NovelToon NovelToon
Kisah Sang Penguasa

Kisah Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Misteri
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.

Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Hasil Rampasan [REVISI]

​Wang Yan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, kali ini ia tidak memasang pengedap suara di dalam kamarnya karena telah kehabisan kertas segel.

Ia duduk bersila di atas ranjang kayu dan mengeluarkan seluruh hasil rampasan yang tadi ia simpan di cincin ruang perunggu. Satu per satu barang tersebut diletakkan di atas meja.

​Hasil jarahan kali ini jauh melampaui ekspektasinya. Dari pria berjubah hitam—tidak termasuk belati. Wang Yan mendapatkan ​7 Koin Emas, ​10 Batu Kristal Binatang Buas tingkat 1 kelas menengah, dan ​3 Butir Pil Pengumpul Spiritual tingkat 1 kelas tinggi.

​Sementara itu, barang milik Hong Jigong menunjukkan betapa Keluarga Hong memanjakannya dengan sumber daya; 12 Koin Emas, ​5 Batu Kristal Binatang Buas tingkat 1 kelas rendah, ​10 Butir Pil Pengumpul Spiritual tingkat 1 kelas tinggi, ​1 Ikat Rumput Semut Pengendali Aliran Energi Spiritual dan sebuah ​Plakat Giok yang menunjukan bahwa Hong Jigong anggota resmi keluarga.

​Wang Yan menatap tumpukan itu tanpa emosi yang berlebihan. Baginya, barang-barang ini hanyalah bahan bakar untuknya berkultivasi menggunakan Teknik Kultivasi Penipu Langit.

Perhatiannya tertuju pada batu kristal dan pil pengumpul spiritual. Total 13 pil pengumpul spiritual tingkat 1 kelas tinggi dan kristal binatang buas adalah jumlah energi spiritual yang masif, cukup untuk membuat kultivator biasa meledak jika dikonsumsi sekaligus.

​Wang Yan mulai menelan pil pengumpul spiritual satu per satu. Tangannya bergerak cepat, seolah sedang memakan camilan biasa. Begitu pil menyentuh perutnya, Teknik Kultivasi Penipu Langit langsung ia gunakan untuk mencabik-cabik cangkang energi pil tersebut, mengirimkan gelombang panas yang membakar ke seluruh pembuluh darahnya. Merampas keseluruhan khasiat yang terkandung di dalam pil.

​Keringat mulai bercucuran. Tubuh Wang Yan bergetar hebat. Ia bisa merasakan meridiannya meregang hingga ke titik batas, namun ia tidak berhenti. Setelah pil pengumpul spiritual habis, ia beralih ke batu kristal binatang buas. Ia menggenggam kristal itu, menggunakan teknik ekstraksi lalu merampas energi liar di dalamnya secara paksa hingga batu kristal binatang buas itu lenyap menjadi debu.

​Brakkk!

​Sebuah ledakan energi kecil terjadi di dalam Dantiannya. Udara di sekitar Wang Yan mendadak menjadi berat.

​Lautan Spiritual Lapisan Ketujuh!

​Hanya butuh waktu singkat untuk menembus lapisan tersebut, namun Wang Yan masih memiliki kristal tingkat 1 kelas menengah dan Rumput Semut. Ia tidak memberi jeda pada tubuhnya. Rumput semut itu ia telan mentah-mentah tanpa menyuling untuk mengendalikan aliran energi yang mulai mengamuk.

​Dengan kontrol mental yang tajam, ia mengarahkan sisa energi tersebut untuk mendobrak gerbang lapisan berikutnya. Rasa sakitnya berbeda daripada penerobosan kultivasi sebelum-sebelumnya. Kali ini seperti disayat ribuan pisau kecil dari dalam, namun Wang Yan tetap mempertahankan kesadarannya.

​Wushhh!

​Pusaran energi spiritual di dalam kamar itu perlahan mereda. Wang Yan membuka matanya, yang kini tampak lebih jernih dengan kilatan dingin yang lebih pekat. Ia mengembuskan napas panjang yang membawa keluar uap hitam sisa kotoran tubuhnya.

​Dalam satu sesi meditasi yang intens, ia telah melompati dua lapisan sekaligus. Ia kini berdiri tegak di Lautan Spiritual Lapisan Kedelapan, sejajar dengan tingkatan kultivasi Huo Ting. Namun, terdapat keprihatinan pada benaknya. Semakin tinggi kultivasinya, semakin banyak sumber daya yang ia perlukan.

​Wang Yan kembali mengingat betapa lemahnya ia saat di buru Harimau Perak di Hutan Kabut Awan. Dengan kultivasi yang telah meningkat pesat, ia percaya dapat sedikit menyaingi kecepatan binatang buas itu. Namun, ia masih membutuhkan hal lainnya. Yaitu sebuah teknik seni beladiri.

Tanpa sebuah teknik yang mumpuni, bukan sekedar teknik seni beladiri biasa, fondasi kultivasinya saat ini tidak akan berguna jika berhadapan dengan lawan yang setara dengannya, apalagi jika lawannya memiliki fondasi seni beladiri yang terasah... Sudah dipastikan ia kalah dalam pengalaman dan kemampuan seni beladiri.

Wang Yan keluar dari rumahnya, gerbang telah diperbaiki, meninggalkan Lin Yue yang sedang bermeditasi di dalam. Tujuannya kali ini adalah Paviliun Mahkota Xiong, surganya harta dan informasi di kota ini.

*.*.*.*.*.

Di luar, siang hari ini menandai hari pertama musim dingin. Meskipun salju belum turun, angin kering yang menusuk tulang mulai menyapu jalanan Kota Qingshi. Namun, suhu udara yang rendah tidak mampu mendinginkan suasana kota yang mendadak panas oleh satu rumor: terbunuhnya pengawal Keluarga Hong di tangan ahli lautan qi.

Rumor menyebar lebih cepat daripada api. Di kedai-kedai teh dan sudut pasar, orang-orang hanya membicarakan satu hal, bagaimana seorang pengawal Keluarga Hong tewas seketika dan Tuan Muda Ketiga mereka dibuat ompong di depan umum.

Huo Ting berjalan menyusuri jalan menuju kawasan perdagangan. Sepanjang jalan, ia menyadari perubahan sikap orang-orang. Para penduduk yang biasanya menyapa sekadarnya kini menunduk dalam atau menyingkir memberi jalan dengan tatapan penuh kengerian. Identitasnya sebagai penjual pakaian biasa telah hangus, digantikan oleh label Ahli Misterius yang mematikan.

Ia berhenti di depan sebuah toko kain besar milik Guang Ming. Ini adalah tempatnya mencari nafkah selama bertahun-tahun atas rekomendasi Wang Yan.

Begitu masuk, Guang Ming yang sedang menghitung pembukuan langsung mendongak. Wajahnya yang bulat seketika pucat pasi. Pena bulunya terjatuh, mengotori kertas dengan noda tinta hitam.

“Huo... Tuan Huo!” Guang Ming berdiri dengan kaki gemetar.

“Rumor itu... apakah benar? Pengawal Keluarga Hong... mati di tangan Anda?”

Huo Ting menarik napas panjang dan meletakkan sebuah bungkusan rapi di atas meja. “.... Aku datang untuk berpamitan, Tuan Guang. Mulai hari ini, aku akan berhenti bekerja di sini,” ucapnya tanpa basa-basi.

Guang Ming ternganga. Emosinya campur aduk antara rasa takut dan tidak percaya. “Berhenti? Tapi kenapa? Jika masalahnya adalah gaji, aku bisa...”

“Ini bukan soal uang,” potong Huo Ting tegas namun tenang.

“Kau tau, situasinya sudah berubah. Keberadaanku di sini hanya akan membawa masalah bagi tokomu. Walaupun terdapat hukum dinasti, Keluarga Hong tidak akan diam saja.”

Guang Ming terdiam, bahunya merosot. Ia tahu Huo Ting benar. Perselisihan dengan salah satu dari tiga keluarga besar di kota ini bukanlah sesuatu yang bisa ia hadapi. Setelah keheningan yang panjang, Guang Ming menghela napas.

“Aku mengerti. Tapi jujur saja, aku tidak menyangka selama ini aku mempekerjakan seorang naga di toko kecil ini,” ujar Guang Ming dengan nada getir sekaligus kagum.

“Terima kasih atas segalanya. Dan sampaikan salamku pada Sarjana Wang. Sejujurnya, jika bukan karena saran strateginya dalam mengelola stok barangku beberapa tahun lalu, toko ini sudah bangkrut sejak lama. Kalian berdua memang luar biasa.”

Huo Ting hanya mengangguk singkat, lalu obrolan pendek antara keduanya terjadi sebelum Huo Ting pamit keluar.

*.*.*.*.*.

Sementara itu, di kediaman besar Keluarga Hong yang terletak di sisi barat kota, suasana terasa mencekam. Anggota keluarga, para pelayan maupun ketiga penatua bergerak dalam diam, takut memicu kemarahan Patriark yang mimiliki otoritas terbesar.

Kabar mengenai Hong Jigong yang dihajar habis-habisan oleh Wang Yan telah sampai. Meski banyak anggota keluarga yang diam-diam merasa puas melihat si sombong Hong Jigong dipermalukan, mereka tetap merasa terhina. Bagi mereka, dipukul oleh seorang sarjana yang dianggap fana adalah tamparan keras bagi martabat keluarga.

Di salah satu paviliun utama, Patriark Hong Weigong duduk di kursi kebesarannya. Di depannya, laporan kematian pengawalnya tergeletak.

Hong Weigong tidak mengamuk seperti yang dibayangkan banyak orang. Ia justru terdiam, matanya menyipit menatap langit-langit.

Pengawal yang mati itu adalah praktisi Lautan Spiritual lapisan ketujuh, bukan orang kuat dan hanya seorang penjilat, tapi juga bukan sampah yang bisa dibunuh begitu saja tanpa perlawanan.

“Membunuh pengawalku di depan umum...” gumam Hong Weigong. Suaranya dingin.

Logika rasionalnya mulai bekerja. Jika Wang Yan dan pamannya berani bertindak sejauh itu, berani membunuh pengawal keluarganya di depan umum, artinya mereka pasti memiliki kartu tersembunyi lainnya.

Jika dia bergerak, ini akan memancing 2 keluarga besar lainnya untuk mencari tahu apa yang sedang direncanakannya, jika dia tidak bergerak, penghinaan ini tidak akan bisa diterima keluarganya.

“Wang Yan, oh Wang Yan... Kau kira aku akan takut dengan rencana yang sudah terbaca ini?”

...

1
BlueHeaven
*Seharusnya Hukum Dinasti
Ajipengestu
Lanjut💪
Author Lover's
Belum ngontrak ni thor?
BlueHeaven: makasih ya💪👋
total 3 replies
Nanik S
Wang Bo... apa lupa Ingatan
BlueHeaven: Bisa dikatakan seperti itu bang, ingatannya Feng Bo terpecah karena suatu hal yang akan di ceritakan alasannya dalam Arc besar.
total 1 replies
Nanik S
Hadir
BlueHeaven: Absen terus💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!