NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Mundur Perlahan

​Ruang kelas teater Fakultas Ekonomi dan Bisnis pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Anandara Arunika. Mesin pendingin ruangan berdesir pelan, menghembuskan udara bersuhu dua belas derajat celcius yang seolah meresap langsung ke tulang sumsumnya. Namun, Anandara tahu, rasa dingin yang membekukan itu tidak berasal dari Air Conditioner di sudut langit-langit, melainkan dari bongkahan es yang baru saja ia bekukan kembali di dalam rongga dadanya semalam suntuk.

​Di depan kelas, Bu Santi—dosen senior mata kuliah Etika Bisnis yang terkenal dengan kedisiplinannya yang tak kenal ampun—sedang menuliskan skema teori Utilitarianisme di papan tulis putih. Suara pantofel Bu Santi yang beradu dengan lantai keramik menghasilkan gema ritmis yang biasanya menjadi melodi fokus bagi Anandara. Namun hari ini, fokus mahasiswi jenius itu telah menguap entah ke mana.

​Mata Anandara menatap lurus ke arah papan tulis, namun pikirannya kosong. Kantung matanya yang sedikit menghitam akibat menangis semalaman telah ia tutupi dengan concealer mahal berlapis-lapis. Tidak ada satu pun teman di circle-nya yang menyadari bahwa Nyonya Es kebanggaan mereka baru saja melewati malam yang panjang dengan meratapi nasib perasaannya sendiri. Di sebelahnya, Sinta sedang sibuk mencatat penjelasan Bu Santi dengan pulpen warna-warni, sesekali gadis itu tersenyum kecil—sebuah senyuman yang Anandara tahu pasti, ditujukan pada angan-angannya tentang seorang pemuda di barisan paling belakang.

​Pemuda itu. Angga Raditya.

​Meskipun Anandara tidak menoleh ke belakang sama sekali, ia bisa merasakan kehadiran Angga. Rasanya seperti ada medan magnet tak kasat mata yang menarik seluruh sensor sarafnya ke arah kursi di sudut kiri belakang itu. Ia bisa merasakan tatapan elang itu kembali mengawasinya, menusuk tengkuknya, mencoba mencari celah dari dinding titanium yang telah Anandara bangun dengan susah payah.

​"Baik, mahasiswa sekalian," suara tegas Bu Santi memecah keheningan kelas. Dosen paruh baya itu meletakkan spidolnya dan membalikkan badan menghadap puluhan mahasiswa. "Etika bisnis bukan hanya tentang apa yang legal, tapi tentang apa yang bermoral. Kadang, keputusan yang paling benar secara etika adalah keputusan yang paling menyakitkan bagi individu yang mengambilnya, karena ia harus mengorbankan kepentingannya sendiri demi kebaikan yang lebih besar."

​Mendengar kalimat itu, napas Anandara sedikit tercekat. Ironi yang dilemparkan oleh semesta pagi ini benar-benar tidak main-main. Mengorbankan kepentingan sendiri demi kebaikan yang lebih besar. Bukankah itu tepat seperti apa yang sedang ia lakukan saat ini? Mengorbankan hatinya yang mulai berdebar demi kebahagiaan Sinta, penyelamat nyawanya.

​"Saya akan memberikan waktu jeda lima belas menit," lanjut Bu Santi. "Silakan kalian diskusikan studi kasus di halaman empat puluh dua dengan teman di sekitar kalian. Saya akan menunjuk secara acak beberapa dari kalian untuk menjabarkan hasil diskusinya setelah jeda selesai."

​Begitu Bu Santi duduk di kursinya dan mulai memeriksa berkas, suasana kelas yang kaku seketika mencair. Suara obrolan dan gesekan kursi mulai terdengar. Rehan dan Reza di barisan depan langsung memutar tubuh mereka menghadap ke belakang, berniat mengajak Anandara dan Sinta berdiskusi (atau lebih tepatnya, menumpang jawaban cerdas Anandara).

​Namun, sebelum Rehan sempat membuka mulutnya, sebuah langkah kaki yang mantap dan tenang terdengar menyusuri lorong antarmeja. Langkah itu tidak tergesa-gesa, namun memiliki ritme dominan yang membuat beberapa mahasiswa secara otomatis menyingkir untuk memberikan jalan.

​Sinta mendongak, matanya seketika melebar dan berbinar luar biasa terang. "Angga..." bisiknya pelan, nyaris tanpa suara, namun terdengar sangat jelas di telinga Anandara.

​Jantung Anandara berdegup dengan sangat brutal, menghantam tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri. Kepanikan yang ia tekan semalaman kembali meronta-ronta. Ia merasakan hawa keberadaan pemuda itu semakin mendekat, dan aroma peppermint yang kini ia hafal di luar kepala kembali menyapa indera penciumannya.

​Angga Raditya berhenti tepat di samping meja Anandara dan Sinta. Ia berdiri menjulang dengan kemeja denim gelapnya, lengan kemeja digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan maskulin yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Matanya yang tajam dan kelam tidak menatap Sinta, tidak juga menatap Rehan atau Kiera. Matanya lurus, terkunci dengan presisi mutlak ke arah gadis berambut hitam panjang yang sedang menunduk menatap buku tebal di atas meja.

​"Permisi," suara bariton Angga mengalun di tengah riuhnya kelas, namun bagi Anandara, suara itu terdengar seperti guntur yang membelah keheningan.

​Sinta dengan cepat merapikan rambutnya dan tersenyum sangat manis. "Eh, iya, Angga? Mau gabung diskusi kelompok kita?"

​Angga memberikan senyum formal yang sangat tipis kepada Sinta, sebuah senyum sopan santun belaka, sebelum ia kembali memusatkan seluruh atensinya pada Anandara. Ia mengabaikan tawaran Sinta dan justru mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah meja Anandara.

​"Anandara," panggil Angga. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang berada di meja itu, namun sarat akan tuntutan. Pemuda itu sengaja memanggil nama lengkapnya.

​Anandara memejamkan mata selama satu milisekon. Ia mengumpulkan seluruh sisa logikanya, mengunci hatinya rapat-rapat, dan memasang topeng Nyonya Es-nya yang paling tebal, paling dingin, dan paling tak tersentuh.

​Dengan gerakan lambat yang memancarkan keangkuhan absolut, Anandara mengangkat wajahnya. Ia membalas tatapan tajam Angga dengan sepasang mata yang sedingin gletser di kutub utara. Tidak ada senyum. Tidak ada keramahan. Hanya ada dinding es yang menolak untuk ditembus.

​"Ada keperluan apa?" balas Anandara, suaranya datar, tanpa intonasi, memotong udara seperti belati yang baru diasah.

​Angga sedikit terkesiap melihat tatapan itu, namun ia tidak mundur. Pemuda itu justru memajukan posisinya selangkah lebih dekat. "Gue ada pertanyaan soal studi kasus yang disuruh Bu Santi. Analogi di paragraf ketiga agak membingungkan. Gue tahu lo paling cepat paham materi. Bisa lo jelasin sedikit ke gue?"

​Itu adalah sebuah kebohongan yang sangat rapi. Angga adalah salah satu mahasiswa terpintar di angkatan mereka. Ia sama sekali tidak kesulitan memahami studi kasus picisan seperti itu. Ia hanya menggunakan materi kuliah sebagai alibi, sebuah alasan bodoh yang ia buat agar bisa mematahkan kebisuan di antara mereka. Angga ingin membuktikan bahwa tatapan yang ia lihat di mall waktu itu—senyum tulus yang mempesona itu—bukanlah ilusi. Ia ingin gadis ini meruntuhkan temboknya.

​Namun, Angga sama sekali tidak menyadari seberapa besar pengorbanan yang sedang dilakukan oleh gadis di depannya ini, dan seberapa kejam Anandara bisa berubah demi melindungi pengorbanannya.

​Anandara menatap mata Angga. Di dalam hatinya, luka itu menganga lebar, berdarah-darah saat ia harus mengucapkan kalimat yang akan menghancurkan jembatan di antara mereka untuk selamanya. Namun saat ia melalui sudut matanya melihat Sinta yang sedang menatap Angga dengan penuh harap, logika Anandara mengambil alih kendali secara brutal.

​"Gue rasa lo salah tempat," ucap Anandara dengan nada yang tiba-tiba meninggi, cukup keras untuk menarik perhatian Kiera, Ami, Rehan, dan beberapa mahasiswa di meja terdekat.

​Angga mengerutkan dahinya, tak mengerti. "Maksud lo?"

​Anandara memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Angga. Ia menatap pemuda itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara, sebuah ekspresi yang ia pelajari dari rasa jijiknya terhadap sang ibu di masa lalu.

​"Maksud gue, jangan cari-cari alasan bodoh hanya untuk caper (cari perhatian) di meja gue," desis Anandara tajam, setiap suku katanya dilapisi racun kebencian yang ia paksakan keluar. "Lo pikir gue nggak tahu trik murahan kayak gini? Pura-pura tanya materi padahal cuma mau tebar pesona? Lo mungkin bisa membodohi cewek-cewek lain di kampus ini dengan wajah dan sikap cool pura-pura lo itu, tapi hal itu nggak berlaku buat gue."

​Suasana di meja itu seketika membeku. Sinta terbelalak kaget hingga mulutnya sedikit terbuka. Rehan dan Reza saling berpandangan dengan wajah pias, sementara Kiera dan Ami menahan napas. Mereka tahu Anandara bisa bersikap dingin, tapi mereka belum pernah melihat Anandara bersikap sekejam dan seagresif ini kepada seseorang yang hanya bertanya baik-baik.

​Angga berdiri mematung. Rahangnya mengeras. Harga dirinya sebagai laki-laki serasa ditampar di depan umum. Matanya yang tajam menatap Anandara dengan kilatan ketidakpercayaan. "Gue cuma tanya materi, Nanda. Lo nggak perlu sekasar itu."

​"Jangan sebut nama gue dengan sok akrab!" bentak Anandara pelan namun mematikan. Tangannya di bawah meja gemetar hebat, ia mencengkeram roknya sendiri hingga kuku-kukunya terasa sakit menembus kulit. "Kita tidak seakrab itu. Dan gue nggak punya waktu untuk meladeni parasit yang cuma mau numpang kepintaran orang lain."

​Anandara tidak berhenti sampai di situ. Ia harus menuntaskan misinya hari ini. Ia harus memastikan Angga membencinya, dan di saat yang sama, memberikan ruang untuk Sinta.

​Dengan gerakan yang sangat kasar, Anandara mengambil buku teks milik Sinta yang berada di atas meja, lalu mendorong buku itu ke arah Angga hingga nyaris terjatuh dari pinggir meja.

​"Kalau lo memang benar-benar sebodoh itu dan butuh bantuan buat paham materi dasar, tanya sama Sinta," lanjut Anandara, membuang pandangannya dengan jijik, menunjuk sahabatnya itu dengan dagunya. "Sinta lebih sabar dan punya banyak waktu buat meladeni cowok-cowok caper yang butuh bimbingan kayak lo. Jangan pernah ganggu gue lagi. Gue sibuk."

​Kalimat itu meluncur tanpa ampun, menyayat habis harga diri Angga dan menghancurkan setiap ekspektasi pemuda itu terhadapnya.

​Angga terdiam. Urat di lehernya terlihat sedikit menonjol. Matanya yang biasa kelam kini memancarkan rasa sakit, kekecewaan, dan amarah yang tertahan. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah musim dingin. Ia mencoba mencari kebohongan di mata Anandara, mencoba mencari setitik kehangatan yang pernah ia lihat, namun yang ia temukan hanyalah badai salju yang mematikan.

​Sinta, yang dari tadi syok melihat pertengkaran sepihak itu, akhirnya tersadar. Rasa panik dan perasaan bersalah melandanya. Ia tidak ingin Angga terluka dan pergi menjauh karena sikap brutal Anandara. Sinta segera berdiri, menghalangi pandangan Angga dari Anandara, memasang badan sebagai penengah.

​"Angga, ya ampun, maaf! Maafin Nanda, ya!" seru Sinta dengan wajah panik, suaranya dipenuhi penyesalan yang mendalam. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, menatap Angga dengan tatapan memelas. "Dia lagi PMS berat hari ini, dari pagi mood-nya emang lagi hancur berantakan. Dia nggak bermaksud ngomong kasar gitu kok. Lo jangan masukin ke hati ya?"

​Angga mengalihkan pandangannya dari Anandara ke Sinta. Dadanya masih naik turun menahan emosi yang bergemuruh.

​Sinta tersenyum lembut, senyum yang sangat tulus dan menenangkan. Ia mengambil bukunya yang tadi didorong kasar oleh Anandara, lalu menyodorkannya kembali ke arah Angga. "Sini, lo duduk di kursi depan gue yang kosong ini aja. Biar gue yang jelasin bagian analogi utilitariannya. Kebetulan gue udah paham bab itu. Lo nggak usah hiraukan Nanda ya, biar gue yang bantu lo."

​Mendengar suara Sinta yang lembut dan penuh perhatian, kekakuan di tubuh Angga perlahan sedikit mengendur. Ia kembali menatap Anandara yang kini membuang muka ke arah jendela, seolah keberadaan Angga sama sekali tidak penting baginya. Rasa kecewa yang amat besar menumpuk di dada Angga. Ia merasa bodoh karena pernah berharap pada gadis sedingin batu es itu.

​Dengan embusan napas berat yang sarat akan rasa frustrasi, Angga akhirnya mengangguk pelan pada Sinta.

​"Makasih, Sinta," ucap Angga, suaranya terdengar jauh lebih dingin dari sebelumnya. "Maaf kalau gue ganggu kelompok kalian. Gue rasa gue ngerjain sendiri aja di belakang."

​"Eh? Nggak apa-apa kok, nggak ganggu sama sekali! Beneran deh, gue bisa ajarin!" Sinta memaksa, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia menarik kursi kosong di dekatnya. "Sini duduk. Lagian kata Bu Santi disuruh diskusi kan? Masa lo diskusi sendirian."

​Angga ragu sejenak, namun demi menjaga kesopanan dan tidak mempermalukan Sinta yang sudah bersikap sangat baik padanya di tengah makian Anandara, ia akhirnya mengalah. Angga menarik kursi itu dan duduk di hadapan Sinta. Posisinya kini membelakangi Anandara.

​Sinta langsung berbunga-bunga. Dengan semangat menggebu-gebu, gadis berlesung pipi itu mulai membuka bukunya dan menjelaskan materi kepada Angga dengan sangat antusias. Senyum tak pernah lepas dari wajah Sinta. Sesekali ia melontarkan candaan kecil yang membuat Angga merespons dengan senyum tipis, meski mata pemuda itu masih memancarkan kekosongan.

​Di kursi sebelahnya, di balik punggung lebar Angga, Anandara duduk mematung seperti mayat hidup.

​Napas Anandara tersengal-sengal tanpa suara. Tangannya di bawah meja saling meremas hingga memerah. Setiap kali ia mendengar tawa ceria Sinta, setiap kali ia mendengar suara bariton Angga yang merespons sahabatnya, sebilah pisau tak kasat mata menyayat hatinya tanpa ampun.

​Sudah selesai, batin Anandara merintih pedih. Kamu berhasil, Nanda. Dia membencimu sekarang. Dan Sinta mendapatkan kesempatannya. Ini benar. Ini adalah kebenaran yang harus kamu jalani.

​Anandara menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura menulis sesuatu di buku catatannya. Namun ujung pulpennya hanya membuat coretan tak beraturan yang menembus kertas. Ia menelan air mata kepahitannya sendiri, membiarkan dadanya hancur berantakan demi merawat bunga cinta sahabatnya yang sedang mekar.

​Namun, drama pengorbanan yang menyayat hati itu tidak terjadi dalam ruang hampa. Di ruangan teater yang luas ini, tidak semua orang tertipu oleh topeng Nyonya Es Anandara.

​Jauh di barisan paling belakang kelas, di kursi sudut yang sedikit temaram, duduk seorang pemuda berkacamata dengan pembawaan yang sangat tenang. Dimas.

​Pemuda pendiam yang biasanya hanya tenggelam dalam layar laptop atau buku tebalnya itu, sejak awal telah memperhatikan seluruh kejadian di meja tengah dengan saksama. Tidak ada satu pun detail yang luput dari mata elangnya yang tersembunyi di balik lensa kacamata frame hitamnya.

​Dimas meletakkan pulpennya di atas meja. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, matanya menyipit, menganalisa adegan yang baru saja terjadi.

​Banyak orang mengira Dimas hanyalah seorang kutu buku yang apatis, bayangan dari Angga yang karismatik. Namun, kecerdasan emosional Dimas berada jauh di atas rata-rata mahasiswa seumurannya. Sebagai seorang pengamat sejati, ia selalu melihat apa yang orang lain lewatkan. Termasuk perasaannya sendiri yang ia simpan rapat-rapat untuk seorang gadis ceria yang kini sedang tertawa bahagia bersama sahabatnya di depan sana: Sinta.

​Dimas telah mencintai Sinta sejak masa SMA. Ia adalah pemuda yang diam-diam menaruh susu kotak rasa cokelat di meja Sinta saat gadis itu kelelahan. Ia adalah pemuda yang selalu memberikan payung hitamnya diam-diam saat Sinta kehujanan. Ia mencintai Sinta dalam kesunyian yang paling absolut, tanpa pernah menuntut balasan, karena ia tahu, Sinta selalu mengejar laki-laki lain yang bersinar lebih terang darinya.

​Karena pengalamannya sebagai martir cinta dalam diam itulah, Dimas memiliki radar yang sangat sensitif terhadap bahasa tubuh seseorang yang sedang memendam perasaan.

​Mata Dimas tidak tertuju pada Angga yang sedang duduk bersama Sinta. Matanya menembus kerumunan, terkunci tepat pada sosok Anandara Arunika.

​Saat Angga dan Sinta sedang asyik membahas materi, Dimas melihat bagaimana bahu Anandara yang biasanya tegak dan angkuh, sedikit merosot seolah sedang memikul beban ribuan ton. Dimas melihat bagaimana tangan Anandara di bawah meja, yang tak terlihat oleh siapa pun di meja itu, bergetar hebat.

​Dan yang paling krusial, Dimas sempat menangkap kilatan ekspresi Anandara sebelum gadis itu memasang kembali topeng dinginnya. Saat Anandara memalingkan wajahnya setelah meneriaki Angga, Dimas melihat raut wajah itu. Bukan raut wajah seorang gadis arogan yang merasa terganggu. Melainkan raut wajah seorang gadis yang sedang menahan rasa sakit yang luar biasa dahsyat. Sebuah penderitaan yang memilukan. Matanya menyiratkan luka yang sangat dalam, sebuah luka yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah mencintai orang yang tidak bisa mereka miliki.

​Dimas menghela napas panjang. Ia memundurkan tubuhnya, bersandar ke kursi kayunya yang keras. Ia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya dengan rasa frustrasi yang tiba-tiba menggenang.

​Kepingan-kepingan puzzle itu seketika menyatu di kepala Dimas, membentuk sebuah gambaran ironi takdir yang sangat kejam.

​Gadis itu... Nyonya Es itu... dia tidak membenci Angga, batin Dimas berbicara sendiri dalam keheningannya. Dia mencintai Angga. Dan dia baru saja menghancurkan kesempatannya sendiri, mengusir laki-laki yang ia cintai ke pelukan sahabatnya.

​Dimas menatap Sinta yang sedang tertawa, lalu menatap Anandara yang sedang menelan ludah pahit di sebelahnya.

​Sebuah resonansi rasa sakit menggema di dalam dada Dimas. Ia merasa seperti sedang melihat cermin dirinya sendiri dalam wujud gadis jenius yang dingin itu. Mereka berdua adalah korban dari perasaan yang sama. Mereka berdua mencintai dalam diam, dan mereka berdua memilih untuk mundur teratur, merelakan orang yang mereka cintai berbahagia dengan orang lain. Dimas merelakan Sinta untuk Angga, dan Anandara merelakan Angga untuk Sinta.

​Sebuah tragedi cinta segiempat yang berputar dalam poros pengorbanan yang konyol namun mematikan.

​"Bodoh," gumam Dimas pelan, sangat pelan hingga hanya debu di sekitarnya yang bisa mendengar. Ia memakai kacamatanya kembali. "Kita berdua sama-sama pecundang yang bodoh, Anandara."

​Waktu istirahat lima belas menit itu akhirnya usai. Bu Santi kembali berdiri di depan kelas, mengetukkan penghapus papan tulis untuk meminta perhatian. Angga berdiri dari kursinya, mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Sinta dengan senyum tipis, lalu berjalan kembali ke kursinya di belakang. Ia bahkan tidak melirik Anandara sama sekali saat ia lewat. Misi Anandara untuk membuat Angga membencinya telah berhasil dengan sempurna.

​Sinta berbalik menghadap ke depan kelas dengan wajah yang bersemu merah padam. Ia meremas tangan Anandara di bawah meja dengan sangat excited. "Nan! Gila! Wanginya dia enak banget, Nan! Dan dia pintar banget, nanggapin penjelasan gue dengan cepat. Aduh, gue bisa gila lama-lama!"

​Anandara hanya mengangguk kaku, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.

​Tepat saat kelas hampir berakhir, Anandara merasakan perutnya mual dan kepalanya berputar hebat. Tekanan psikologis yang ia ciptakan sendiri mulai menghancurkan ketahanan fisiknya.

​"Bu," Anandara mengangkat tangannya dengan tiba-tiba, suaranya sedikit bergetar memecah penjelasan Bu Santi. "Izin ke toilet. Saya merasa kurang sehat."

​Bu Santi menghentikan penjelasannya, menatap wajah murid teladannya yang tiba-tiba sepucat kertas HVS. "Silakan, Anandara. Kamu butuh diantar?"

​"Tidak, Bu. Terima kasih," tolak Anandara cepat. Ia buru-buru berdiri, menyambar ponselnya, dan berjalan setengah berlari keluar dari kelas, mengabaikan tatapan heran Sinta, Rehan, Kiera, dan tatapan tajam dari Dimas di belakang sana.

​Begitu pintu kelas tertutup di belakangnya, Anandara mempercepat langkahnya menuju toilet wanita yang sepi di ujung koridor.

​Ia mendorong pintu toilet, masuk ke salah satu bilik, dan menguncinya rapat-rapat. Nyonya Es yang kuat dan tak terkalahkan itu akhirnya ambruk. Ia duduk di atas penutup kloset yang dingin, memeluk dirinya sendiri, dan menangis tanpa suara. Air matanya mengalir deras, menghapus sisa-sisa concealer yang menutupi kantung matanya.

​Dada Anandara sesak luar biasa, seolah pasokan oksigen di dunia ini telah menguap. Mundur perlahan ternyata jauh lebih menyakitkan daripada ditolak. Menyayat hati sendiri demi melihat sahabatnya tersenyum adalah bentuk penyiksaan paling brutal yang pernah ia alami. Dan yang paling mengerikan adalah, ia tahu ini baru permulaan. Ia harus memakai topeng kejam ini selama sisa masa kuliahnya.

​Di dalam bilik toilet yang sempit itu, Anandara menangisi takdirnya. Ia menangisi cinta pertamanya yang harus ia bunuh dengan tangannya sendiri, di hari yang sama saat cinta itu baru saja mencoba menyapanya.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!