Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sensasi Dingin di Musim Panas
Jakarta sedang tidak bersahabat hari ini. Di luar sana, aspal jalanan seolah menguapkan hawa panas yang menyengat, dan gedung-gedung kaca di sekitar penthouse memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan mata. Meskipun kaca jendela apartemen Arka sudah dilapisi pelindung sinar UV yang sangat mahal, hawa panas tetap terasa menyusup bagi seseorang yang tidak terbiasa tinggal di dalam kotak beton raksasa.
Lana duduk di atas karpet bulu di ruang tengah, mengipasi wajahnya dengan selembar brosur supermarket yang ia temukan di meja. Keringat tipis mulai muncul di dahi dan lehernya. Ia merasa sangat gerah, namun ia tidak menemukan satu pun kipas angin di ruangan seluas ini.
"Kok di sini nggak ada angin ya?" gumam Lana pelan. "Rumah sebesar ini masa nggak punya kipas angin sate yang berdiri itu? Apa Kak Arka lupa beli?"
Lana berdiri, mencoba mencari benda yang berbentuk baling-baling. Ia menggeledah sudut-sudut ruangan, di balik sofa, bahkan di balik tirai beludru yang menjuntai tinggi. Nihil. Ruangan itu tetap sunyi dan pengap bagi indra perasanya. Ia melihat ke arah langit-langit, hanya ada lampu-lampu kristal dan beberapa celah memanjang yang mengeluarkan suara desis halus.
"Mungkin ventilasinya ketutup debu," pikir Lana polos.
Ia menyeret sebuah kursi makan yang cukup berat ke tengah ruangan, tepat di bawah salah satu celah di langit-langit tersebut. Dengan hati-hati, Lana naik ke atas kursi, mencoba menggapai celah itu dengan tangannya. Ia ingin memastikan apakah ada udara yang terjebak di sana.
"Lana... lo lagi ngapain, nyet? Mau benerin struktur plafon gue atau mau jadi spiderman?"
Suara dingin dan datar itu membuat Lana hampir kehilangan keseimbangan. Ia menoleh ke bawah dan menemukan Ezra berdiri di dekat pilar besar. Ezra mengenakan kaos hitam polos yang pas di badan dan memegang sebuah tablet besar berisi denah bangunan. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, memberinya aura intelektual yang sangat mahal.
"Eh, Kak Ezra... Maafin Lana, Kak. Lana cuma kepanasan banget. Lana cari kipas angin nggak ada, jadi Lana mau cek lubang ini. Siapa tahu ada angin yang mampet di dalem," jawab Lana sambil memegang pinggiran celah di plafon.
Ezra memijat pangkal hidungnya, seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling tidak masuk akal dalam sejarah arsitektur. "Turun lo. Gak asik banget kalau lo jatuh terus kepala lo bocor di atas marmer gue. Gue yang pusing lapor ke Arka."
Lana turun dari kursi dengan wajah tertunduk malu. "Maafin Lana, Kak Ezra. Lana nggak tahu kalau nggak boleh pegang-pegang lubang itu."
Ezra berjalan mendekati Lana. Ia meletakkan tabletnya di meja, lalu menatap Lana yang wajahnya sudah memerah karena hawa panas. Ia menghela napas, kemarahannya yang biasanya setajam silet entah kenapa tumpul setiap kali melihat mata polos Lana.
"Dengerin gue ya, bocah desa. Di sini nggak ada kipas angin yang muter-muter kayak baling-baling bambu Doraemon. Itu namanya AC sentral," Ezra menunjuk ke arah celah di langit-langit yang tadi dipegang Lana. "Sistemnya ketanam di dalem plafon. Udara dinginnya keluar dari situ lewat pipa-pipa yang udah gue rancang biar estetis. Paham nggak lo?"
Lana menggeleng jujur. "Nggak paham, Kak. Kok dinginnya nggak berasa ya? Lana masih gerah banget."
Ezra mendengus. "Ya nggak berasa karena belum dinyalain. Lo kira dia bisa baca pikiran lo kalau lo lagi kepanasan?"
Ezra menarik pergelangan tangan Lana, membawanya menuju sebuah panel layar sentuh kecil yang tertanam rapi di dinding samping televisi. Panel itu berwarna putih minimalis dengan angka-angka digital yang sangat kecil.
"Liat nih," perintah Ezra.
Ezra berdiri di belakang Lana, namun berbeda dengan Arka yang hangat atau Gaza yang protektif, Ezra terasa seperti es yang tenang namun sangat dominan. Ia tidak memeluk Lana, tapi ia berdiri sangat dekat hingga Lana bisa merasakan hawa dingin dari aroma parfum aquatic milik Ezra.
"Ini namanya smart home controller. Semua teknologi di rumah ini, mulai dari lampu, gorden, sampai suhu ruangan, lo atur dari sini. Jangan lo urek-urek plafonnya lagi, norak tau nggak," ucap Ezra dengan bahasa "Gue-Lo" yang ketus tapi sebenarnya berisi instruksi.
Ezra menuntun jari telunjuk Lana untuk menyentuh ikon berbentuk kepingan salju di layar. "Sentuh ini. Terus lo liat angkanya. Sekarang suhunya 30 derajat Celsius, pantes aja lo keringetan kayak habis lari maraton."
Lana menyentuh layar itu sesuai instruksi Ezra. "Terus gimana biar dingin, Kak?"
"Lo geser ke bawah angkanya. Gue saranin di 22 derajat aja buat awal. Kalau lo pasang 16 derajat sekarang, yang ada lo masuk angin terus kerokan di depan gue, gak asik banget liatnya," jelas Ezra. Tangannya yang dingin sesekali bersentuhan dengan jari Lana saat mereka menggeser angka di layar.
Begitu angka menyentuh 22, suara desis di langit-langit berubah menjadi hembusan udara yang kuat. Dalam hitungan detik, hawa dingin yang sejuk mulai menyelimuti ruangan itu. Lana memejamkan matanya, menikmati sensasi dingin yang membelai kulitnya.
"Wah... enak banget, Kak! Dinginnya kayak di puncak pas malem-malem!" seru Lana senang.
Ezra menatap Lana yang sedang menikmati udara dingin itu dengan mata terpejam. Rambut Lana yang sedikit berantakan tertiup angin AC, membuatnya terlihat sangat cantik dalam kesederhanaannya. Ezra berdeham, mencoba mengalihkan perhatiannya kembali ke panel dinding.
"Bukan cuma AC, Lan. Nih, liat. Kalau lo silau, lo nggak usah narik gordennya manual pakai tangan lo yang mungil itu," Ezra menekan ikon gorden.
Seketika, tirai beludru raksasa yang menutupi jendela besar itu bergeser sendiri dengan suara motor elektrik yang sangat halus, menghalangi sinar matahari yang menyengat. Ruangan itu seketika menjadi redup dan sangat nyaman.
"Gila! Gordennya punya kaki ya, Kak? Kok bisa jalan sendiri?" tanya Lana takjub, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru melihat sulap.
"Punya kaki pala lo peyang," ledek Ezra sambil menjentik kening Lana pelan. "Itu pakai motor otomatis, semuanya terintegrasi sama sistem ini. Intinya, lo jangan pakai otot di rumah ini, pakai otak lo sedikit buat neken tombol. Ngerti nggak lo?"
Lana memegang keningnya yang barusan dijentik Ezra sambil tersenyum lebar. "Iya, Kak Ezra. Makasih ya udah pinter banget bikin rumah kayak gini. Kak Ezra hebat banget bisa bikin barang-barang ini nurut sama Kakak."
Ezra tertegun. Pujian sederhana dari Lana terasa lebih bermakna daripada penghargaan arsitektur yang pernah ia terima di Singapura tahun lalu. Ia memalingkan wajahnya yang sedikit memerah, pura-pura kembali fokus pada tabletnya.
"Yaudah, jangan manja. Lo diem di sini aja, jangan keluyuran ke dapur dulu, ntar lo malah mau masak pakai setrikaan lagi," ucap Ezra ketus, namun ia sebenarnya sedang menutupi rasa salah tingkahnya. "Gue mau lanjut kerja. Lo kalau mau nonton, tekan ikon TV di situ, jangan lo pukul layarnya."
"Iya, Kak Ezra! Selamat kerja ya Kakak Arsitek yang paling pinter!" sahut Lana riang.
Ezra berjalan menjauh menuju ruang kerjanya yang berdinding kaca, namun sebelum masuk, ia sempat melirik ke arah Lana yang kini sudah duduk nyaman di sofa sambil memperhatikan gorden yang tertutup rapat. Ezra tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tidak terlihat.
"Bocah aneh," gumamnya pelan. "Tapi lumayan juga kalau ada dia, rumah ini nggak kerasa kayak galeri seni yang mati."
Tiba-tiba, Jeno muncul dari arah dapur dengan membawa sekaleng soda dingin. Ia melihat Ezra yang baru saja menjentik kening Lana.
"Wih, si dingin Ezra akhirnya luluh juga?" goda Jeno sambil menyenggol bahu Ezra. "Gak asik lo, Zra. Tadi gue liat lo senyum-senyum sendiri liatin Lana. Mau gue laporin ke Arka?"
Ezra menatap Jeno dengan tatapan membunuh. "Bacot lo, Jen. Sana balik main game. Gak usah julid jadi orang, ntar rating lo turun baru tau rasa lo."
Jeno tertawa keras, lalu menghampiri Lana di sofa. "Lan! Jangan deket-deket si Ezra, dia itu manusia es. Nanti lo beku beneran loh!"
Lana tertawa mendengar candaan Jeno. "Nggak kok, Kak Jeno. Kak Ezra baik banget, dia tadi ngajarin Lana panggil angin dari plafon!"
Mendengar itu, Ezra hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil masuk ke ruang kerjanya, sementara Jeno tertawa terbahak-bahak sampai tersedak sodanya sendiri. Di dalam penthouse itu, meskipun di luar cuaca sangat panas, suasana di dalam justru terasa sangat hangat dengan kehadiran Lana yang mulai menyatukan ego ketujuh pria elit tersebut.