NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 34: "Pena Pertama: Pena Tahta di Langit Keempat"

​Fajar menyapa Kediri dengan semburat ungu yang tenang. Embun masih bergelantungan di pucuk daun-daun jati di belakang pesantren, menciptakan suasana yang begitu dingin sekaligus menyegarkan. Di dalam kamar, kehangatan justru terasa begitu nyata. Zain baru saja kembali dari masjid setelah memimpin zikir pagi, sementara Shania sudah menunggu dengan mukena putih bersihnya, duduk tenang di atas sajadah sambil memegang mushaf Al-Qur’an.

​Zain melepas sorbannya, menyisakan kopiah putih yang membingkai wajah teduhnya. Ia duduk di hadapan Shania, jarak mereka hanya terpisah oleh sebuah meja kayu kecil tempat meletakkan kitab.

​"Sudah siap?" tanya Zain dengan suara yang lembut namun terdengar tegas, khas seorang guru yang siap menyimak setoran muridnya.

​Shania mengangguk, meski ada sedikit rasa gugup yang selalu muncul setiap kali harus menyetor hafalan di depan suaminya.

"Insya Allah, Mas. Surah Thaha, kan? Surah setelah Maryam."

​"Benar. Surah yang membuat hati Umar bin Khattab yang sekeras batu pun luruh menjadi selembut sutra saat mendengarnya. Bacalah dengan tartil, Shania. Resapi setiap hurufnya, seolah-olah kamu sedang berbicara langsung dengan Sang Pemilik Kata."

​Shania menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan detak jantungnya. Kemudian, suaranya yang lembut dan jernih mulai mengalir, melantunkan ayat demi ayat dari surah ke-20 itu.

​"Thaha... Ma anzalna 'alaikal qur'ana litasyqa..."

​Zain menyimak dengan mata terpejam, kepalanya sedikit bergoyang mengikuti irama tilawah istrinya. Sesekali ia membenarkan makhraj atau panjang-pendek bacaan Shania dengan isyarat ketukan jari di atas meja. Ruangan itu terasa begitu penuh dengan keberkahan, seolah-olah malaikat ikut turun dan menaungi mereka berdua dalam lingkaran cahaya.

​Hampir setengah jam berlalu, Shania mengakhiri bacaannya dengan tashdiq. Ia menghela napas lega, wajahnya tampak berseri-seri.

​"Sadaqallahul 'adzim. Masya Allah, bacaanmu semakin baik, Shania. Ada ketulusan yang kurasakan di setiap ayat tentang Nabi Musa tadi," puji Zain tulus.

​"Terima kasih, Mas. Karena Mas yang mengajariku, aku jadi lebih paham kenapa surah ini begitu istimewa," balas Shania malu-malu.

"​Antara Pena dan Bintang-Bintang"

​Zain merapikan letak mushaf, lalu menatap Shania dengan binar mata yang penuh rahasia.

"Karena kamu sudah menuntaskan setoran pagi ini dengan sangat baik, maka sesuai janji, aku akan membawamu ke babak baru dalam sejarah manusia. Setelah era Syits berlalu, Allah mengutus sosok yang luar biasa. Manusia pertama yang mengenal tulisan, menjahit pakaian, dan mengerti tentang ilmu perbintangan."

​Shania langsung memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada pilar kayu di kamar mereka.

"Nabi Idris?"

​"Benar. Nabi Idris Alaihissalam. Beliau lahir di tanah yang kita kenal sekarang sebagai Mesir atau Babilonia. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai 'Akhnukh'. Namun, Allah memberinya gelar 'Idris' karena ketekunannya dalam belajar dan daras (mempelajari) kitab-kitab Allah."

​Zain bercerita sambil sesekali menggerakkan tangannya, seolah sedang menggambarkan luasnya langit.

"Bayangkan, Shania... di saat manusia lain mungkin masih mengenakan kulit binatang yang kasar dan tidak beraturan, Nabi Idris-lah yang pertama kali menemukan cara menjahit. Beliau memotong kain, menyatukannya dengan jarum, dan mengenakan pakaian yang rapi serta indah. Beliau mengajarkan bahwa menjadi hamba Allah itu juga harus bersih dan tertata."

​"Berarti, Nabi Idris itu seorang intelektual sejati ya, Mas?" sela Shania kagum.

​"Sangat intelektual. Beliau adalah orang pertama yang memegang pena. Beliau menuliskan wahyu Allah di atas lembaran-lembaran, menjaganya agar tidak hilang ditelan zaman. Tak hanya itu, Nabi Idris seringkali menatap langit di malam hari. Allah memberikan beliau pemahaman tentang nujum atau perbintangan—bukan untuk ramalan, melainkan untuk memahami luasnya ciptaan Allah dan menentukan waktu."

​Dakwah di Tengah Kaum yang Mulai Lalai.

​Zain merendahkan suaranya, menambah kesan serius dalam ceritanya.

"Namun, jalan dakwah Nabi Idris tidaklah mudah. Setelah generasi Syits wafat, sebagian manusia mulai kembali pada bisikan-bisikan jahat. Mereka mulai meninggalkan aturan Allah. Nabi Idris hadir dengan kekuatan fisik dan mental yang luar biasa. Beliau adalah nabi pertama yang melakukan jihad melawan keturunan Qabil yang gemar berbuat kerusakan."

​"Beliau diangkat menjadi nabi dalam usia yang matang. Allah memberinya 30 shuhuf. Dengan pena di satu tangan dan keberanian di tangan lainnya, beliau menyeru manusia untuk kembali menyembah Allah. Beliau tidak pernah lelah mengajar, menulis, dan menjahit—dan uniknya, setiap kali beliau menusukkan jarum ke kain, lidahnya tidak pernah berhenti berzikir: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah..."

​Shania menyentuh ujung lengan bajunya yang rapi.

"Setiap tusukan jarum adalah satu zikir... Masya Allah. Betapa berharganya setiap detik yang beliau miliki."

​"Itulah rahasia keberkahannya, Shania. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke tempat yang sangat tinggi. Para ulama menyebutkan bahwa beliau diangkat ke langit keempat. Saat Rasulullah melakukan Isra Mi'raj, beliau bertemu dengan Nabi Idris di sana. Idris adalah simbol dari tingginya derajat ilmu dan amal."

"​Belenggu Mahar: Antara Ilmu dan Kasih Sayang"

​Zain bangkit, lalu berjalan menuju jendela, melihat para santri yang mulai berlarian menuju sekolah diniyah. Shania mengikutinya, berdiri di samping suaminya yang kokoh.

​"Shania, aku ingin pernikahan kita seperti pena Nabi Idris," bisik Zain sambil menatap kejauhan. "Pena yang menuliskan kebaikan, pena yang menjaga janji, dan pena yang tidak pernah berhenti mencatat amal saleh. Aku memberimu mahar bukan untuk mengikat kebebasanmu, tapi untuk menuliskan sejarah baru bersamamu."

​Zain memegang tangan Shania, merasakan kehalusan kulit istrinya.

"Nabi Idris menjahit pakaian untuk menutup aurat manusia dan memperindah rupa mereka. Tugasku sebagai suamimu adalah 'menjahit' setiap kekuranganmu dengan kelebihanku, dan sebaliknya. Agar kita tampil sebagai pasangan yang indah di mata Allah."

​Hati Shania berdesir hebat. Setiap kata yang keluar dari lisan Zain terasa seperti air sejuk yang membasahi jiwanya.

"Aku, ingin belajar menjadi seperti itu, Mas. Menjadi pendamping yang selalu berzikir dalam setiap pekerjaan rumah tangga yang aku lakukan."

"​Kuis 'Pena dan Jarum'"

​Zain tersenyum, lalu menoleh ke arah Shania dengan tatapan yang mulai berubah jahil.

"Nah, karena setoran lancar dan materi Idrisiah sudah tersampaikan... ada satu kuis penutup sebelum aku berangkat ke kantor pengasuhan."

​Shania sudah siap lahir batin.

"Ayo, apa kuisnya?"

​Zain berdehem, suaranya dibuat-buat menjadi berat.

"Nabi Idris dikenal dengan kepandaiannya menulis dan menjahit. Pertanyaannya: Jika seandainya aku adalah selembar kain yang masih kasar dan berantakan, sementara kamu adalah jarum dan benangnya... bagian mana dari sifatku yang ingin kamu jahit paling pertama agar aku menjadi 'pakaian' yang paling nyaman untukmu?"

​Shania tertawa renyah, ia menarik sedikit ujung janggut tipis Zain dengan berani.

"Pertanyaan macam apa itu, Mas? Tapi baiklah... jika Mas adalah kain, aku akan menjahit bagian 'jahilmu' itu agar sedikit berkurang, lalu aku tambahkan hiasan 'romantis' di kerahnya supaya Mas tidak cuma bisa kuis, tapi juga bisa terus merayuku setiap hari seperti ini!"

​Zain tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.

"Wah, jawaban yang sangat berbahaya! Sepertinya aku harus belajar lebih banyak tentang 'ilmu perayuan' daripada 'ilmu perbintangan' kalau begini ceritanya."

​Ia menarik Shania ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih. Di bawah langit Kediri yang semakin terang, mereka berdua merajut komitmen yang lebih kuat. Sejarah para nabi bukan lagi sekadar dongeng sebelum tidur, melainkan napas dalam setiap langkah mereka.

​"Mari kita tulis bab selanjutnya dalam hidup kita dengan tinta ketaatan, Shania," bisik Zain.

​"Bersamamu, Mas... aku siap menulis hingga akhir zaman," jawab Shania lembut.

​Malam berganti pagi, dan di Pesantren Al-Ikhlas, sebuah kisah cinta baru sedang dijahit dengan rapi, setusuk demi setusuk, dalam balutan zikir dan rida Ilahi.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
Tri Rusmawati
sabarr zain...sabaarrr🤣🤣🤣
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Saniaa96: makasih udah suka. semoga ada manfaatnya. 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
total 1 replies
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!