Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Adrian Kalandra Prayudha tidak pernah bermain-main dengan ancamannya. Baginya, bisnis adalah medan tempur, dan dalam perang, logistik adalah kunci untuk memenangkan segalanya. Begitu sampai di kantor pusat Prayudha Development & Property Group, ia langsung memanggil jajaran direksi keuangan dan tim legal untuk mengeksekusi rencana kotornya.
"Blokir semua akses pencairan dana untuk vendor material di bawah pengawasan Vara Interior Design & Atelier," perintah Andra dingin sembari menatap ke luar jendela lantai eksekutif. "Katakan pada mereka, ada audit internal mendadak. Tidak akan ada satu rupiah pun yang keluar sampai bos mereka, Isvara Kalandra, datang sendiri ke hadapan saya untuk menandatangani berita acara fisik di lokasi proyek."
Doni, asistennya, tampak ragu. "Tapi Tuan, jika dana vendor dibekukan, pengerjaan marmer dan instalasi interior di Bali akan terhenti total. Kita akan terkena penalti waktu yang sangat besar dari pihak investor."
"Biarkan saja!" Andra membanting map ke meja mahoninya. "Saya mau lihat, seberapa lama dia bisa bersembunyi di balik asisten-asistennya itu saat para vendor mulai mengepung kantornya. Dia ingin main kuasa? Saya tunjukkan siapa pemegang kuasa sebenarnya di proyek ini. Dia harus tahu, tanpa saya, menaranya akan runtuh."
Di kepala Andra, Isvara pasti akan menyerah dalam hitungan jam. Dia membayangkan Isvara akan meneleponnya dengan nada memohon, atau setidaknya muncul dengan wajah frustrasi. Andra merindukan momen di mana dia memegang kendali penuh atas wanita yang selalu menatapnya dengan tatapan merendahkan itu.
Kantor Vara Interior Design & Atelier: Tiga Jam Kemudian
Suasana di kantor Isvara mendadak kacau. Telepon di meja resepsionis tidak berhenti berdering. Para vendor marmer dari Italia dan pengrajin lokal mulai menuntut kejelasan pembayaran yang tiba-tiba tertahan di sistem Prayudha Group. Kabar mengenai "audit" itu menyebar seperti api di musim kering, mengancam kredibilitas yang Isvara bangun dengan susah payah.
"Sinta, ini gila! Tuan Andra benar-benar memutus aliran dana kita," lapor Rima dengan wajah tegang, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Vendor marmer mengancam akan menarik kembali material yang sudah sampai di pelabuhan jika tidak ada kepastian pembayaran sore ini. Mereka pikir kita yang bermasalah secara finansial!"
Sinta mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tahu ini adalah pancingan yang sangat rendah dari Andra. "Dia ingin Ibu keluar. Dia tahu hanya tanda tangan basah Ibu di lokasi yang bisa membuka blokir itu secara hukum."
Sinta segera menghubungi apartemen Isvara melalui jalur privat. Di sana, Isvara sedang mencoba menstabilkan detak jantungnya dengan bantuan oksigen kaleng. Saat mendengar laporan Sinta melalui loudspeaker, sorot mata Isvara yang tadinya sayu mendadak berubah menjadi setajam silet. Penyakitnya mungkin melemahkan fisiknya, tapi tidak dengan otak bisnisnya.
"Jadi dia memakai cara kotor ini?" bisik Isvara. Suaranya terdengar sangat tenang, namun ada getaran otoritas yang mematikan di sana. "Dia menyerang titik terlemah seorang arsitek: reputasi terhadap vendor."
"Ibu jangan berangkat. Biar saya dan tim hukum yang ke sana menghadapi Tuan Andra," cegah Sinta dengan nada memohon.
"Tidak bisa, Sinta," Isvara berdiri perlahan, meskipun kepalanya terasa sedikit berputar dan dadanya terasa seperti ditekan beban berton-ton. "Andra tahu celah hukumnya. Berita acara fisik harus ditandatangani oleh Lead Designer agar valid di mata bank. Jika aku tidak datang, reputasi Vara Atelier akan hancur. Aku tidak akan membiarkan dia menang sesederhana itu. Rima, siapkan baju kerjaku. Yang paling formal. Dan poles wajahku dengan makeup terbaik. Jangan biarkan ada satu celah pun bagi mereka untuk melihat bahwa aku sedang sekarat."
Lokasi Proyek: Site Office Prayudha, Pukul 15.00 WIB
Andra berdiri di balkon kantor lapangan yang menghadap langsung ke area pembangunan resort mewah itu. Ia menyesap kopinya, menunggu dengan penuh kemenangan. Ia berekspektasi Isvara akan datang dengan wajah lelah, pucat, dan menyerah pada keadaan.
Namun, ekspektasi Andra hancur berantakan saat sebuah SUV hitam berhenti tepat di depan kantor lapangan. Isvara keluar dari mobil dengan langkah yang sangat anggun dan stabil. Ia mengenakan setelan blazer berwarna merah marun yang tajam, dipadukan dengan kacamata hitam besar yang menutupi matanya yang lelah. Lipstik merah menyala menghiasi bibirnya, memberikan kesan kuat bahwa wanita ini sedang berada di puncak kejayaannya.
"Ternyata dia memang benar-benar berbohong semalam." batin Andra dengan rasa sinis yang semakin menguat. Lihatlah dia, tampak segar bugar dan sangat angkuh. Maya benar-benar tertipu oleh drama 'kesakitan' yang dia buat hanya untuk mencari simpati.
Isvara melangkah masuk ke ruangan rapat Andra ditemani Sinta dan Rima yang hanya berdiri di pintu ruang. Setiap ketukan sepatunya di lantai beton terdengar seperti irama perang yang tenang.
"Buka blokirnya sekarang, Adrian. Jangan kekanak-kanakan dengan menyandera vendor hanya karena egomu sedang terluka," ucap Isvara tanpa basa-basi, suaranya terdengar kuat dan penuh penekanan.
Andra berbalik, tersenyum merendahkan. "Ah, akhirnya sang ratu keluar dari sarangnya. Ternyata hanya butuh sedikit gertakan finansial untuk membuatmu ingat kalau kamu masih punya kewajiban profesional di bawah nama Prayudha."
Isvara mendekat ke meja rapat, meletakkan tabletnya dengan suara yang cukup keras. "Tanda tangan mana yang kamu butuhkan? Cepat, saya tidak punya waktu untuk meladeni permainan tidak profesional seperti ini."
Andra tidak segera memberikan dokumen itu. Ia justru melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Isvara bisa mencium aroma parfum maskulin Andra yang dominan. "Saya akan membuka blokir ini, semua vendor akan dibayar detik ini juga, tapi dengan satu syarat."
Isvara menaikkan sebelah alisnya di balik kacamata hitam. "Syarat apa lagi?"
"Ikut saya pulang ke rumah sekarang. Kita bicara berdua, tanpa asisten-asistenmu yang bermulut tajam itu, dan tanpa gangguan pekerjaan. Hanya kita berdua. Jika kamu menolak, blokir ini akan saya permanenkan hingga audit selesai yang mungkin memakan waktu satu bulan," ucap Andra dengan nada mengancam yang halus.
Sinta dan Rima yang berdiri di pintu langsung menegang. Sinta langsung mendekat ke arah Isvara dan melirik tajam ke arah Andra yang saat ini tersenyum culas ke Sinta. "Bu, jangan. Ini jebakan," bisik Sinta khawatir.
Isvara terdiam sejenak. Ia merasakan jantungnya memberikan denyut peringatan yang perih, namun ia tahu reputasi perusahaannya sedang dipertaruhkan. Ia menatap Andra dengan dingin. "Baik. Saya ikut. Sinta, Rima, kalian kembali ke kantor. Pastikan vendor menerima notifikasi pembayaran begitu saya memberi tanda. Saya akan menyelesaikan ini dengan Tuan Adrian secara pribadi."
"Ibu..." Rima mencoba memprotes, namun tatapan Isvara membungkamnya.
"Ini perintah kalian Pergi ke kantor sekarang dan urusan kantor saya serahkan ke kalian dulu," tegas Isvara.
Andra tersenyum puas, merasa menang. Ia segera memberikan instruksi pada tim keuangan untuk memproses pembayaran sebagai jaminan awal. "Pilihan yang cerdas, Istriku. Ayo, mobil saya sudah siap."
Andra berjalan mendahului dengan langkah penuh kemenangan, tidak menyadari bahwa Isvara harus mengambil napas dalam-dalam secara diam-diam hanya untuk bisa melangkah mengikutinya menuju mobil. Perang sesungguhnya baru saja dimulai di balik pintu rumah mereka.
Aku sesak Isvara...