Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
“Kalau begitu,” katanya pelan, “lakukan pekerjaan ini dengan tulus. Dan layani aku.”
Keheningan yang tercipta setelah kata-kata Arya terasa jauh lebih menyesakkan daripada pertengkaran apa pun yang sebelumnya pernah mereka alami. Nadia berdiri mematung di dekat meja kecil, kedua tangannya saling menggenggam, berusaha menahan gemetar yang perlahan menjalar dari ujung jarinya ke seluruh tubuh. Kata layani aku masih terngiang di telinganya, bukan sebagai kalimat bernada cabul, melainkan sebagai pernyataan kuasa dingin, mutlak, dan tak memberi ruang tawar-menawar.
Namun anehnya, Nadia tidak merasa takut seperti sebelumnya.
Ia justru merasa lelah.
Lelah dengan hidup yang selalu menuntutnya menunduk, lelah dengan kenyataan bahwa siapa pun yang memiliki kuasa entah itu uang, status, atau nama besar selalu merasa berhak mengatur napas orang lain.
Nadia mencengkram piring di tangannya erat-erat. Dia baru saja menyelesaikan mencuci peralatan bekas makan Arya. Laki-laki pria itu membicarakan hal-hal yang mengarah pada hal dewasa dan membuat Nadia kehilangan kata-kata.
"Bagaimana? Bukankah itu salah satu pekerjaanmu sebagai seorang istri?"
"Bukankah saya boleh mengajukan satu permintaan? Kalau begitu permintaan saya adalah saya tidak ingin anda menyentuh saya malam ini."
"Baiklah, kalau begitu kamu yang harus menyentuhku."
Nadia semakin tidak tahan dengan kata-kata laki-laki itu.
"Jika aku merasa puas, kamu bisa bekerja besok. Jika tidak, akan aku pastikan kamu tidak akan bisa bekerja di manapun saat aku tidak lagi menginginkanmu, seumur hidupmu!" Arya menekankan setiap suku kata pada kalimat terakhir yang diucapkan.
Syaraf-syaraf di tubuh Nadia menegang. Dia marah karena tidak bisa melakukan apapun untuk melawan laki-laki itu. Ancaman Arya kali ini membuatnya gentar. Jika benar laki-laki itu melakukan hal yang dia ucapkan apakah bisa dipastikan dia akan lebih miskin dari keadaannya sekarang dan mungkin hidup di jalanan. Jangankan untuk bermimpi hidup yang lebih baik, bahkan uang kos saja tidak akan sanggup dia bayar.
"Kemari lah, lakukan tugasmu."
Nafas Nadia tercekat di tenggorokan, iya tidak ingin menuruti perintah Arya, tapi juga tidak bisa menolaknya.
"Sayang," panggil Arya membuat Nadia mengigit bibir bawahnya." Bukankah kamu ingin tetap bekerja?" Arya kembali mengingatkan imbalan yang akan dia dapatkan jika menuruti kemauannya .
Dengan langkah perlahan, Nadia menekankan diri ke arah laki-laki itu yang kini masih duduk diam di atas ranjang mungil miliknya. Dia terpaku begitu menatap wajah tanpa dosa di hadapannya.
"Cium aku!" Pinta laki-laki itu.
Nadia mengepalkan tangannya, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Dia merasa marah dan kesal di saat yang bersamaan, tidak menyangka pria ini akan berubah kembali menjadi iblis setelah pulih dari ketidakberdayaannya.
"Sayang..ayolah." panggil Arya kembali menyapa yang indra pendengaran Nadia. Tangannya menarik jemari Nadia di sisi badan, memintanya untuk mendekat.
Mau tak mau, Nadia harus melayani laki-laki itu.
"Cium aku!"
Nadia mendekatkan bibirnya, bersiap mencium pria yang berstatus sebagai suami sahnya itu. Wanita itu menarik diri setelah mengecup Arya sekilas.
"Ini kecupan bukan ciuman," ujar Arya merayakan protesnya karena Nadia mengakhiri perlakuannya dalam hitungan detik.
"Dasar pria liar!" Nadia beranjak, dia enggan melanjutkan kegiatan itu lagi.
"Jika kamu tidak ingin melayaniku, maka aku akan mengambil alih keadaan. Jangan salahkan aku jika kamu tidak bisa bekerja besok!" Ancaman laki-laki itu berhasil membuat Nadia menyerah.
"Aku tidak bisa! Aku belum pernah melakukannya!" Wajar Nadia dengan kentus, melupakan kata ganti formal seperti yang biasa dia gunakan sebelumnya.
Arya tersenyum sana karena Nadia bukan wanita yang berpengalaman, itu artinya dialah orang pertama yang akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari istrinya.
"Lakukanlah seperti yang aku lakukan padamu!"
"Hah?" Mata Nadia membola, tidak menyangka dengan permintaan yang didengarnya barusan.
Nadia mendorong dada sang suami dan menarik diri. Dia menggelengkan kepalanya tegas, tidak ingin permainan mereka berlanjut.
"Kamu menolakku?"Arya merasa tidak senang karena ada dia melepas dengan paksa tautan mereka.
"Aku harus bekerja besok."
"Bukankah ini juga pekerjaanmu? Kita sudah sepakat tentang hal ini."
Nadia bungkam. Memang benar, dia tidak mungkin bisa lari dari pria ini. Tapi bagaimana caranya supaya mereka tidak perlu berhubungan intim?
Melihat Nadia yang termenung, Arya mendekatkan wajahnya lagi, bersiap untuk menyapa bibir ranum yang telah menjadi candu untuknya. Lagi-lagi Nadia menggeleng, menolak untuk melayani laki-laki itu. Ia menutup bibirnya mengunakan tangannya.
"Aku akan melayanimu. Tapi kamu jangan menyentuh ku!" Pinta Nadia dengan raut wajah ketakutan. Dia masih merasakan nyeri di tubuhnya karena perlakuan buas pria ini beberapa jam yang lalu.
"Sungguh?"
Nadia kembali merayu, dia belum pernah melayani seorang pria, lalu bagaimana mungkin dia bisa memuaskan pria ini?"
"Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya." Manik coklat itu bergerak gelisah, menandakan dia meragukan ucapannya sendiri. Hal itu tentu saja membuat Arya senang. Dia begitu menikmati momen saat Nadia terlihatlah tak berdaya seperti sekarang.
"Apakah ini pertama kalinya untukmu?" Tangan Arya menarik pinggang Nadia untuk mendekat, membuat tubuh mereka tak lagi berjarak. Deru napas Nadia yang tidak teratur menyapa wajahnya.
"Hangat." Gumam Arya lirih, memamerkan senyum miringnya.
Tubuh Nadia membeku, aroma parfum Arya membuatnya kelihatan fokus.
"Kamu terlihat tegang." Arya menatap mata di hadapannya dengan begitu intens.
Nadia kembali meneguk ludahnya Dnegan paksa saat laki-laki itu mencuri pandang padanya. Tahapannya terlihat tulus membuat Nadia tidak bisa menolak pesonanya. Karakter Arya sungguh sulit untuk dia selami. Sekejap bias dan begitu dominan, namun detik berikutnya membuat dia jatuh cinta.
'Tunggu, apakah dia jatuh cinta?' Nadia bergulat dengan hatinya sendiri. Bagaimana bisa dia memikirkan hal itu?
Jatuh cinta pada laki-laki itu? Apakah dirinya sudah gila? Nadia menundukkan wajahnya, merasa bodoh dan malu di saat yang bersamaan. Dia tidak bisa menatap wajah laki-laki ini atau dia akan benar-benar lupa diri.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Suara Arya terasa begitu dekat di telinga Nadia, membuat bulu romanya meremang. Laki-laki itu begitu pintar menggodanya. Satu tangannya menyingkirkan helai rambut di samping wajah Nadia.
Nadia kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Dia tidak bisa menolak pesona suaminya itu, apa yang harus dia lakukan?
"Apakah kamu ingin aku memanjakanmu?"kalimat deduktif laki-laki itu membuat kesadaran Nadia kembali seketika. Dia tidak ingin hal itu terjadi.
"Tidak, aku yang akan melakukannya. Tapi, berjanjilah untuk tidak menyentuhku," ujar Nadia dengan gugup.
Arya tersenyum. Dia merentangkan tangannya membuat mata Nadia membola.
Dengan gemetar, Nadia mulai melepas kancing kemeja laki-laki itu satu persatu. Dada bidang pria itu terlihat membuatnya kembali menghentikan pergerakannya. Pandangannya terkunci pada otot-otot yang terbentuk di sana.
"Sayang, lakukanlah dengan benar!" Paksaan Arya berhasil membuat Nadia mengangkat wajahnya.
Beberapa detik berlalu dan Nadia mengakhiri kecupan singkatnya. Stok oksigen di dalam paru-parunya mulai menipis, namun Arya tidak tertarik mengikuti permainan lidahnya. Jangankan membalas, merespon saja tidak. Lalu apa yang sebenarnya laki-laki itu ingin?
"Hanya itu saja kemampuanmu?"sarkas pria yang kini melepas kemejanya sendiri. Keringat di tubuhnya membuat pesonanya semakin menguat.
Tidak ada jawaban, Nadia justru mencium leher laki-laki itu sembarang. Dia pernah melihat adegan itu di film, pasti seperti itu cara memanjakan seorang pria. Nama siapa sangka, laki-laki itu langsung menarik lengannya dengan kasar, membuatnya menjauh dari tubuh laki-laki itu.
"Apakah kamu seekor binatang?"
Nadia mengerutkan alisnya, ya tidak mengerti maksud dari pertanyaan Arya. la juga tidak tahu kenapa laki-laki itu terlihat begitu membencinya. Padahal dia sudah melakukan yang terbaik, tapi kenapa pria itu justru terlihat marah?
"Pergi dari hadapanku!" Titahnya kemudian. Wajah jengkelnya sungguh mengerikan. Dia tidak ingin melanjutkan kegiatannya dengan Nadia.
"Segera beranjak dari tubuhku!"
Nadia langsung beranjak, bangun dari pangkuan suaminya. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia tetap menurutinya.
Arya kembali memakai pakaiannya dan beranjak pergi titik berikutnya, meninggal karena dia dengan segala tanda hanya. Jadi kenapa laki-laki itu marah?