(🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️)
"Aku tidak mau menceraikan Alexa Ma!" pekik Stevan, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu.
"Mama tidak meminta kamu untuk menceraikan Alexa! Tapi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan, Stevan! Karena saat ini, Emily tengah mengandung anak kamu!"
Duar!
Perkataan Nyonya Eta Raven, ibu kandung Stevan sekaligus ibu mertua Alexa bagaikan petir yang menyambar Alexa di pagi hari. Alexa mematung di tempat menatap pertengkaran mereka tanpa mengeluarkan suara. Jantungnya terus berdetak kencang tanpa henti, membuat Alexa tiba-tiba merasakan sesak nafas. Pandangannya pun perlahan kabur dan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon medusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~03
...🔥🔥🔥🔥...
...(Keesokan harinya)...
...Kesehatan Alexa sudah membaik, ia pun diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Dengan berat hati, Alexa mengangguk paham, ia segera membereskan semua barang bawaannya, lalu menyeret kedua kakinya keluar, meninggalkan ruang rawat, walaupun hatinya terasa berat. Ia terus berjalan menelusuri lorong rumah sakit dengan perasaan sedih dan bercampur hancur, sambil memikirkan perkataan Stevan kemarin dan masuk ke dalam lift....
...Lift pun bergerak turun kebawa membawa Alexa menuju lantai dasar. Tak butuh waktu lama, lift pun tiba di lantai dasar dan terbuka lebar. Saat Alexa hendak melangkah keluar, ia dibuat terkejut terdiam di tempat menatap keberadaan Stevan bersama Emily yang sudah menantinya di depan pintu utama rumah sakit. Stevan nampak dingin menatapnya, sedangkan Emily terus merangkul lengan Stevan dengan posesif. Seolah ia menunjukan kepada Alexa, kalau saat ini Stevan hanya miliknya....
"Kenapa masih diam disitu?" tegur Stevan menyadarkan Alexa dari lamunannya.
...Tanpa menjawab apa-apa, Alexa menguatkan hatinya berjalan ke arah mereka sambil mengabaikan mereka berdua keluar dari pintu utama. Namun saat Alexa hendak meraih gagang pintu mobil belakang, ia segera di sela oleh Emily yang tiba-tiba muncul....
"Kau duduk di depan. Kursi belakang ini, sekarang khusus untukku dan Stevan, karena nantinya akulah yang akan menjadi Nyonya Raven satu-satunya," bisik Emily mendorong Alexa menjauh, lalu masuk ke dalam mobil secepat kilat.
...Sepanjang perjalanan, Emily terus bermanja-manja kepada Stevan sambil mengoceh tentang calon bayi mereka nanti. Sakit? Tentunya, tapi sebisa mungkin Alexa menulihkan kedua telinganya seolah tidak mendengar apa-apa, lagian pria yang saat ini bersama gundiknya itu bukan lagi suaminya....
"Setelah semua ini selesai, aku akan membawa Mama pergi jauh... jauh dari semua orang dan hidup tenang, bahagia selamanya." Tanpa sadar Alexa tersenyum tipis membayangkan dirinya hidup sederhana di sebuah desah bersama sang ibu, tanpa di ganggu oleh siapa pun.
...Senyuman itu justru membuat hati Stevan menjadi panas, karena ia tak mau berpisah dari Alexa, dan berharap Alexa mau menerima bayi itu dan melupakan segalanya. Tapi semua harapannya seketika sirna bagai di tiup angin saat Alexa melayangkan permintaan cerai kepadanya tanpa bisa di bantah....
"Alexa. Mari kita lihat, seberapa jauh kau akan bertindak keras kepala?" batin Stevan. Ia mengepal kedua tangannya erat-erat menatap tajam wajah cantik Alexa melalui kaca spion.
"Sayang, apa kamu dengar apa yang aku katakan tadi?" tanya Emily mengguncang pelang lengan Stevan, saat ia mengetahui sejak tadi Stevan mengabaikan semua celotehnya, malah fokus menatap Alexa.
"Hem? Iya," jawab Stevan singkat penuh keterpaksaan.
"Hehehehe, kalau begitu..." Emily mendekat ke arah Stevan."Cium aku dulu," pinta Emily dengan suara cukup keras hingga terdengar oleh Alexa dan asisten milik Stevan, Thomas.
"Tentu saja."
...Tanpa ragu Stevan segera meraih leher Emily dengan kasar sambil menatap ke arah Alexa, lalu menariknya mendekat kemudian menciumnya dengan rakus, hingga lumatan bibirnya mengeluarkan suara decakan bersampur nafas berat keduanya yang saling bersahutan. Di kursi depan, Alexa mencoba menahan semuanya sambil meremas kuat-kuat ujung dress miliknya, membuat Thomas yang menyadari hal itu, segera menambah kecepatan mobil, menerobos beberapa lampu merah dengan kecepatan tinggi....
"Nyonya, kamu terlalu baik untuk berada di posisi seperti ini," batin Thomas diam-diam melirik Alexa. Ia tau apa yang saat ini dirasakan oleh Alexa, namun ia pun tak bisa berkata apa-apa.
...Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di rumah, saat Alexa hendak membuka pintu mobil......
"Tunggu," cegah Stevan."Jangan lupa, besok malam bersiaplah," ucapnya dingin tanpa perasaan.
"Baik," jawab Alexa cepat-cepat turun dari mobil berjalan masuk ke dalam rumah.
...Di dalam rumah, saat Alexa hendak menaiki anak tangga, ia segera dihentikan oleh ibu mertuanya yang sudah berada disana sejak tadi....
"Mau kemana?" tanya Nyonya Eta melipat kedua lengannya di dada menatap Alexa dengan sinis.
"Ke kamar," jawab Alexa singkat hendak lanjut menaiki anak tangga.
"Heh! Kamar kamu sekarang ada di samping kamar anakku dan calon menantuku yang sedang mengandung pewaris keluarga ini," sentak Nyonya Eta.
"Aku paham."
...Alexa lanjut menaiki anak tangga menuju lantai atas. Saat ia tiba disana dan melintasi depan pintu kamar yang dulu menjadi saksi bisu dimana rumah tangga mereka dimulai, tanpa aba-aba, air matanya pun luruh....
"Perasaan sialan!" umpat Alexa segera masuk ke dalam kamar.
...Di dalam kamar, Alexa di sambut dengan pemandangan yang sangat menyayat hati. Dimana semua barang-barang miliknya mulai dari fotonya bersama Stevan semasa sekolah dan pacaran, foto pre-wedding tertata rapi di atas meja. Di samping meja itu, berdiri dua manequin pria dan wanita memakai gaung pengantin dan suit milik Alexa dan Stevan tersenyum indah ke arah Alexa....
...Seketika serpihan kenangan keduanya berdiri di atas pelaminan dengan senyuman hangat penuh bahagia menatap satu sama lain berputar di benak Alexa. Satu persatu janji suci diucapkan oleh Stevan penuh tegas, bercampur dengan kata-kata Stevan saat dirumah sakit dan ciuman panasnya bersama Emily di dalam mobil, membuat hati Alexa semakin hancur....
"Bohong..." lirih Alexa penuh air mata berjalan mendekati meja dan membuka laci meja."Bajingan sialan itu berbohong. Dia berjanji kalau dia akan menerima semua yang ada pada diriku sepenuh hati tanpa mengeluh." Alexa meraih gunting dan menatapnya dengan tajam."Tetapi, diam-diam memilih mencari anak dengan perempuan lain, membiarkan aku merana dan kesepian tiap malam sambil merenung, dimana letak kesalahanku?" Alexa berbalik menatap gaung dan suit itu dengan air mata yang terus mengalir deras penuh kecewa bercampur dendam."Jadi sekarang, tidak ada gunanya lagi kedua baju sampah ini."
Sret!
Sret!
Sret!
...Secara membabi buta Alexa mengunting gaung beserta suit itu hingga tak berbentuk sambil tertawa penuh kepahitan. Merasa belum puas, Alexa berbalik meraih bingkai foto-foto itu, lalu membanting di atas lantai hingga hancur lebur....
"Semua ini palsu!" teriak Alexa meraih foto-foto itu lalu menggunting semuanya tanpa ampun.
...(Bersambung)...