"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pukul 11.00 WIB — Kantor Cabang Semarang.
Pintu ruang rapat terbuka kembali setelah jam istirahat. Afisa baru saja menyesap kopinya, bersiap untuk sesi kedua mediasi. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang berdiri di samping meja Pak Baskoro, pimpinan cabang.
Sosok dengan setelan jas hitam yang kaku, wajah yang tetap sedingin es, dan tatapan yang dulu pernah membuat Afisa merasa tidak berharga.
Guntur.
"Afisa, perkenalkan, ini rekan baru yang dikirim pusat untuk membantu tim litigasi kamu menangani aspek korporasi kasus ini," Pak Baskoro berujar tanpa menyadari suasana yang mendadak membeku. "Guntur, ini Afisa Anjani, Senior Associate yang memimpin tim di sini."
Guntur terdiam sejenak, matanya menatap Afisa lurus-lurus. Ada kilatan keterkejutan di sana, namun dengan cepat ia menetralisirnya. Ia mengulurkan tangan. "Lama tidak bertemu, Afisa. Mohon bimbingannya... Senior."
Afisa merasa dunianya seolah berputar. Ia melirik jam tangan pemberian Bintang di pergelangan kirinya. Detiknya masih berdetak, mengingatkannya pada janji yang baru saja ia buat. Namun, kehadiran Guntur di depannya seperti menariknya kembali ke reruntuhan masa lalu.
Citra yang berdiri di samping Afisa hampir saja menjatuhkan map di tangannya. Ia menatap Guntur dengan pandangan tidak percaya.
"Terima kasih, Pak Baskoro," Afisa menjawab dengan suara yang luar biasa tenang—suara yang ia latih selama bertahun-tahun. Ia tidak membalas jabatan tangan Guntur, melainkan hanya mengangguk profesional. "Silakan duduk, Guntur. Di tim saya, tidak ada ruang untuk masa lalu. Hanya ada ruang untuk fakta hukum dan kerja keras. Jadi, saya harap kamu bisa mengikuti standar yang saya tetapkan."
Guntur menarik kembali tangannya, sudut bibirnya sedikit berkedut. Untuk pertama kalinya, ia melihat Afisa yang tidak lagi menunduk di hadapannya.
Di saat yang sama, ponsel Afisa di saku blazernya bergetar. Sebuah pesan dari Bintang:
"sayang kamu sudah makan siang?aku baru saja keluar dari ruang operasi,semangat kerjanya cintaku love you more🤍🤍"
Afisa menggenggam ponselnya erat. Ekuilibriumnya baru saja dihantam badai besar. Bukan oleh jarak Jakarta-Semarang, tapi oleh kehadiran sosok dari masa lalu di wilayah kekuasaannya sekarang.
Sore itu, angin Semarang berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Afisa saat ia melangkah keluar dari pintu kaca lobi. Ia sudah bersiap untuk segera masuk ke mobil dan menenggelamkan diri dalam suara Mas Bintang lewat telepon, namun langkahnya tertahan.
Guntur berdiri di sana, tepat di samping pilar beton yang dingin. Matanya yang tajam menatap Afisa dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan lagi tatapan meremehkan seperti di kampus UI dulu, melainkan tatapan penuh beban.
"Fis," panggil Guntur pelan.
Afisa tidak berhenti. Ia terus berjalan menuju area parkir dengan langkah tegap, bunyi sepatu hak tingginya beradu dengan aspal. "Kalau ada urusan pekerjaan, simpan untuk besok jam delapan pagi, Guntur. Jam kantorku sudah selesai."
"Aku cuma mau bilang... terima kasih," sela Guntur, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di antara bising kendaraan. "Untuk bantuanmu dulu. Saat kamu masih jadi mahasiswi magang di firma Jakarta."
Afisa menghentikan langkahnya mendadak. Ia menoleh, menatap Guntur dengan raut wajah yang sangat datar. "Terima kasih untuk apa?"
"Aku tahu semuanya, Fis. Aku tahu draf pembelaan yang menyelamatkan karier bolaku dari tuntutan agensi itu adalah hasil kerjamu," Guntur melangkah mendekat, suaranya merendah. "Aku tahu kamu yang begadang di kantor pusat saat itu cuma buat mastiin aku nggak kena penalti besar, padahal saat itu... aku meninggalkanmu tanpa kepastian "
Afisa terdiam sejenak. Memorinya berputar kembali ke malam-malam sepi di kantor magangnya, saat ia menangis di depan layar monitor namun jemarinya tetap mengetik argumen hukum terbaik untuk menyelamatkan pria yang sedang membuangnya seperti sampah.
"Aku melakukan itu bukan karena kamu, Guntur," jawab Afisa, suaranya setenang air di permukaan namun sedingin es di dalamnya. "Aku melakukan itu karena aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku pengacara yang profesional. Bahwa rasa sakit pribadiku tidak boleh merusak keadilan hukum seseorang. Jadi, jangan merasa punya utang budi."
"Tapi kamu menyelamatkanku, Fis. Di saat semua orang menjauh karena kasus itu, kamu—yang paling aku sakiti—malah kamu yang berdiri paling depan " Guntur menatap Afisa dengan penyesalan yang nyata. "Aku tahu itu , dan melihatmu sekarang... aku baru sadar betapa pengecutnya aku dulu."
Afisa melirik jam tangan pemberian Mas Bintang di pergelangan kirinya. Detiknya terus berdetak, seolah memperingatkannya bahwa waktu untuk masa lalu sudah habis.
"Kalau kamu sudah sadar, baguslah. Setidaknya sekarang kamu tahu kenapa aku bisa berdiri di sini sebagai seniormu," Afisa membuka pintu mobilnya. "Tapi maaf, Guntur. Ucapan terima kasihmu datang di saat aku sudah tidak butuh lagi. Aku sudah punya 'rumah' yang jauh lebih hangat dari sekadar permintaan maafmu."
Afisa mengeluarkan ponselnya, mengabaikan Guntur yang masih terpaku. Ia mengetik balasan untuk Bintang dengan senyum yang akhirnya benar-benar tulus:
"Baru saja keluar kantor, Sayang. Tadi ada interupsi sebentar, tapi sekarang aku sudah di jalan pulang ke apartemen. Tunggu aku di telepon ya, Mas. I love you more than anything🤍"
Afisa melajukan mobilnya, meninggalkan Guntur yang berdiri sendirian di bawah bayangan gedung besar itu. Bagi Afisa, pengakuan Guntur adalah bukti bahwa ia telah benar-benar menang telak atas masa lalunya.