Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Luka yang Belum Kering
Adrenalin adalah obat bius paling mematikan yang pernah diciptakan oleh tubuh manusia.
Saat zat itu membanjiri aliran darahmu, kau merasa seperti dewa. Kau bisa menari di antara desingan peluru, mematahkan tulang lawan tanpa merasakan benturannya, dan berjalan menembus kobaran api seolah itu hanyalah hembusan angin hangat. Adrenalin menipumu, membisikkan bahwa kau tidak bisa terluka.
Namun, seperti semua jenis obat bius, efeknya memiliki batas waktu. Dan ketika dinding penahan itu akhirnya runtuh, rasa sakit yang tertunda akan menerjangmu seperti gelombang tsunami.
Aku membanting pintu besi berkarat di belakangku, menggeser tiga gerendel baja pengamannya dengan tangan yang mulai gemetar.
Ini bukanlah apartemen mewahku di Pluit. Tempat itu sudah tidak aman sejak anjing pelacak siber Vanguard berhasil menyentuh lapisan luar jaringanku. Malam ini, aku mundur ke pangkalan cadanganku—sebuah bekas pabrik garmen yang terbengkalai di kawasan kumuh Jakarta Barat. Tidak ada jendela kaca panorama atau lantai marmer di sini. Hanya ada dinding beton berjamur, lantai semen yang retak, dan bau debu kain yang mengendap selama belasan tahun.
Satu-satunya sumber cahaya berasal dari sebuah lampu bohlam kuning redup yang menggantung dengan kabel telanjang di tengah ruangan.
Aku menyeret langkahku menuju sebuah meja kayu panjang yang dulunya digunakan untuk memotong pola kain. Setiap langkah yang kuambil terasa sepuluh kali lebih berat dari biasanya. Sepatu botku meninggalkan jejak air hujan yang bercampur dengan lumpur dan noda merah gelap di atas lantai.
Aku melempar kunci mobil ke atas meja. Suara dentingannya bergema kesepian di ruangan yang kosong itu.
Dengan napas yang mulai tersengal, aku melepaskan jaket windbreaker hitamku. Kain sintetis itu sudah kaku oleh campuran air hujan, keringat, dan cipratan darah dari prajurit bayaran di Tanjung Priok. Saat jaket itu terlepas dari bahuku, aku tidak bisa menahan erangan tertahan yang lolos dari sela-sela gigiku.
Rasa kebas di tubuhku telah menguap sepenuhnya.
Aku membuka kancing kemeja hitamku satu per satu dengan jari yang kaku, lalu membiarkannya jatuh ke lantai. Di bawah pendaran lampu kuning yang muram, aku menatap pantulan tubuhku pada sebuah cermin panjang kusam yang disandarkan ke dinding beton.
Tubuhku terlihat seperti kanvas yang baru saja disiksa.
Di tulang rusuk sebelah kiriku, mekar sebuah memar raksasa berwarna ungu kehitaman, sebesar piring makan. Itu adalah hadiah dari hantaman popor senapan laras panjang saat aku berguling menghindari tembakan di lorong pasar Glodok. Setiap kali aku menarik napas, ada rasa ngilu yang tajam menusuk paru-paruku, menandakan memar tulang yang cukup parah, meski untungnya tidak ada tulang rusuk yang patah.
Lalu, di lengan bawah kananku, terdapat luka sayatan yang memanjang sekitar tujuh sentimeter. Luka itu tidak terlalu dalam, mungkin akibat terkena serpihan kaca etalase yang pecah tersapu peluru, tapi darahnya sudah mulai mengering dan mengerak, menempel pada kulitku seperti lem.
Aku meraih sebuah kotak P3K dari laci meja. Aku tidak pergi ke rumah sakit. Orang-orang sepertiku tidak memiliki kemewahan untuk mendapatkan perawatan medis profesional. Luka-luka ini adalah harga yang harus kubayar sendiri di dalam kegelapan.
Aku membuka botol alkohol medis, menuangkannya secara langsung ke atas kapas tebal. Sambil menggigit sepotong handuk kecil untuk meredam suaraku, aku menempelkan kapas basah itu ke luka sayatan di lenganku.
Rasa perih yang luar biasa tajam langsung menyengat sistem sarafku, seolah ada ribuan jarum panas yang ditusukkan ke dalam dagingku secara bersamaan. Aku memejamkan mata kuat-kuat, rahangku mengeras hingga otot leherku menonjol. Keringat dingin sebesar biji jagung bermunculan di dahi dan punggungku.
Aku terus membersihkan luka itu hingga tidak ada lagi sisa pasir atau serpihan kaca. Setelah darahnya berhenti mengalir, aku menjahit kulit yang terbuka itu dengan tiga simpul jahitan kasar menggunakan jarum bedah dan benang nilon, lalu menutupnya dengan perban kasa yang kurekatkan kuat-kuat.
Selesai dengan lenganku, aku terduduk lemas di atas kursi kayu. Napasku terengah-engah, dadaku naik turun dengan cepat.
Aku membiarkan kepalaku bersandar ke belakang, menatap langit-langit pabrik yang penuh dengan sarang laba-laba. Hujan di luar masih turun dengan deras, menabrak atap seng berkarat dengan suara bising yang monoton.
Seharusnya aku merasa menang malam ini.
Aku baru saja menghancurkan tulang punggung logistik Jenderal Sudiro. Aku membakar jutaan dolar uang kotor dan senjata yang bisa digunakan untuk merusak kota. Aku berhasil memancing kepanikan Darmawan Salim.
Bahkan, aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar ledakan truk: sebuah anggukan dari Elara. Detektif yang seharusnya menangkapku itu memilih untuk berbalik arah. Ia membiarkanku melempar suar ke dalam genangan bensin. Ia memihakku di detik-detik yang paling menentukan.
Namun, mengapa dadaku terasa sangat kosong? Mengapa tidak ada rasa lega yang mengalir di nadiku?
Perhatianku tanpa sadar tertuju pada jaket windbreaker yang kulempar ke lantai tadi.
Meskipun jaraknya cukup jauh, indra penciumanku menangkap bau tajam yang menguar dari serat kainnya. Bau yang sangat spesifik.
Bukan bau darah. Bukan bau hujan.
Itu adalah bau dari asap thermite yang bercampur dengan karet ban yang meleleh dan bensin yang terbakar. Aroma dari pilar api raksasa yang kuciptakan di pelabuhan.
Tiba-tiba, udara di dalam pabrik garmen ini terasa berubah. Suhu ruangan seolah melonjak naik secara drastis. Tenggorokanku mengering dalam sekejap.
Bau hangus itu menyusup masuk melalui rongga hidungku, menerobos pertahanan logikaku, dan langsung menghantam pusat memori terdalam di otakku. Sebuah kotak hitam yang selama ini kugembok rapat-rapat kini tercongkel paksa.
Aku memejamkan mata, berusaha mengusir aroma itu. Tapi semuanya sudah terlambat.
Dinding beton pabrik ini menghilang. Suara hujan di atap seng meredup, digantikan oleh suara gemuruh yang jauh lebih mengerikan. Suara logam yang melengkung dan patah.
Sepuluh tahun yang lalu.
Aku kembali menjadi remaja berusia delapan belas tahun. Udara malam yang tadinya dingin mendadak berubah menjadi neraka.
Aku merasakan tubuhku terlempar dengan kekuatan yang meremukkan tulang, melayang di udara selama beberapa detik yang terasa abadi, sebelum akhirnya menghantam tanah berbatu yang keras. Benturan itu merobek kulit bahuku, mematahkan tulang selangkaku, dan membuat pandanganku gelap sesaat.
Saat aku membuka mata, dengan darah segar yang mengalir menutupi sebelah mataku dan rasa besi yang kental di mulutku, aku melihatnya.
Mobil sedan hitam milik ayahku tidak berada di jalan beraspal. Mobil itu berada di dasar jurang, terbalik dengan atap yang melesak ke dalam, terjepit di antara dua bongkahan batu besar. Kaca-kacanya hancur berantakan.
Lalu, api itu menyala.
Awalnya hanya percikan kecil dari bawah kap mesin, tapi bahan bakar yang bocor mengubahnya menjadi lautan api oranye yang ganas dalam hitungan detik. Hawa panas dari kobaran api itu menampar wajahku meski aku tergeletak belasan meter jauhnya.
Aku mencoba merangkak. Tangan kiriku mencengkeram tanah berbatu, menarik tubuhku yang lumpuh ke arah bangkai mobil itu.
"Ayah... Ibu..." Suaraku hanyalah bisikan parau yang tenggelam oleh deru api yang semakin membesar.
Melalui kaca jendela mobil yang pecah, di tengah jilatan api yang mulai memanggang jok kulit, aku bisa melihat siluet ibuku. Terjepit di kursi penumpang, tidak bisa bergerak karena sabuk pengaman yang macet dan dashboard yang menghancurkan kakinya.
Lalu, aku mendengar jeritannya.
Itu bukanlah suara manusia. Itu adalah lolongan penderitaan murni, suara daging yang terbakar hidup-hidup, suara keputusasaan seorang ibu yang menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa memeluk anaknya lagi. Jeritan itu tidak berlangsung lama. Asap hitam dan api segera menelan paru-parunya, membungkam suaranya untuk selamanya.
"IBUUUU!" raungku saat itu, merobek pita suaraku sendiri. Aku memaksa tubuhku yang patah untuk berdiri, mencoba berlari menembus api.
Tapi aku terjatuh lagi. Tanah di sekitarku sudah terlalu panas. Hawa apinya mulai memanggang kulit di sisi kiri leher dan bahuku. Rasa sakit yang tak tertahankan merenggut kesadaranku, tapi sebelum mataku benar-benar tertutup, aku mendongak ke arah tebing jurang di atasku.
Di sana, diterangi oleh cahaya api yang membakar keluargaku, berdiri empat siluet pria berpakaian gelap. Mereka tidak turun untuk menolong. Mereka tidak memegang ponsel untuk menelepon ambulans. Mereka hanya berdiri di sana, mengamati mobil yang terbakar itu dengan ketenangan absolut, memastikan bahwa tugas mereka telah selesai. Memastikan bahwa masalah Darmawan Salim telah diubah menjadi abu.
Brak!
Aku membuka mataku dengan paksa. Napasku memburu, tersengal-sengal seolah aku baru saja tenggelam.
Tanganku tanpa sadar telah menyapu kotak P3K dari atas meja hingga jatuh berserakan ke lantai. Botol alkohol pecah, isinya menggenang di lantai semen, menyebarkan bau tajam yang akhirnya berhasil mengusir aroma asap ilusi dari penciumanku.
Aku duduk membungkuk, menopang kepalaku dengan kedua tangan yang bergetar tak terkendali. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku, bercampur dengan darah yang merembes tipis dari perban di lenganku akibat gerakanku yang tiba-tiba.
"Hanya ilusi," bisikku pada diriku sendiri, mencoba menstabilkan ritme jantungku. "Mereka sudah tidak ada. Mobil itu sudah tidak ada."
Namun, ilusi itu meninggalkan bekas yang sangat nyata.
Aku perlahan mengangkat kepalaku, menatap lurus ke arah cermin kusam di depanku. Mataku tertuju pada pangkal leher hingga bahu kiriku.
Di sana, terhampar sebuah bekas luka yang luas. Kulitnya berwarna merah keunguan, dengan tekstur kasar yang mengerut dan tertarik tidak beraturan, sangat kontras dengan kulit normal di sekitarnya. Bekas luka bakar tingkat tiga. Sisa kenang-kenangan dari hawa panas api yang menelan orang tuaku sepuluh tahun lalu. Luka yang membuatku tidak akan pernah bisa memakai kemeja tanpa kerah atau pergi ke tempat umum tanpa menutupi bahuku.
Tanganku perlahan naik, ujung jari telunjukku menyentuh permukaan kulit yang mengerut itu.
Saraf di jaringan parut ini seharusnya sudah mati. Secara medis, aku tidak seharusnya merasakan apa-apa saat menyentuhnya. Tapi malam ini, di bawah lampu kuning yang redup ini, bekas luka itu terasa panas. Sangat panas. Seolah api di dasar jurang itu masih menyala di bawah permukaan kulitku.
Aku tertawa. Sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyedihkan dan hampa di dalam pabrik kosong ini.
Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang baru saja melemparkan suar ke dalam truk bensin. Tangan yang membakar harta Jenderal Sudiro hingga menjadi lelehan logam.
Elara membiarkanku melakukannya karena ia percaya aku sedang membersihkan kota ini dari kejahatan. Ia melihat api yang kuciptakan sebagai api keadilan. Ia mengira aku adalah sang vigilante yang memegang kendali.
Tapi ia tidak tahu kebenarannya. Ia tidak tahu apa yang dilakukan api terhadap manusia.
Api tidak mengenal keadilan. Api hanya tahu cara memanggang daging, melelehkan tulang, dan menghancurkan segala sesuatu hingga menjadi ketiadaan.
Malam ini, saat aku berdiri menonton truk-truk itu terbakar, aku tidak menjadi pahlawan. Aku menjadi replika dari pria-pria bersetelan gelap yang berdiri di atas tebing sepuluh tahun lalu. Aku menggunakan metode yang sama, kebengisan yang sama, dan senjata yang sama yang merenggut keluargaku.
Darmawan Salim menciptakan monster dari seorang remaja yang hancur. Dan malam ini, dengan menyalakan api itu, aku membuktikan bahwa sang monster telah lulus ujian.
Ponselku yang tergeletak di saku celana bergetar singkat. Satu kali.
Aku tidak perlu melihat layarnya untuk mengetahui siapa pengirimnya. Elara. Mungkin ia sedang berdiri di tengah kekacauan di pelabuhan, menatap sisa-sisa ledakanku, dan mengirim pesan untuk memastikan aku selamat. Ia peduli padaku. Gadis bodoh itu benar-benar peduli pada pria yang bersembunyi di balik topeng badut ini.
Tapi kepeduliannya adalah hal paling berbahaya di dunia ini. Baik untuknya, maupun untukku.
Jika aku membiarkannya masuk lebih dalam, jika aku membiarkan kehangatannya menyentuh hatiku yang sudah membeku ini, aku akan mulai merasa ragu. Aku akan mulai mempertanyakan balas dendamku. Dan jika aku ragu sedetik saja, orang-orang seperti Sudiro dan Darmawan akan mencabik-cabikku tanpa ampun.
Lebih dari itu, jika Elara mengetahui betapa rusaknya diriku yang sebenarnya... jika ia melihat monster yang bersembunyi di balik rasa percayanya... ia akan membenciku lebih dari ia membenci ayahnya sendiri.
Aku menurunkan tanganku dari bekas luka di bahuku. Aku menatap mataku sendiri di cermin, mata yang kini tidak lagi memancarkan kehangatan Arlan, melainkan kekosongan maut dari sang Joker.
Luka fisik di lenganku dan memar di tulang rusukku akan sembuh dalam beberapa minggu. Bekasnya akan memudar seiring waktu.
Namun, rasa sakit yang bersarang di dalam kepalaku tidak memiliki obat. Tidak ada alkohol medis yang bisa membersihkannya, dan tidak ada jarum bedah yang bisa menjahitnya kembali. Api yang kuciptakan malam ini di pelabuhan tidak memadamkan api yang membakar keluargaku; ia justru menyiramnya dengan bensin.
Aku menundukkan wajahku, menutupi mataku dengan kedua telapak tangan di tengah keheningan pabrik yang membusuk ini. Tidak ada air mata yang keluar. Tubuhku sudah terlalu kering untuk menangis.
Aku hanyalah seorang pria yang mencoba memadamkan neraka dengan cara menyalakan neraka yang lain.
Kenangan itu membakarku hidup-hidup.