NovelToon NovelToon
Kau Renggut Bahagia Ku ( Pembalasan )

Kau Renggut Bahagia Ku ( Pembalasan )

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: chiechie kim

Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isak tangis kehilangan seseorang

"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Ia telah meninggal dunia di tempat, bersama dengan bayinya yang ada di dalam kandungan," ujar dokter dengan suara lembut namun tegas, menutupi wajah Intan dengan selimut putih.

Dewi merasa dunia seolah berhenti berputar. Air mata yang sudah tidak pernah berhenti mengalir kini semakin deras. Ia meraih tangan Rini yang sudah mulai membeku dan berbisik, "Maaf kak. maaf aku tidak bisa melindungimu dan buah hatimu..."

Tak lama kemudian, suara mobil yang melaju cepat terdengar dari kejauhan. Rizky tiba dengan wajah pucat dan berkeringat dingin, meskipun malam hari cukup sejuk. Ia langsung berlari mendekati lokasi, namun harus ditahan oleh salah satu sukarelawan agar tidak mengganggu proses tim medis.

"Mas Rizky..." panggil Dewi dengan suara merenggut hati. Ia berdiri dan menghampiri suami Rini, taengannya masih bergetar. "Maaf mas... Rinibdan bayinya... mereka sudah tidak bisa diselamatkan..."

Kata-kata itu seperti petir yang menyambar Rizky. Kakinya tiba-tiba menjadi lemah dan ia hampir jatuh jika tidak ditopang oleh Dewi dan salah satu sukarelawan. Air mata menetes deras dari matanya, tapi ia tidak bisa mengeluarkan suara apa pun—hanya terdengar hembusan napas yang terengah-engah akibat kesedihan yang luar biasa.

Ia melihat ke arah tenda putih yang telah dipasang tim medis, di mana tubuh Rini berada. Rasa sakit yang menyiksa hatinya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata—bahagia yang sudah ia nantikan selama bertahun-tahun, tiba-tiba hilang dalam sekejap karena sebuah kecelakaan yang tak terduga.

Rizky berjalan mencari supir yang menabrak istrinya.ia melihat supir itu dan langsung memukul wajah Ujang berkali-kali.polisi pun menghentikan Rizky.

Dewi datang dengan tergesa-gesa, napas tersengal-sengal karena berlari. Dia langsung jongkok di depan Rizky dan meraih tangannya yang gemetar.

"Rizky, dengarkan aku!" ucap Dewi dengan suara tegas tapi penuh kasih. "Aku tahu kamu sangat sakit hati. Aku juga merasakan hal yang sama—bahkan lebih dari itu, aku merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Rini."

Rizky menatapnya dengan mata merah dan berkaca-kaca. "Aku tidak bisa menahannya, Dew. Saat melihat dia, semua rasa sakit dan kehilangan itu keluar sekaligus."

Dewi mengangguk, lalu mengangkat wajah Rizky agar mereka saling melihat. "Tapi kamu harus tabah, Rizky. Bukan untukku atau siapapun, tapi untuk Rini.

Dia mengusap air mata yang menetes di pipi Rizky. "Jika kamu terus terjebak dalam kemarahan dan melakukan hal-hal yang tidak benar, bagaimana kita akan mendapatkan keadilan yang mereka layak kan? Rini tidak ingin kamu merusak hidupmu karena dendam. Dia ingin kamu kuat dan menjadi orang yang bisa membela hak mereka dengan cara yang benar."

Rizky menutup matanya dan menangis lagi, tapi kali ini tangisannya lebih tenang. Dewi memeluknya dengan erat dan terus berbisik, "Kita akan melalui ini bersama, ya? Tetap tabah, karena kita tidak sendirian."

Jam 03.00 WIB, mobil jenazah dengan lampu merah menyala pelan keluar dari rumah sakit. Rizky duduk di dalam mobil bersama kakak kandung Rini, tangan mereka erat saling menggenggam. Dewi mengendarai mobilnya di belakang, mengikuti dengan hati-hati di jalan raya yang sudah mulai sepi.

Dalam peti mati yang tertutup rapat, tubuh Rini terbaring damai. Petugas rumah sakit telah membersihkan tubuhnya dengan penuh penghormatan, mengenakannya dengan baju putih yang ia suka pakai saat masih hidup. Sebuah bunga mawar putih diletakkan di atas peti mati—sesuai dengan keinginan keluarga yang tidak ingin ada hiasan yang berlebihan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!