NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 13

Karin mundur satu langkah.

Tubuhnya terasa lemas, seolah kakinya tidak lagi menopang berat badannya sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca, pandangannya kabur oleh perasaan yang bercampur aduk. Pikirannya kosong—tak mampu mencerna apa pun yang baru saja ia dengar.

Ia menatap James, namun tidak satu pun kata keluar dari bibirnya. Mulutnya terasa terkunci.

Melihat reaksinya, James melangkah mendekat. Namun refleks, Karin kembali mundur menjauhinya.

Saat itu juga, James mengerti.

Ia tahu—Karin menolaknya.

Namun, ia tidak menyesal telah berbicara.

James menatap Karin dengan wajah serius, lalu berkata dengan suara yang jujur dan rapuh.

“Karin… I like you.”

(Karin… aku menyukaimu.)

Ia menelan ludah, lalu melanjutkan.

“May I like you?”

(Bolehkah aku menyukaimu?)

Tatapannya lembut, tapi penuh keberanian.

“From your reaction, I know you’re shocked.”

(Dari reaksimu, aku tahu kamu sangat terkejut.)

“And I know you probably won’t accept me.”

(Dan aku tahu kamu mungkin tidak akan menerimaku.)

Ia menarik napas panjang.

“But before I go back to England, I need to say this.”

(Tapi sebelum aku kembali ke Inggris, aku perlu mengatakan ini.)

“I don’t want to leave with feelings I never told you.”

(Aku tidak ingin pergi dengan perasaan yang tidak pernah kuungkapkan padamu.)

Namun Karin tetap diam.

Ia tidak sanggup menjawab apa pun.

James melangkah mendekat lagi. Kali ini, ia meraih tangan Karin—perlahan tapi pasti—lalu menariknya ke dalam pelukannya.

Karin terkejut. Tubuhnya kaku.

James memeluknya erat. Matanya terpejam, seolah ingin menghafal kehangatan itu. Seolah ini mungkin menjadi satu-satunya pelukan yang akan ia dapatkan darinya.

Beberapa detik berlalu.

James akhirnya melepaskannya.

Ia tersenyum kecil—senyum yang pahit.

“I guess… you’re rejecting me, huh?”

(Sepertinya… kamu menolakku, ya?)

Ia tertawa pelan, mencoba terdengar ringan.

“It’s okay.”

(Tidak apa-apa.)

Lalu, dengan suara yang lebih jujur dari sebelumnya, ia berkata:

“At least let me say this one last time.”

(Setidaknya izinkan aku mengatakan ini sekali lagi.)

James menatap Karin lurus-lurus.

“I love you, Karin.”

(Aku mencintaimu, Karin.)

Kata-kata itu jatuh perlahan, satu per satu.

“You are the most beautiful girl I’ve ever met.”

(Kamu adalah gadis tercantik yang pernah aku temui.)

“You are smart.”

(Kamu pintar.)

“You are the girl who made me smile all day long.”

(Kamu adalah gadis yang membuatku tersenyum sepanjang hari.)

Senyumnya sedikit melebar, mengenang.

“You’re that silly girl who screamed at a concert without caring about the singer.”

(Kamu gadis konyol yang berteriak di konser tanpa mengindahkan penyanyinya.)

Ia menghela napas pelan.

“You’re the reason I came to Jeju.”

(Kamulah alasan aku datang ke Jeju.)

Karin terdiam, napasnya tercekat.

“Yes, Karin. I didn’t come here without a purpose.”

(Ya, Karin. Aku tidak datang ke sini tanpa tujuan.)

“I was looking for you.”

(Aku mencarimu.)

“And I found you here.”

(Dan aku menemukanmu di sini.)

Suaranya sedikit bergetar.

“Our meeting was not a coincidence.”

(Pertemuan kita bukan kebetulan.)

“I started thinking about you after that concert.”

(Aku mulai memikirkanmu setelah konser itu.)

“That was when I fell in love with you.”

(Saat itulah aku mulai jatuh cinta padamu.)

James tertawa kecil, lalu menarik napas dalam-dalam.

“If you reject me, it’s okay.”

(Jika kamu menolakku, tidak apa-apa.)

“I want to go back to England with a peaceful heart.”

(Aku ingin kembali ke Inggris dengan hati yang tenang.)

Ia tersenyum tipis.

“Maybe… we’ll meet again someday.”

(Mungkin… kita akan bertemu lagi suatu hari nanti.)

James melangkah pergi.

Langkahnya pelan.

Ia berharap—dalam diam—Karin akan memanggil namanya.

Namun Karin tetap berdiri di tempatnya. Membeku.

Beberapa langkah kemudian—

“James…”

Suara itu akhirnya terdengar.

James berhenti. Wajahnya langsung berubah. Ia menoleh cepat, matanya berbinar penuh harap.

“Yes?”

(Iya?)

Untuk sesaat, ia berpikir cintanya diterima.

Namun Karin menunduk, lalu berkata dengan suara gemetar tapi jujur.

“I’m sorry.”

(Maafkan aku.)

Ia mengangkat wajahnya.

“I just want us to be friends.”

(Aku hanya ingin kita berteman.)

“You don’t know much about me yet.”

(Kamu belum tahu banyak tentang aku.)

Ia tersenyum kecil, pahit.

“But thank you for loving me.”

(Tapi terima kasih sudah mencintaiku.)

“I hope you’ll be happy, wherever you are.”

(Aku harap kamu bahagia di mana pun kamu berada.)

Harapan di mata James perlahan padam.

Ia tersenyum—senyum terakhir.

“Goodbye.”

(Sampai jumpa.)

Ia melambaikan tangan.

“I love you.”

(Aku mencintaimu.)

Lalu, tanpa menoleh lagi, James berlari pergi.

Karin tetap berdiri di sana.

Diam.

Mematung.

Bersamaan dengan matahari yang benar-benar tenggelam, James pun pergi—meninggalkan Karin bersama kenangan mereka di tempat itu.

Pulau Jeju.

Karin kembali merasa sunyi.

Hari-harinya sempat terasa lebih ringan sejak kehadiran James dalam hidupnya. Tawanya kembali terdengar, senyumnya perlahan kembali muncul—hal-hal kecil yang sempat ia kira tak akan ia rasakan lagi. Namun kini, kesepian seolah menemukan jalan pulang ke dirinya. Datang tiba-tiba, tanpa ia duga, tanpa aba-aba.

Pulau Jeju yang begitu ia kagumi—tempat ia bercerita, tertawa, dan untuk pertama kalinya setelah luka yang pernah ia terima, kembali tersenyum—kini juga menjadi tempat ia menangis.

Ia menangis karena tak mengerti perasaannya sendiri.

Ia menangis karena tak tahu mana yang lebih menyakitkan: menolak James, atau menyadari bahwa ia mulai menyukai pria itu.

Namun jauh di lubuk hatinya, Karin tahu satu hal.

Perasaannya masih milik Arka.

Perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertidur, tersembunyi di sudut hatinya yang paling dalam. Karin takut—jika ia menerima cinta James, jika ia membiarkan hubungan itu tumbuh, suatu hari nanti ketika Arka kembali, ia justru akan menyakiti James.

Dan itu adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.

Jujur saja, Karin merasa nyaman bersama James.

James hadir di setiap celah kebutuhannya yang tak pernah terucap.

James adalah orang yang membuatnya tertawa.

Orang yang membuatnya tersenyum tanpa alasan.

Orang yang membuatnya lupa pada luka.

Bahkan menikmati Pulau Jeju pun—Jameslah alasannya.

Kini, Pulau Jeju terasa asing. Sunyi. Sepi.

Bukan karena pulau itu berubah, melainkan karena seseorang telah pergi darinya.

Karin bahkan tak berniat kembali ke Seoul. Ia tahu, di kota itu pun ia tidak akan menemukan James. Yang ada hanyalah ruang-ruang kosong dan kenangan yang terlalu ramai untuk ditinggali.

Maka Karin membuat keputusan.

Ia memilih pulang ke Indonesia.

Ia meninggalkan Pulau Jeju.

Meninggalkan Seoul.

Meninggalkan semua kenangan yang akan ia simpan rapat di hatinya.

Kenangan bersama James.

Kenangan yang indah.

Kenangan yang membentuk dirinya.

Kenangan yang mengajarkannya tentang keberanian, tentang pertemuan, dan tentang perpisahan.

Kenangan tentang seorang asing—yang datang tanpa janji, dan pergi tanpa bisa ia tahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!