NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Tawanan di Balik Kemudi

Suasana di ruang makan belum mendingin, namun sang ibu sudah melancarkan serangan berikutnya. Dengan gerakan anggun, ia meletakkan serbet sutranya dan menatap Damian dengan tatapan yang tidak menerima penolakan.

"Damian, malam masih muda. Ibu ingin kau membawa Clarissa berkeliling kota. Gunakan Rolls-Royce Phantom baru yang kau beli bulan lalu. Biarkan Clarissa menikmati angin malam bersamamu," ucap ibunya dengan nada yang terdengar seperti perintah militer bagi Damian.

Damian meletakkan garpunya dengan dentingan keras. "Ibu, aku punya pekerjaan yang harus diselesaikan besok pagi. Ini sudah terlalu malam untuk sekadar jalan-jalan tanpa tujuan."

Ibunya perlahan mencondongkan tubuh ke depan, matanya berkilat berbahaya di bawah cahaya lampu kristal. "Damian Nicholas... apakah kau ingin Ibu menunjukkan padamu seberapa seriusnya Ibu dengan ancaman? Satu langkah kau membangkang, satu goresan di leher Ibu. Kau ingin mencobanya?"

Damian terdiam, rahangnya mengeras hingga otot-pelipisnya menonjol. Ia menatap ibunya dengan campuran amarah dan rasa tidak berdaya. Ia tahu wanita di depannya ini memiliki darah yang sama kerasnya dengan dirinya. Jika ia menolak, ibunya benar-benar sanggup melakukan tindakan nekat demi menjaga martabat perjodohan yang sudah ia rancang.

"B-baiklah," desis Damian, suaranya terdengar seperti geraman tertahan.

Clarissa tersenyum penuh kemenangan. Ia berdiri dan segera menggandeng lengan Damian, namun pria itu dengan kasar menarik tangannya kembali sebelum mereka sempat melangkah keluar.

"Jangan menyentuhku." ucap Damian dingin.

Damian mengemudikan mobil mewah itu dengan kecepatan yang membuat Clarissa sedikit ketakutan. Ia mencengkeram kemudi begitu kuat seolah-olah ingin mematahkannya. Di dalam pikirannya, hanya ada satu wajah: Selene.

"Damian, kenapa kau diam saja? Kau tampak sangat berbeda dari biasanya," tanya Clarissa mencoba mencairkan suasana. "Apa pertemuan dengan Roxxfe Corp tadi sore benar-benar menguras tenagamu? Ayahku bilang putrinya, Selene, juga ikut dalam rapat itu. Dia cantik, bukan? Tapi kudengar dia agak aneh karena suka menghabiskan waktu di tempat kumuh seperti panti asuhan."

Mendengar nama Selene disebut dengan nada meremehkan oleh Clarissa, Damian mendadak menginjak rem dengan paksa di pinggir jalan yang sepi.

Citttt!

Clarissa terlonjak ke depan, nyaris menabrak dasbor. "Damian! Apa yang kau lakukan?!"

Damian menoleh perlahan, matanya yang gelap kini tampak berkilat mengerikan di bawah lampu jalanan. "Jangan pernah menyebut namanya dengan nada seperti itu, Clarissa. Sekali lagi kau menghina apa yang ia lakukan, aku tidak akan peduli pada ancaman ibuku. Aku akan menurunkanku di sini dan membiarkanmu berjalan kaki pulang."

"K-kau membelanya?" Clarissa tergagap, tak menyangka reaksi Damian akan sesadis itu.

"Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya memperingatkanmu untuk tahu batasanmu," jawab Damian datar sambil kembali menjalankan mobilnya.

Namun, di dalam hati, Damian merasa muak. Ia merasa kotor duduk di samping Clarissa sementara jiwanya masih tertinggal di ruangan arsip yang gelap bersama Selene. Ia merasa seolah-olah ia sedang mengkhianati ciuman pertama yang baru saja ia dapatkan beberapa jam yang lalu.

Clarissa membuang muka ke arah jendela, bibirnya mengerucut sinis. Dalam hati, ia mengumpat habis-habisan. Jika bukan karena ambisinya untuk menyandang gelar Nyonya Nicholas dan menguasai setengah aset Nicholas Corp, ia tidak akan sudi duduk di samping pria yang lebih mirip bongkahan es berjalan ini. Baginya, Damian hanyalah tiket emas menuju puncak strata sosial, meski harus dibayar dengan tekanan mental setiap detiknya.

"Terserahlah," gumam Clarissa pelan, hampir tak terdengar. "Aku hanya berusaha ramah, Damian. Tidak perlu sekasar itu."

Damian tidak menyahut. Baginya, suara Clarissa hanya seperti kebisingan latar yang mengganggu. Ia terus memacu Rolls-Royce itu membelah jalanan kota yang mulai lengang. Namun, pikirannya benar-benar tidak berada di sana. Ia merasa seperti pecundang; seorang penguasa bisnis yang baru saja mencicipi bibir gadis impiannya, kini justru terjebak dalam sandiwara murahan karena ancaman ibunya.

Damian melirik ke arah Clarissa dengan tatapan yang sudah mencapai batas muak. Baginya, ancaman ibunya hanya berlaku untuk "membawa jalan-jalan", bukan "mengantar sampai depan pintu". Ia telah memenuhi syarat itu selama tiga puluh menit terakhir, dan sekarang, kesabarannya telah habis.

"Turun," ucap Damian singkat. Suaranya datar, namun mengandung perintah yang tak bisa dibantah.

Clarissa terbelalak, ia menoleh ke arah luar jendela yang hanya memperlihatkan deretan ruko kosong dan lampu jalan yang remang-remang. "Apa? Damian, kau bercanda? Ini di pinggir jalan sepi! Mana mungkin aku turun di sini?!"

"Aku tidak suka mengulang perintah, Clarissa," Damian menghentikan mobilnya dengan sentakan halus. Ia membuka kunci pintu otomatis. "Turun sekarang, atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar."

"Damian! Jika aku melapor pada ibumu—"

"Laporkan saja," potong Damian sambil menyeringai tipis, sebuah seringai yang sangat mengerikan. "Bilang padanya aku sudah membawamu jalan-jalan dengan mobil mewah ini. Soal kau pulang naik apa, itu bukan urusanku. Dan ingat peringatanku soal saham ayahmu."

Dengan wajah pucat dan penuh amarah, Clarissa menyambar tas mahalnya. Ia keluar dari mobil sambil menghentakkan kakinya yang terbalut high heels. Begitu kaki gadis itu menyentuh aspal, Damian langsung menginjak gas dalam-dalam, meninggalkan kepulan asap dan suara deru mesin yang angkuh.

Melalui spion tengah, Damian melihat sosok Clarissa yang mengecil di kejauhan, tampak panik meraba ponselnya. Sebuah senyum kemenangan tersungging di bibir Damian. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar bernapas.

"Jalang kecil yang berisik," gumamnya pelan. "Akhirnya udara di mobil ini kembali bersih."

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!