NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Mal

"Eh, kenape kagak dihabisin? Dosa lu, Bara. Makan gak abis!" omel Enyak.

"Eh?" Lidah Collins keluh. Terdiam dengan pandangan yang serba salah.

"Abisin! Mau nambah dosa apa lu!"

Collins terpaksa meneruskan. Ia kembali menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.

"Kapan lu pulang?"

Collins tersedak hingga terbatuk-batuk mendengarkan pertanyaan Babe.

"Abang, pegimane sih? Anak makan kok diajak ngobrol?" Kini Enyak memarahi Babe. Ia menyodorkan segelas air putih pada Collins.

Collins meminumnya. Setelah berhenti batuk, ia mulai bicara. "Mungkin besok, Be." Collins menunduk.

Ipah seketika berdiri dan meninggalkan meja.

"Ini lagi, nih, atu lagi! Makan kagak abis juga!" Enyak cemberut melihat anak perempuannya kembali ke kamar tanpa bicara.

Collins menepuk-nepuk punggung tangan Enyak pelan. "Udah, Nyak, jangan marah-marah. Nanti juga dihabisin. Mungkin masih kenyang kali, Nyak," sahut Collins menghibur Enyak.

Babe memperhatikan Collins yang begitu lembut pada istrinya. Ia sangat menyayangkan karena Collins bukan anaknya. Namun ia harus ikhlas. Anak sendiri saja pulang ke rahmatullah, apalagi anak orang lain, yang pasti kembali ke orang tuanya. Itu sesuatu yang tak bisa disangkal.

Ya, sejak anak laki-lakinya meninggal dunia, ia sangat keras pada Ipah. Harus bisa ini, harus bisa itu. Itu semua agar anak perempuannya ini bisa mandiri dan membela dirinya sendiri. Mungkin Ipah harus menanggung apa yang tidak bisa dilakukan almarhum adiknya. Itu sebabnya Ipah sedikit tomboy karena didikan sang ayah. Beruntung, Ipah bukan orang lemah, dan pendidikan itu setidaknya membuat ia sedikit bar bar di rumah.

"Pergi dulu, Be." Collins mencium tangan Babe dan Enyak setelah menyelesaikan makannya. Ia meminum air di gelas yang tersisa. "Assalamualaikum."

***

Setelah bertransaksi di mesin ATM, Collins keluar dari ruangan kecil itu agar bisa memberi kesempatan pada antrian berikutnya. Kemudian ia menelepon. Tak lama setelah berbicara, ia kembali mengantri di antrian ATM itu.

Collins tak menyadari seseorang tengah memperhatikannya. Pria berkaos hitam itu mendatangi sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Mobil itu sudah penuh dengan beberapa orang. Pria itu berbicara dengan seorang pria di sebelah kursi pengemudi. "Benar, dia orangnya, Bos. Tapi kita tidak bisa melakukannya di sini. Tunggu dia bergerak ke tempat sepi, baru kita bisa melakukannya."

Pria yang diajak bicara, mengangguk-angguk. "Oke, kita ikuti saja dia," sahutnya sambil mengunyah tusuk gigi yang ada di mulut.

Ya, Collins sekarang tengah berada di bagian luar sebuah Mal. Ia sibuk bertransaksi hingga tak menyadari ada yang mengintainya. Setelah bertransaksi bolak-balik ke ATM dan menelepon, Collins masuk ke dalam Mal dan menunggu.

"Bara!" Ipah datang menghampiri.

Collins menoleh. "Enyak mana?"

"Tuh!" Ternyata Ipah meninggalkan Enyak di belakang.

"Eh, elu, Pah. Masa enyak ditinggal sendirian di belakang? Lu jalan cepet amat kek orang mau ngambil tehaer!" omel Enyak. Ia sendiri tengah terengah-engah ketika datang sambil menyentuh dada.

Collins dan Ipah tertawa.

"Biar olahraga dikit, napa Nyak! Enyak mah, di rumah mulu. Tuh, lihat, bokkong dah pada mekar!"

Enyak langsung memukul bahu Ipah kesal. "Ngeledek orang tua aje lu, bisanye!"

Kembali kedua orang itu tertawa. Collins mengajak Ipah dan Enyak makan siang di Mal. Babe tidak ikut karena ada urusan.

"Enyak mau makan apa?" tanya Collins.

Wanita paruh baya itu merapikan kerudung instannya sambil kedua bola mata melihat sekitar, betapa banyaknya pilihan di tempat itu.

"Makan piza, enak, Nyak," tawar Ipah.

"Nyang kayak ruti itu, pan? Enggak ah, enyak kagak doyan. Alot banget kek makan sendal jepit. Mana kijunya bisa panjang banget, lagi! Kek celana kolor yang putus karetnye!"

"Hush, enyak ...." Ipah tertawa. "Jadi Enyak mau ape?"

"Ye udeh nyang biase aje. Kita pan bukan orang bule, Ipah," protes Enyak.

Collins tersenyum lebar. 'Bagaimana kalau dia tau kalau aku keturunan bule?' Ia senyum di kulum. "Di situ ada yang jual soto Betawi, Nyak." Collins menunjuk ke sebuah restoran yang sedikit menjorok ke dalam dan kecil.

"Nah, enih!" Enyak menepuk tangan. "Kalo kek gini, enyak kagak bakal muntah dah!"

Ipah terkekeh. Ketiganya kemudian masuk ke dalam restoran. Setelah memesan, Collins mengembalikan kartu ATM Ipah. "Makasih ya, Mpok."

"Same-same." Ipah mengambil kembali kartunya.

"Oh, iya, sekalian, motor." Collins menyerahkan kunci motor.

"Lho?" Ipah masih mengulurkan tangannya. "Lu pulang gimane, Bara?"

"Kasihan Enyak. Ntar aku naik ojek aja."

***

Pintu diketuk. Collins membuka pintu sambil mendorong sebuah kursi roda. "Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," sahut sepasang suami-istri paru baya.

Collins mengangguk sopan pada bibi Aida. "Maaf, Bi. Boleh Saya membawa Mbak Aida keluar? Hanya jalan-jalan sebentar di taman."

"Oh, boleh-boleh."

Sang bibi membantu Aida naik ke kursi roda lalu Collins membawanya keluar. Aida tahu, pasti ada yang ingin Collins bicarakan berdua saja dengannya. "Ada apa, Bang?"

"Mmh, kita ke taman dulu ya, biar lebih nyaman."

Setelah keluar dari lift, Collin mendorong kursi roda itu ke arah belakang rumah sakit. Di sana ada pintu keluar ke arah taman. Sebuah taman yang cukup luas. Beberapa pasien juga terlihat didorong keluarganya dengan kursi roda menikmati taman yang asri itu. Collins menghentikan kursi roda di samping sebuah bangku taman yang panjang. Ia duduk di sana dan mulai bicara.

"Mbak, apa Mbak tahu sejak kapan Abang kenal Mbak?" Ia mengeluarkan tasbih kecil dari kantong celananya.

Aida menggeleng.

"Sejak di stasiun."

"Stasiun?" Dahi Aida berkerut.

Collins meraih tangan wanita itu dan meletakkan tasbih itu di telapak tangannya. "Di stasiun kereta api. Abang gak sengaja melihat Mbak menjatuhkan ini."

Aida merabanya. "Ah, ini ... aku sudah lama mencarinya. Di stasiun kereta api?" Kembali keningnya berkerut.

"Iya. Saat itu pertama kalinya Abang bertemu denganmu. Waktu itu Abang mau mengembalikan tasbih ini, tapi Mbak udah naik bajaj."

"Ah, yang waktu itu ...." Aida mulai teringat kejadiannya. "Sebenarnya ini pemberian salah satu muridku. Orang tuanya pulang haji, tapi ini gak perlu. Ambil aja." Wanita itu malah mengembalikan tasbih itu dengan meraih lengan Collins dan meletakkannya di telapak tangan, persis seperti yang dilakukan pria itu tadi padanya.

"Lho, kenapa?" Collins melongo.

"Aku punya banyak di rumah."

Pria berwajah Jepang itu menghela napas. Ia pikir itu benda penting tapi ternyata tidak. "Tapi ini milikmu ...." Collins baru saja berniat akan mengembalikan lagi ketika Aida mengangkat tangan.

"Apa Abang punya?"

"Punya apa? Ini?" Collins mengangkat tasbih itu.

"Iya."

"Enggak."

"Ya udah, kalau begitu, buat Abang aja."

Collins masih bingung hingga Aida bicara lagi.

"Ini buat Abang bertasbih, menyebut nama Allah. Semua yang ada di dunia ini takkan terjadi tanpa restuNya. Jadi jangan lupa untuk minta pada-Nya, dan hanya padaNya."

Collins terlihat bingung. 'Meminta? Apakah tidak terlambat?' Ia menoleh pada wanita cantik berkerudung abu-abu di sampingnya. 'Apa meminta sekarang Allah akan mengabulkan doaku? Aku hanya ingin menikah denganmu, sesederhana itu. Tapi apa yang terjadi? Sebuah jurang pemisah yang takkan sanggup ku seberangi. Apa ada keajaiban yang akan sanggup merubah semua ini? Tidak ada!' Mata Collins seketika berkaca-kaca. "Abang akan pulang ke rumah Abang dulu. Tapi bagaimana kalau Abang gak kembali?"

"Apa?" Aida melebarkan kedua matanya. "Abang ...."

Bersambung

1
elief
semoga collins cepat bertemu dengan aida
Wiwi Sukaesih
bara.dh ky dtelan bumi Thor g ad kabar nya
Baby_Miracles: next ya
total 1 replies
Sri Jumiati
bara gmn thor keadaanya?
Baby_Miracles: di bab selanjutnya ya
total 1 replies
elief
jangan biarin miranda yang pertama ketemu thor, biar collins bahagia
Sri Jumiati
lanjut thor
Wiwi Sukaesih
up LG Thor 😍
Sri Jumiati
lanjut thor
Sri Jumiati
lanjut thor
Wiwi Sukaesih
aida sakit apa Thor
Baby_Miracles: sakit mata
total 1 replies
Sri Jumiati
semangat thor.
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Wiwi Sukaesih
babe ganggu aj ni 🤣
elief
lanjut thor
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!