NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

"Eh?" Aira langsung mundur sedikit, wajahnya merah menahan malu yang luar biasa. Ia langsung mundur sedikit menjaga jarak aman, seolah-olah baru saja tersengat listrik.

Elvano pun sama, ia langsung menarik tangannya kembali dan berdeham keras, Ehem... untuk menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya. Wajahnya yang biasanya tenang dan dingin, kini terlihat sedikit memerah juga karena malu dan terganggu suasana hatinya yang baru saja mau meleleh.

"Siapa sih yang datang malam-malam begini dan hujan-hujanan gini?" gerutu Elvano pelan dengan nada yang kesal. Siapa pun yang datang saat ini pasti akan menjadi sasaran kekesalannya, karena sudah memecah momen indah dan langka yang baru saja mau terjadi antara dirinya dan Aira.

Suasana romantis yang sedari tadi dibangun perlahan-lahan dengan begitu manis itu, hancur berantakan seketika hanya karena bunyi bel pintu yang sangat sialan itu.

"Ya ampun... Siapa ya Mas? Hujan-hujanan begini nekat banget orangnya datang," ucap Aira ikut heran, matanya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Memang sudah sangat larut untuk tamu tak diundang.

"Entahlah. Aku cek dulu ke bawah," kata Elvano dengan wajah yang kembali berubah tegas dan serius. Aura hangat tadi seketika lenyap digantikan oleh aura dingin seorang pemimpin yang waspada. "Kamu tunggu di sini aja ya. Jangan ikut turun, dingin di bawah dan anginnya kencang. Nanti kamu sakit lagi."

"Iya Mas." Aira mengangguk patuh. "Hati-hati ya Mas."

Elvano pun segera berjalan cepat meninggalkan kamar itu, meninggalkan Aira yang masih duduk di tepi ranjang dengan perasaan yang campur aduk. Jantungnya masih berdegup dengan kencang bukan main mengingat kejadian beberapa detik yang lalu saat wajah mereka begitu dekat, saat tangan suaminya hampir menyentuh wajahnya.

"Aduh, aduh... Kenapa sih harus ada yang datang pas lagi romantis gitu sih." rengek Aira pelan sambil memukul-mukul bantal dengan manja. "Padahal kan tadi suasana lagi bagus banget. Mas Elvano juga lagi baik banget."

Sementara itu di lantai bawah...

Elvano berjalan menuruni tangga dengan langkah yang lebar dan cepat. Wajahnya tampak kesal dan sangat tidak senang. Bayangkan saja, di tengah hujan badai begini, di saat ia sedang ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya dengan tenang, ada orang yang berani-beraninya mengganggu ketenangan mereka.

Sesampainya di ruang tengah, ia melihat Bibi Asih dan Pak Budi sedang berdiri di dekat pintu utama yang sudah terbuka sedikit.

"Siapa Bi?" tanya Elvano ketus, suaranya terdengar dingin dan menusuk.

"Eh, Tuan..." Bibi Asih menoleh kaget. "Ini ada kurir paket Tuan. Katanya paket penting dan mendesak banget, jadi mereka nekat antar malam-malam begini meskipun hujan deras."

Elvano mengerutkan keningnya bingung. "Paket? Aku nggak pesan apa-apa kok malam-malam begini."

Dengan langkah waspada, Elvano mendekat ke pintu. Ia mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Benar saja, di luar sana berdiri seorang kurir dengan jas hujan tebal dan memegang sebuah paket kotak yang dibungkus plastik tebal agar tidak basah.

"Apa bener ini rumahnya Aira Maharani, Pak?" tanya kurir itu dari balik payungnya. "Ini paket atas nama Air."

Elvano mengamati paket itu. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi terlihat tebal dan dibungkus dengan rapat.

"Baik, sini," kata Elvano akhirnya. Ia menerima paket itu dari tangan kurir, lalu menandatangani bukti serah terima.

Setelah kurir pergi dan pintu utama ditutup rapat kembali serta dikunci ganda dengan kuat, suasana di dalam rumah kembali hening.

Elvano berdiri mematung di tengah ruangan sambil memegang paket kotak itu di tangannya. Paket itu terasa agak berat dan dingin karena terkena hawa hujan.

"Apaan sih ini." gumam Elvano pelan.

"Tuan, mau dibuka nggak paketnya?" tanya Bibi Asih hati-hati.

"Iya Bi, aku bawa ke atas aja. Aku buka di kamar, ini paketnya Aira katanya." jawab Elvano singkat.

Elvano pun kembali menaiki tangga menuju kamar tidurnya.Aira yang sedang duduk menunggu sambil membetulkan letak bantal-bantal di atas ranjang, langsung menoleh saat mendengar pintu kamar terbuka.

"Sudah selesai Mas? Itu siapa yang tadi?" tanya Aira ramah.

"Itu cuma kurir paket, ini paket kamu ya?" Tanya Elvano sambil berjalan masuk dan menutup pintu kamar kembali dengan rapat, bahkan ia memutar kuncinya hingga berbunyi klik tanda terkunci.

"Oh... iya kemarin aku beli paket.

******

Keesokan harinya....

Hari itu matahari bersinar cukup terang menyelimuti halaman rumah besar keluarga Praditya, meskipun angin pagi masih terasa sejuk dan segar menyapu dedaunan. Suasana di dalam rumah terasa sangat tenang, damai, dan penuh dengan kehangatan yang baru saja mulai tumbuh subur.

Baru saja beberapa hari yang lalu, tembok tinggi yang memisahkan hati Tuan Elvano dan Nyonya Aira mulai mencair. Kedekatan-kedekatan manis mulai terjalin, senyuman-senyuman tulus mulai sering terukir, membuat rumah megah ini terasa lebih hidup dan lebih berwarna dari sebelumnya.

Pagi itu, Aira bangun dengan perasaan yang sangat bahagia dan bersemangat. Jantungnya berdegup riang mengingat momen indah kemarin malam saat Elvano begitu perhatian dan lembut padanya. Dengan langkah yang ringan, ia turun ke dapur lebih awal dari biasanya.

"Eh, Nona Aira sudah bangun dan turun saja pagi ini?" sapa Bibi Asih ramah saat melihat sosok gadis itu masuk ke area dapur dengan wajah yang ceria dan rambut yang dikuncir kuda rapi.

"Iya, Bi. Pagi-pagi sekali Aira sudah bangun, soalnya tidurnya nyenyak sekali semalam," jawab Aira manis sambil tersenyum lebar menampakkan lesung pipinya yang menggemaskan. "Aira mau bantu-bantu, Bi. Masak apa nih hari ini? Boleh Aira bantu potong sayur atau siapkan piring?"

Bibi Asih tertawa kecil melihat antusias majikannya yang polos dan baik hati itu.

"Ya ampun, Nona ini... Nggak usah repot-repot dong. Kan tugas Bibi yang mengurus semua ini. Nona kan nyonya besar, istirahat saja nanti tunggu Tuan Elvano bangun," kata Bibi Asih lembut mencoba menolak halus.

"Ah, nggak enak dong, Bi, kalau cuma diam saja. Aira kan istri Mas Elvano, masa nggak bisa bantu sedikit-sedikit. Lagian Aira senang kok melakukan hal-hal begini," jawab Aira santai. Ia lalu mengambil celemek kecil dan memakainya, mulai membantu menata peralatan makan di meja makan dengan sangat rapi dan teliti.

Aira menata sendok, garpu, gelas, dan piring dengan penuh cinta. Ia ingin semuanya terlihat sempurna saat suaminya nanti duduk untuk sarapan. Ia ingin membuat pria itu nyaman dan senang.

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara langkah kaki berat dan tegap menuruni tangga kayu. Itu Elvano.

Pria tampan itu muncul di ujung lorong. Ia sudah berpakaian rapi dengan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang membuatnya terlihat sangat gagah, dewasa, dan memancarkan aura wibawa yang luar biasa. Wajahnya masih terlihat sedikit segar namun tetap tampan memikat.

"Pagi, Mas." sapa Aira ceria saat melihat suaminya muncul.

Elvano menoleh, dan seketika senyum tipis terukir di bibirnya melihat istrinya yang sudah siap dan terlihat sangat cantik di pagi hari itu.

"Pagi, Aira." jawab Elvano lembut, suaranya terdengar berat khas orang baru bangun tidur yang sangat menenangkan. "Sudah siap semua sarapannya?"

"Sudah dong, Mas. Aira sama Bibi Asih baru saja selesai menyiapkan semuanya. Silakan duduk, Mas, makan yang banyak ya," Aira bahkan dengan sigap menarik kursi untuk Elvano dengan sikap yang sangat sopan dan lembut.

"Makasih..." Elvano duduk, lalu mulai menyantap sarapan pagi itu dengan tenang.

Suasana sarapan pagi itu terasa begitu hangat, begitu nyaman, dan begitu damai. Sesekali mereka bertukar kata-kata ringan, bertanya tentang rencana hari ini, atau sekadar membicarakan cuaca. Aira merasa sangat bahagia bisa berada di momen seperti ini. Rasanya seperti keluarga yang utuh dan harmonis.

'Semoga kebahagiaan ini terus bertahan ya, Allah' batin Aira berdoa dengan tulus dan penuh harap.

Namun, sayangnya... kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Belum habis mereka menyantap makanan, tiba-tiba terdengar suara mobil yang masuk ke halaman rumah dengan kencang, lalu suara rem yang cukup keras terdengar dari arah depan.

Kriiiettt!!!

Suara itu cukup nyaring hingga menarik perhatian semua orang di dalam rumah.

"Itu siapa ya, pagi-pagi buta sudah berisik sekali?" gumam Bibi Asih sambil mengelap tangannya ke celemek dan berjalan cepat menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang.

Aira dan Elvano pun berhenti mengunyah, menoleh ke arah pintu depan dengan rasa penasaran bercampur heran.

Tak berapa lama kemudian, Bibi Asih kembali masuk dengan wajah yang terlihat sedikit kaget dan tidak terlalu senang.

"Tuan... Nona... ada tamu. Katanya saudara jauh Tuan, Tante Rina katanya," lapor Bibi Asih dengan nada yang agak dipaksakan.

Mendengar nama itu, alis Elvano langsung terangkat sedikit dan wajahnya seketika berubah menjadi datar bahkan sedikit dingin. Ia tahu betul sifat wanita yang satu ini. Mulutnya tajam, suka ikut campur, dan tidak pernah bisa menjaga lisan.

"Oh... Tante Rina." gumam Elvano pelan dengan nada yang sama sekali tidak antusias. "Suruh masuk saja, Bi."

"Iya, Tuan."

Beberapa saat kemudian, masuklah seorang wanita paruh baya yang berpakaian sangat mencolok, memakai perhiasan yang terlihat berlebihan, dan berjalan dengan gaya yang sangat sombong serta angkuh, seolah-olah dialah pemilik rumah ini.

Itu Tante Rina.

"Wahhh... rumah kamu besar banget sih. Mewah sekali yaaa..." seru Tante Rina dengan suara yang keras dan cempreng saat masuk, matanya menjelajah seluruh ruangan dengan tatapan menilai yang kurang suka.

"Pagi, Tante..." sapa Elvano singkat dan datar, ia tidak berdiri hanya menganggukkan kepala sedikit. "Silakan duduk, Tante."

"Eh, Elvano... lagi sarapan ya?" Tante Rina tersenyum simpul, lalu matanya yang tajam itu beralih menatap lurus ke arah Aira yang duduk diam dengan sopan di sebelah Elvano.

"Oh... ini yang namanya Aira ya? Istri baru kamu itu, El?" tanya Tante Rina dengan nada yang terdengar sangat meremehkan. Matanya menatap Aira dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan yang tajam, menyakitkan, dan seolah sedang menimbang-nimbang harga barang murahan di pasar.

Aira yang merasa diperhatikan dengan cara yang tidak nyaman itu langsung merasa risih dan canggung. Ia berdiri perlahan, lalu menundukkan kepalanya sedikit memberi hormat dengan sopan santun yang sangat tinggi.

"Selamat pagi, Tante, saya Aira." perkenalkan Aira lembut dan tenang. "Silakan duduk, Tante. Mau minum apa? Teh atau kopi?"

Tante Rina tidak langsung menjawab. Ia justru mendengus pelan, lalu berjalan mendekati meja makan dan duduk dengan sembarangan, posisinya sangat tidak sopan.

"Halah, sopan santun doang mah bisa semua orang pakai," gumam Tante Rina pelan namun cukup keras agar bisa didengar, lalu ia tersenyum miring menatap Aira. "Jadi kamu ini ya, yang bikin Elvano mau nikah mendadak begitu? Awalnya saya dengar kabar saya kaget setengah mati lho. Kok tiba-tiba banget sih, El?"

Elvano yang mendengar nada bicara bibinya yang mulai tidak enak itu langsung menimpali dengan cepat untuk memberi batasan.

"Iya, Tante. Memang sudah takdir dan juga keinginan orang tua. Jadi kami menikah. Sekarang dia sudah sah menjadi istri saya," jawab Elvano tegas, suaranya dingin dan berwibawa.

Namun, Tante Rina sepertinya pura-pura tuli atau memang tidak peduli. Matanya terus menatap Aira dengan tatapan yang sangat tajam dan tidak ramah.

"Iya sih nikah, tapi kan saya lihat-lihat nih..." Tante Rina mendecakkan lidahnya, Tsk tsk tsk... sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kelihatannya biasa aja ya anaknya. Sederhana banget pakaiannya, penampilannya juga apa adanya gitu lho. Nggak kelihatan kaya nyonya besar yang tinggal di rumah mewah begini."

Aira terdiam mendengar ucapan itu. Dadanya terasa sedikit perih dan nyeri, tapi ia berusaha tetap tersenyum dan menahannya demi menjaga ketenangan.

"Aira kan orangnya memang sederhana, Tante. Nggak suka yang berlebihan." jawab Aira pelan mencoba menjelaskan dengan lembut.

"Sederhana atau emang nggak punya gaya sih?" potong Tante Rina langsung dengan ketus, suaranya keras dan tajam. "Lihat tuh cara duduknya, cara bicaranya, kelihatan banget aslinya dari keluarga biasa-biasa aja kan? Masih kental banget kesan desa atau orang kebanyakan gitu lho, El."

"Tante..." Elvano mulai menampakkan wajah tidak sukanya. Tatapannya mengeras. "Jangan bicara seperti itu tentang istri saya."

"Ah elah, El. Tante kan cuma ngomong apa adanya lho demi kebaikan kamu juga," Tante Rina malah membela diri dengan wajah yang sok peduli. "Kamu kan CEO besar, orang terpandang, hartanya berlimpah ruah. Masa istrinya kelihatan pas-pasan dan ndeso gini? Nanti malu-maluin nama besar keluarga Praditya, tahu nggak sih?"

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!