"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan!
Malamnya...
Raline baru saja selesai melaksanakan shalat magrib. Ia melepas mukena dan melipatnya seperti semula.
Ia keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan makan malam.
Walaupun masalah berat tengah ia hadapi dan pikirannya kacau, tapi ia berusaha tetap terlihat normal di depan mereka.
Ia tahu, cepat atau lambat kehamilannya akan diketahui oleh orang tuanya. Namun saat ini, setidaknya ia bisa bersikap wajar untuk menghindari kecurigaan.
"Bu, apa yang perlu aku bantu?" tanyanya sembari mendekati Bu Dinar yang berdiri di depan kompor, tengah menggoreng ikan.
"Eh, Neng... Tolong bantu iris bawang sama cabai saja ya," jawab Bu Dinar. "Nanti biar Ibu yang tumis kangkungnya."
Raline mengangguk.
Ia mengambil beberapa siung bawang merah dan bawang putih, serta beberapa buat cabai merah.
Lalu mulai mengupas dan mengirisnya halus.
Awalnya semua nampak baik-baik saja, bahkan Raline terus berusaha tersenyum ketika ibunya mengajak bicara.
Tapi tiba-tiba saja Raline merasa kepalanya pusing. Ia memegangi kepalanya.
Pisau yang dipegang Raline terhenti di tengah gerakan.
Dunia di sekelilingnya tiba-tiba terasa berputar.
Pandangannya mengabur.
"Uh..."
Ia memegang sisi meja dengan satu tangan, mencoba menahan tubuhnya yang tiba-tiba terasa ringan dan lemah.
"Neng?" panggil Bu Dinar yang menyadari perubahan pada anaknya. "Kamu kenapa?"
Raline tidak menjawab.
Suara ibunya terdengar semakin jauh.
Dengung memenuhi telinganya.
Dan detik berikutnya...
Brukkk!
Tubuh Raline jatuh ke lantai. Pisau kecil yang tadi dipegangnya ikut terlepas, berbunyi nyaring saat membentur keramik dapur.
"NENG!!!"
Bu Dinar menjerit panik.
Ia langsung berjongkok di samping tubuh anaknya yang terkulai tak sadarkan diri.
Tubuh Raline lemas. Wajahnya pucat.
Bu Dinar mengguncang pelan bahu putrinya.
"Neng! Neng, bangun! Astaghfirullah... Neng!" suaranya bergetar.
Namun tidak ada respons.
Raline tetap diam.
Napasnya ada, tapi lemah.
Rasa panik langsung menjalar ke seluruh tubuh Bu Dinar.
Ia bangkit dengan tergesa, berlari menuju ruang tengah.
"Pak! Bapak!" teriaknya dengan suara penuh kepanikan. "Bapak!!!"
Pak Umar yang sedang duduk sambil menonton siaran berita langsung berdiri kaget.
"Ada apa, Bu?"
"Si Neng pingsan, Pak!!!" suara Bu Dinar hampir pecah. "Cepat!"
Tanpa menunggu lebih lama, Pak Umar segera berlari menuju dapur.
Begitu melihat tubuh anak perempuannya terbaring di lantai, wajahnya langsung berubah tegang.
"Neng..."
Ia berjongkok dan menepuk pelan pipi Raline.
"Neng, dengar Bapak..."
Tidak ada jawaban.
Pak Umar menelan ludah.
Ia tak mau membuang waktu.
Dengan sigap, ia mengangkat tubuh Raline ke dalam gendongannya.
Tubuh itu terasa ringan. Terlalu ringan untuk ukuran anak gadis seusianya.
"Bu, kita bawa ke bidan sekarang," ucapnya tegas.
Bu Dinar mengangguk cepat, wajahnya penuh kecemasan.
"Iya, Pak... Ibu juga khawatir."
Malam itu juga, mereka membawa Raline ke bidan terdekat karena khawatir anak mereka sakit. Apalagi, belakangan ini mereka menyadari Raline jarang makan dan sering merasa pusing. Membuat mereka semakin khawatir.
Beberapa menit kemudian…
Di klinik bidan sederhana, Raline sudah terbaring di atas ranjang pasien.
Bu Dinar berdiri di sampingnya, menggenggam tangan anaknya erat.
Sementara Pak Umar berdiri tak jauh, wajahnya penuh kekhawatiran.
Seorang bidan muda berdiri di dekat ranjang, memeriksa kondisi Raline dengan teliti.
Ia memeriksa denyut nadi.
Memeriksa tekanan darah.
Lalu memperhatikan wajah pucat gadis itu.
"Sejak kapan dia pingsan?" tanya bidan itu.
"Baru saja, Bu," jawab Pak Umar. "Tiba-tiba saja dia jatuh di dapur saat membantu ibunya masak."
Bidan itu mengangguk pelan.
Ia lalu menoleh pada Bu Dinar.
"Sebelumnya ada keluhan lain?"
Bu Dinar berpikir sejenak.
"Beberapa hari ini dia memang terlihat lemas... dan sering terlihat pegang kepala seperti orang pusing. Jarang makan juga, Bu," jawabnya jujur.
Bidan itu kembali mengangguk.
Tangannya menyibak sedikit kaos yang dikenakan oleh Raline, menyentuh perut gadis itu perlahan.
Tatapannya kemudian berubah lebih serius.
Seolah ada sesuatu yang besar baru saja ia temukan.
"Apa pernah terlihat anak ibu dan bapak mual atau mungkin pernah cerita ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya?" tanya bidan lagi.
Bu Dinar menggeleng. "Tidak, Bu. Semuanya tampak normal. Memangnya kenapa ya?"
Bidan itu diam beberapa saat, menyadari sesuatu yang salah pada Raline setelah pemeriksaan tadi.
Bu Dinar dan Pak Umar saling berpandangan.
Jantung mereka berdetak semakin cepat.
"Ada apa, Bu?" tanya Pak Umar akhirnya, tak sanggup menahan rasa cemas. "Apa anak kami sakit?"
Bidan itu tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap Raline dengan lebih dalam.
Lalu menatap kedua orang tuanya.
Ekspresinya serius.
"Pak... Bu..." ucapnya pelan.
Nada suaranya membuat jantung Bu Dinar berdegup keras.
"Iya, Bu?" jawab Pak Umar tegang.
Bidan itu menarik napas sebentar.
Seolah sedang memastikan sesuatu.
"Saya perlu memastikan dengan pemeriksaan tambahan."
Kedua orang tua Raline saling berpandangan lagi.
Perasaan mereka mulai tidak enak.
Bidan itu lalu melakukan pemeriksaan lanjutan sesuai prosedur atas izin kedua orang tua Raline.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Bu Dinar dan Pak Umar menunggu di tempat dengan perasaan cemas yang semakin besar. Mereka berdoa semoga Raline baik-baik saja.
Sampai akhirnya…
Bidan itu selesai melakukan pemeriksaan lanjutan.
Ia menatap mereka dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Antara ragu… dan yakin.
"Pak... Bu..."
"Putri kalian..."
Ia berhenti sejenak.
Bu Dinar mencengkeram baju suaminya.
Jantungnya berdegup sangat kencang, menunggu apa kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut bidan.
"...sedang mengandung."
Degh!
Dunia seolah berhenti berputar.
Bu Dinar membeku.
"A-apa...?" suaranya bergetar.
Pak Umar juga tak bergerak.
Tatapannya kosong menatap bidan itu.
"Mengandung?" ulangnya pelan, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Bidan itu mengangguk pasti.
"Iya, Pak."
"Tapi anak saya belum menikah. Mana mungkin bisa hamil?" Pak Umar tak percaya.
"Tapi memang itu kenyataannya, Pak," jawab bidan jujur. "Di perutnya ada janin yang tengah ia kandung."
Ia melanjutkan dengan suara profesional, namun tetap lembut.
"Usia kandungannya kurang lebih sekitar enam minggu."
Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong.
Bu Dinar langsung menutup mulutnya dengan tangan.
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.
Pak Umar mundur selangkah.
Tubuhnya terasa lemas.
Ia memandang anaknya yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.
Anak perempuan yang ia besarkan dengan penuh kasih.
Anak yang selalu ia jaga dan selalu ia percaya. Kini sedang mengandung. Dan bahkan ia tak tahu siapa yang menghamilinya.
Ia hamil tanpa suami. Jelas saja Pak Umar tak bisa terima itu. Bahkan mereka tidak tahu apa-apa.
"Ti... tidak mungkin..." bisik Bu Dinar lemah.
Tangannya gemetar.
Pak Umar tidak berkata apa-apa.
Namun rahangnya mengeras.
Tatapannya berubah.
Bukan lagi hanya cemas.
Tapi juga terluka.
Dan hancur.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya