NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 19 Aku Pembawa Sial

Bara menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya saat suara Siska melengking di seberang telepon, memecah keheningan koridor rumah sakit yang dingin.

​"Kak Bara, Kok rumah sepi banget kayak kuburan? Disini cuma ada Bi Sumi," tanya Siska. Suaranya terdengar bergema, mungkin ia sedang berdiri di tengah ruang tamu mereka yang mendadak terasa terlalu luas.

​"Lagi pada di rumah sakit," jawab Bara pendek, matanya menatap nanar ke arah pintu ICU yang tertutup rapat.

​"Lho? Siapa yang sakit?" Siska menyambar cepat, nadanya berubah panik.

​"Papah. Sekarang lagi dirawat, baru saja dipindahkan ke ICU."

​Keheningan sejenak tercipta di ujung telepon sebelum Siska berseru tak percaya, "Kok bisa? Tiba-tiba banget, Kak! Tadi pagi aku pergi sama Papah masih sehat-sehat aja. Enggak mungkin kalau tiba-tiba drop begitu!"

​Bara memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Ia tidak punya energi untuk menjelaskan rentetan pertikaian yang menjadi pemicu semua kekacauan ini. "Sudah, jangan banyak tanya dulu. Kalau kamu memang mau tahu yang sebenarnya, langsung aja ke Rumah Sakit Medika. Nanti aku ceritakan semuanya," pungkasnya, menutup pembicaraan sebelum adiknya itu sempat melayangkan protes lain.

Panggilan terputus, Bara segera masuk ke dalam ruangan ICU VIP itu terasa begitu menyesakkan saat Bara melangkah masuk. Bunyi beraturan dari monitor jantung menjadi satu-satunya suara yang mengisi kesunyian, mengiringi tubuh Baskoro yang masih terbaring kaku, belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman.

Di sekitar brankar, wajah-wajah cemas tampak membeku, menanti sebuah keajaiban kecil dari balik kelopak mata yang tertutup rapat itu.

​Reno, yang sedari tadi hanya bisa menebak-nebak dalam diam, menoleh saat menyadari kehadiran Bara.

Rasa penasaran jelas terpancar dari sorot matanya; ia masih tidak habis pikir bagaimana sosok setangguh Om Baskoro bisa dilarikan ke rumah sakit secara mendadak hingga harus berakhir di ruang intensif seperti ini.

​"Bar, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Reno dengan suara rendah, nyaris berbisik agar tidak mengusik ketenangan semu di ruangan itu.

​Bara hanya menatap lurus ke arah sang papah, rahangnya mengeras sesaat sebelum ia menjawab dengan nada datar yang berusaha ia jaga. "Cuma perdebatan kecil, Ren. Masalah biasa," ucapnya singkat, memberikan jawaban yang sebenarnya tidak menjelaskan apa-apa.

​Reno tertegun sejenak. Ia tahu ada sesuatu yang lebih besar di balik kata "perdebatan kecil" itu, namun ia cukup bijak untuk menarik diri. Menyadari bahwa ada garis pembatas yang tidak seharusnya ia langkahi, Reno hanya mengangguk pelan tanpa bertanya lebih jauh. Ia paham betul bahwa ini adalah urusan internal keluarga mereka.

Suasana yang semula mau tenang, tiba mendadak memanas ketika sebuah suara ketus memotong ucapan Bara. "Perdebatan kecil katamu? Perdebatan kecil apa yang nyaris menghilangkan nyawa papahmu!" sahut Nyonya Sarah dengan nada tajam yang menyayat.

​Renata yang berdiri tak jauh dari sana, merasakan dadanya sesak mendengar sindiran itu. Ia mencoba membela diri dengan suara gemetar, "Ma, nggak boleh berkata seperti itu."

​"Apa urusannya sama kamu?!" potong Nyonya Sarah kasar, matanya menatap Renata dengan pandangan menghina.

 "Kamu di sini itu cuma orang asing yang masuk ke keluarga ini. Jangan merasa punya hak untuk bicara atau ikut campur!"

​Kalimat itu menghujam tepat di ulu hati Renata, membuatnya terdiam seribu bahasa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa sakit hati merambat cepat, lebih perih daripada tamparan fisik sekalipun.

​Reno yang sejak tadi memperhatikan dengan kening berkerut akhirnya angkat bicara. "Sudah, jangan ribut di sini. Ini ruang ICU, Om Baskoro butuh ketenangan," tegurnya dengan suara rendah namun tegas.

​Nyonya Sarah mendengus, tidak mau kalah sedikit pun. "Siapa juga yang mau ribut? Aku cuma malas melihat anakku harus menanggung beban terus gara-gara istrinya itu. Pembawa sial!"

​Bara tidak tahan lagi. Wajahnya menggelap mendengar hinaan terang-terangan ibunya kepada sang istri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyambar pergelangan tangan Renata dan menariknya keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar, meninggalkan ketegangan yang masih menyala di balik pintu ICU yang tertutup rapat.

Bara menarik Renata hingga beberapa meter jauhnya dari pintu ICU, berhenti di sebuah sudut koridor yang remang dan sepi. Cengkeraman tangannya perlahan melonggar, namun napasnya masih memburu, menahan amarah yang tertahan di kerongkongan.

​Renata berdiri mematung, menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Bahunya bergetar kecil, dan suara isakan yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga. Di bawah pendar lampu koridor yang pucat, air matanya jatuh membasahi lantai ubin yang dingin.

​"Sampai kapan, Mas?" tanya Renata dengan suara serak yang nyaris hilang. "Sampai kapan aku harus jadi 'orang asing' di keluarga kamu? Sampai kapan aku harus jadi orang pertama yang disalahkan setiap kali ada napas yang tersedak di keluarga ini?"

​Bara terdiam, rahangnya mengeras. Ia ingin merengkuh istrinya, namun bayangan wajah ibunya yang penuh kebencian dan ayahnya yang terbaring kritis di dalam sana seolah menjadi dinding kaca yang menghalangi geraknya.

​"Mamah cuma lagi panik, Ren. Dia tidak bermaksud—"

​"Dia bermaksud, Mas! Mamah sangat sadar dengan apa yang barusan di ucapkan!" Renata mendongak, matanya merah dan basah, menatap Bara dengan tatapan yang hancur.

"Mamah menyebutku pembawa sial. Dan yang lebih menyakitkan adalah... kamu hanya diam di sana, menarikku keluar seolah-olah aku memang aib yang harus disembunyikan."

​Koridor itu mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya. Pertanyaan Renata menggantung di udara, menuntut jawaban yang Bara sendiri tidak tahu apakah ia sanggup memberikannya tanpa menyakiti salah satu pihak.

Bara mengembuskan napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melangkah mendekat, namun alih-alih memberikan pelukan, ia justru berucap dengan nada yang terdengar begitu enteng, seolah rasa sakit hati istrinya hanyalah gangguan kecil.

​"Ya sudah, jangan dimasukkan ke hati, Ren. Kamu tahu sendiri kan sifat Mamah kalau lagi panik memang begitu? Anggap saja angin lalu," ujar Bara, suaranya terdengar lelah dan tidak mau ambil pusing.

​Renata tertegun, langkahnya mundur selangkah. Ia menatap suaminya dengan tatapan tak percaya, seakan-akan pria di depannya ini baru saja mengkhianatinya.

​"Gimana nggak dibawa ke hati, Mas?" suara Renata naik satu oktav, bergetar hebat karena emosi yang meluap.

"Kalimat itu keluar dari mulut ibu mertuaku sendiri di depan Reno, di depan kamu, Mas. Mamahmu bilang aku pembawa sial! Mas pikir deh... hati aku ini terbuat dari batu yang nggak akan retak kalau dihantam kata-kata sekasar itu?"

​Renata mengusap air matanya dengan kasar, namun bulir bening itu terus jatuh tanpa bisa dibendung. "Gampang banget Mas bilang 'jangan dimasukkan ke hati' karena bukan Mas yang ditunjuk-tunjuk sebagai penyebab Papah kritis. Mas nggak paham, atau memang sengaja nggak mau paham betapa hancurnya aku sekarang?"

​Bara terpaku, baru menyadari bahwa kalimat yang ia maksudkan untuk menenangkan justru menjadi belati yang mengiris luka Renata semakin dalam. Ia hendak menyahut, namun lidahnya terasa kelu saat melihat binar kekecewaan yang begitu besar di mata istrinya.

Bara mengembuskan napas panjang, tidak ingin memperpanjang perdebatan di koridor yang mulai dilewati beberapa perawat. Ia memegang kedua bahu Renata, meski tatapannya tak lagi sedalam biasanya.

​"Ya sudah, nanti aku omongin baik-baik sama Mamah. Sekarang kamu jangan terlalu berpikiran aneh-aneh. Aku cuma minta itu doang, tolong bantu aku untuk tenang sedikit," ucap Bara dengan nada yang lebih menyerupai perintah halus daripada sebuah bujukan.

​Renata hanya bisa mengangguk lemah, meski dadanya masih terasa sesak oleh kata-kata yang belum sempat ia tumpahkan. Ia tahu, berdebat dengan Bara saat ini hanya akan sia-sia.

​"Ayo, masuk sebentar. Kita pamit dulu, setelah itu kita pulang buat tenangin pikiran kamu," ajak Bara sambil menuntun Renata kembali ke dalam ruangan ICU VIP nomor 02.

​Langkah mereka terasa berat saat kembali memasuki ruangan yang sunyi itu. Bara menghampiri Nyonya Sarah yang masih duduk tegang di samping brankar.

​"Mah, Bara pulang dulu sebentar ya. Mau antar Renata istirahat dulu, nanti Bara ke sini lagi," pamit Bara pelan. Nyonya Sarah hanya mendengus tipis tanpa menoleh sedikit pun, tangannya masih sibuk mengusap kening Baskoro yang belum sadarkan diri.

​Bara kemudian beralih ke arah Reno yang berdiri di sudut ruangan. "Ren, titip orang tuaku dulu ya. Kabari kalau ada perkembangan apa pun dari kondisi papah."

​Reno mengangguk santai, menepuk bahu Bara sekilas seolah memberi dukungan moral. "Santai saja, Bar. Beres itu, biar gue aja yang nemenin tante Sarah di sini."

​Bara mengangguk singkat, lalu dengan cepat membimbing Renata keluar dari ruangan itu, meninggalkan aroma obat-obatan dan ketegangan yang masih pekat tertinggal di udara.

Tepat di pintu otomatis lobi utama yang berhembus dingin, langkah Bara dan Renata terhenti. Sesosok perempuan dengan napas terengah-engah baru saja muncul dari arah pintu masuk.

​"Kak!" panggil Siska, suaranya sedikit bergema di langit-langit lobi yang tinggi. Ia menghampiri mereka dengan raut wajah yang masih menunjukkan sisa-sisa kepanikan. "Ini kalian mau ke mana?"

​Bara hanya melirik sekilas, tangannya masih menggandeng lengan Renata dengan erat seolah ingin segera pergi dari sana. "Mau cari makan dulu sebentar," jawabnya singkat tanpa berhenti melangkah.

​Siska sempat tertegun melihat wajah Renata yang sembab dan mata merahnya sisa tangisan, namun ia tidak berani bertanya lebih jauh melihat aura dingin yang terpancar dari kakaknya. "Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan," jawab Siska pelan sambil menepi, membiarkan mereka berdua melangkah keluar menuju pelataran parkiran kendaraan.

Sepanjang perjalanan menuju parkiran, keheningan di antara mereka terasa jauh lebih menyesakkan daripada suara mesin medis di ICU tadi. Bara membukakan pintu mobil untuk Renata tanpa sepatah kata pun, lalu ia sendiri memutar dan duduk di balik kemudi.

​Mobil pun meluncur membelah jalanan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan menyinari wajah Renata secara bergantian, memperlihatkan jejak air mata yang mengering di pipinya. Ia hanya menyandarkan kepala pada kaca jendela, menatap kosong ke arah deretan ruko dan warung.

​"Mas..." panggil Renata lirih, memecah kesunyian yang hampir membeku.

​Bara tidak menoleh, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan gelisah. "Sudahlah, Ren. Kita bicarakan ini setelah sampai di rumah. Mas lagi capek, terus aku nggak mau bahas soal ini sambil nyetir," potong Bara dingin.

​Renata kembali bungkam. Kalimat itu seolah menjadi palu yang memaku bibirnya rapat-rapat. Ia merasa, bahkan di dalam ruang privat mobil mereka sendiri, suaranya tetap tidak memiliki tempat. Sementara itu, di dalam kepalanya, suara Nyonya Sarah yang menyebutnya "pembawa sial" terus bergema seperti kaset rusak, merobek sisa-sisa harga diri yang ia miliki.

​Mobil terus melaju kencang, membawa mereka kembali ke rumah yang kini terasa seperti penjara yang sangat dingin bagi Renata. Begitu mobil berhenti di depan teras rumah, Renata segera turun dengan langkah gontai, seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis di rumah sakit. Bara mengekor di belakang, wajahnya masih tampak kaku dan penuh beban pikiran.

​Saat mereka melangkah masuk melewati pintu utama, Bi Sumi yang sedang membereskan peralatan makan di area dapur langsung menoleh dan menghampiri mereka.

​"Pak Bara, baru pulang?" sapa Bi Sumi dengan nada sedikit ragu.

"Tadi pas Bapak nggak ada, ada yang datang ke rumah cari Bapak."

​Bara menghentikan langkahnya, keningnya berkerut dalam. "Siapa, Bi?" tanyanya singkat.

​"Perempuan, Pak," jawab Bi Sumi polos.

​Seketika itu juga, suasana di ruang tengah mendadak membeku. Renata, yang tadinya ingin segera naik untuk ke kamar, kini ia mematung dengan wajah yang berubah tegang. Matanya melirik tajam ke arah suaminya, mencari jawaban atas apa yang tiba-tiba muncul di tengah badai masalah keluarga mereka.

​Bara sendiri tampak terkejut, ada sebuah kecemasan yang melintas di matanya selama sepersekian detik. "Terus... Bibi bilang apa ke dia?" tanya Bara dengan suara yang sedikit tertahan.

​"Saya bilang Pak Bara lagi sibuk, ada urusan kantor mendadak. Jadi orangnya langsung pergi lagi," jelas Bi Sumi sembari melanjutkan pekerjaannya.

​Bara mengembuskan napas panjang, sebuah embusan napas yang penuh dengan rasa syukur yang sangat kentara. "Syukurlah kalau begitu," gumamnya lirih, seolah baru saja lolos dari lubang jarum.

​Namun, ia lupa bahwa Renata masih berdiri di sana, mengamati setiap inci ekspresinya dengan perasaan yang semakin hancur. Kalimat "syukur" yang keluar dari mulut Bara justru menciptakan lubang baru di hati Renata; sebuah kecurigaan yang kini mulai berkecambah di antara rasa sakit hatinya yang belum sembuh.

Renata mendadak berbalik. Rasa sakit hati akibat makian mertuanya seolah tergeser oleh gelombang kecurigaan yang lebih panas. Ia melangkah mendekati Bara, menatap suaminya lekat-lekat dengan mata yang masih sembab.

​"Siapa, Mas?" tanya Renata dingin, suaranya terdengar tajam di tengah kesunyian ruang tamu.

​Bara menoleh dengan wajah tanpa dosa, meskipun gestur tubuhnya tampak sedikit gelisah. "Siapa apa? Kenapa sih, Ren?" jawabnya datar, mencoba bersikap seolah tidak ada yang aneh.

​Renata tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan. "Oh... kamu tiba-tiba amnesia? Itu tadi, perempuan yang nyariin kamu ke rumah. Siapa dia? Kayaknya dia kangen banget sama kamu sampai nekat datang ke rumah begitu."

​Wajah Bara seketika berubah keruh. Ia merasa seolah dunia sedang berkonspirasi untuk menyudutkannya hari ini. Papahnya di ruang ICU, mamahnya mengamuk, dan sekarang istrinya mulai menginterogasi hal yang menurutnya tidak penting.

​"Apa sih, Ren! Udah, deh, aku lagi pusing banget," potong Bara kasar, suaranya meninggi satu nada. Ia mengibaskan tangan dengan kesal. "Dikit-dikit kamu ungkit, dikit-dikit dicurigai. Bisa nggak sih satu malam saja kamu nggak usah curigaan?"

​Bara memalingkan wajah, menghindari tatapan Renata yang menuntut penjelasan. Sementara itu, di sudut dapur, Bi Sumi hanya bisa tertunduk dalam, pura-pura sibuk dengan kain lapnya, tidak berani bernapas terlalu keras di tengah ketegangan majikannya yang baru saja pecah kembali.

"Mas!" seru Renata, suaranya melengking memecah keheningan rumah, namun Bara sama sekali tidak menoleh.

​Pria itu melangkah lebar menaiki anak tangga satu demi satu dengan rahang yang mengeras, seolah-olah suara istrinya hanyalah gangguan bising yang harus segera ia tinggalkan. Sikap abainya itu justru membakar emosi Renata yang sudah di ujung tanduk. Dengan sisa tenaga yang ada, Renata bergegas menyusul, langkahnya beradu cepat dengan derap kaki Bara di atas lantai yang terasa dingin.

Bara berhenti mendadak di tengah tangga, membuat Renata nyaris menabrak punggungnya. Pria itu berbalik dengan wajah yang merah padam, urat di lehernya terlihat menegang.

​"Mas! Kok malah kamu yang marah-marah begitu? Aku ini cuma tanya, lho!" seru Renata, suaranya gemetar antara emosi dan ingin menangis lagi.

"Ada perempuan sampai berani nyamperin ke rumah, dan kamu bukannya jelasin malah marah begitu. Siapa dia, Mas? Aku cuma butuh—"

​Bara menggeram, ia mengacak rambutnya dengan kasar sampai berantakan. "Bisa diam nggak, Ren?! Cukup!" bentaknya, kali ini suaranya menggelegar di lorong lantai atas yang sepi.

​Renata tersentak, langkahnya mundur satu pijakan tangga karena kaget. "Kenapa kamu bentak aku? Aku cuma tanya—"

​"Tanya, tanya, tanya! Terus aja begitu!" potong Bara dengan napas memburu. Ia melangkah maju, memojokkan Renata ke arah pegangan tangga. "Papahku lagi sekarat di ICU, ibuku habis maki-maki aku karena kamu, dan sekarang aku sampai rumah cuma mau istirahat! Tapi apa? Kamu malah menambah beban pikiranku dengan kecurigaan yang tidak jelas!"

​Bara menunjuk ke arah lantai bawah dengan jari gemetar. "Demi Tuhan, Ren, aku nggak tahu itu siapa! Mungkin orang kantor, mungkin orang salah alamat, pokonya aku nggak peduli dia itu siapa! Tapi kamu? Malah lebih milih ngeributin orang nggak jelas itu daripada mikirin gimana pusingnya jadi aku sekarang?"

​"Tapi Mas, reaksi kamu tadi lega banget pas Bibi bilang dia sudah pergi, itu apa maksudnya?" tanya Renata, air matanya mulai luruh lagi.

​"Ya iyalah aku lega! Karena aku nggak mau tambah pusing kalau ada tamu nggak diundang di saat keadaanku lagi kacau begini!" Bara berteriak tepat di depan wajah Renata, membuat istrinya itu terpejam ketakutan. "Kamu itu egois, tahu nggak? Semua harus tentang perasaan kamu, harus tentang kecurigaan kamu. Masuk ke kamar sekarang, atau aku yang pergi dari rumah ini sekalian biar kamu puas!"

Di tengah suasana panas yang nyaris meledak itu, getaran kuat tiba-tiba terasa dari saku celana Bara, memutus kalimat ketus yang hendak ia lontarkan. Sebuah panggilan suara masuk, memicu bunyi dering yang terasa begitu nyaring dan mengganggu di antara sisa gema bentakannya. Bara terdiam sejenak, napasnya masih memburu saat ia merogoh ponselnya, namun begitu melihat deretan angka tanpa nama yang berkedip di layar, raut wajahnya mendadak berubah pucat dan amarahnya menguap seketika, digantikan oleh sorot mata penuh kegelisahan yang membuat Renata terpaku dalam kebingungan.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!