NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA HARI NERAKA

Hari kedua latihan dimulai dengan cara yang lebih sadis dari hari pertama.

Garp tidak menuang air es kali ini. Dia langsung lempar kami berdua ke danau terdekat—masih tidur, masih pakai baju tidur.

BYUUURRR!

"BANGUN! BERENANG KELILING DANAU SEPULUH PUTARAN! SEKARANG!"

Air dingin menusuk tulang. Aku dan Sabo terbangun dengan shock—langsung berenang sekuat tenaga supaya tidak tenggelam.

"Sepuluh putaran?! Danau ini diameternya ratusan meter!" Sabo berteriak sambil berenang.

"Kalau tidak selesai, tidak ada sarapan! Dan latihan selanjutnya akan lebih berat!" Garp berteriak dari tepi danau sambil duduk santai makan onigiri.

Bajingan tua itu makan di depan kami yang kelaparan dan basah kuyup!

Tapi kami tidak punya pilihan. Mulai berenang.

Putaran pertama masih kuat. Putaran kedua mulai terasa berat. Putaran ketiga lengan mulai pegal. Putaran keempat kaki mulai kram.

"Jangan berhenti! Kalau berhenti tenggelam!" aku berteriak ke Sabo yang mulai melambat.

"Tahu!"

Entah bagaimana—mungkin karena takut tenggelam atau karena lapar—kami menyelesaikan sepuluh putaran. Keluar dari danau dengan tubuh gemetar dan napas terengah-engah seperti habis lari maraton.

"Lumayan. Waktu kalian empat puluh lima menit. Besok target tiga puluh menit." Garp melempar handuk pada kami. "Sekarang ganti baju dan sarapan. Kalian punya lima belas menit sebelum latihan berikutnya."

Lima belas menit?!

Kami ganti baju secepat kilat dan makan dengan lahap—nasi, telur, daging, semua masuk tanpa dikunyah dengan benar.

"Waktu habis! Latihan berikutnya—naik gunung!"

Garp menunjuk gunung tertinggi di Dawn Island. Puncaknya bahkan tertutup awan.

"Kalian akan naik sampai puncak. Tanpa istirahat. Sambil membawa ini."

Dia melempar dua ransel raksasa pada kami. Aku hampir jatuh saat menangkap—beratnya gila!

"Isinya batu. Masing-masing lima puluh kilogram. Cukup ringan untuk anak seusia kalian."

"RINGAN APANYA?!" kami protes bersamaan.

"Masa depan kalian akan hadapi musuh yang bisa angkat gunung dengan satu tangan. Kalau batu lima puluh kilogram saja tidak kuat, bagaimana mau bertarung dengan mereka?"

Logika gila tapi... ada benarnya juga.

Dengan berat hati—dan punggung yang sudah sakit sebelum mulai—kami memulai pendakian.

Sepuluh menit pertama masih bisa jalan normal. Tapi setelah itu, setiap langkah terasa seperti menyeret gajah di punggung.

"Ace... aku tidak yakin bisa sampai puncak..." Sabo terengah-engah berat.

"Harus bisa. Kalau kita menyerah sekarang, Garp jii-chan akan bikin latihan besok lebih brutal lagi."

"Lebih brutal dari ini?! Itu bahkan mungkin?!"

"Dengan Garp? Selalu mungkin."

Kami terus naik. Kaki gemetar. Punggung terasa mau patah. Tapi tidak boleh berhenti.

Garp mengikuti dari belakang dengan santai—bahkan tidak berkeringat—sambil kadang memberi komentar seperti "terlalu lambat" atau "postur kalian jelek" atau "kakek dulu bisa naik sambil bawa batu seratus kilogram di umur dua tahun".

Bohong. Pasti bohong. Tidak ada anak dua tahun bisa begitu.

Tapi kami tidak berani bilang itu keras-keras.

Tiga jam kemudian—TIGA JAM—kami akhirnya sampai puncak. Langsung kolaps dengan ransel masih di punggung.

"Lumayan. Tiga jam lima belas menit. Besok target dua jam."

"Dua jam?! Mustahil!" Sabo protes.

"Tidak ada yang mustahil kalau kau cukup termotivasi. Ngomong-ngomong..." Garp menyeringai jahat. "Sekarang kita turun. Sambil lari."

"APA?!"

"Kalian dengar. Turun sambil lari. Dengan ransel tetap di punggung. Kalau sampai bawah lebih dari tiga puluh menit, kalian akan lari lagi naik-turun sampai bisa."

Ini gila. Turun gunung sambil lari dengan beban lima puluh kilogram? Itu bunuh diri!

Tapi melihat mata Garp yang serius—kami tahu dia tidak bercanda.

"Mulai... SEKARANG!"

Dia langsung berlari turun dengan kecepatan gila.

Kami terpaksa ikut—berlari sambil mencoba tidak jatuh dan menggelinding sampai bawah.

Berkali-kali hampir terpeleset. Berkali-kali hampir nabrak pohon. Tapi entah bagaimana—dengan bantuan Observation Haki untuk prediksi jalur dan refleks yang sudah terlatih—kami sampai bawah dalam dua puluh delapan menit.

Dan langsung muntah.

"Bagus! Kalian tidak muntah di tengah jalan! Itu kemajuan!" Garp bertepuk tangan seperti kami baru menang olimpiade.

"Kemajuan apanya... kami muntah sekarang..." aku mengeluh sambil membersihkan mulut.

"Detail kecil. Sekarang istirahat tiga puluh menit. Lalu latihan Haki lanjutan."

Tiga puluh menit istirahat terasa seperti tiga detik. Terlalu cepat berlalu.

Latihan Haki kali ini lebih intens dari kemarin. Garp mengajarkan teknik yang disebutnya "Hardening"—tahap lanjut Armament Haki dimana seluruh bagian tubuh bisa dikeraskan sempurna, bukan hanya berubah warna.

"Lihat ini."

Garp mengangkat tangannya. Warna hitam pekat menyelimuti—jauh lebih gelap dan lebih solid dari Armament biasa.

"Ini Hardening. Dengan ini, bahkan pedang legendaris tidak bisa potong kulitku. Bahkan serangan Devil Fruit bisa dikurangi drastis."

Dia memukul pohon besar dengan tangan yang di-hardening.

CRACK!

Pohon itu patah jadi dua—potongan bersih seperti ditebas pedang.

"Sekarang kalian coba."

Aku mencoba mengikuti. Fokus energi spiritual ke tangan. Bayangkan tidak hanya pelindung tipis tapi lapisan baja tebal.

Warna gelap muncul di tanganku—tapi pucat. Tidak pekat seperti milik Garp.

"Bagus untuk percobaan pertama. Tapi masih jauh. Terus latihan sampai warnanya sepekat milikku."

Sabo juga mencoba—tapi bahkan manifestasi biasa masih belum bisa. Dia frustrasi berat.

"Jangan berkecil hati, Sabo," Garp berkata sambil menepuk kepalanya. "Kau punya bakat di Observation Haki. Fokus kesana dulu. Armament akan datang dengan sendirinya kalau kau terus latihan."

"Tapi Ace sudah bisa..."

"Setiap orang punya kecepatan berbeda. Yang penting kalian berdua terus maju. Jangan bandingkan dengan orang lain. Bandingkan dengan dirimu kemarin."

Kata-kata bijak dari orang yang tadi melempar kami ke danau jam tiga pagi.

Latihan berlanjut sampai sore tanpa henti. Sparring melawan Garp—dimana kami dihantam berkali-kali tapi perlahan jadi lebih baik menghindari. Latihan kontrol Devil Fruit—dimana Garp menyuruhku buat berbagai bentuk api dengan presisi tinggi.

"Buat bola api seukuran kelereng. Sekarang seukuran kepalan tangan. Sekarang bentuk tombak. Sekarang bentuk perisai. Lebih cepat! Kontrol harus jadi reflex, bukan harus mikir!"

Melelahkan tapi sangat berguna. Kontrolku terhadap Mera Mera no Mi meningkat drastis—sekarang bisa ubah bentuk api sesuai keinginan dalam hitungan detik.

Malam hari, setelah makan malam besar untuk recovery, Garp memanggil kami ke luar.

"Besok hari terakhir. Dan akan jadi hari paling berat."

Kami menelan ludah.

"Tapi sebelum itu, ada yang ingin kakek tunjukkan."

Dia berjalan ke area terbuka. Berdiri dengan stance santai.

"Kalian berdua, serang kakek dengan sekuat tenaga. Gunakan semua yang sudah kalian pelajari. Haki, Devil Fruit, senjata, apapun. Jangan tahan diri."

"Eh? Serang jii-chan?" Sabo bertanya ragu.

"Ya. Ini test. Tunjukkan seberapa jauh kalian berkembang dalam dua hari ini."

Aku dan Sabo saling menatap. Lalu mengangguk.

Ini kesempatan membalas semua siksaan dua hari terakhir!

Kami menyerang bersamaan—aku dari kanan dengan tinju berapi dan Armament Haki. Sabo dari kiri dengan tongkat dan Observation Haki untuk timing sempurna.

Garp hanya berdiri diam.

Saat serangan kami hampir mengenai—

Dia menghilang.

Bukan cepat. MENGHILANG.

"Dimana—" aku belum selesai bicara saat merasakan presence di belakang.

"Terlalu lambat."

Garp menepuk punggung kami pelan—tapi cukup untuk bikin kami jatuh tersungkur.

"Itu kecepatan level Vice Admiral. Kalian bahkan tidak bisa lihat gerakannya kan?"

Kami mengangguk lemah—memang tidak terlihat sama sekali.

"Itulah level yang harus kalian capai suatu hari. Kecepatan yang bahkan mata terlatih tidak bisa ikuti. Kekuatan yang bisa hancurkan gunung. Haki yang bisa dominasi ribuan orang sekaligus."

Dia menatap kami dengan serius.

"Dunia di luar sana penuh dengan monster. Yonko yang bisa tenggelamkan pulau dengan satu pukulan. Admiral yang bisa ubah iklim. Shichibukai yang bisa kontrol ribuan mayat hidup. Dan itu belum termasuk ancaman tersembunyi yang bahkan kakek tidak boleh ceritakan."

Ancaman tersembunyi. Pemerintah Dunia? Im-sama? Senjata kuno?

"Jadi jangan puas dengan kekuatan sekarang. Terus latihan. Terus jadi lebih kuat. Sampai tidak ada yang bisa sakiti orang yang kalian sayang."

Kata-kata itu menohok dalam. Garp bicara dari pengalaman—dia yang kehilangan anak angkatnya Roger karena eksekusi, yang melihat anaknya Dragon jadi buronan, yang khawatir cucu-cucunya akan bernasib sama.

"Kami mengerti, jii-chan," aku berkata dengan tekad baru. "Kami akan jadi lebih kuat. Jauh lebih kuat."

"Bagus. Sekarang tidur. Besok kalian akan butuh semua energi yang bisa kalian kumpulkan."

Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak. Terus memikirkan kata-kata Garp tentang monster di luar sana.

Yonko. Admiral. Shichibukai.

Suatu hari aku akan hadapi mereka semua.

Dan aku harus siap.

Tidak boleh ada kelemahan.

Tidak boleh ada keraguan.

Hanya kekuatan murni dan tekad baja.

Api takdir berkobar lebih terang dari sebelumnya.

Dipompa oleh ambisi yang membesar.

Besok adalah hari terakhir latihan dengan Garp.

Dan aku akan pastikan tidak ada yang terbuang sia-sia.

BERSAMBUNG

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!