Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu, kan?
Setelah memarkirkan mobil dan mematikan mesinnya, Dave menghembuskan nafas panjang.
Huuufffhhh......
Akhirnya tiba juga, batinnya.
Dengan agak terburu buru Dave keluar dari dalam mobil. Setengah berlari dia mendekati keempat keponakannya yang kini riuh memanggilnya. Dia ngga terlalu memperhatikan perempuan muda yang berdiri di dekat para keponakannnya.
Mungkin dia enggan karena sepupu sepupu tengilnya bermaksud menjodohkannya dengan perempuan muda itu. Tapi dalam.hati dia bersyukur karena bu guru itu menemani keponakan keponakannya sampai dia datang. Dia sangat berterimakasih sekali.
"Om....."
"Om....."
"Om....."
Ketiga keponakan perempuan kecilnya juga berlari menghampirinya. Sedangkan Rangga tetap tenang, melangkah mendekati omnya.
Dave berjongkok dengan satu ujung lutut yang berlapiskan celana kain menumpu di atas paving blok ketika ketiga keponakan cantiknya sudah mendekat.
Dia tertawa karena mendengar cuitan dan omelan mereka atas keterlambatannya.
"Pokoknya aku mau dibelikan es krim, ya, om," tukas Briela menuntut
"Iya, om belikan," janji Dave dengan tawa yang nasih berderai.
"Jangan Briel aja, Om. Aku juga, mau," sahut Samiya dan Bella bersamaan.
"iya, iya, pasti, om belikan. Kita borong aja, ya," kekeh Dave bercanda. Saat saat ini yang paling dia suka. Capek dan mumet akibat tumpukan pekerjaannya sudah menghilang entah kemana.
"Jangan, om. Mami bisa marah," tolak Briella cepat
"Iya, mami Jennifer bisa marah. Mamiku juga," sambung Samiya.
"Oke. Kita ngga usah kasih tau mami, ya," putus Dave.
"Pasti tetap ketahuan, om," jawab Rangga kalem.
Dave tergelak lagi. Ya, pasti ketahuanlah. Jennifer sangat sensitif.
Sementara itu Rhea tersenyum melihat seorang laki laki yang terburu buru turun dari mobilnya dan melangkah cepat menghampiri keponakan keponakannya yang juga sudah berlari mendekati omnya.
Walaupun Rhea kesal karena sudah cukup lama juga keterlambatan si om jomblo ini. Tapi melihat raut bersalah di wajahnya, Rhea sedikit memaafkannya.
Melihat keakraban mereka, Rhea merasa kagum.juga. Ada om yang begitu disayang dengan keponakan keponakannya.
Rhea pun ikut melangkah pelan, di belakang Rangga sambil sesekali memperhatikan anak didiknya, khawatir mereka terjatuh.
DEG
Jantung Rhea berdebar keras saat lebih dekat melihat wajah laki laki itu yang timbul tenggelam ditutupi para keponakannya.
Rhea seperti merasa pernah melihat laki laki ini. Wajahnya ngga asing. Langkahnya reflek terhenti. Kemudian Rhea memperhatikan laki laki yang nampak hangat bercengkerama dengan para keponakannya itu dengan jantung berdebar aneh.
Rhea menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya saat sudah mengingatnya. Oksigen rasanya sudah sulit dia hirup. Matanya setengah melotot.
Dia yakin. Lampu di club memang remang remang. Tapi jarak mereka malam itu sangat dekat, hingga Rhea cukup hapal garis rahang laki laki itu.
Laki laki itu, kan? ulangnya dalam hati dengan perasaan tercekat.
DEG DEG DEG
Jantungnya semakin cepat berdetak, juga lebih kuat dari biasanya. Tubuhnya terasa gemetar karena kemarahan yang muncul begitu saja.
Tatapnya bertemu dengan netra elang laki laki yang sudah mengambil banyak kesempatan darinya.
Awalnya laki laki itu mau menyenyuminya, tapi perlahan senyum itu sirna. Berganti dengan keterpakuan dan tatap elang yang penuh ketakpercayaan.
Dia, kan? Lidah Dave terasa kelu. Awalnya ingin berterimakasih tapi kini berganti dengan perasaan khawatir karena keponakan keponakannya berada di tangan yang salah.
Dia guru baru itu?
Dave menarik nafas dengan susah payah.
Yang disodor sodorkan Jayden dan Baim..... Dia....?
Dave ngga mungkin salah mengenali orang. Apalagi perempuan muda ini, baru dua hari yang lalu mereka bertemu.
Reaksi perempuan ini juga tampak berlebihan. Dia terlihat marah menatapnya.
Senyum.miring terukir di bibir Dave. Harusnya perempuan muda yang bernama Rhea ini takut. Bukannya malah marah setelah bertemu dengannya.
Dirinya masih kerabat pemilik kindergarten tempat guru baru itu bekerja. Bahkan yang sudah memberinya pekerjaan dan tempat tinggal.
Tapi tidak ada sedikit pun rasa takut di mata perempuan muda itu. Yang ada malahan kobaran api permusuhan dan kebencian untuknya.
Hei, nona. Nasibmu ada di tanganku, batinnya dengan tatap tajamnya pada Rhea.
Bagaimana mungkin keponakan keponakannya diajar oleh guru yang hobi clubbing dan menci-um orang yang ngga dikenal, hanya karena permainan truth or dare itu.
Tapi dia ngga mungkin menunjukkan sikap kurang baik pada guru yang dihormati para keponakan keponakannya ini.
Dia ngga mungkin membongkar kedoknya sekarang. Dave juga ngga mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya pada Tante Puspa tentang ketaklayakan perempuan muda ini menjadi guru di kindergarten yang terkenal sulit perekruitannya. Apalagi dia anaknya teman Tante Puspa, hingga bisa masuk jalur ordal.
Dia harus mencari alasan lain. Bukti kuat yang bisa membuat semua orang percaya kalo perempuan muda ini ngga pantas jadi seorang guru.
Dave kemudian berdiri tenang, menepuk nepuk bagian lututnya yang berdebu.
"Bu Rhea, ya," tegurnya tenang pada sosok yang masih terpaku menatapnya.
Rhea menatap benci pada ketenangan laki laki ini. Kenapa dia bisa jadi kerabat Tante Puspa yang baik hati itu? Rhea menyangsikan kalo laki laki ini benar benar kerabat Tante Puspa.
Rhea masih sibuk dengan pikiran pikirannya.
"Bu Rhea," panggil Dave lagi.
Kali ini Rhea tersadarkan.
"Ya......" Suaranya sudah sama seperti orang yang tercekik kuat di lehernya.
"Terimakasih sudah menemani keponakan keponakan saya," ucap Dave, masih dengan tatap elangnya berusaha mengintimidasi Rhea.
Tapi ketika tatap Dave turun ke bibirnya, ingatan malam itu muncul lagi. Dadanya berdesir aneh. Juga ketika tanpa bisa dicegah tatapnya turun ke d@da Rhea yang berbalutkan kemeja yamg sopan. Jauh banget bedanya dari dress yang dikenakannya pada dua malam lalu itu.
Gila
Saat ini Dave mengingat kelakuan tangan nakalnya pada milik sensitif guru muda itu.
Juga reaksi yang diberikan.
Uuugghhh.....
"Sama sama." Suara Rhea ngga berubah seperti tadi, masih seperti sedang tercekik.
Perasaannya makin marah ketika mata li@r laki laki itu melihat ke arah d@danya. Dia jadi teringat yang dilakukan laki laki itu.. Pipinya memanas.
"Bilang sama bu guru kita pulang sekarang," ucap Dave sambil melihat para keponakannya.
"Pulang dulu, ya, miss."
"Makasih, miss."
Rhea tersenyum kaku.
"Iya. Hati hati, ya. Banyak orang jahat di luar sana." Ucapannya ditujukan untuk si om jomblo. Juga lirikan sinis matanya.
Dave tersenyum miring mendengarnya.
"Iya, miss," jawab keempatnya serentak. Tanpa tau antara miss dan omnya sedang terjadi perang dingin.
"Terimakasih nasihatnya. Nanti nasihati juga keponakan keponakan saya, jangan suka maen taruhan. Efeknya sangat ngga baik." Dave balas menyindir.
"Tentu," jawab Rhea mangkel.
Rhea masih terus menatap kepergian laki laki itu dengan emosi yang naik turun.
Tangannya masih terkepal erat, karena menahan keinginannya untuk menampar laki laki kurang ajar itu tadi.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk