Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Han, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Pelarian ke Dalam Gelas
Renata teringat ucapan Mama Sarah tadi: “Bara bilang juga kamu lagi mengandung—walaupun itu katanya masih omongan doang.”
Seketika, sebuah pemahaman menghantam benak Renata. Ia meletakkan garpunya dengan perlahan. Rasa hangat menjalar di dadanya, namun bercampur dengan kegelisahan yang getir. Ia sadar, perubahan sikap Mama Sarah bukanlah karena wanita itu mulai menyukai kepribadian Renata, melainkan karena harapan besar yang kini dititipkan di rahimnya.
Bagi Mama Sarah, Renata yang sekarang bukan lagi sekadar menantu yang dianggap "tidak selevel" atau "pengganggu" hubungan Bara dan Maya. Di mata Mama Sarah, Renata telah berubah menjadi sosok yang membawa masa depan keluarga, pembawa ahli waris yang selama ini dinanti-nantikan untuk meneruskan kejayaan keluarga mereka.
“Jadi, kasih sayang ini... perhatian ini... semuanya karena calon cucunya?” gumam Renata pelan.
Ada rasa perih yang terselip di hati kecilnya. Ternyata, keberadaannya baru dihargai ketika ia memberikan "manfaat" bagi garis keturunan keluarga ini. Namun di sisi lain, ia juga merasa sedikit terlindungi. Setidaknya, untuk sementara waktu, ia tidak perlu menghadapi tatapan sinis atau sindiran tajam yang biasanya menjadi "sarapan" sehari-harinya.
Renata mengelus perutnya yang masih terasa sedikit mual. Ia menatap ke arah dapur, di mana Bi Sumi sedang sibuk mencuci peralatan bekas membuat bolu tadi sesuai perintah Mama Sarah. Sebuah senyum tipis yang penuh keraguan tersungging di bibirnya.
Sementara di dalam mobil pribadi Reno, suasana terasa lebih dingin daripada suhu AC yang berembus pelan. Reno mencengkeram kemudi dengan wajah kaku, matanya lurus menatap jalanan yang mulai padat oleh kendaraan orang-orang yang pulang kantor. Sementara itu, Maya duduk di kursi penumpang sambil sibuk memoles lipstik di bibirnya. Tiba ucapan tidak mengenakan datang dari pria yang ada di sampingnya.
"Nggak usah dandan lagi, May. Lo udah dapet tumpangan gratis, nggak perlu narik perhatian gue segala," sindir Reno tanpa menoleh.
Maya menutup wadah lipstiknya dengan keras. "Siapa juga yang mau narik perhatian lo? Gue cuma mau tampil cantik. Lagian, lo harusnya bangga bisa nganterin cewek secantik gue."
Reno mendengus geli. "Cantik sih, tapi sayang, akalnya dipakai buat merusak rumah tangga orang."
Kalimat itu seketika membuat tangan Maya yang sedang merapikan rambut terhenti. Ia menoleh dengan tatapan berapi-api. "Maksud lo apa, Ren? Jangan sok tahu ya!"
"Gue nggak sok tahu. Gue punya mata, itu semua fakta," balas Reno tenang, namun suaranya terdengar sangat mengintimidasi. "Gue tahu makanan tadi bukan buat gue kan? Lo bawa makanan itu buat Bara agar lo itu kelihatan perhatian lewat makanan buatan lo itu, tapi sialnya malah perhatian buat bara gagal total."
Maya terdiam sejenak, wajahnya sedikit memucat namun ia segera memasang wajah angkuh kembali. "Terserah lo mau ngomong apa. Yang penting Om Baskoro dukung gue. Denger sendiri tadi kan? Om lebih percaya sama gue daripada sama si perempuan itu."
Reno tertawa hambar, suara tawanya terdengar meremehkan di dalam ruang kabin mobil. "Lo pikir dukungan Om Baskoro itu segalanya? May, lo lupa satu hal. Yang punya kunci hati Bara itu Renata, bukan papahnya Bara. Dan asal lo tahu, Bara itu tipe laki-laki yang sangat menghargai tanggung jawab. Semakin lo ngejar dia, semakin lo kelihatan murahan di mata dia."
"Jaga mulut lo, Reno!" bentak Maya, suaranya melengking tinggi. "Gue nggak murahan! Gue cuma mau mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milik gue dari awal. Renata itu cuma orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hubungan gue sama Bara."
Reno menginjak rem mendadak karena lampu merah, membuat tubuh Maya sedikit terjerembap ke depan. Reno menoleh sepenuhnya ke arah Maya dengan tatapan yang sangat dingin.
"Orang asing yang lo maksud itu sekarang lagi mengandung anak Bara. Dan lo tau apa artinya?Sekarang Bara sudah punya keluarga baru yang di bangun olehnya? Lo... Ini nggak akan pernah punya tempat lagi, Maya. Mau lo bawa makanan tiap hari, mau berusaha dengan cara yang lo punya, itu semua bakal kalah sama kehadiran seorang bayi."
Mendengar kata 'bayi' Maya sedikit tidak percaya. Jadi maksud lo ini istrinya bara lagi hamil? Lo ini bercanda kan? Sumpah gue nggak percaya sih. Masa secepat itu, pernikahan mereka baru ada sekitar seminggu udah di karuniai seorang anak?Masa sih... nggak percaya gue.
"Terserah mau percaya apa nggak. Tapi kalau soal kok bisa Renata cepet hamilnya? Berarti rezeki mereka lagi bagus dong," sahut Reno dengan senyum tipis yang tampak begitu menyebalkan di mata Maya. Ia sengaja memainkan tempo bicaranya agar Maya semakin terpancing.
"Antara rezeki Renata yang kuat, atau garis takdirnya yang memang ditakdirkan untuk mengikat Bara selamanya. Tapi... ada tapinya ya, May..." Reno menjeda kalimatnya, melirik spion tengah sebentar sebelum kembali menatap jalanan di depannya.
"Ini baru perumpamaan aja, jangan langsung jantungan gitu. Soalnya tadi di rumah sakit, Renata memang merasa mual-mual hebat. Pas dicek sama dokter, dokter bilang itu awal dari pertanda kehamilan. Ya, lo tahu sendirilah, dalam medis gejala awal itu biasanya sudah menunjukkan arahnya udah jelas ke sana," lanjut Reno dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca, padahal ia tahu kata-katanya barusan bagaikan kaki menginjak paku.
Membuat Maya terdiam, jemarinya meremas tali tasnya dengan sangat kencang. Wajahnya yang tadi penuh riasan kini tampak pucat pasi. "Pertanda? Jadi belum pasti kan? Bisa aja itu cuma maag atau dia salah makan karena stres mulu!"
Reno tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Bisa jadi. Tapi May, lo harus ingat, kalau semisalnya emang bener hamil nih... Tante Sarah bakal seneng, karena itu menyangkut garis keturunan keluarga Adiwangsa. Bahkan gue kenal Tante gue sendiri, dia nggak akan membiarkan Renata keguguran, soalnya ada alasan kuat yang menyangkut soal garis keturunan."
Maya memalingkan wajah ke arah jendela, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. Ia tidak sudi membayangkan Renata mengandung darah daging Bara. Pikiran jahat mulai merayap di kepalanya, mencari celah apakah benar kehamilan itu nyata atau hanya sekadar tameng Renata agar tetap bertahan di posisi Nyonya Bara.
"Pernikahan berjalan seminggu sudah hamil aja... cih, benar-benar nggak masuk akal," desis Maya tajam.
"Di dunia ini banyak hal yang nggak masuk akal bagi orang yang sedang iri dan sakit hati, May," balas Reno telak. "Mending sekarang lo siapin mental. Soalnya gue bisa liat Tante Sarah mulai menaruh harapan besar ke Renata. Kalau sampai hasil resminya keluar dan itu positif, gue saranin lo angkat kaki pelan-pelan untuk pergi jauh dari hubungan mereka. Maksud gue dalam hubungan aja, sebelum... lo beneran jadi orang asing di kehidupan mereka."
Reno menginjak pedal gas lebih dalam, membiarkan keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka berdua, sementara Maya terus bergelut dengan rasa tidak percayanya yang mulai berubah menjadi ketakutan besar.
Pikiran Maya mulai melayang, terseret jauh ke masa lalu di mana hubungannya dengan Bara berjalan begitu harmonis. Dulu, ia adalah pusat semesta bagi pria itu. Namun kini, kenyataan menghantamnya begitu keras. Air mata perlahan turun, membasahi pipinya yang kemerahan.
Apa yang paling menyakitkan bagi Maya adalah kenyataan bahwa meski mereka sering menghabiskan waktu bersama, bahkan berada dalam satu kamar yang sama, mengapa kini ia justru diperlakukan seperti orang asing? Mengapa ia tidak bisa memiliki hak selamanya untuk tetap berada di kamar yang sama dengan Bara?
Reno menoleh sekilas, mendapati Maya yang tengah berusaha keras menahan isak tangisnya di balik jendela. Ia menghela napas panjang, sedikit melunakkan nada bicaranya namun tetap terasa sarkas.
"Gue sudah tahu semua drama lo berdua, May," ucap Reno datar. "Bara juga pernah cerita soal kerumitan pernikahannya itu ke gue. Bahkan gue yang denger saja merasa aneh. Lucu, ya?"
Reno terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan kalimat yang menusuk tepat ke jantung pertahanan Maya. "Kok bisa hubungan lo yang sudah berjalan tiga tahunan, malah kalah telak sama hubungan yang baru berjalan satu bulanan? Gimana tuh... Jadi rumitkan."
Maya tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata erat-erat, membiarkan air mata itu mengalir semakin deras. Kata-kata Reno seolah menjadi cermin yang memperlihatkan betapa hancurnya posisinya saat ini. Tiga tahun kebersamaan mereka seakan menguap begitu saja, digantikan oleh kehadiran Renata yang hanya butuh waktu sekejap untuk memberikan apa yang paling diinginkan oleh keluarga besar Bara seorang garis keturunan untuk keluarga Adiwangsa.
"Tapi itulah hidup, May," gumam Reno lagi sambil menatap jalanan yang semakin gelap. "Kadang waktu yang lama nggak menjamin sebuah tempat yang sama. Siapa yang lebih dulu sampai di garis finish, dialah pemenangnya. Dan sekarang, Renata sudah menjadi pemenangnya."
Maya mengepalkan tangannya di atas pangkuan, mencoba menghapus air matanya dengan kasar. Rasa sedih itu perlahan mulai terkikis, digantikan kembali oleh rasa benci yang semakin mendarah daging. Ia tak akan membiarkan hubungan "satu bulan" itu bertahan lebih lama dari hubungan "tiga tahun" miliknya.
"Untuk sekarang, aku nerima semua apa yang telah terjadi saat ini juga. Tapi aku minta tanggung jawab dari dia atas apa yang sudah dia perlakukan ke aku," ucap Maya dengan nada yang tiba-tiba berubah dingin dan menuntut.
Reno mengernyitkan dahi, kepalanya menoleh cepat ke arah Maya sebelum kembali fokus ke jalanan. "Maksud lo apaan? May, gue nggak ngerti dah. Tanggung jawab soal apa?"
Maya menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong yang menyayat. "Ya itu... Bara sudah merasakan tubuh gue. Akibatnya, rasa harga diri gue sebagai wanita hilang begitu saja kalau dia nggak ada pertanggung jawaban dari dia."
Mendengar itu, Reno hampir saja kehilangan kendali atas kemudinya. Ia segera menepi ke bahu jalan dan menginjak rem hingga mobil berhenti sempurna. Ia menatap Maya dengan tatapan tak percaya.
"Bentar... bentar," Reno menarik napas panjang, mencoba mencerna kalimat Maya. "Jadi maksud lo... karena kalian pernah tidur sekamar, berarti lo berdua pernah... melakukan hubungan intim?"
Reno terdiam sejenak, otaknya berputar cepat membayangkan sepupunya yang terlihat kaku itu melakukan hal sejauh itu. "Ehm... tapi lo juga kenapa mau, May?"
Maya memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh lagi. "Gue ngelakuin itu semua karena gue pikir Bara akan tanggung jawab sepenuhnya kalau ada apa-apa sama gue. Jadi serahin aja gitu. Mungkin ini bentuk cinta gue ke dia, Ren. Terus bodohnya... Gue sendiri percaya sama dia."
Reno menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, merasa situasi ini jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. "Iya, gue paham. Hubungan intim itu bisa fatal juga kalau terjadi apa-apa sama lo. Bara memang harus tanggung jawab kalau sampai ada akibatnya. Tapi..." Reno melirik Maya dengan menyelidik. "Untung aja itu kejadiannya sudah lama banget kan, May? Maksudnya, bukan baru-baru ini?"
Maya terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Bayangan kejadian beberapa malam lalu di apartemen pribadinya, di dalam kamar nomor 027, mendadak melintas begitu nyata. Aroma parfum Bara dan sisa-sisa keintiman yang baru berumur hitungan hari itu seolah masih tertinggal di kulitnya.
Namun, Maya tahu ia tidak boleh jujur sekarang. Ia harus memainkan kartu ini dengan sangat hati-hati.
"Iya... itu dulu. Sudah ada satu tahunan deh kayaknya. Pokoknya aku sudah lupa kapan tepatnya," jawab Maya dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan kebenaran bahwa rahasia di kamar 027 itu adalah senjata terakhirnya untuk menghancurkan rumah tangga Bara dan Renata.
Reno menghela napas lega, meski masih ada sedikit rasa curiga yang mengganjal. "Ya sudah kalau itu masa lalu. Tapi tetap aja, lo nggak bisa pakai alasan itu buat ngerusak yang sekarang, May. Masa lalu ya masa lalu, biarlah itu semua berlalu."
"Iya, gue paham... Oh ya, Ren. Jangan ke apartemen gue," ucap Maya tiba-tiba sambil memperbaiki posisi duduknya. "Mending anterin gue ke bar dulu. Kepala gue udah mumet banget."
Reno langsung menoleh dengan kening berkerut dalam. "Nggak baik buat kesehatan lo, May. Kan bisa kalau lagi mumet lo lakuin kegiatan yang lebih positif, nggak harus minum-minuman. Lo itu perempuan, mending pulang terus istirahat."
"Nggak usah bawel deh!" potong Maya ketus, sorot matanya kembali tajam. "Terserah gue lah, lo kok malah jadi ngatur-ngatur hidup gue? Nih ya, kalau lo mau ikut ya ayok, kalau nggak mau ya udah diem, terus anterin gue ke bar."
Reno hanya bisa mengembuskan napas kasar. Ia tahu, berdebat dengan Maya dalam kondisi seperti ini hanya akan membuang tenaganya dengan sia-sia. Sifat keras kepala wanita itu memang tidak ada tandingannya. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Reno kembali mengoper gigi mobil dan memutar setir, menuruti keinginan wanita di sampingnya itu menuju gemerlapnya dunia malam yang mungkin bisa menenggelamkan sejenak kenyataan pahit yang baru saja Maya dengar.
Mobil itu pun melesat menjauh, membelah kegelapan jalanan kota yang kian larut, membawa sekelumit rahasia yang kian lama kian membebani.