NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Rasa Sakit Yang Membekas

Suara robekan kain menjadi satu-satunya yang terdengar di dalam ruangan. Suaranya memekakkan telinga, bahkan membuat jantung Kharisma berhenti berdetak di detik pertama.

Gaun pengantinnya yang begitu indah dan panjang luruh, berakhir mengenaskan di lantai, kalah oleh tenaga Prabujangga yang mengoyaknya habis.

Tangan Prabujangga menahan erat pinggang Kharisma kala perempuan itu membungkuk di meja rias. Dadanya menekan punggung halus sang istri saat setiap kain ditanggalkan dengan buru-buru. Namun ekspresi Prabujangga tak berubah, tetaplah dingin bahkan nyaris tanpa emosi.

"M-mas Prabu ingin melakukan apa?" tanya Kharisma, suaranya nyaris tak terdengar karena gemetar.

Rasanya Kharisma tak berdaya. Tindakan Prabujangga membuatnya terlihat bodoh karena tak mengerti apapun.

"Menurutmu apa yang akan saya lakukan, hm?" Napas Prabujangga menggelitik di leher Kharisma. "Tentu saja mengambil hak saya sebagai suami."

"Mhh..." Kharisma menggigit bibir, menahan ringisan merasakan jari-jari Prabujangga menancap lebih dalam di pinggangnya.

Laki-laki itu benar-benar menghabiskan pakaian Kharisma dalam sekejap, menatap ekspresi kesakitan istrinya melalui cermin. Tak ada kepuasan, hanya ada ekspresi yang sulit dijelaskan.

Setiap inci kulit mulus Kharisma yang tak tersentuh memanjakan mata meskipun di dalam ruangan remang-remang, bersentuhan langsung dengan Prabujangga yang berada tepat di belakangnya.

Dia tak melakukan hal yang sama, tak menanggalkan pakaiannya seperti Kharisma, membiarkan kemeja dan celana panjangnya tetap terpasang. Justru Prabujangga hanya menurunkan resletingnya dengan gerakan lancar, memperhatikan wajah kelelahan Kharisma saat bersiap mengisi perempuan itu dari belakang.

Tanpa pemanasan, tanpa aba-aba, tanpa peringatan lebih lanjut, Prabujangga langsung mendorong masuk. Tangannya dengan sigap membekap mulut istrinya yang langsung menjerit kesakitan.

Tubuh Kharisma jelas tak terbiasa dan langsung memberontak untuk menerimanya. Lutut perempuan itu melemas, namun lengan kekar Prabujangga mampu menopang berat tubuhnya.

"Diam, saya tidak suka perempuan berisik," kecam Prabujangga, matanya terpejam erat begitu merasakan sensasi terjepit yang membuatnya menahan diri mati-matian agar tak cepat-cepat bergerak.

"Mas! Sakit!" Kharisma menjerit tertahan, kuku-kukunya menancap pada permukaan meja rias. Wajahnya memerah, air mata menggenang di pelupuk matanya.

Rasa sakit tajam yang luar biasa nyaris membuatnya kejang. Ini terlalu tiba-tiba, bahkan terlalu keras untuk menjadi yang pertama bagi Kharisma.

Tubuhnya terasa dibelah, bahkan Kharisma merasakan bahwa ada sesuatu yang telah robek di dalam sana. Rasa mengganjal yang aneh juga membuatnya tak nyaman dan mengelinjang, tapi Prabujangga dengan mudah menahannya di tempat.

Sensasi itu semakin menggila saat Prabujangga mulai bergerak di dalamnya. Pada awalnya pelan, namun tak bertahan setelah lima detik karena gerakkannya menjadi tak terkendali.

"Inilah tugasmu menjadi istri saya," Prabujangga menggeram rendah, suaranya berubah serak, diiringi napasnya yang semakin pendek. "Hanya ini. Diisi oleh benih saya lalu memberikan saya keturunan. Sangat mudah, bukan?"

Kharisma menggeleng, suara rintihan kesakitannya teredam di tangan Prabujangga yang membungkam mulutnya. Selama hidupnya, Kharisma tak pernah merasakan sesuatu yang jauh lebih sakit daripada ini. Merasakan sesuatu yang asing bergerak di dalamnya, memenuhinya dengan kelewat dalam.

Prabujangga memaksa kepala Kharisma tegak, menatap ekspresi menyedihkannya saat direnggut oleh sang suami untuk pertama kali.

Pandangan Kharisma memburam karena air mata, hanya ekspresi Prabujangga yang dapat ia samar-samar lihat.

Laki-laki itu menggigit bibir, seolah-olah menahan suara agar tak lolos dari bibirnya sementara matanya terpejam, kepalanya mendongak hingga Kharisma bisa melihat jelas tonjolan yang bergerak-gerak di tenggorokannya.

"Mas..." Kharisma tak kuat lagi, tubuhnya lemas karena tak berhasil mengendalikan rasa sakit saat dipenuhi oleh Prabujangga.

Kepalanya bersandar pada meja saking tak bisa bertahan, tubuhnya bergesekan pada permukaan yang keras begitu Prabujangga menghentak semakin cepat.

"Sial," umpat Prabujangga menggila, melepaskan tangannya pada mulut Kharisma dan mengalihkannya untuk menahan pinggul perempuan itu.

Mulut Kharisma terbuka, namun tak ada suara yang keluar karena tenaganya yang telah tersedot habis.

"Ahh... Mas... Prabu..."

Kelopak mata Kharisma memberat, milik Prabujangga terasa membesar di dalamnya. Tiga hentakkan terakhir terasa paling tajam dan kuat, sebelum akhirnya tubuh berat Prabujangga terasa menimpa di belakangnya.

Deru napas Prabujangga menyapu ceruk leher Kharisma, begitu pula dengan degup kencang yang terasa di punggung perempuan itu.

Serangan nyeri terasa, bercampur dengan sensasi lengket aneh di bagian sensitifnya. Tapi Kharisma tak merasakannya di waktu yang lama.

Karena kelelahan dan rasa sakit malam pertama merenggut kesadarannya.

...***...

Yang pertama kali menyadarkan Kharisma adalah suara dering yang berasal dari ponsel yang cukup jauh dari jangkauannya.

Dengan kepala yang terasa berat, Kharisma perlahan-lahan memaksakan diri untuk membuka mata.

Langit-langit kamar menyambutnya, lalu dilanjutkan dengan jaring-jaring yang menutupi tempat tidur bertiang empat yang menjadi tempatnya berada saat ini.

Tubuhnya terasa kaku, dan rasa sakit semakin intens berdenyut di area kewanitaannya.

Bayang-bayang kemarin malam tak luput dari ingatannya.

"Shh..." Kharisma meringis, jari-jarinya mencengkram seprai saat berjuang untuk duduk.

"Sakit sekali..." gumamnya, menatap dirinya sendiri yang ternyata sudah dipasangi oleh gaun tidur tipis berwarna putih polos. Bahannya nyaman, namun sedikit transparan.

Entah siapa yang memakakannya.

Dengan tertatih-tatih Kharisma bangkit dari tempat tidur dan mendekati benda pipih yang bergetar di atas meja rias yang sudah sangat kacau.

Parfume-parfume mahal yang berserakan, sisir yang berakhir mengenaskan di atas karpet, serta beberapa alat cukur dengan jenis yang berbeda juga tak berada pada tempatnya. Ini semua membangkitkan kembali kenangan pahit kemarin malam di kepala Kharisma.

Kharisma melihat ke arah layar ponsel yang jelas bukan miliknya. Itu alarm, dan Kharisma hanya perlu menggeser layar ke atas untuk mematikannya.

Jika ponsel Prabujangga berada di sini, itu berarti...

Kharisma langsung menoleh ke tempat tidur, tak menyadari bahwa mungkin sejak kemarin malam Prabujangga telah tidur di satu ranjang yang sama dengannya. Hanya saja Prabujangga tidur di sisi berlawanan dan cukup jauh dari Kharisma.

"Apa harus dibangunkan?" gumam Kharisma ragu-ragu, menatap layar ponsel yang mati dan Prabujangga secara bergantian.

Entah kenapa Kharisma kini merasa takut pada Prabujangga. Tapi siapa yang tidak takut jika diperlukan seperti kemarin malam?

"Mas Prabu..." dengan ragu-ragu Kharisma memanggil.

Dia dengan langkah yang sedikit pincang mendekati Prabujangga, menahan setiap rasa perih yang menyerang.

"Mas," panggil Kharisma sekali lagi, ragu-ragu menepuk lengan Prabujangga. "Mas Prabu tidak berangkat bekerja?"

Saat Prabujangga sedikit bergerak, secara naluriah Kharisma mundur dan menundukkan kepala dengan ragu dan takut. tangannya bertaut di pangkuan dengan gugup.

Prabujangga perlahan-lahan membuka mata, perlahan-lahan mendudukkan diri hingga selimut menggenang di pinggangnya.

Ekspresi Prabujangga tak terlalu mencolok begitu melihat Kharisma berdiri di sampingnya. Dia melirik ke arah jam yang terpajang di dinding.

"Kenapa alarm saya tidak berbunyi?"

Kharisma menjawab ragu-ragu. "Bunyi kok, Mas," gumamnya. "Tapi Mas Prabu tidak bangun."

Prabujangga tak lagi menanggapi. Dia bangkit dari tempat tidur, meregangkan otot-ototnya yang kaku tanpa memperdulikan Kharisma.

"Minggir."

"Ahh."

Baru saja Prabujangga mendorong pelan bahu Kharisma, tapi Kharisma tak bisa menahan rintihan kesakitan saat terpaksa bergerak dari tempatnya, membuat area sensitifnya kembali nyeri.

Prabujangga terdiam, tatapannya menajam begitu memandangi Kharisma yang menopang diri pada lemari kecil di samping tempat tidur.

"Ada apa?" tanyanya datar.

Dari tampangnya sepertinya Prabujangga tak berpikiran bahwa Kharisma kesakitan karena ulahnya, atau mungkin justru dia memang sengaja tidak peduli.

Kharisma menggeleng, menunduk untuk menghindari tatapan menyelidik Prabujangga. "Tidak ada apa-apa, Mas," jawabnya pelan.

Kharisma diam-diam memperhatikan Prabujangga yang menyibak selimut dan bangkit dari tempat tidur. Dia melangkah ke mendekati meja rias untuk mengetuk layar ponselnya sebanyak dua kali lalu mendongak untuk menatap jam yang terpasang di dinding seakan-akan menyocokkan.

Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan laki-laki itu?

"Saya akan memerintahkan Meara untuk membawakan salep," celetuk Prabujangga tiba-tiba, bahkan tanpa menoleh. "Obati apa yang kamu rasa pantas untuk diobati. Jangan bersikap manja."

Baiklah, ternyata Prabujangga menyadari rasa sakit yang disebabkannya pada Kharisma.

Kharisma meremas ujung gaunnya. Selama ini ia tak pernah disebut manja oleh kedua orang tuanya ataupun kedua kakaknya. Kata-kata itu terasa sedikit menyakitkan sekarang.

Tapi apa yang bisa Kharisma lakukan?

"I-ya, Mas."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!