NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Kehidupan di Kantor / Romansa / Konflik etika / Slice of Life / Office Romance
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 AMD

Aruna tidak langsung bicara

Ia menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, gerakannya terukur. Calvin masih menatapnya, mencoba membaca perubahan sekecil apa pun di wajahnya.

“Ada apa?” tanyanya lagi.

Aruna menggeleng pelan. “Tidak ada. Hanya notifikasi kerja.”

Separuh dari dirinya membenci kebohongan kecil itu. Dan separuh lainnya tahu ia belum punya cukup data untuk menuduh.

Calvin mengangguk, tapi sorot matanya tidak sepenuhnya percaya.

“Aku harus turun ke tim forensik,” ujar Aruna. “Aku ingin pastikan tidak ada celah sebelum dewan mengambil keputusan.”

“Kau tidak perlu melakukan semuanya sendiri.”

“Aku tahu.”

Tapi ia tetap melangkah pergi. Ruang forensik digital berada dua lantai di bawah. Tidak ada kaca dan tidak ada pemandangan kota. Hanya layar-layar besar dan cahaya putih yang terlalu terang.

Rafi, kepala IT forensik, mengangkat wajah ketika Aruna masuk. “Rapat selesai?”

“Diskors.”

Rafi menghela napas panjang. “Aku sudah menduga.”

Aruna meletakkan tasnya di meja dan mengeluarkan ponsel. “Aku butuh kamu cek ini.”

Rafi menerima ponsel itu. Matanya menyipit saat melihat gambar yang ditunjukkan oleh Aruna.

“Itu transfer internal.”

“Aku tahu.”

“Tanggalnya berbeda dari yang tadi dipresentasikan.”

“Aku juga tahu.”

Rafi mendekatkan wajahnya ke layar. “Ini dapat dari mana?”

“Nomor yang tak dikenal.”

Rafi langsung menatapnya serius. “Ini jebakan, atau kebocoran dari dalam.”

Aruna menyilangkan tangan di dada, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai berpacu. “Tanda tangan digitalnya valid?”

“Sekilas terlihat valid. Tapi aku harus akses server utama untuk pastikan.”

“Lakukan.”

Rafi mulai mengetik cepat. Layar di depannya dipenuhi deretan kode-kode dan log akses. Aruna berdiri di belakangnya, menahan napas setiap kali nama Calvin muncul di layar.

“Login dilakukan lewat jaringan kantor,” gumam Rafi. “Waktu akses pukul dua dini hari.”

Aruna memejamkan mata sejenak.

“Lokasinya?”

“Lantai eksekutif.”

Itu sama sekali tidak membantu. Banyak orang punya akses ke lantai itu. “Bisa dipalsukan?” tanya Aruna.

“Secara teori, ya. Secara praktik, sulit. Sertifikat digital CEO punya enkripsi berlapis.”

Aruna menelan.

“Berarti hanya dua kemungkinan,” lanjut Rafi. “Dia sendiri yang melakukannya. Atau ada yang sangat pintar.”

Aruna mengangguk pelan.

“Aku butuh salinan lengkap semua log akses malam itu.”

“Kamu mencurigainya?” Pertanyaan itu tidak langsung dijawab.

“Aku mencurigai semua orang,” katanya akhirnya.

Malam turun tanpa terasa. Hujan pun sudah berhenti, menyisakan jalanan basah yang memantulkan lampu kota. Aruna kembali ke ruangannya. Suasananya sepi, hanya suara pendingin udara yang berdesis pelan. Ia menutup pintu dan bersandar sejenak.

Ponselnya bergetar lagi.

Nomor yang sama.

Pesan kedua masuk:

“Kamu lebih pintar dari yang dia kira. Jangan biarkan dirimu diperalat.”

Aruna mengetik cepat:

Siapa ini?

Tidak ada balasan.

Ia mencoba menelepon tapi nomornya tidak aktif. Dadanya terasa sesak. Jika ini permainan, maka seseorang tahu ia akan segera menyelidiki. Seseorang tahu posisinya saat ini dekat dengan Calvin. Mereka ingin mencoba meretakkan kepercayaan itu.

Pintu diketuk pelan.

Aruna menegakkan tubuh. “Masuk.”

Calvin berdiri mematung di ambang pintu. Tanpa jas, hanya kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia terlalu lama memikirkan sesuatu.

“Kamu belum pulang.”

“Kamu juga.”

Ia masuk dan menutup pintu.

Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap.

“Rafi bilang kamu minta log tambahan,” ucap Calvin akhirnya.

Aruna tidak terkejut. Informasi bergerak cepat di lantai ini.

“Prosedur.”

“Aruna.” Nada itu bukan sebagai CEO ataupun atasan tapi sebagai pria yang ingin jawaban. “Kamu tidak mempercayaiku?”

Aruna berjalan ke mejanya dan duduk. Memberi jarak yang jelas. “Aku percaya pada fakta.”

“Dan faktanya?”

“Aku belum punya semuanya.”

Calvin mendekat. Tidak terlalu dekat kali ini.

“Kalau ada yang mencoba menjebak kita?”

“Kita?” ulang Aruna pelan.

Tatapan Calvin mengeras sedikit. “Perusahaan.” Koreksi cepat tapi cukup untuk membuat hatinya bergetar.

“Ada transfer lain,” kata Aruna akhirnya.

Calvin terdiam.

“Nominal lebih besar. Waktu berbeda.”

“Kenapa aku baru dengar?”

“Karena aku baru menerimanya satu jam lalu.”

Ia menatapnya tajam. “Dari siapa?”

“Nomor anonim.”

Hening.

Calvin menghembuskan napas pelan. “Kamu pikir itu aku.” Bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan.

“Aku pikir aku harus memverifikasi.”

“Kamu tidak menjawab.”

Aruna mengangkat wajahnya. “Aku tidak ingin percaya itu kamu.” Kalimat itu jujur.

Calvin memalingkan wajahnya ke jendela. “Kalau aku bilang bukan?”

“Aku tetap akan memeriksa.”

Ia tertawa pelan. Tidak pahit. Tidak marah.

“Hanya kamu yang bisa membuatku merasa diinterogasi di kantorku sendiri.”

“Itu bukan niatku.”

“Tapi itu pekerjaanmu.”

Ia menoleh kembali.

“Apa kamu tahu apa yang paling sulit?” tanyanya pelan.

Aruna tidak menjawab.

“Bukan tuduhan dewan. Bukan ancaman media.” Tatapannya menahan sesuatu yang lebih dalam. “Tapi melihat kamu ragu.”

Dadanya seperti diremas. “Kalau aku berhenti ragu, aku berhenti jadi diriku.”

Calvin melangkah lebih dekat. “Kamu tahu kenapa aku memilihmu sebagai legal utama dalam kasus ini?”

“Karena aku kompeten.”

“Karena kamu tidak takut melawanku.”

Jarak mereka kini hanya setengah meter. “Kalau suatu hari bukti mengarah padaku,” lanjut Calvin, suaranya lebih rendah, “apa kamu akan tetap berdiri di ruang sidang dan menuntutku?” Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari yang ia duga.

Aruna menelan. “Kalau kamu bersalah, ya.”

Tidak ada getar.

Tidak ada ragu.

Hanya kebenaran.

Calvin menatapnya lama lalu mengangguk pelan “Bagus.” Ia mundur satu langkah. “Karena kalau bukan kamu, aku tidak akan percaya pada hasilnya.”

Aruna terdiam.

Kalimat itu seperti pengakuan tanpa romantisasi.

Kepercayaan yang aneh.

Kepercayaan yang menyakitkan.

Ponsel Calvin tiba-tiba berdering. Ia melihat layar lalu tiba-tiba wajahnya berubah. Tapi Aruna melihat perubahan itu. “Apa?” tanya Aruna.

Calvin mematikan panggilan itu.

“Tidak penting.”

“Kamu tidak pernah bilang begitu.”

Ia terdiam.

“Calvin.”

Ia akhirnya mengangkat wajahnya.

“Bramasta ditahan tadi sore.”

Aruna terkejut. “Apa?”

“Tim internal menyerahkan bukti awal ke pihak berwenang. Dia mencoba kabur.”

Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Lalu?”

“Sebelum ditahan, dia membuat satu pernyataan.”

Aruna berdiri.

“Apa isinya?”

Calvin menatapnya.

“Dia bilang tidak sendirian.”

Hening.

Sunyi yang lebih berat dari sebelumnya.

“Ada nama lain?” tanya Aruna.

“Belum.”

Ia mengeluarkan ponselnya.

“Besok pagi media akan tahu.”

Aruna menutup mata sejenak. Skandal ini pasti akan meledak dan harga saham bisa jatuh, kepercayaan publik juga bisa runtuh. Jika transfer kedua itu ternyata asli, Calvin berada tepat di tengah badai.

“Aruna.”

Ia membuka mata.

“Aku butuh kamu tetap objektif.”

“Kamu yakin?”

“Aku yakin pada satu hal.” Tatapannya tegas. “Jika aku jatuh, aku ingin jatuh karena kebenaran. Bukan karena kebohongan orang lain.” Kalimat itu semakin membuat dadanya sesak. Di antara mereka kini bukan hanya perasaan tapi risiko dan mungkin kehancuran.

Ponsel Aruna kembali bergetar.

Pesan ketiga.

Kali ini bukan sebuah foto.

Hanya satu kalimat:

“Cek rekaman CCTV lantai eksekutif pukul 01.47.”

Aruna mengangkat wajahnya perlahan. Calvin masih berdiri di depannya. Tidak tahu apa yang baru saja ia terima. Jam di dinding menunjukkan pukul 21.15 masih ada waktu untuk memeriksa, masih ada waktu sebelum semuanya runtuh.

“Ke mana?” tanya Calvin saat Aruna meraih tasnya.

Ia menatapnya, ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan dari matanya sendiri. “Kebenaran,” jawabnya pelan.

Dan kali ini, ia tidak tahu apakah kebenaran itu akan menyelamatkan mereka atau justru menghancurkan segalanya.

1
Yo Iku
keren banget
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 kak
total 1 replies
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!