NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 6: "Goncangan Iman di Kota Santri dan Jebakan Rasa"

​Fajar di Pondok Pesantren Al-Muammar pecah dengan keheningan yang megah, namun bagi Zain Malik Muammar, subuh itu adalah sisa dari peperangan batin yang paling melelahkan dalam hidupnya. Setelah "serangan" bawah sadar Shania yang nyaris meruntuhkan benteng dzikirnya semalam, Zain menghabiskan sisa malamnya dengan bersujud di atas sajadah, memohon kekuatan agar hatinya tidak dicuri oleh pesona liar sang istri sebelum waktunya.

​Pukul tujuh pagi, SUV hitam itu sudah siap di depan ndalem. Shania masuk ke dalam mobil dengan wajah segar, tampak sama sekali tidak berdosa. Ia mengenakan gamis emerald green yang kemarin dipuji Zain, lengkap dengan khimar senada serta cadar yang menutupi sepatuh wajahnya, menyisakan kedua bola mati coklat Shania yang berbulu lentik.

​"Siap berangkat, Mas Suami?" tanya Shania dengan nada riang yang disengaja.

​Zain hanya mengangguk kaku.

"Baca doa keluar rumah dan naik kendaraan, Shania."

​"Udah kok, dalam hati. Biar lebih khusyuk," kilah Shania sambil mulai merogoh tasnya, mencari ponsel yang menjadi "hadiah" atas keberhasilannya menghafal 25 Nabi.

Perjalanan menuju Jombang memakan waktu beberapa jam. Sepanjang jalan, Shania benar-benar memanfaatkan waktu "bebas HP-nya". Namun, alih-alih membuka sosial media, ia justru sibuk berswafoto dengan berbagai sudut, memanfaatkan cahaya matahari yang masuk lewat jendela mobil.

​"Mas, liat deh. Aku cocok nggak jadi Ibu Nyai?"

Shania menyodorkan layar ponsel tepat ke depan wajah Zain yang sedang fokus menyetir.

​Zain melirik sekilas ke layar. Di sana, Shania berpose anggun dengan gamis hijaunya dan cadar yang terpasang pas, namun matanya tetap memancarkan kilat nakal yang tidak bisa disembunyikan oleh kain apa pun.

​"Ibu Nyai, itu dinilai dari kedalaman ilmunya, bukan dari estetika fotonya, Shania," jawab Zain datar, meski dalam hati ia mengakui kecantikan istrinya pagi itu sangatlah menyilaukan di balik cadar.

​"Hih, kaku banget sih! Sekali-kali puji kek, 'Istriku cantik banget hari ini'. Gitu aja susah," gerutu Shania.

​Sesampainya di Jombang, kompleks pesantren milik Kiai Mansur sudah dipadati tamu. Shania mendadak merasa menjadi pusat perhatian. Kehadiran Zain, sang "Singa Al-Muammar", selalu menarik perhatian, apalagi kali ini ia membawa sosok istri yang selama ini menjadi misteri bagi kalangan pesantren.

​"Masya Allah, Ustadz Zain. Ini istrinya? Cantik sekali, seperti bidadari turun dari khayalan," puji salah satu istri kiai kolega Zain.

​Zain tersenyum tipis, tangannya secara posesif berada di belakang punggung Shania—tanpa menyentuh, namun memberikan proteksi.

"Alhamdulillah, ini Shania. Mohon doanya agar ia betah di lingkungan kita."

​Shania bersikap sangat manis. Ia teringat strateginya: membuat Zain jatuh cinta. Dan cara tercepat adalah dengan menjadi sosok "sempurna" di depan umum, lalu menjadi "penggoda" saat berdua. Ia mencium tangan para Ibu Nyai dengan takzim, melempar senyum ramah di balik cadarnya, dan duduk dengan sopan di barisan perempuan.

​Namun, acara berlangsung hingga larut malam. Diskusi antar kiai dan ramah tamah keluarga besar membuat waktu meluncur tanpa terasa. Saat hendak pamit pulang, hujan deras tiba-tiba mengguyur Jombang dengan intensitas luar biasa. Petir menyambar-nyambar, dan jalanan dikabarkan mulai tergenang air yang cukup tinggi di beberapa titik rawan longsor menuju arah pulang.

​"Zain, jangan nekat. Hujan badai begini bahaya untuk perjalanan jauh. Menginaplah di sini, kamar tamu di lantai dua sudah disiapkan," ujar Kiai Mansur tegas.

​Zain menatap Shania yang tampak kelelahan, lalu menatap cuaca di luar.

"Baik, Kiai. Mohon maaf jika kami merepotkan."

“​Malam di Kamar Tamu: Ujian yang Sebenarnya”

​Kamar tamu di pesantren ini sangat kental dengan nuansa kayu jati. Harum kayu tua bercampur dengan aroma hujan yang masuk lewat celah ventilasi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang kayu besar dengan kasur empuk yang tertutup sprei putih bersih.

​Shania merasa ini adalah panggung yang sempurna. Jombang yang dingin, hujan yang deras, dan mereka hanya berdua di kamar yang jauh dari pengawasan Umi Zainab atau Abah.

​"Dingin ya, Mas..."

Shania memulai aksinya. Ia melepas khimarnya, membiarkan rambut cokelatnya tergerai indah. Ia mendekati jendela, memandangi hujan yang membasahi kaca.

​Zain sedang melepas baju kokonya, menyisakan kaos dalam putih yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Ia bersiap untuk shalat malam sebelum tidur.

"Pakai selimutmu kalau dingin, Shania. Saya mau shalat."

​Dua jam berlalu. Zain sudah selesai dengan rutinitas ibadahnya dan merebahkan diri di sisi kanan ranjang. Ia tidur telentang, kedua tangannya bersedekap di atas dada, mencoba mengatur napas agar segera terlelap. Posisi tidurnya sangat disiplin, seolah ia sedang bersiap menghadapi pertempuran bahkan dalam mimpi.

​Shania melihat kesempatan itu. Ia tidak ingin tidur. Ia ingin "menang".

​Dengan gerakan perlahan seperti kucing hutan, Shania merangkak di atas kasur. Ia tidak memanggil, tidak bersuara. Zain yang baru saja akan hanyut ke alam bawah sadar, tiba-tiba merasakan berat yang asing menindih bagian perut hingga dadanya.

​Zain membuka mata dengan sentakan kecil. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat melihat dalam keremangan cahaya lampu tidur, Shania sudah berada di atas tubuhnya. Istrinya itu duduk bersimpuh tepat di atas perutnya, menumpu berat badan dengan kedua tangan yang diletakkan di samping bahu Zain.

​"Shania... apa yang kamu lakukan?" suara Zain serak, antara terkejut dan menahan gejolak yang meledak tiba-tiba.

​"Katanya Mas mau ngajarin aku soal rasa manis? Kok dari tadi kaku terus kayak papan tulis?" bisik Shania.

Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Zain. Rambutnya jatuh menjuntai, menggelitik leher Zain.

​"Turun, Shania. Ini tidak sopan," perintah Zain, namun tangannya bergetar.

Ia ingin mendorong Shania, tapi menyentuh tubuh istrinya dalam posisi seperti ini terasa sangat berisiko bagi kewarasannya.

​"Nggak mau. Mas bilang dalam waktu sebulan aku harus bikin Mas jatuh cinta, kan? Ini bagian dari usahaku," ucap Shania dengan nada manja yang mematikan.

​Zain mencoba memalingkan wajah, namun Shania dengan berani meraih dagu Zain, memaksanya untuk menatap mata cokelat yang kini berkilat penuh tantangan dan gairah nakal.

​"Mas, tahu nggak? Di duniaku dulu, pria-pria bakal ngelakuin apa aja buat dapet perhatian aku. Tapi Mas... Mas malah asyik sama kitab kuning terus."

​"Karena kitab itu membimbing ke surga, Shania. Sedangkan ini..."

Zain menjeda, tenggorokannya terasa kering.

"Ini bisa membawa kita pada kelalaian."

​"Lalai sekali-kali nggak apa-apa, kan? Kan udah sah," bisik Shania lagi.

​Sebelum Zain sempat merespons dengan dalil atau teguran, Shania melakukan hal yang paling nekat dalam hidupnya. Ia menundukkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Zain.

​Zain membelalak. Sentuhan itu awalnya hanya kecupan singkat yang penuh kejutan, namun Shania yang haus akan kemenangan mulai sedikit melumat bibir suaminya. Ia ingin merobek ketenangan Zain, ingin melihat ustadz yang selalu bicara surga dan neraka itu bertekuk lutut pada pesonanya.

​Dinginnya hujan di luar kontras dengan hawa panas yang menjalar di antara mereka. Zain merasakan aliran listrik yang dahsyat menyerang setiap sarafnya. Jari-jemari Shania mulai masuk ke sela-sela rambut Zain, menariknya lembut agar ciuman itu semakin dalam.

​Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Zain kehilangan kendali. Logikanya lumpuh. Kehangatan bibir Shania, aroma vanilla yang menguar, dan berat tubuh istrinya di atasnya adalah ujian paling brutal bagi keimanannya.

​Namun, tepat saat Shania merasa ia telah menang, Zain tiba-tiba memegang kedua bahu Shania dengan kuat. Ia tidak mendorong dengan kasar, namun dengan tenaga yang sangat dominan, ia menghentikan ciuman itu.

​Napas Zain memburu. Matanya yang biasanya tenang kini tampak gelap dan tajam, memancarkan api yang sulit diartikan.

​"Cukup, Shania," suara Zain rendah, bergetar hebat.

​Shania tersenyum penuh kemenangan, meski napasnya juga tidak beraturan.

"Kenapa? Mas takut jatuh cinta sekarang?"

​Zain menatap Shania dengan intensitas yang membuat nyali Shania mendadak menciut. Pria itu tidak segera melepaskan bahu Shania.

"Kamu, pikir ini permainan, Shania? Kamu pikir kamu bisa bermain dengan api tanpa terbakar?"

​Zain perlahan bangkit dari posisi tidurnya tanpa menurunkan Shania, membuat posisi mereka menjadi sangat intim dengan wajah yang sangat dekat.

​"Jika saya membalas ini dengan cara yang saya inginkan, kamu tidak akan sanggup menghadapinya. Kamu ingin saya jatuh cinta agar kamu bebas? Tapi tahukah kamu... jika seorang Zain Malik sudah mencintai sesuatu, dia tidak akan pernah melepaskannya. Selamanya!"

​Zain melepaskan tangan Shania dari lehernya dan dengan gerakan sigap namun lembut, ia memindahkan Shania ke sisi kasur yang kosong. Zain langsung berdiri, mengambil sajadahnya lagi, dan berjalan menuju sudut kamar.

​"Tidurlah. Jangan bangunkan macan yang sedang berusaha saya jinakkan dengan doa, Shania. Karena jika macan itu lepas dari belenggunya karena godaanmu... kamu sendiri yang akan memohon untuk dilepaskan," ucap Zain tanpa menoleh.

​Shania terdiam di atas kasur, tubuhnya sedikit gemetar. Ia baru saja menyadari bahwa ia tidak sedang bermain dengan seorang ustadz kaku biasa. Ia sedang bermain dengan seorang pria dewasa yang memiliki kedalaman perasaan dan kekuatan kontrol diri yang menakutkan.

​Malam itu, di bawah guyuran hujan Jombang, Shania menyadari satu hal: Belenggu mahar ini bukan hanya mengikat fisiknya di pesantren, tapi perlahan-lahan mulai menjerat jantungnya sendiri dalam permainan yang ia mulai.

​Dan di sudut kamar, dalam sujudnya yang panjang, Zain menangis dalam diam. Bukan karena benci, tapi karena ia tahu, cintanya pada Shania kini bukan lagi sekadar amanah, melainkan sebuah ujian yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.

​BERSAMBUNG ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!