"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Kereta api Argo Muria perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan kepulan tipis di udara subuh Stasiun Gambir yang dingin. Bintang masih mematung di peron, menatap rel yang kini kosong. Separuh jiwanya baru saja terbawa menuju Semarang, menyisakan rongga besar di dadanya yang biasanya penuh dengan ketenangan.
Ia melirik jam tangan analog di pergelangan kirinya—jam yang kembarnya kini melingkar di tangan Afisa. Detiknya berdetak stabil, namun bagi Bintang, waktu seolah berjalan melambat sejak Afisa melangkah masuk ke gerbang keberangkatan.
Bintang tidak langsung pulang ke apartemen baru mereka. Ia tahu, kembali ke sana hanya akan membuatnya dihantam kenyataan bahwa kursi di samping meja makan masih kosong dan aroma parfum Afisa hanya tertinggal di bantal yang belum sempat dirapikan.
Ia memutar kemudi menuju rumah sakit. Ia butuh hiruk pikuk IGD untuk mengalihkan rasa sepi yang mendadak menyerang.
Pukul 07.30 WIB — IGD Rumah Sakit Pusat, Jakarta.
Bintang melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan jubah putihnya. Biasanya, ia melangkah dengan tegap, namun pagi ini langkahnya terasa sedikit lebih berat. Setiap kali ia melewati bangku tunggu, ia teringat bagaimana dulu ia sering menemukan Afisa tertidur di sana saat menunggunya selesai shift.
"Dokter Bintang? Tumben pagi sekali, Dok? Bukannya jadwal dokter baru mulai siang nanti?" tanya seorang perawat di meja jaga.
Bintang hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Lagi ingin cepat sampai, Sus. Ada pasien baru?"
"Ada kecelakaan ringan di Kuningan, Dok. Sedang ditangani residen di bilik tiga."
Bintang mengangguk kaku. Ia masuk ke ruangannya, meletakkan tas, dan tertegun menatap foto di atas meja kerjanya—foto mereka berdua saat akad nikah agama beberapa hari lalu. Ada rasa khawatir yang mulai merayap. Sudah sampai mana keretanya? Apa Afisa bisa tidur di sana? Bagaimana kalau dia merasa sendirian saat sampai di Semarang nanti?
Ia merogoh ponselnya, berniat mengirim pesan, namun ia urungkan. Ia tahu Afisa mungkin sedang mencoba memejamkan mata di dalam kereta.
"Ekuilibrium..." gumam Bintang lirih, menyentuh jam tangannya.
Dulu, ia adalah penawar luka bagi Afisa. Namun kini, ia sadar bahwa ia pun manusia biasa yang bisa merasa rapuh saat jarak menjadi lawan bicaranya. Koridor rumah sakit yang biasanya terasa seperti medan juang, kini terasa seperti lorong sepi yang memantulkan kerinduannya.
Ia harus kuat. Jika Afisa bisa berjuang di meja hijau Semarang, maka ia harus bisa menjadi penjaga gawang yang tangguh di Jakarta. Tapi tetap saja, setiap kali matanya menatap ke arah utara, hatinya berbisik: Cepatlah pulang, Nyonya Bintang.
Pukul 11.45 WIB — Stasiun Tawang, Semarang.
Deru mesin kereta api Argo Muria perlahan melambat, diiringi suara decitan roda besi yang beradu dengan rel stasiun. Afisa terbangun dari tidur ayamnya, mengucek mata yang masih terasa berat. Di pergelangan tangannya, jam tangan analog pemberian Mas Bintang menunjukkan angka yang sama persis dengan yang ada di Jakarta.
“Baru saja lepas dari pelukannya, rindu ini sudah mulai menagih,” batin Afisa sambil merapikan blazernya.
Begitu ia melangkah turun ke peron, udara Semarang yang lembap namun hangat menyambutnya. Di antara kerumunan penumpang, matanya menangkap sosok wanita yang melambai heboh dengan kemeja lime green yang mencolok.
"AFISAAAA! DI SINI!" teriak Citra tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Afisa tersenyum lebar, beban di pundaknya seolah terangkat sedikit. Ia mempercepat langkah, menyeret kopernya menuju sahabatnya itu. Mereka berpelukan erat, tawa pecah di tengah hiruk-pikuk stasiun.
"Gila ya, Fis! Terakhir kita video call lo masih di Jakarta nunggu lamaran, sekarang lo datang ke Semarang sudah pakai cincin kawin!" goda Citra sambil melirik jari manis Afisa. "Gimana rasanya jadi pengantin baru yang langsung dibuang ke kota orang?"
Afisa terkekeh, meski ada sedikit rasa perih di dadanya. "Bukan dibuang, Cit. Ini namanya 'investasi masa depan'. Tapi jujur, rasanya masih aneh banget."
Citra segera mengambil alih salah satu tas jinjing Afisa. "Sudah, jangan galau dulu. Apartemen lo sudah gue cek kemarin, lokasinya strategis banget, dekat sama firma kita. Cuma sepuluh menit kalau nggak macet. Ayo, gue anterin sekarang. Lo harus istirahat sebelum besok kita benar-benar 'tempur' di kantor cabang."
Di dalam mobil Citra, Afisa menatap jalanan kota Semarang yang melintas di balik jendela. Gedung-gedung tua peninggalan kolonial tampak begitu tenang, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang menyesakkan.
"dokter Bintang sudah tahu lo sampai?" tanya Citra pelan.
Afisa merogoh ponselnya. Ada satu notifikasi WhatsApp yang masuk tepat saat ia keluar dari stasiun.
Mas Bintang 🌻: "Aku tahu keretanya sudah sampai. Selamat datang di Semarang, Istriku. Fokus di sana ya, jangan lupa makan siang. Jam tangannya jangan dilepas. Love you."
Afisa menggigit bibir, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. "Dia tahu jadwal kereta gue lebih hafal daripada gue sendiri, Cit."
"Laki-laki kayak dokter Bintang itu langka, Fis," Citra menimpali dengan nada serius. "Dia nggak cuma cinta sama lo, tapi dia menghormati karier lo. Jadi, jangan bikin pengorbanannya sia-sia. Buktikan kalau pengacara paling hebat di Semarang itu namanya Afisa Anjani."
Afisa mengangguk mantap, ia menyentuh jam tangannya sekali lagi. Ekuilibriumnya mungkin sedang diuji oleh ratusan kilometer, tapi dengan adanya Citra di sini dan dukungan Bintang di sana, ia yakin langkahnya di Semarang tidak akan goyah.
"Oke, Partner. Tunjukkan jalannya. Gue siap buat kasus pertama di sini," ucap Afisa dengan binar mata yang kembali tegas.