Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolong Candra
"Sepertinya bapak ada masalah berat" ucap Ghaffar, pak Anwar mengangguk
"Nak, bisa bantu bapak?" tanya pak Anwar
"Kalo Ghaffar mampu, Ghaffar pasti bantu bapak. Cerita saja pak.." jawab Ghaffar datar, pak Anwar yang sudah mengenal Ghaffar. Tak tersinggung sama sekali, karena memang seperti itulah seorang Ghaffar.
"Apa ini ada hubungannya dengan Candra?" tanya Ghaffar, Candra adalah putra satu-satunya pak Anwar. Anak itu berusia 6 tahun, tentu Ghaffar mengenalnya.
"Iya, Candra... dia berubah, perilakunya aneh. Setiap kali di tanya, ia hanya diam. Fokus dengan buku gambarnya, selalu menggambar hal yang sama. Tidak mau makan, hanya duduk diam di kamarnya." jawab pak Anwar
"Sejak kapan?" tanya Ghaffar
"Sudah 2 hari" Ghaffar menghembuskan nafas panjang
"Kenapa bapak baru bilang sekarang, itu artinya sudah 2 hari juga Candra tidak makan dan tidur kan?" pak Anwar mengangguk
"Tadinya bapak tak ingin merepotkan nak Ghaffar, karena bapak sudah banyak merepotkan nak Ghaffar. Bapak sudah memanggil seorang ustad, tapi dia tak tau apa penyebab nya. Akhirnya, bapak harus kembali merepotkan nak Ghaffar. Maaf nak..." Ghaffar menggelengkan kepalanya
"Ya sudah, kita ke rumah bapak sekarang." Ghaffar berdiri, seraya menyimpan Al-Qur'an mini miliknya di meja. Tak ada yang bisa menempatinya, karena itu memang tempat yang di khusus kan untuknya.
"Apa nak Ghaffar tak lelah?" Ghaffar menggelengkan kepalanya
"Sekalian Ghaffar mampir ke kosan pak, ada perlu dengan mang Usep." pak Anwar mengangguk, ia pun mengikuti Ghaffar
.
.
"Saya ke kosan dulu sebentar ya pak, bapak ikut masuk atau..
"Bapak ke rumah duluan ya nak, takutnya ibu menunggu." Ghaffar mengangguk
"Iya pak, nanti saya menyusul." pak Anwar pun pamit, Ghaffar masuk ke dalam kosan
"Nak Ghaffar" sapa mang Usep, yang sedang membersihkan daun-daun yang berjatuhan di atas tanah.
"Assalamu'alaikum mang" Ghaffar mencium punggung tangan penjaga kos, bagaimana pun beliau lebih tua darinya. Usianya mungkin, lebih tua juga dari pak Anwar.
"Wa'alaikum salam nak, tangan bapak kotor itu nak," ucap mang Usep
"Nggak apa-apa mang, oya mang... Akbar udah bilangkan, kalo sebentar lagi ada yang nempatin kamar dekat dapur." ucap Ghaffar
"Sudah sudah nak, mamang juga sudah bersihkan kamarnya. Sudah mamang simpan kipas angin, kasur dua sama, lemari sama meja belajar. Pokonya mah sudah siap semua, siap di tempati." jawab mang Usep
"Alhamdulillah, sukur atuh kalo gitu. Ghaffar titip ini buat ceu Imah ya, buat beli keperluan sekolah Anggita." Ghaffar memberikan beberapa lembar uang biru pada mang Usep, mang Usep terkejut dan menolaknya.
"Nak Ghaffar, mamang kan sudah terima gaji setiap bulan. Bagaimana mungkin mamang bisa menerima uang ini, insya Allah gaji dari nak Ghaffar cukup." tolak mang Usep, ia benar-benar bersyukur bisa bekerja dengan Ghaffar. Hidupnya yang tadi susah, kini sudah jauh lebih baik. Yang tadinya, hanya bisa makan satu kali sehari. Atau bahkan hanya putrinya saja yang makan, tapi sekarang... Alhamdulillah, mereka bisa makan 3x sehari. Tak harus membayar uang sewa, mendapatkan gaji setiap bulan.
"Mang, jangan nolak rejeki. Pamali kata ibu saya juga, ini rejeki buat Anggita. Kalo gitu, Ghaffar mau ke rumah pak Anwar dulu ya mang. Ada perlu.." Ghaffar memaksa mang Usep menerima uangnya, sehingga mang Usep pun menerima uang tersebut.
"Jazakallah nak, semoga setiap kebaikan nak Ghaffar akan kembali lagi pada nak Ghaffar. Dan semoga kebaikan nak Ghaffar, pahala nya sampai untuk kedua orang tua nak Ghaffar." Ghaffar tersenyum
"Aamiin pak, Aamiin. Kalo gitu Ghaffar pamit, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
.
.
"Silahkan masuk nak" ucap pak Anwar, seraya membuka pintu kamar Candra. Dan sesuai cerita pak Anwar. Candra hanya fokus pada buku gambar dan pensilnya, ia hanya berkutat dengan dua benda tersebut. Ghaffar masuk, ia mendekati Candra. Tak bicara, hanya duduk diam di depan Candra. Saat Ghaffar menutup buku gambarnya, Candra langsung menegakkan kepala dan menatap tajam Ghaffar. Tapi tak lama, tatapan itu kembali kosong.
"Dua hari yang lalu, bapak bawa Candra kemana?" tanya Ghaffar, seraya menatap Candra yang hanya duduk diam.
"Dua hari yang lalu... bapak bawa dia ke rumah neneknya, tak jauh dari rumah neneknya ada tanah kosong. Bapak bawa ke sana, di sana Candra masuk ke dalam lubang. Bapak pun kaget, karena tak melihat lubang itu sebelumnya. Bapak segera menarik Candra ke atas, karena lubang itu memang tak dalam dan juga tak terlalu besar. Tapi, setelah kembali dari sana. Candra jadi seperti ini, seperti boneka hidup." jawab pak Anwar
"Dia memang boneka hidup, jiwanya tertinggal di sana." ucap Ghaffar, membuat pak Anwar dan istri terkejut.
"Maksud nak Ghaffar bagaimana? Jiwa? Tapi anak bapak..
"Roh dan jiwa tak sama, Candra memang memiliki roh. Tapi jiwanya masih tertahan di sana, sepertinya ada yang menyukai Candra. Bila roh nya yang tertinggal, mungkin Candra tidak akan seperti ini. Bisa koma, paling parah... tentu saja meninggal." potong Ghaffar
"Ya Allah, apa anak ibu ga papa? Apa Candra bisa kembali seperti dulu?" tanya bu Diana, istri pak Anwar. Wanita yang sudah tak muda itu, menangis ketakutan.
"Bisa, apa rumah neneknya Candra jauh dari sini?" tanya Ghaffar
"Tidak terlalu jauh, pake motor hanya 20 menit." jawab pak Anwar
"Kalo gitu kita ke sana sekarang, kita bawa Candra ke tempat ia jatuh." pak Anwar mengangguk, ia segera keluar mengambil motornya. Ghaffar menggendong Candra, ia pun menyusul pak Anwar. Setelah berpamitan pada bu Diana, mereka pun pergi.
.
.
"Di sini nak Ghaffar" ucap pak Anwar, dengan Candra di gendong belakang olehnya. Ghaffar menatap lama lubang tersebut, tak lama ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. Ia berjongkok, lalu menepuk pelan tanah di dekat lubang.
"Keluarlah" ucapnya, tak lama muncul tiga arwah anak kecil dari sana. Oh bukan, sekarang ada empat. Karena di belakang mereka, ada Candra.
"Kenapa kalian menahannya?" tanya Ghaffar, pak Anwar hanya diam. Ia tau, dengan siapa Ghaffar berbicara. Pasti dengan para arwah, yang menunggui lubang tersebut.
'Kami menyukainya, karena itu kami ingin dia menemani kami di sini.' jawab arwah anak perempuan, rambutnya di ikat dia. Terlihat manis, karena memakai pita. Ghaffar tersenyum, ia mengusap kepala anak tersebut.
"Tapi, kalian dan dia tak sama. Anak ini, dia masih hidup. Bahkan memiliki orang tua, lihat... ayahnya sangat sedih." ketiga arwah itu menunduk, mereka langsung merasa sedih.
'Lalu, apa kami memiliki ayah sepertinya? Apa dia juga menyayangi kami?' tanya arwah lainnya, anak lelaki dengan kemeja dan dasi pita di lehernya. Ghaffar menarik nafas, ia menghembuskannya pelan.
"Bagaimana kalau kalian ikut kakak, kembalikan dia pada ayahnya. Kakak akan cari tau, siapa dan kenapa kalian bisa di sini. Kakak juga akan bantu, mencari ayah dan keluarga kalian. Bagaimana?"
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
☕️nya emak😘