Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.
Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.
Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.
Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?
Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Hanum
Terdengar seperti suara ledakan kecil, dan teriakan dari rumah Hanum, ketika pak Haris, ayahnya Hanum begitu murka, saat dipermalukan oleh putri sulungnya untuk kesekian kalinya.
Usia Hanum yang sudah menginjak dua puluh lima tahun, dan telah menolak enam pria yang melamarnya, membuat ayahnya murka. Meja kaca yang tadinya terlihat indah dan rapi, kini berhamburan di lantai, setelah sepatu pak Haris menghantam di bagian tengah meja itu.
"Aaaaa!" Bu Risa berteriak histeris, suaranya yang melengking menusuk hingga ke dalam gendang telinga.
Emosi tak terkontrol dari pak Haris, membuatnya mengangkat tangan siap untuk memukul sang anak. Setelah sebelumnya memecahkan meja kaca. "Mau berapa banyak lagi, laki-laki yang akan kamu tolak, Hanum!? Apa yang kurang dari Rio? Bukankah dia tampan, mapan, dari keluarga terhormat?" Ucap pak Haris yang dijawab anggukan dari Hanum, "lantas, laki-laki seperti apa yang kamu cari?"
Hanum berlutut di kaki sang ayah, lalu bicara dengan suara tenang meski ayahnya menunjukan kemarahan yang nyaris hilang akal sehatnya. "Ayah, aku mohon jangan lakukan ini, aku—aku janji, aku akan menerima siapapun yang akan melamarku selanjutnya. Apapun keadaanya, aku akan menerimanya." Janji Hanum demi menghentikan kemarahan sang ayah, karena sejak dua tahun terakhir dirinya telah menolak enam pria yang datang untuk melamarnya.
"Ayah malu sama tetangga, sama teman-teman ayah, juga sama saudara-saudara kita, Hanum!" Tegas pak Haris dengan suara bergetar serta rahang yang mengeras.
"Ibu juga malu punya anak yang jadi perawan tua, Hanum!" Timpal ibunya yang juga ikut menekan setiap kalimat yang terucapkan. "Apa kamu nggak malu jika adikmu mendahului kamu?"
Sementara.... Nadia, adik perempuannya tersenyum licik mengintip dari sela pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
Hanum mengelengkan kepalanya, "tidak ibu, bukan itu masalahnya. Aku ikhlas jika Nadia lebih dulu menikah, sungguh itu bukan suatu masalah buat aku. Tapi jika ayah dan ibu merasa malu, maka baiklah. Aku akan menerima lamaran siapapun yang akan datang selanjutnya. Aku berjanji... Aku berjanji!"
Suasana tegang yang tadinya memenuhi ruangan itu perlahan-lahan mulai terurai, setelah Hanum berjanji akan menuruti apa kata kedua orang tuanya, untuk segera menikah.
Pak Haris yang tadinya berdiri dengan wajah merah, kini mulai menghembuskan napas lega dan duduk kembali di kursinya.
Bu Risa yang tadinya menangis, mulai menghapus air matanya dengan lembut sambil tersenyum kecil. "Ibu tahu kamu akan mengerti, nak," ucapnya sambil memeluk Hanum.
Beban berat yang tadinya menekan dada Hanum kini sedikit terangkat. Ia melepas pelukan ibunya, lalu beralih memeluk ayahnya, "Aku janji, ayah. Aku akan melakukan apa yang ayah dan ibu inginkan."
Pak Haris membalas pelukan anaknya, "Ayah percaya padamu, nak. Ayah tahu, kamu akan membuat ayah dan ibu bahagia, kan?" Ucap Pak Haris yang dijawab anggukan oleh Hanum.
Kemudian Hanum menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja, lalu segera berlari ke kamarnya. Hanum segera menghubungi kekasih yang telah lama ia tunggu-tunggu janjinya.
"Kenapa tidak diangkat Reza? Aku mohon angkatlah!" Gumamnya sambil terus mencoba menghubungi.
"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk." Jawab operator.
Tiga kali memanggil tak juga terhubung, kini nomornya sedang sibuk. Hanum tak sabar ingin membicarakan hal penting itu pada kekasihnya.
Hanum menghela napas, lalu mengetik pesan di ponselnya. "Reza, tolong hubungi aku jika kamu sudah tidak sibuk. Penting!" Hanum mengirim pesan itu, lalu menunggu balasan dari Reza yang tak kunjung ada.
Dari kamar sebelah, adiknya sedang tertawa puas. "Akhirnya, mas... Sebentar lagi kita akan punya alasan untuk bersama, dan mbak Hanum pasti akan merasa sangat bersalah padamu." Ucapnya dari ujung telpon.
"Jadi kamu sungguh-sungguh dengan apa yang kamu katakan itu?" Tanya Reza yang dibenarkan oleh Nadia.
"Tentu saja. Kita cuma tinggal nunggu ada laki-laki yang datang melamar mbak Hanum, dan kali ini mbak Hanum sudah berjanji akan menerima apapun keadaanya." Kata Nadia sambil tertawa puas, tanpa peduli dengan perasaan Hanum pada saat itu.
"Bagus, sayang! Kalau begitu aku ada ide. Gimana kalau kita carikan laki-laki yang mau sama Hanum, kalau bisa yang usianya jauh lebih tua, ha ha ha." Keduanya terbahak sebelum mengakhiri panggilan.
Rupanya Reza sang kekasih dan Nadia adiknya Hanum saling menyukai sejak lama, tanpa diketahui oleh Hanum, mereka telah menjalin hubungan. Oleh sebab itulah, selama ini Reza hanya janji-janji saja, bahwa dirinya akan melamar Hanum setelah hidupnya mapan.
Janji yang sebenarnya tidak akan pernah Reza tepati, dia hanya sedang beralasan agar Hanum merasa lelah dan menyerah karena menunggunya, lalu dia bisa dengan leluasa menikahi adiknya, tanpa merasa bersalah.
* *
Pagi itu, Hanum duduk di depan cermin, menyesuaikan hijabnya yang lembut dan elegan. Hijab dengan warna-warna soft yang ia kenakan, selalu menonjolkan kecantikannya yang terpancar secara alami, dan matanya yang teduh menunjukan ketenangan dalam dirinya.
Dilihatnya pesan dalam ponsel yang sejak semalam ia kirimkan pada Reza. "Belum dibalas juga?" Gumamnya, lalu menekan tombol hijau untuk menghubunginya kembali.
"Hallo, sayang. Sepagi ini menelpon, ada apa?" Jawab Reza dari ujung telpon, seolah tanpa dosa.
Hanum menghela napas untuk menenangkan diri, sebelum bicara pada lelaki yang selalu memberinya janji palsu. "Ada hal penting, pastinya."
"Hal penting apa, sayang?" jawabnya santai.
"Lamar aku segera!" pinta Hanum.
"Hey, sepagi ini kamu ke—" ucap Reza yang langsung dipotong oleh Hanum.
"Atau hubungan kita akan berakhir? Aku sudah berjanji akan menuruti apa kata ayahku, aku akan menikah sama pria yang entah besok, atau kapanpun yang akan melamarku selanjutnya."
"Sayang, kamu tahu kan? Aku di sini sedang berjuang untuk masa depan kita, kamu yang sabar lah... Bilang sama ayah mu." Kata Reza sambil menahan tawa dari ujung telpon.
Hanum kembali menghembus napas, "sudah berapa kali, kamu mengatakan seperti ini padaku? Kamu khawatir pada masa depan kita, atau kamu memang sebenarnya tidak serius sama aku?"
"Bu—bukan begitu, sayang. Justru aku serius, sangat serius sama kamu. Makanya aku lagi berjuang di—"
"Beri aku jawaban pasti!" pangkas Hanum cepat. "Kamu segera melamar aku, atau hubungan kita cukup sampai di sini? Aku sudah tidak bisa menahan ayah sama ibu ku lagi. Jadi, jangan salahkan aku jika aku mengakhiri hubungan kita sewaktu-waktu!" tegas Hanum, lalu menutup telponnya.
Dipandangnya langit-langit kamar. "Ya Allah, atur saja bagaimana baiknya."
Sejenak hanum duduk, menatap jam dinding yang masih terlalu pagi untuk aktifitasnya. Harapan yang dia inginkan selama bertahun-tahun seolah hampir memudar. Lelahnya menunggu, membuatnya memutuskan untuk pasrah, dan menyerahkan semuanya pada kehendak Allah.
Kini ia duduk berhadapan dengan kedua orang tua, serta adik perempuannya dalam meja makan, untuk sarapan bersama.
"Sepagi ini mau ke mana kamu, Hanum?" tanya ayahnya yang tidak langsung dijawab oleh hanum.
"Iya, nak. Ini masih terlalu pagi, kan?" timpal ibunya.
"Aku mau ke rumah temanku dulu, ayah, ibu. Ada sedikit urusan." Katanya.
"Kamu ingat sama janji kamu semalam kan, Hanum?" Pak Haris kembali mengingatkan.
"Iya, ayah." Jawabnya sambil mengangguk pelan.
"Bagus! Ayah Harap kamu tidak akan mengingkarinya. Ayah sudah sangat lelah dengan pertanyaan-pertanyaan semua orang, tentang kapan pernikahanmu akan terjadi?"
"Iya, Hanum. Ibu juga sampai malu sama tetangga, di komplek kita ini nggak ada anak gadis yang sampai jadi perawan tua." Sambung bu Risa, "selain itu kamu juga harus memikirkan adik mu yang juga sudah dua puluh empat tahun, kalau kamu belum juga menikah, lalu kapan adik mu bisa menikah? Kamu bayangin gimana perasaan ibu, saat orang-orang bertanya, Risa.. kapan anak-anak gadismu laku?" oceh bu Risa.
"Bu, sebenarnya aku nggak masalah kalau Nadia mau menikah duluan." Ucap Hanum yang langsung dipotong ibunya.
"Nggak bisa gitu dong, kamu yang lebih tua, maka kamu yang harus lebih dulu menikah!" tegas bu Risa.
"Memangnya kenapa sih, bu? Di mana salahnya kalau Nadia yang lebih dulu menikah?" Kata Hanum yang langsung mendapat gertakan dari ayahnya.
Pak Haris memukul meja dengan sangat keras, karena tak setuju dengan ucapan Hanum. "Jadi kamu masih akan menolak laki-laki lagi?"
"Bukan begitu maksud aku, ayah." Hanum mencoba menjelaskan, namun ayahnya sudah menatap dengan mata yang membulat kemerahan yang langsung membuat Hanum tertunduk.
"Kalau kamu sampai menolak laki-laki lagi, maka kamu tidak akan melihat ayah selamat!" Ancam pak Haris yang membuat Hanum terdiam.
"Maaf, ayah." Ucapnya sambil berdiri dari tempat duduknya, "aku pergi dulu." Pamitnya dengan suara yang nyaris tak terdengar, lalu pergi dari rumah sebelum jam kerjanya.
"Anak itu?!" Ucap pak Haris dengan suara berat dan kedua tangan mengepal di atas meja.
Nadia menghampiri, lalu memeluk ayahnya dari belakang. "Sabar, ayah. Mbak Hanum sudah berjanji, kan? Kalau begitu, sebaiknya ayah carikan saja pria itu. Pasti mbak Hanum nggak akan nolak." Bujuk Nadia yang langsung mendapat persetujuan dari ayah dan ibunya.
"Iya, yah! Kenapa kita tidak kepikiran? Nadia benar, kita carikan saja seorang pria buat Hanum. Hanum sudah berjanji, sudah pasti dia tidak akan menolak." Kata bu Risa dengan penuh keyakinan.
Pak Haris tersenyum sambil mengangguk membenarkan ucapan sang istri. Lalu mereka merencanakan sesuatu untuk anak sulungnya itu.
...****************...