NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 - Perhaps Love

Pagi itu udara terasa segar. Sinar matahari menembus jendela besar kantor Natura Foods, memantul di meja-meja penuh dokumen dan layar komputer yang menyala. Suasana divisi marketing cukup sibuk; suara ketikan, bunyi telepon, dan obrolan singkat bercampur menjadi satu.

Aku duduk di kursiku, memandangi layar laptop yang menampilkan proposal marketing produk baru yang kemarin kususun. Presentasi pagi tadi sebenarnya berjalan lancar—bahkan Henry terlihat cukup puas. Tapi tetap saja, setiap kali mengingat tatapan matanya yang tenang dan senyum tipisnya saat mendengarkan penjelasanku, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Lili, bisa ke sini sebentar?”

Suara itu membuatku menoleh. Henry berdiri di tengah ruang kantor, setumpuk dokumen di tangannya. Semua orang menunduk pada pekerjaannya masing-masing, seolah kehadiran Henry adalah hal biasa. Hanya aku yang merasa napasku tersendat.

Aku bangkit dari kursi dan berjalan mendekatinya. “Ya, Pak?” tanyaku hati-hati.

Henry mengangguk kecil. “Saya cuma mau pastikan target market yang kamu tulis di proposal sudah lengkap. Jangan sampai ada detail yang terlewat.”

Aku menerima dokumen itu, mataku menelusuri angka dan tabel yang sudah kuhafal di luar kepala. “Sudah, Pak. Saya sudah cek ulang. Semua data—dari kalangan menengah ke bawah sampai pecinta Korea—sudah tercantum.”

Henry tersenyum tipis. “Bagus. Kamu memang selalu teliti, Lili.”

Aku menelan ludah, merasakan wajahku menghangat. Senyuman itu… entah kenapa selalu membuatku lupa pada rasa lelah.

Henry menutup mapnya lalu menatapku singkat. “Kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu. Laporan final saya tunggu besok pagi.”

“Baik, Pak.”

Tanpa banyak kata lagi, ia berbalik meninggalkan divisi marketing. Suara langkah sepatunya terdengar tegas hingga akhirnya lenyap di balik pintu yang menutup pelan.

Aku kembali ke kursiku, mencoba fokus pada layar laptop. Tapi degup jantungku masih tersisa.

“Mbak Lia…” suara Merry dari meja belakang memecah lamunanku. Ia memiringkan kepala, wajahnya penuh rasa ingin tahu. “Kenapa sih Pak Henry selalu manggil Mbak itu Lili?”

Aku tersentak. “Hah? Itu… aku juga nggak tahu. Mungkin beliau lebih suka manggil aku begitu.”

Merry terkekeh, matanya menyipit penuh arti. “Ih, kedengarannya kayak spesial gitu, lho. Lili itu kan bunga yang artinya kemurnian sama keanggunan. Orang yang dikasih panggilan kayak gitu biasanya dianggap istimewa.”

Aku terdiam. Kata-kata Merry tanpa sadar membuat dadaku menghangat. Aku menunduk, berpura-pura sibuk dengan berkas di meja. “Ah, kamu bisa aja, Mer. Jangan ngawur deh.”

Tapi entah kenapa, hatiku justru semakin berdebar. Kalau benar Henry memanggilku “Lili” bukan sekadar kebiasaan… lalu apa arti sebenarnya di matanya?

Di sampingku, Fera dan Riki sibuk dengan data tambahan untuk laporan. Pak Arman sesekali menoleh, memastikan semua orang tetap fokus. Suasana kantor kembali normal, meski aku masih sulit menenangkan pikiran.

Tak lama, Henry kembali melintas, sekilas memeriksa dokumen di meja staf lain. Sebelum keluar lagi, ia sempat menatapku. “Lili, pastikan semua persiapan untuk kunjungan pabrik beres, ya. Saya mau semuanya berjalan lancar.”

Aku meneguk ludah. Satu kata itu—Lili—anehnya cukup untuk membuat wajahku panas. “Baik, Pak.” jawabku pelan.

Begitu Henry benar-benar pergi, Merry langsung menyenggolku dari belakang. “Ya ampun, Mbak. Tiap kali beliau ngomong sama Mbak, wajah Mbak merah semua. Kenapa, sih?”

Aku menghela napas panjang. “Merry, jangan mulai lagi. Fokus sama laporanmu.”

Fera ikut menimpali. “Iya, Mer. Udah, jangan godain Lia terus. Kami harus siap-siap ke pabrik.”

Seolah mendengar, Pak Arman bangkit dari kursinya di depan, menatap kami bertiga. “Lili, Fera, Riki, dengar ya. Kunjungan ke pabrik minggu ini penting. Kita akan melihat langsung proses produksi dan memastikan produk baru sesuai standar. Pak Henry juga akan ikut. Jadi pastikan semua persiapan matang.”

Riki mengangkat alis, separuh bercanda. “Wah, berarti kita bakal keliling pabrik bareng Pak Henry?”

Fera tersenyum tipis. “Lumayan. Bisa belajar langsung dari CEO.”

Merry cepat-cepat menyelutuk. “Pak Arman, saya ikut juga ya? Saya mau lihat proses pembuatan produk baru. Apalagi kalau ada Pak Henry, pasti seru banget.”

Pak Arman menatapnya datar. “Merry, kita ke pabrik itu untuk bekerja, bukan kencan buta. Kamu di kantor saja. Bikin draft materi promosi awal, kumpulkan referensi desain iklan, dan pastikan data penjualan bulan lalu sudah rapi. Kalau ada yang kurang, koordinasi sama Dina dan Beni.”

Aku dan Fera saling pandang menahan tawa, sementara Merry cemberut. “Baik, Pak…” jawabnya malas.

Suasana kembali tenang. Tapi di dalam kepalaku, satu pertanyaan terus mengganggu.

Bagaimana nanti saat kunjungan ke pabrik bersama Henry?

Aku sudah sering ke pabrik sebelumnya, bahkan bersama Henry. Tapi entah mengapa, kali ini rasanya berbeda. Ada canggung, ada tegang, ada… sesuatu yang sulit kujelaskan. Dan itu membuatku gelisah.

Sore harinya, saat jam menunjukkan waktu pulang, aku, Fera, dan Riki tidak beranjak dari kursi. Lampu di ruangan marketing terasa lebih redup karena sebagian besar staf sudah meninggalkan kantor. Hanya suara ketikan keyboard dan kertas yang dibolak-balik yang menemani kami. Kami memutuskan lembur untuk menyusun list pertanyaan teknis, data pasar, draft materi promosi awal, dan laporan ringkas yang harus siap sebelum kunjungan ke pabrik minggu depan.

Fera melepas kacamatanya sejenak, lalu berkata, “Oke, kita mulai dari list pertanyaan teknis dulu. Lia, menurutmu apa yang paling penting kita tanyakan ke pihak pabrik nanti?”

Aku membuka catatanku. “Pertama, bahan baku. Kita harus pastikan semua bahan baku halal, aman, dan punya sertifikasi BPOM. Kedua, metode pengawetan. Karena ini tteokbokki instan, kita harus tahu daya tahannya berapa lama setelah produksi.”

Riki mengangguk sambil mengetik cepat di laptop. “Oke, bahan baku dan metode pengawetan. Aku tambahin: kapasitas produksi per bulan. Jangan sampai permintaan pasar tinggi, tapi pabriknya nggak sanggup memenuhi.”

Aku menghela napas, mencoba mencerna penjelasan teknis itu. Fera juga mencatat dengan serius, sesekali menggaris bawahi hal penting.

Tiba-tiba suara langkah terdengar mendekat. Kami menoleh hampir bersamaan.

“Kalian belum pulang?” suara berat itu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Henry berdiri di ambang pintu, tatapannya singkat namun terasa menusuk.

“Belum, Pak. Kami sedang mempersiapkan untuk ke pabrik minggu ini.” jawab Fera sopan.

“Oh… Baiklah. Jangan pulang terlalu malam. Tidak baik perempuan pulang sendirian malam-malam.” ucap Henry singkat lalu berlalu.

“Hah? Jadi Pak Henry cuma khawatirin kalian doang nih? Aku yang cowok nggak dikhawatirin?” Riki cemberut.

“Ihh, kok kamu nggak terima gitu sih? Kamu suka ya sama Pak Henry?” goda Fera sambil menahan tawa.

“Enak aja! Aku masih normal!” seru Riki, membuat kami tertawa kecil.

Aku menunduk, pura-pura sibuk membolak catatan, padahal pikiranku melayang. Benarkah Henry tadi mengkhawatirkan aku dan Fera hanya sebagai karyawatinya? Atau… Aku buru-buru menggeleng, menepis pikiran itu.

“Udah, fokus kerja lagi.” Aku mengalihkan pembicaraan. “Soal packaging, gimana? Mereka punya mesin cetak sendiri atau masih outsourcing? Itu bisa pengaruh ke timeline launching.”

Fera mengetik cepat. “Sip, jadi poin teknis sejauh ini: bahan baku, metode pengawetan, kapasitas produksi, dan packaging. Ada lagi?”

Riki bersandar santai. “Mungkin soal harga pokok produksi. Kita harus tahu estimasi biaya per pack, supaya divisi kita bisa hitung margin keuntungan.”

Aku menambahkan, “Dan cara distribusi. Apakah produk dari pabrik langsung ke gudang pusat, atau lewat distributor kecil dulu?”

“Good,” Fera mengangguk. “Sekarang pindah ke data pasar. Lia, kamu kan udah bikin segmentasi target di proposalmu. Bisa ulangi biar kita semua satu suara?”

Aku menarik napas, lalu menjelaskan, “Target utama kita remaja sampai dewasa muda, usia 15–30 tahun. Mereka yang paling familiar dengan budaya Korea, sering nonton drama, variety show, dan paling konsumtif terhadap produk tren. Segmentasi kedua, keluarga muda. Tteokbokki instan bisa jadi camilan praktis di rumah.”

Riki menimpali, “Kalau gitu, aku tambahin data survei tahun lalu. Dari responden usia 20–25, 65% suka coba produk baru, apalagi kalau ada embel-embel Korea.”

“Bagus,” sahut Fera. “Itu bisa masuk ke materi promosi awal. Speaking of promotion, ide apa yang bisa kita masukkan?”

Aku menimbang. “Karena ini produk instan, promosi utamanya harus menekankan ‘praktis, enak, dan Korea banget’. Bisa pakai tagline: Rasakan Korea dalam 5 Menit. Juga kerja sama dengan influencer pecinta K-drama.”

Riki menambahkan, “Awal-awal bisa kasih promo bundling. Beli dua gratis satu, atau bonus merchandise kecil.”

Fera tersenyum. “Oke, catat. Terakhir, laporan ringkas. Intinya semua data ini kita rangkum biar bisa dibaca Pak Arman dan Pak Henry. Jangan lebih dari dua halaman.”

Aku merebahkan punggung sambil menghela napas. “Banyak juga ya. Tapi kalau kita bagi-bagi tugas, bisa selesai malam ini.”

“Setuju,” kata Riki. “Aku pegang data pasar dan survei konsumen.”

“Aku rangkum pertanyaan teknis sekaligus bikin draft laporan ringkas.” ujar Fera.

“Kalau gitu aku yang bikin draft materi promosi awal.” ujarku.

Kami saling pandang lalu tertawa kecil. Lembur memang melelahkan, tapi entah kenapa saat bertiga begini, beban kerja terasa lebih ringan.

Setelah cukup lama lembur, kami akhirnya keluar ruangan. Riki menuju parkiran basement, sementara aku dan Fera turun ke lantai satu.

Di depan pintu keluar, satpam menghampiriku. “Mbak Lia, ini kunci motornya. Tadi ada montir yang nganterin motor Mbak. Motornya sudah ditaruh di sana.”

Aku terperanjat. Astaga, aku sampai lupa kalau motorku masih di bengkel karena bannya kempes. Tapi… kenapa montir itu harus repot mengantarkan langsung? Jangan-jangan… Henry yang menyuruh?

“Makasih banyak, Pak.” ucapku sambil menerima kunci.

Pak Satpam mengangguk lalu beranjak.

“Motormu kenapa?” tanya Fera.

“Kemarin bannya kempes.” jawabku singkat.

“Oh begitu. Ya udah, aku duluan ya. Hati-hati di jalan.” ucap Fera sambil melambaikan tangan.

Aku mengangguk, lalu berjalan menuju motor. Malam semakin larut, jalanan ibu kota agak sepi. Angin malam menyentuh kulit, membuatku sedikit menggigil.

Saat berhenti di lampu merah, mataku tak sengaja menatap kaca spion. Sebuah mobil hitam berhenti agak jauh di belakangku. Mobil itu… terlihat sangat familiar. Persis seperti mobil Henry.

Dadaku berdebar. Apa mungkin…?

Tapi bukankah dia sudah pulang lebih dulu? Atau hanya kebetulan mirip?

Lampu hijau menyala. Aku memutar gas, melaju agak cepat. Namun setelah dua kali belok, mobil itu masih di belakangku. Rasa was-was merambati tubuhku.

Sampai akhirnya, menjelang kompleks tempat tinggalku, mobil itu berbelok ke arah lain. Aku terdiam, lalu tersenyum samar tanpa sadar. Entah lega, entah kecewa.

“Mungkin cuma kebetulan.” gumamku pelan.

Namun sepanjang malam itu, hatiku tidak benar-benar tenang. Ada rasa hangat aneh yang tertinggal, seakan ada seseorang yang diam-diam memperhatikan langkahku… lebih dari yang seharusnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!