Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana pernikahan
Angkasa kembali ke apartemen dengan wajah lelah dan lesu. Bukan hanya lelah fisik karena seharian dibawa beraktivitas, tapi juga lelah batin sebab mereka masih terus mengincar dirinya.
Di dalam lift yang bergerak naik, ia menyandarkan punggungnya di dinding. Sambil memijat pelipis siapa tahu rasa pusingnya akan hilang.
Ting!
Ketika pintu lift terbuka. Angkasa merubah ekspresinya. Menghilangkan ekspresi lelah, capek saat akan bertemu dengan kekasihnya. Ya, Leya tak perlu tahu beban yang sedang yang ia tanggung. Leya hanya perlu tahu jika keadaan mereka sedang baik-baik saja.
"Aku pulang sayang!" ucap Angkasa, setelah menutup kembali pintu apartemennya.
Dari dalam kamar terdengar langkah kaki yang berlari. Angkasa berhenti, ia merentangkan tangan saat melihat Leya sedang berlari ke arahnya.
Leya melompat, masuk ke dalam pelukannya yang nyaman dan hangat. "Aku kangen?" ucap Leya dengan nada manja.
Angkasa tersenyum, hatinya menghangat dan rasa lelahnya menguap begitu saja. "Baru ditinggal beberapa jam aja sudah kangen?" Angkasa masih menggendongnya, membawanya menuju ke dapur. Karena tenggorokannya terasa kering.
Leya masih ada dalam gendongannya seperti koala.
"Ayo turun dulu? Mas haus?" pinta Angkasa, menarik kursi makan untuk Leya duduk.
Leya menolak. Gadis itu menggelengkan kepala sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya. "Aku gak mau!" tolaknya.
Ia menghirup dalam-dalam. Aroma tubuh Angkasa yang sejak tadi sangat ia rindukan. Ya, sejak mengetahui jika ia sedang hamil, Leya terus memikirkannya, merindukan aroma tubuhnya untuk ia cium lama-lama.
"Tumben kamu semaja ini sayang?" karena rasa haus yang tak tertahankan. Angkasa mengambil air minum masih terus menggendong Leya yang mulai mencium sampai ke lehernya.
"Sayang geli!" ucap Angkasa, merinding saat deru nafas Leya mengenai kulit lehernya yang sensitif.
Tapi Leya tidak mau mendengar. Ia semakin mencium tanpa peduli dengan peringatan Angkasa yang mulai terpancing hasratnya.
"Sayang, jangan pancing Mas!" Angkasa menggeram, menahan hasratnya yang mudah terpancing jika yang melakukannya adalah Leya.
Leya melepaskan pelukannya. Bibirnya mengerucut sambil menatap Angkasa dengan kesal. "Mas pelit! masa cuma cium aja gak boleh. Ini kan kemauan anaknya Mas bukan kemauan aku!" Leya melipat kedua tangannya di dada. Ia merajuk.
Angkasa terkejut, matanya sontak membulat seketika. "kamu hamil sayang?" tanya Angkasa tak percaya.
Leya mengambil alat tes kehamilan dari kantung dress baby doll yang ia kenakan. Lalu memberikannya ke Angkasa. "Nih!"
Angkasa menerima dengan tangan yang gemetar. Ini kali pertama ia memegang alat tes kehamilan. Tapi ia tahu, arti dari dua garis samar yang terlihat disana.
"Alhamdulillah, kamu hamil sayang?" ucapnya senang. Senyumnya sangat lebar dengan beberapa bulir air mata yang menetes dengan sendirinya.
Angkasa sangat senang. Ia mencium seluruh wajah Leya berulang kali. "terima kasih sayang, terima kasih? Mas bahagia sekali!"
Rasanya seluruh drama yang terjadi hari ini menghilang begitu saja. Kabar kehamilan Leya membawa kebahagiaan sekaligus semangat baru bagi dirinya untuk terus berjuang.
"Mas senang?" Leya ikut terharu, tadinya ia sempat berfikir jika ada kemungkinan jika Angkasa menolak kehamilannya.
"Sangat senang sayang! senang sakali. Ini hari yang paling membahagiakan untuk Mas!"
Angkasa mendudukkan Leya di atas meja makan. lalu ia duduk di kursi, mensejajarkan wajahnya dengan perut always yang masih rata.
"Halo sayang, ini Papa!" Angkasa mencium dan mengusap lembut permukaan perutnya.
Leya tertawa. "Mas, dia masih sangat kecil. Tidak akan bisa mendengar suara kamu!" Leya lucu melihat tingkah kekasihnya. Tapi ia juga senang karena kehamilannya disambut dengan sangat baik.
Tapi Angkasa tidak peduli. Ia mengajak calon anaknya bicara. Lebih tepatnya ia memperkenalkan diri sambil mengungkapkan perasaannya bahwa ia sangat menyayangi mereka.
"Besok kita nikah ya?" ucap Angkasa tiba-tiba.
"Nikah? Besok?" beo Leya terkejut.
Angkasa mengangguk. "Iya sayang. Mas gak mau menunda lagi. Kita harus menikah secepatnya!"
Ya, tanpa kehamilan ini saja, Angkasa memang sudah berencana untuk menikahi Leya. Paling cepat akhir semester Leya tahun ini. Tapi karena keadaannya sudah berbeda. Angkasa mempercepat semuanya.
"Memangnya bisa langsung nikah besok? bukannya persiapannya cukup lama ya?" lanjut Leya.
Angkasa berfikir sejenak. Memang benar, semuanya butuh persiapan. Apalagi, ia ingin menikahi Leya bukan secara siri tapi secara sah baik agama. Maupun negara.
"Baiklah! Saat semuanya sudah selesai... kita nikah ya?" pinta Angkasa.
Leya setuju. Tapi ada satu hal yang mengganjal dihatinya. "Mas, kamu bisa temuin ayah aku gak?"
Sejujurnya, sejak dulu Leya sangat ingin bertemu dengan ayah kandungnya. Tapi Sukma, tidak pernah sekalipun memberitahukan dirinya tentang ayahnya. Bahkan hanya sekedar namnya saja Leya sama sekali tidak tahu, apalagi wajahnya. Semua informasi itu seperti ditutup rapat-rapat dari dirinya.
"Kamu tahu nama dan punya foto ayah kamu?" tanya Angkasa. Karena ia sendiri juga tidak tahu apapun tentang calon ayah mertuanya.
Leya menggeleng. Ia tidak bisa memberikan informasi apapun.
"Kalau begitu sepertinya sang sulit sayang!" Angkasa menatap kekasihnya dengan tak tega.
Tadinya Leya masih memiliki sedikit harapan agar ia bisa dinikahkan langsung oleh ayahnya. Tapi sepertinya harapan itu tidak bisa jadi kenyataan.
"Percayalah, jika suatu saat nanti kamu pasti bisa bertemu dengan ayah kandung kamu!" ucap Angkasa, menghibur Leya yang bersedih.
"Semoga aja ya Mas! soalnya aku kangen, pengen tahu bagaimana ayah kandungku. Apakah dia baik? atau malah jahat seperti Mama?"
"Mas juga tidak tahu sayang. tapi semoga dia baik!" sahutnya.
Mereka berpelukan. Menyalurkan rasa hangat dsn saling memiliki lewat dekapan yang membuat mereka nyaman satu dengan lain.
Babak demi babak dalam roda kehidupannya mulai silih berganti. Namun apapun itu, hanya satu harapan mereka... Semoga selalu bersama dan saling mencintai sampai maut yang memisahkan mereka.
---
Sedangkan di sebuah rumah di belahan bumi yang lain...
Seorang pria paru baya tengah menatap foto sosok bayi mungil dalam balutan kain bedong berwarna pink muda. Matanya berkaca-kaca, memandang satu-satunya buah hati yang miliki di dunia ini.
Foto itu hampir rusak. Bahkan gambarnya mulai pudar disudut nya. Tapi ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencetak ulang foto tersebut.
"Bagaimana kabar kamu Harleya, anak Papa?" ibu jarinya mengusap lembut, lalu bibirnya mengecup permukaan foto dengan penuh kerinduan. "Papa sangat merindukan kamu sayang!"
Air mata mengalir dari sudutnya. Sudah tak terhitung berapa banyak air matanya yang mengalir karena menahan rindu.
"Kapan Papa bisa menemukan informasi tentang kamu sayang? Mereka semua tega, mereka jahat! mereka memisahkan kamu dari Papa. Bahkan mereka menutup semua jalur informasi tentang kamu!" Di balik kerinduan itu, ada rasa kesal, amarah, dan dendam yang ia rasakan.
Bagiamana ia tidak dendam. Jika karena harta dan kekayaan membuatnya diusir, dihina, direndahkan, bahkan diperlakukan lebih buruk dari binatang. Bukan hanya itu saja, ia malah dipisahkan secara paksa dari putri semata wayangnya yang hari itu sudah ada dalam gendongannya dan akan ia bawa pergi dari rumah terkutuk itu.
"Sukma! Karena memilihmu aku menentang keluarga dan usir tanpa harta. Tapi aku tak menyesal, aku tetep berjuang untuk membahagiakan kamu. Tapi kamu, hanya karena sedikit gertakan dari ayahmu... kamu tega meninggalkan aku, mengusirku dan memisahkan aku dari Leya. Kamu jahat Sukma! Aku sangat membencimu!"
Ya, pria itu adalah Dimas Darmono. Ayah kandung Leya yang saat ini menetap di luar negri.