Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 [Retakan yang Tak Terlihat]
Air biasanya menenangkan.
Namun hari itu… air tidak lagi tenang.
Di dalam kerajaan Aqualis Luminara, suara riak air yang biasanya lembut kini bercampur dengan teriakan
“KAU PENCURI!”
“AKU TIDAK MENCURI APA-APA!”
“BOHONG!”
Percikan air melesat liar, bukan karena sihir yang terarah… tapi karena emosi yang tak terkendali.
Di tengah jalan utama, dua pria saling dorong.
Seorang wanita mencoba melerai namun malah ikut terseret ke dalam amarah.
Tidak ada logika.
Tidak ada alasan.
Hanya perasaan… yang membusuk dari dalam.
Di atas tembok kota
Seorang gadis berdiri diam.
Seira Lune
Matanya yang biasanya lembut… kini dipenuhi kegelisahan.
“…kenapa…”
Ia menatap ke bawah.
Melihat rakyatnya.
Orang-orang yang dulu saling membantu… kini saling mencurigai.
“…ini tidak masuk akal…”
Ia melompat turun.
Air mengalir di bawah kakinya, menopang langkahnya saat ia mendarat di tengah kerumunan.
“BERHENTI!”
Air membelah kerumunan.
Memisahkan dua orang yang hampir saling melukai.
“Nona Seira…”
Salah satu warga menatapnya.
Namun
Tatapan itu…
Berubah.
“…kenapa kamu baru datang?”
Seira terdiam.
“…aku-”
“Kalau kau lebih cepat… ini tidak akan terjadi.”
Suara lain menyusul.
“Iya… dia Grandmaster, kan?”
“Harusnya dia bisa menghentikan ini.”
Seira mundur setengah langkah.
“…apa…”
Dadanya terasa sesak.
“…aku… sudah berusaha…”
Namun suara-suara itu tidak berhenti.
Mereka bertambah.
Menumpuk.
Menekan.
“…tidak cukup…”
“…kau tidak cukup…”
Seira menggertakkan giginya.
Air di sekitarnya bergetar.
Namun bukan karena serangan.
Karena emosinya… mulai goyah.
Di atas tembok
Seseorang berdiri.
Mengamati semuanya.
Dengan senyum tipis.
Vyre
“…indah…”
“…benar-benar indah.”
Matanya bersinar.
Bukan karena kegembiraan.
Namun karena kepuasan.
“…bahkan tanpa menyentuh mereka…”
“…mereka hancur sendiri.”
Ia mengangkat tangannya sedikit.
Tidak ada mana.
Namun udara terasa berat.
Bisikan-bisikan itu…
Semakin keras.
Seira menutup telinganya.
“…hentikan…”
“…HENTIKAN!!”
Air meledak keluar.
Gelombang besar menyapu jalan.
Namun bukan untuk menyerang.
Untuk menjauhkan semua orang.
Ia terengah.
“…aku tidak bisa…”
“…menyelamatkan semuanya…”
Kata-kata itu keluar… tanpa ia sadari.
Dan di kejauhan
Vyre tertawa kecil.
“…akhirnya.”
Ia melangkah turun dari tembok.
Langkahnya pelan.
Namun setiap langkah terasa seperti tekanan.
Seira mengangkat kepalanya.
Matanya bertemu dengannya.
“…kau…”
Vyre berhenti.
“…kau mulai mengerti sekarang, kan?”
Seira menatapnya.
“…ini semua… ulahmu…”
Vyre memiringkan kepalanya.
“…aku?”
“…aku hanya menunjukkan apa yang sudah ada.”
Ia menunjuk ke arah warga.
“…iri…”
“…ketidakpuasan…”
“…kebencian kecil…”
“…semuanya sudah ada di dalam mereka.”
“…aku hanya… membantu.”
Seira menggenggam tangannya.
“…itu bukan bantuan…”
“…itu kehancuran.”
Vyre tersenyum.
“…dua hal itu… seringkali sama.”
Sementara itu
Jauh dari kerajaan
Dua sosok berjalan di bawah langit malam.
Api kecil menyala di antara mereka.
Shiranui Akihara
dan
Liora Raizen
Suasana hening.
Terlalu hening.
Liora melirik ke arah Akihara.
Lalu… mengalihkan pandangan.
Pipinya sedikit memerah.
“…hei.”
Akihara menoleh.
“Hmm?”
Liora membuka mulutnya…
Lalu menutupnya lagi.
“…tidak jadi.”
Akihara mengernyit.
“Kenapa?”
Liora menarik napas.
“…kau ingat… waktu di Mushaf…”
Akihara berpikir sebentar.
“…yang mana?”
Liora langsung menoleh tajam.
“…yang kau bilang kita… pacaran itu.”
Hening.
Akihara berkedip.
“…oh.”
“…itu.”
Liora menatapnya.
“…ITU??”
Akihara menggaruk kepalanya.
“…ya… situasinya kan mendesak…”
“…jadi kau asal bilang begitu?”
“…iya.”
Hening.
Liora menunduk.
“…bodoh…”
Suaranya pelan.
Namun cukup jelas.
Akihara sedikit tersenyum.
“…kau keberatan?”
Pertanyaan itu…
Membuat Liora membeku.
“…bukan itu…”
“…aku cuma…”
Ia tidak melanjutkan.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“…lupakan.”
Akihara menatapnya.
Untuk pertama kalinya
Ia menyadari sesuatu.
Perasaan aneh itu…
Masih ada.
Dan sekarang… lebih jelas.
Namun
Ia tidak berkata apa-apa.
“…kalau begitu, maaf.”
Liora meliriknya.
“…tidak perlu minta maaf…”
Ia menunduk lagi.
“…aku juga tidak bilang… aku tidak suka…”
Hening.
Akihara membeku.
“…apa?”
“AKU BILANG LUPAKAN!”
Petir kecil menyambar di udara.
Akihara tertawa kecil.
“…baik.”
Namun senyumnya…
Berbeda dari biasanya.
Lebih hangat.
Tiba-tiba
Liora berhenti.
“…kau ngerasain itu?”
Akihara langsung serius.
“…iya.”
Udara terasa berat.
Namun bukan karena mana.
Lebih dalam.
Lebih… mengganggu.
“…emosi…”
“…kacau.”
Liora menggertakkan giginya.
“…ini lebih buruk dari yang di Hinomura…”
Akihara menatap ke arah jauh.
“…kita harus cepat.”
Tanpa kata lagi
Mereka berlari.
Kembali ke Aqualis
Seira berdiri di tengah kekacauan.
Tangannya gemetar.
Air di sekitarnya berputar… tidak stabil.
“…aku…”
“…harus kuat…”
Namun
Suaranya sendiri terdengar lemah.
Vyre berdiri hanya beberapa langkah darinya.
“…kau mencoba meyakinkan dirimu sendiri?”
Seira menatapnya.
“…aku tidak akan menyerah.”
Vyre mengangguk pelan.
“…tentu saja.”
“…itulah yang membuatnya menarik.”
Ia melangkah mendekat.
“…semakin kau bertahan…”
“…semakin menyakitkan saat kau runtuh.”
Seira mengangkat tangannya.
Air berkumpul.
Namun
Sebuah teriakan terdengar.
“TOLOOONG!!”
Seira menoleh.
Seorang anak hampir terinjak kerumunan.
Ia langsung bergerak.
Air menyelamatkan anak itu.
Namun saat ia kembali
Vyre sudah tidak ada di depannya.
“…!”
Ia muncul di belakang.
“…lihat?”
“…kau tidak bisa melindungi semuanya.”
Seira membeku.
Kata-kata itu…
Menghantam lebih keras dari serangan apa pun.
Ia berlutut.
“…cukup…”
“…tolong… cukup…”
Air di sekitarnya mulai jatuh.
Tidak lagi terkontrol.
Tidak lagi kuat.
Vyre menatapnya.
Tanpa ekspresi.
“…sebentar lagi.”
“…kau akan hancur.”
Di kejauhan
Langit menyala.
Kilatan petir.
Dan cahaya api.
Seira mengangkat kepalanya.
Matanya melebar sedikit.
“…itu…”
Vyre juga menoleh.
Untuk pertama kalinya
Senyumnya… berubah.
“…ah…”
“…jadi mereka datang.”
Angin berhembus.
Dan di horizon
Dua sosok muncul.
Satu dengan api.
Satu dengan petir.
Bergerak cepat.
Menuju kehancuran.
Dan mungkin
Harapan.