Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA
Malam pun berlalu dengan tenang. Mentari esok harinya kembali muncul dengan cerah, menandakan hari Senin telah tiba. Bagi sebagian besar orang, Senin adalah hari dimulainya kembali rutinitas dan pekerjaan. Begitu juga bagi Nurlia. Sejak subuh buta, ia sudah bangun, membersihkan diri, dan bersiap untuk kembali berjuang mencari nafkah.
Suasana rumah pagi ini masih hening. Listrik pun belum menyala, tapi setidaknya air masih ada dan cuaca cukup sejuk. Nurlia sudah mengenakan seragam kerjanya yang rapi dan bersih. Ia menyisir rambut panjangnya lalu mengikatnya tinggi agar tidak mengganggu saat bekerja nanti.
"Del... Ayo bangun, Del. Kakak berangkat dulu nih," seru Nurlia sambil merapikan bekal makan siangnya di dalam tas kecil.
Adelia yang masih meringkuk di bawah selimut menguap lebar, matanya masih berat sekali untuk dibuka. "Hhhmm... Iya, Kak. Udah jam berapa sih?"
"Jam setengah tujuh. Cepetan bangun, jangan mager terus," jawab Nurlia sambil mencubit pelan pipi adiknya.
Adelia menggeser tubuhnya, duduk di pinggir kasur sambil mengucek mata. "Oh iya, hari ini kan Senin ya... Tapi Kak, aku kan libur lho. Sekolah lagi ada kegiatan rapat guru dan pelatihan gitu, jadi muridnya nggak usah masuk."
Nurlia mengangguk-angguk, ia memang sudah tahu soal itu dari cerita Adelia semalam. "Iya tahu, makanya Kakak senang kamu bisa istirahat. Tapi ingat ya Del, libur sekolah bukan berarti boleh bermalas-malasan seharian."
Nurlia kemudian berdiri tegak, menatap adiknya dengan tatapan tegas namun penuh kasih sayang, layaknya seorang ibu yang sedang menitipkan pesan.
"Dengerin ya, hari ini kamu di rumah aja. Bantu Kakak bersih-bersih rumah dong. Sapu lantainya, lap meja, terus cuci piring yang numpuk di dapur itu. Jangan cuma main HP atau tidur terus, nanti badan pegal semua," pesan Nurlia panjang lebar.
Adelia mendengus malas, tapi tersenyum mengerti. "Iya-iya, siap Bos! Nanti aku kerjain kok. Tenang aja, pas Kakak pulang nanti rumah pasti kinclong."
"Nah gitu dong, pinter," Nurlia tersenyum puas. "Terus kalau lapar, masak aja mie instan atau makan nasi sisa semalam. Jangan lupa sholat, dan kunci pintu kalau ada orang tidak dikenal ya."
"Siap, Kak Nurlia! Dihafal luar kepala," jawab Adelia ceria, lalu turun dari kasur untuk mengantar kakaknya ke pintu depan.
Nurlia keluar rumah, lalu menaiki sepeda tuanya. Angin pagi Senin terasa lebih segar dan sedikit lebih berisik karena lalu lintas kota mulai padat kembali.
"Aku berangkat ya, Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam! Hati-hati di jalan, Kak!" balas Adelia sambil melambaikan tangan.
Nurlia mulai mengayuh sepedanya dengan semangat. Hari ini adalah hari kerja baru, tantangan baru. Ia berdoa semoga hari ini lancar, tidak ada kendala, dan rezekinya lancar agar bisa segera membayar tagihan listrik dan menabung untuk masa depan Adelia.
Sementara Adelia kembali ke dalam rumah, menghela napas panjang lalu menatap tumpukan pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan. "Yasudah, ah... Kerja dulu biar dapat pujian sama Kakak," gumamnya pelan.
Perjalanan menuju restoran terasa lancar. Sesampainya di sana, Nurlia langsung berganti suasana menjadi mode kerja. Ia menyapa rekan-rekannya, membetulkan seragam, dan segera siap bertugas. Pagi berjalan cukup baik, hingga menjelang jam makan siang ketika restoran mulai penuh sesak.
Suasana ramai membuat Nurlia harus bergerak ekstra cepat. Saat itu, ia sedang membawa nampan berisi beberapa gelas minuman dingin untuk dikirim ke meja VIP di sudut ruangan.
Sayangnya, lantai di dekat meja itu sedikit licin karena tumpahan air yang belum sempat dilap. Saat Nurlia hendak meletakkan gelas dengan hati-hati, kakinya terpeleset sedikit.
Byur! Braakk!
Suara pecahan kaca terdengar nyaring, memecah keramaian seketika. Es batu dan air minum tumpah membasahi lantai, bahkan sedikit memercik ke sepatu dan rok wanita yang duduk di sana.
"Astaga! Maaf, Bu! Maafkan saya!" Nurlia panik setengah mati. Ia langsung berjongkok ingin membersihkan, tangannya gemetar hebat. "Saya bersihin sekarang, Bu! Maaf banget!"
Namun, reaksi wanita itu jauh di luar dugaan. Dengan kasar, ia menepis tangan Nurlia yang hendak mengambil pecahan kaca.
"Eh, hati-hati dong! Punya mata nggak sih jalan nya?!" bentak wanita itu dengan suara tinggi sampai orang-orang di meja sebelah pun menoleh. "Lihat nih! Baju gue basah kuyup! Sepatu gue mahal lho, tahu!"
Nurlia menunduk dalam, wajahnya memerah padam karena malu dan takut. "Ma... maafkan saya, Bu. Saya nggak sengaja. Lantainya licin jadi saya terpeleset..."
"Alasan aja! Emang dasar pelayan cupu!" Wanita itu semakin menjadi-jadi, matanya menatap Nurlia dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan pandangan merendahkan. "Lihat tuh penampilan, seragam juga kayak orang mau ngemis. Masak kerja nggak becus sih? Apa ijazah kamu dapet dari nyari sampah di jalanan hah?"
Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Nurlia. Dadanya sesak sekali, rasanya ingin menangis tapi ia tahan kuat-kuat.
"Maaf, Bu... Saya akan ganti rugi, dan saya akan bersihin semuanya," ucap Nurlia pelan, suaranya bergetar.
"Ganti rugi? Hah! Gaji kamu sebulan mungkin nggak cukup buat bayar baju gue doang!" celetuk wanita itu sinis. "Dasar tidak becus! Mending pulang aja sana, jangan ngotorin tempat bagus!"
Nurlia diam terpaku, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Ia merasa sangat kecil dan terhina di tengah kerumunan orang yang kini sedang menatap ke arahnya. Ia hanya bisa menunduk, membiarkan dirinya dimaki tanpa bisa membela diri.
Suara bentakan wanita itu masih menggema di ruangan, membuat suasana restoran yang tadinya ramai menjadi hening seketika. Semua mata tertuju pada Nurlia yang masih berdiri tertunduk, tubuhnya gemetar menahan rasa malu dan takut. Tepat saat suasana semakin tegang, langkah kaki cepat terdengar mendekat.
Datanglah Pak Budi, manajer restoran yang bertanggung jawab atas operasional harian. Wajahnya tampak serius, namun ia tetap berusaha menjaga sikap sopan santun khas pelayanan. Ia langsung menghampiri meja tersebut, membungkukkan badan dalam-dalam beberapa kali sebagai tanda permohonan maaf.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Ibu. Saya selaku manajer di sini meminta maaf atas keteledoran staf kami dan ketidaknyamanan yang Ibu alami," ucap Pak Budi dengan suara tegas namun lembut. "Ini benar-benar kelalaian kami, dan saya pastikan hal seperti ini tidak akan terulang lagi."
Wanita itu masih mendengus kesal, merapikan bajunya yang basah dengan kasar. "Kalau cuma minta maaf doang, semua orang juga bisa! Lihat nih, bajuku kotor dan basah! Sepatuku juga kena! Kalian tahu berapa harganya?"
"Tentu, Ibu. Kami sangat mengerti kekesalan Ibu," jawab Pak Budi tetap sabar. "Sebagai bentuk tanggung jawab kami, biaya pembersihan atau penggantian pakaian Ibu akan kami tanggung sepenuhnya. Selain itu, makanan dan minuman hari ini kami gratiskan, dan kami akan kirimkan voucer makan senilai dua juta rupiah ke alamat Ibu sebagai permohonan maaf kami yang tulus. Bagaimana menurut Ibu?"
Mendengar tawaran itu, wajah wanita itu sedikit membaik, meski masih memasang muka masam. Ia berpikir sejenak, lalu mengangguk enggan. "Yasudah. Tapi ingat ya, latih lagi karyawanmu itu! Jangan asal terima orang!"
"Siap, Ibu. Terima kasih banyak atas pengertiannya," Pak Budi membungkuk sekali lagi, lalu memberi isyarat pada staf lain untuk segera membersihkan pecahan kaca dan membasuh lantai.
Setelah situasi mulai mereda dan perhatian pelanggan lain perlahan kembali ke makanan masing-masing, Pak Budi menatap Nurlia. Tatapannya tidak marah, tapi cukup tegas.
"Ikuti saya ke dapur," perintahnya singkat.
Nurlia menurut dengan langkah berat. Hatinya terasa seperti ditimpa batu besar. Sepanjang jalan menuju dapur, ia tidak berani menengadah, takut bertemu pandang dengan siapa pun.
Sesampainya di ruang persiapan yang agak sepi dan terpisah dari area makan, Pak Budi berhenti lalu menoleh ke arah Nurlia.
"Duduklah," katanya sambil menunjuk kursi kayu di sudut ruangan.
Nurlia duduk dengan ragu. Air matanya akhirnya tak sanggup ditahan lagi, menetes membasahi pipi.
"Pak... Saya minta maaf. Saya benar-benar nggak sengaja. Lantai itu tadi licin, saya nggak lihat..." isak Nurlia pelan.
Pak Budi menghela napas panjang, lalu duduk di hadapannya. "Saya tahu kamu nggak sengaja, Nurlia. Saya juga tahu kamu pekerja keras, selama ini kinerjamu bagus. Tapi kamu harus paham, di dunia kerja—terutama pelayanan—satu kesalahan kecil bisa berdampak besar. Tadi itu pelanggan tipe yang sensitif, kalau saya tidak tangani cepat dan berikan kompensasi, bisa-bisa dia lapor ke dinas atau bikin masalah besar di media sosial. Reputasi restoran bisa jatuh, dan itu berbahaya buat kita semua."
Nurlia mengusap air matanya, mendengarkan setiap kata dengan seksama.
"Lalu soal lantai yang licin, itu juga kesalahan manajemen karena kami belum pasang rambu peringatan. Tapi kamu juga harus lebih waspada. Mata harus melihat ke mana saja kamu melangkah, apalagi saat membawa barang pecah belah dan minuman panas atau dingin," lanjut Pak Budi memberikan nasihat. "Jangan bawa perasaan kalau dimarahi pelanggan, ya. Tugas kita melayani, kadang memang harus menelan pil pahit. Tapi ingat, jangan biarkan orang lain merendahkan martabatmu berlebihan juga. Kalau sudah di luar batas, panggil saya atau pemimpin shift."
"Saya mengerti, Pak. Saya janji akan lebih hati-hati lagi ke depannya. Saya akan perbaiki cara saya bekerja. Maafkan saya karena sudah bikin masalah dan bikin Pak Budi repot," ucap Nurlia sambil membungkuk dalam, menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
Pak Budi tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Nurlia pelan. "Sudah, jangan menangis lagi. Saya maafkan. Saya tahu kondisi kamu, tahu kamu bekerja demi adikmu. Itu alasan yang mulia. Tapi karena itu juga, kamu harus lebih kuat dan lebih cermat. Bersihkan wajahmu, cuci muka, lalu kembali bekerja. Anggap ini pelajaran mahal."
"Terima kasih banyak, Pak Budi. Terima kasih..." Nurlia terharu. Ia pikir ia akan dimarahi habis-habisan atau bahkan diberi peringatan keras, tapi ternyata manajernya justru memberi pengertian. Beban di dadanya terasa sedikit terangkat, meski rasa malu tadi masih tersisa.
Nurlia pun segera pergi ke kamar kecil karyawan untuk membenahi penampilan dan menenangkan diri, bertekad untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.