael di sampingnya, riang.
'Jadi dia marah saat sarapan, karna aku menggendong Juan di punggung?' Rafael berkata dalam hati ingat kejadian Laras marah saat sarapan.
"Jaga sikapmu di rumah, kalau tidak ingin saya diusir keluar." Rafael serius mengingatkan. Dia tidak mau orang tua Laras marah melihat Laras tiba-tiba memeluk dia seperti yang sedang dilakukan. Laras mengangguk, makin senang.
Ketika tiba di rumah, Pak Yafeth dan Bu Ester tercengang mendengar penjelasan Laras. "Ma, aku mau mandi air angat. Sudah gak tahan bau rumah sakit." Ucap Laras manja.
Bu Ester mengikuti permintaannya tanpa komentar. Tapi Pak Yafeth menyimpan dalam hati sikap Laras yang berbeda kepada Rafael.
...~•••~...
...~•○♡○•~...